Salah satu penyakit yang kadang kita alami. Dalam video tersebut, seorang pria sedang menaklukan games halang rintang. Kita bisa mengenalnya Takeshi Castle. Pria tersebut melompat, memanjat, dan berlari demi mengatasi rintangan yang ada.
Sayangnya, sebelum menyelesaikan games tersebut. Ia ingin berunjuk gigi dengan salto terlebih dahulu. Apa mau dikata, ia malah tercebur ke air.
Dari video ini kita bisa mengambil pesan dan pelajaran, bahwa janganlah kita terburu-buru.Terburu-buru merasa puas diri padahal belum sampai ujungnya. Terburu-buru merasa selesai, padahal belum penutup. Atau bahkan terburu-buru putus asa, padahal belum semua usaha dicoba.
Mudah-mudahan kita tidak menjadi pribadi yang terburu-buru. Nikmati waktu yang ada dengan usaha yang maksimal. Nikmati setiap prosesnya.
Banyak orang menyesali kekurangan yang dimilikinya sebagai alasan dari keterpurukannya. Ada hal tertentu yang memang tak bisa kita ubah. Anda, misalnya, tak bisa meminta kepada Tuhan untuk dikirim kembali ke dalam rahim orang lain agar mempunyai bentuk dan kekuatan fisik yang berbeda. Tentu tidak. Tetapi masa depan kita itu sesungguhnya menjadi tanggung jawab kita juga.
Saya ingin mengajak Anda merenungi kehidupan Presiden Theodore Roosevelt yang lahir di New York City pada 1858. la anak kedua dari empat bersaudara. Enam generasi Roosevelt yang datang dari negeri Belanda ini mewarisi berbagai penyakit degeneratif seperti rabun jauh dan alergi bronkial yang parah.
Sejak dilahirkan, TR, panggilan akrabnya, sudah mengalami serangan penyakit asma bronkial yang disebabkan pembengkakan selaput lendir dengan sekresi yang akut sehingga saluran pernapasannya terganggu. Rangsangan saraf, makanan tertentu, serbuk sari yang banyak beterbangan pada musim semi, atau gangguan emosional, dapat dengan mudah memicu serangan asma pada dirinya.
Episode tersebut terjadi selama masa kanak-kanak TR pada interval yang tinggi. Ia sering tiba-tiba terbangun dari tidur nyenyaknya dengan terengah-engah, sesak napas, dan wajahnya pucat kebiruan. Eranganerangan halus sering menemani hari-harinya. Pasien kecil itu sering kelelahan dan tidak bisa bernapas ketika berbaring. Kalau sudah tidur bunyi napasnya bisa berisik. Menurut catatan sejarah, TR kecil hanya menemukan kenyamanan tidur dalam pelukan ayahnya.
Asma yang diderita Roosevelt terus berlanjut bahkan kemudian disertai dengan diare. Ini menunjukkan bahwa saluran ususnya juga sensitif terhadap alergi.
Perjalanan Mengubah Nasib
Pada 1869, ayah TR melakukan perjalanan ke luar negeri, berharap perubahan iklim dapat mengurangi penderitaan kedua anaknya. Mereka mengunjungi Prancis, Italia, Austria, dan Jerman yang memiliki tekanan udara lebih rendah dengan debu dan serbuk sari yang kadarnya jauh lebih aman. Lalu, mereka mengunjungi Mesir. Di sana, TR dibawa ke sebuah kawasan spa untuk terapi.
Alergi pernapasan dan gangguan pencernaan yang dialami TR menghambat perkembangan fisiknya. Kesehariannya tampak pucat, kerempeng, kecil untuk anak seusianya, dengan kaki kurus, mata biru, dan rambut berpasir. Giginya menonjol, ortodontik. Di kemudian hari, Roosevelt menyembunyikan bentuk giginya yang buruk itu di bawah kumis walrusnya.
Singkat cerita, TR kecil dikenal sebagai anak penyakitan yang prestasi sekolahnya bisa terganggu. Tetapi, nasihat hebat datang dari ayahnya saat ia berusia 11 tahun. Katanya, “TR, percuma saja engkau belajar keras kalau tubuhmu rapuh. Kendaraan pribadimu yang lemah itu tak akan pernah bisa membawamu ke masa depan yang engkau impikan lewat sekolah.”
Namun, di balik kelembutannya, ayah TR adalah seorang pria tegar yang mendorong anak-anaknya membangun tubuhnya dengan latihan yang sistematis. la membuat gimnasium pribadi di teras terbuka rumahnya. Di sana, di bawah arahan instruktur khusus, TR dilatih dengan penuh kesabaran dari hari ke hari, tahun ke tahun. Mengangkat beban, push-up, dan melatih kelenturan dengan palang sejajar. Bentuk dadanya yang sempit perlahanlahan berubah, menjadi berotot dan bidang.
Kelemahan lain datang kemudian: rabun jauh ekstrem. Ini pun agak terlambat diketahui karena TR tak pernah belajar di sekolah formal dengan melihat ke arah papan tulis. Maklum, karena fisiknya lemah, TR harus ikut home schooling dengan guru privat sehingga miopianya tidak diketahui orangtua. Jadi, pandangannya hanya dipakai untuk menulis dan membaca jarak dekat. Di kejauhan ia hanya bisa melihat garis samar-samar. Cacat matanya pertama kali diketahui saat ia diajarkan ayahnya menembak pada usia 13 tahun. la sama sekali tidak bisa membidik sasaran jauh.
Dilengkapi dengan kacamata berlensa tebal, TR berlatih menembak sampai mahir. Ia pun terobsesi membangun keunggulan dalam permainan dan olahraga yang menyerukan kekuatan, ketahanan, dan keterampilan, seperti tinju, gulat, mendayung, berkuda, dan mendaki gunung. Ia juga menjadi petenis yang andal, bahkan judo, karate, dan renang. Nasihat ayahnya benar-benar merasuki jiwanya.
Berkat kerja kerasnya itu, ia diterima bersekolah di Harvard sebelum belajar hukum di Columbia Law School. Sementara di sekolah hukum, ia terpilih sebagai anggota Majelis Negara Bagian New York, komisaris di Kepolisian Kota New York, sebelum diangkat menjadi Asisten Sekretaris Angkatan Laut oleh Presiden McKinley. Bahkan kemudian ia bergabung dengan resimen kavaleri untuk bertarung dalam Perang Spanyol-Amerika di Kuba dan mendapat gelar pahlawan nasional.
Belakangan, ia terpilih sebagai Gubernur New York State pada November 1898 dan tahun berikutnya terpilih sebagai calon wakil presiden pada konvensi Partai Republik di Philadelphia. Pada 4 Maret 1901, Roosevelt mengucapkan sumpah sebagai wakil presiden. Dan pada usia 42, ia disumpah sebagai Presiden Amerika Serikat termuda.
Theodore Roosevelt yang kendaraan pribadinya dulu begitu rapuh, kini terkenal dengan ucapannya, “Melesat seperti roket.” Sebab selain sebagai negarawan, ia juga dikenal sebagai sejarawan, penjelajah pemberani, dan aktivis lingkungan yang tak tertandingi. Para sejarawan menyebutkan, mungkin ia adalah negarawan paling berhasil dalam sejarah bangsa Amerika.
Jangan lupa, ia adalah Presiden Amerika yang membangun Terusan Panama dan dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian. Bayangkan, apa jadinya dunia hari ini kalau ayah TR hanya sibuk mengurus dirinya sendiri dan memanjakan anaknya yang lemah, menjadikannya passenger malas yang dibesarkan dalam keluarga serbaada? Bayangkan pula kalau TR berperilaku manja dan menyesali kelahirannya. Kalau itu yang dipilih, Anda pasti mengatakan itu sah-sah saja. Apalagi ayahnya adalah seorang saudagar kaya dan bankir. Ibunya juga keturunan dari Robert III, Raja Skotlandia. Sekadar menjadi passenger pun bisa hidup enak. Hartanya pasti tak akan pernah habis hingga beberapa keturunan.
Untuk meraih kesuksesan, memperoleh uang, dan mengumpulkan kekayaan, orang harus memiliki inisiatif pribadi. Inisiatif inilah yang menyadarkan orang akan tujuan atau target yang harus dicapainya. Orang-orang besar yang mencapai kemajuan dalam hidupnya, termasuk dalam keuangan dan ekonominya, adalah mereka yang selalu menciptakan inisiatif. Mereka melakukan sesuatu tanpa diminta. Bahkan mereka rela berbuat lebih banyak lagi daripada yang diharapkan.
Menurut Napoleon, menciptakan inisiatif pribadi itu banyak manfaatnya. Selain memecahkan masalah yang sedang dihadapi, juga melahirkan kesempatan, menciptakan masa depan, dan mencapai kemajuan.
Dia memberi contoh kisah seorang pekerja di perusahaan ledeng. Sebutlah namanya X. Lantaran tidak menunjukkan minat yang besar pada pekerjaan ini, X dipindah ke bagian sales. Hasilnya tetap saja buruk, lalu—lantaran tulisannya dinilai rapi—dia dipindah ke bagian administrasi. Ternyata hasil pekerjaannya juga mengecewakan. Nah, suatu hari X merenung dan mencatat kualitas-kualitas positif yang dimilikinya. Di antaranya: kebiasaan menghemat uang, kemampuan mengkalkulasikan ongkos pengerjaan ledeng dengan akurat, kemampuan melihat keahlian pada diri orang lain yang tidak dia miliki, ketekunan, dan kemampuan mendorong orang lain untuk bekerja dalam suasana harmonis.
X berpikir, bagaimana dia bisa memanfaatkan keterampilan-keterampilan itu? Jawabannya sangat jelas. X bangkit untuk membuka bisnis ledeng sendiri. Setelah menemukan lokasi, dia mencari pegawaipegawai terbaik dan mulai mencari proyek. Dalam setahun, agenda proyeknya sudah penuh. Hingga akhirnya perusahaan ledengnya itu maju pesat dan kesohor sebagai perusahaan ledeng yang andal. Itulah berkat inisiatif, meski X sendiri tidak pandai memperbaiki ledeng!
Kalau saja X tidak menciptakan inisiatif dan menindaklanjutinya, mungkin dia sudah dipecat bosnya. Mungkin pula nasibnya tak menentu. Dia justru menciptakan lapangan kerja baru, menghasilkan uang, dan mengumpulkan kekayaan, karena ber-inisiatif.
“Inisiatif pribadi mutlak diperlukan jika Anda ingin menyadari target Anda. Kualitas ini akan melahirkan kemajuan, perhatian, dan kesempatan.”
“Bila Anda berpikir Anda bisa, maka Anda benar. Bila Anda berpikir Anda tidak bisa, Anda pun benar.’
(Henry Ford)
“Jika Anda bisa memimpikannya, maka Anda juga bisa mewujudkannya.”
(Walt Disney)
KITA akan memberikan beberapa contoh sederhana tentang kekuatan pola pikir ‘tidak ada yang tidak mungkin.
“Telepon ini memiliki terlalu banyak kelemahan untuk dipertimbangkan secara serius sebagai alat komunikasi.” (memo internal Serikat Buruh, 1876).
“Sesuatu yang lebih berat daripada udara mustahil dapat terbang.” (Lord Kevin, Presiden Royal Society, 1895).
“Siapa yang sudi mendengarkan aktor berbicara.” (Harry M. Warner, Warner Brothers Picture, 1927, pada era film bisu).
“Kuda pasti akan senantiasa bersama kita, tetapi mobil pastilah barang baru-kegemaran sesaat.” (Presiden Michigan Savings Bank, Pengacara Ford yang menasihati agar tidak berinvestasi di Ford Motor Company).
“Saya pikir dunia hanya membutuhkan sekitar lima komputer saja.” (Thomas Watson, Chairman IBM, 1943).
“Kami tidak senang dengan musik mereka dan musik gitar sebentar lagi akan ketinggalan zaman.” (Decca Recording Co., ketika menolak The Beatles, 1962).
“Kamu tidak akan ke mana-mana, Nak. Sebaiknya kamu kembali menjadi sopir truk seperti semula.” (Jimmy Denny, Manajer Grand Ole Opry, memecat Elvis Presley setelah suatu pertunjukan tahun 1954).
“Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk punya komputer di rumahnya.” (Kenneth Olsen, Presiden dan Pendiri Digital Equipment Corporation, 1977).
“Terlepas dari segala kemajuan ilmiah di masa depan, manusia takkan pernah sampai ke bulan.” (DR. Lee De Forest, Penemu tabung audio dan bapak penemu radio, 25 Februari 1967).
“Televisi takkan bisa mempertahankan pasarnya setelah enam bulan pertama. Orang akan segera bosan memandangi kotak jati setiap malamnya.” (Darryl F. Zanuck, Pemimpin 20th Century Fox, 1946).
APAKAH Anda siap menghadapi komentar-komentar miring seperti di atas? Apakah Anda siap bila diremehkan dan dikatakan tidak akan mungkin mendapatkan satu miliar dan kelipatannya? Ini penting. Sangat penting. Jika Anda mendengarkan semua omongan; dari keluarga, teman, saudara ataupun musuh, dan lalu terjatuh, menyerah, pasrah dengan apa pun yang terjadi, maka Anda tidak akan mendapatkan yang Anda inginkan. Anda tidak akan mendapatkan satu miliar pertama Anda. Siapa pun, tanpa kecuali, pemenang tidak pernah berhenti, dan yang berhenti tidak pernah menang. Itu rumus sederhana.
Hidup seseorang dikendalikan oleh orang itu sendiri, tidak ada yang lain. Kerabat atau kenalan boleh saja mengkritik, memberi saran, atau bahkan meremehkan, tetapi tetap yang membuat keputusan adalah orang itu sendiri. Entah dia mendengarkan saran, kritik, atau peremehan itu atau tidak. Yang harus dipahami adalah bahwa apa pun keputusan yang Anda ambil, keputusan itulah yang membentuk hidup Anda selanjutnya. Dan Anda tidak berhak menjadikan orang lain sebagai alasan. Bagaimanapun, Anda sendirilah yang mengambil keputusan meskipun itu mengikuti saran orang lain. Toh, sejak awal Anda sudah diberi pilihan untuk menolak atau menerima saran, kritik, atau peremehan. Jika Anda menerimanya, bukan salah mereka. Anda memilih untuk menerimanya.
Kembali kepada pembahasan awal bahwa Anda harus siap menghadapi berbagai kalimat apa pun yang bisa menjatuhkan. Intinya adalah tidak ada yang tidak mungkin. Simpan kalimat ini baik-baik. Apa pun pekerjaan, berapa pun utang, dan bagaimanapun kondisi Anda saat ini; sama seperti semua orang yang berkecukupan, Anda juga bisa mendapatkan satu miliar pertama Anda. Titik.
Ini adalah judul sambutan dalam pidato saya di depan para wisudawan di Pierre Mendés-France University, Grenoble, Prancis, Kamis, 28 Juni 2012. Hari itu, selain peserta dari Prancis, juga diwisuda lulusan MBA dari berbagai negara (termasuk dari China, Rusia, Brazil dan Indonesia).
Menurut saya, bangsa yang hebat adalah a driver nation. “Driver nation” sendiri hanya bisa dihasilkan oleh pribadipribadi yang disebut “driver”, yang menyadari bahwa ia adalah mandataris kehidupan, dan pemimpin-pemimpinnya sadar bahwa ia mendapatkan mandataris dari rakyat untuk melakukan perubahan.
Jadi, ada tiga hal yang harus dilakukan, yaitu bagaimana men-drive diri sendiri (drive your self), men-drive orang lain (drive your people), dan men-drive bangsa (drive your nation). Kalau seseorang tak bisa men-drive dirinya sendiri, bagaimana ia bisa men-drive orang lain? Dan itu berarti tak ada kepemimpinan, tak ada yang men-drive bangsa ini (drive the nation). Jadi, “driver” itu apa? Bukankah di Indonesia ada jutaan orang yang berprofesi sebagai sopir? Kalau demikian, bisakah Indonesia disebut sebagai a driver nation?
Tentu bukan itu yang saya maksud. Driver adalah sebuah sikap hidup yang membedakan dirinya dengan “passenger”. Anda tinggal memilih, ingin duduk manis menjadi penumpang di belakang, atau mengambil risiko sebagai driver di depan? Di belakang, Anda boleh duduk sambil ngobrol, makan-makan, bercanda, bahkan ngantuk dan tertidur. Anda juga tak harus tahu jalan, tak perlu memikirkan keadaan lalu lintas, dan tak perlu merawat kendaraan. Enak, bukan?
Sebaliknya, seorang driver bisa hidup di mana pun mereka berada, dan selalu menumbuhkan harapan. Bila seorang “passenger” menjadi kerdil karena terbelenggu oleh setting-an otak yang tetap, maka seorang driver akan selalu tumbuh. Mereka mengajak orang-orangnya untuk berkembang dan keluar dari tradisi lama menuju tanah harapan. Mereka melakukan pembaruan-pembaruan dan menantang keterkungkungan dengan penuh keberanian.
Mereka berinisiatif memulai perubahan tanpa ada yang memerintahkan, namun tetap rendah hati dan kaya empati. Seperti kata CEO Garuda yang dengan teguh memimpin transformasi: Kalau seseorang terlalu kuat logic kasihan pegawainya, kalau hatinya terlalu dominan kasihan perusahaannya. Dengan kata lain, seorang driver harus seimbang antara logic (rasionalitas, hitung-hitungan, analisis, dan targetnya) dengan hatinya (empati, kepedulian, hubungan-hubungan sosial, tata nilai).
Terlahir sebagai orang cacat dengan fibular hemimelia, dia harus membiarkan kedua kakinya diamputasi ketika dia baru berumur 1 tahun.
Untuk mewujudkan cintanya pada dunia atletik, dia mempunyai tungkai tiruan yang dipasang di bawah dengkulnya dan dia bertanding melawan para atlet normal di kolese. Maka dia pantas menjadi atlet perwakilan dari universitasnya untuk Asosiasi Atletik Antarkolese Nasional.
Keringat membuat tungkai palsu licin; rekornya tidak begitu hebat. Akan tetapi, dia disanjung oleh teman-teman kuliahnya ketika dia melanjutkan berlari melawan para atlet normal.
Aimee Mullins bertanding melawan para-atlet dan terus mencapai rekor dunia renang. Kemudian dia menjadi seorang model pakaian dan menggeluti catwalk dengan tungkai palsunya.
Dalam upaya mengatasi kekurangannya, Aimee berkata, “Tiada sesuatu yang tidak mungkin bagiku dengan kaki palsu. Aku dapat menjadi seorang bintang olahraga dan menciptakan rekor dunia dan menjadi seorang model baju paling top tanpa kedua kakiku.”
“Kita adalah apa-apa yang berulang-ulang kita lakukan. Sukses bukanlah tindakan, melainkan sebuah kebiasaan.”
Aristoteles
Ya, rahasia dari kemahiran adalah kebiasaan yang berulang. Berlatih mengangkat barbel selama 2 jam tidak akan membuat otot kita membesar, tetapi berlatih mengangkat barbel selama 2 jam dan dilakukan berulang-ulang selama 6 bulan akan membentuk tubuh kita menjadi kekar. Kuncinya, repetisi.
Pergi menghadiri kelas bahasa Inggris 2 kali seminggu mungkin akan membuat kemampuan bahasa Inggris kita lebih lancar dari sebelumnya. Namun, tetap saja kita masih kalah mahir dengan orang-orang Indonesia yang tinggal di Inggris sana. Mengapa?
Karena setiap hari, mereka mempraktikkan bahasa Inggris secara berulang-ulang. Sampai-sampai mereka tidak perlu berpikir lagi setiap akan berbicara. Bahkan mereka sudah berpikir dalam bahasa Inggris.
Kuncinya? Ya, repetisi.
“Kebiasaan yang diulang terus-menerus akan melahirkan keahlian.” Kalimat ini tidak boleh kita lupakan. Betapa luar biasanya kekuatan kebiasaan. Habit is power!
Alam pun turut memberikan pelajaran kepada kita, bahwa tekad yang kuat untuk mengerjakan sesuatu secara berulangulang akan menghancurkan halangan sebesar dan sekeras apa pun di hadapan kita, sampai menembus logika!
Bayangkan, sebongkah batu yang besar dan keras dapat dilubangi oleh tetesan air yang jatuh berulang-ulang selama beberapa tahun di tempat yang sama. Kerasnya batu tak mampu menahan kelembutan air yang jatuh menetes berulang-ulang.
The power of repetition, masihkah Anda meragukannya?
“Cintailah orang yang kau cintai sekadarnya, bisa jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekadarnya bisa jadi suatu hari ia menjadi orang yang kau sayangi” (HR.At-Tirmidzi)
So, sudah selayaknya menyikapi persoalan kehidupan, mesti semakin dekat dengan-Nya pemilik semesta raya kuasa di atas segalaNya
Sebagaimana firman Alloh dalam surat Al Baqarah ayat 153:
“Wahai orang-orang yang beriman mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Sungguh Allah bersama orang-orang yang sabar.”
Motivator profesional asal Amerika Serikat, Jim Rohn, berulang kali berkata, “Sukses adalah sedikit kebiasaan baik yang diulang setiap hari, sedangkan kegagalan adalah sedikit keputusan buruk yang juga diulang setiap hari.”
Kesuksesan itu sangat ditentukan oleh kebiasaan. Menurut orang-orang sukses, kesuksesan sesungguhnya merupakan akumulasi dari beberapa langkah kecil dan kebiasaan. Karena itu, sangat penting bagi kita untuk membangun kebiasaan-kebiasaan sukses.
Jika sukses memang semudah itu, mengapa tidak banyak orang bisa meraihnya?
Kebanyakan orang gagal meraih kesuksesan dan tidak bahagia dalam hidupnya karena mereka tidak memiliki kepercayaan terhadap diri mereka sendiri. Mereka tidak yakin akan mampu meraih impian mereka.
Mereka sebenarnya tahu harus melakukan apa untuk meraih kesuksesan. Namun, karena merasa kurang yakin dengan dirinya, mereka pun menyerah sebelum mencoba atau memilih berhenti di tengah perjalanan menuju ke sana, sehingga gagal membangun kebiasaan baru.
Sebaliknya, orang-orang sukses bertindak berbeda dari kebanyakan orang. Dengan penuh percaya diri, mereka setidaknya melakukan tiga hal ini dan membuat mereka berhasil membangun kebiasaan sukses yang baru.
1) Mereka memilih tantangan ketimbang kenyamanan. Untuk menuju puncak gunung kesuksesan, setiap orang harus membayar harganya. Harganya yaitu berani menghadapi tantangan saat mendaki ke atas dan melepaskan zona nyaman.
2) Berpikir positif. Orang sukses selalu berprinsip “apa pun yang bisa engkau pikirkan, maka pasti bisa engkau dapatkan!”. Pikiran seperti ini membantu kita menghapus kebiasaan lama yang negatif dan menggantinya dengan kebiasaan baru yang positif.
3) Membangun kerja sama. Tak ada orang yang bisa sukses dengan kekuatannya sendiri. Kesuksesan baru bisa terwujud jika kita bisa membentuk hubungan yang positif dengan orang lain. Bertemu dan menjalin kerja sama dengan orang lain akan membuka peluang bagi kita untuk meraih kesuksesan.
Kesuksesan tak akan didapatkan dalam waktu semalam. Jika ingin meraih kesuksesan dengan cepat, maka kita harus membangun kebiasaan-kebiasaan positif mulai sekarang, bukan besok atau lusa.