Mencabut “Sebatang Pohon” Kebiasaan Buruk

Seorang anak laki-laki sedang berjalan-jalan di sebuah hutan bersama ayahnya. Mereka lalu berhenti sesaat di sebuah tempat. Ayahnya berkata, “Nak, bisakah engkau mencabut sebatang pohon kecil itu?”

Anak laki-laki itu menuruti permintaan ayahnya. Dengan satu tangan, ia berhasil mencabut pohon kecil yang ditunjuk sang ayah.

Mereka lanjut berjalan. Sang ayah lalu menunjuk sebuah pohon yang ukurannya lebih besar dari pohon pertama tadi. “Bagaimana dengan pohon itu? Bisakah engkau mencabutnya?”

Si anak laki-laki berjalan mendekati pohon itu. Ia mencoba mencabut pohon dengan satu tangan, tetapi gagal. Ia pun mengerahkan kedua tangannya untuk mencabut pohon itu. Barulah upayanya berhasil.

Keduanya kembali berjalan. Tiba di hadapan sebuah pohon besar yang berumur tua, sang ayah menepuk-nepuk batang pohon tua itu sambil memandang ke anaknya.

“Bagaimana dengan pohon besar ini, Nak? Apakah kamu kuat mencabutnya?”

Anak lelaki itu tahu, hampir mustahil untuk mencabut pohon sebesar itu dengan tangan kosong. Namun, ia tetap mendatangi pohon tersebut dan mencoba mencabutnya.

Seperti yang ia duga, pohon itu terlalu kukuh untuknya. la pun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, “Aku tak bisa mencabutnya, Ayah. Bahkan bila aku kerahkan seluruh tenagaku, pohon itu tetap tidak bisa aku cabut. Butuh mesin yang besar dan kuat untuk mencabutnya.”

Ayahnya tersenyum mendengar jawaban si anak, lalu berkata, “Kamu benar. Pohon-pohon ini seperti sebuah kebiasaan buruk. Kebiasaan buruk yang berjalan belum terlalu lama akan mudah dihapuskan, seperti pohon kecil pertama yang engkau cabut tadi.”

“Adapun kebiasaan buruk yang sudah dibiarkan berjalan cukup lama, masih bisa dihilangkan asalkan engkau mengeluarkan seluruh tenaga seperti yang kamu lakukan pada pohon kedua tadi,” kata ayahnya lagi.

“Namun, untuk kebiasaan buruk yang sudah menetap lama dalam diri kita,” ujar ayahnya sambil menatap pohon besar di hadapan mereka, “ia serupa dengan pohon tua ini. la besar dan kuat. Akan sangat sulit untuk menghilangkannya.”

Si anak lelaki mengangguk-angguk tanda paham.

“Oleh karena itu, Nak, bangunlah kebiasaan-kebiasaan baik di dalam dirimu, lalu peliharalah ia sehingga menjadi kukuh seperti pohon ini. Sebaliknya, segera hapus kebiasaan-kebiasaan buruk yang ada dalam dirimu. Jangan biarkan ia makin kuat dan makin besar, karena kelak, engkau akan kesulitan untuk menghapuskannya.”

***

Begitulah sifat kebiasaan. Jika ia telah berdiam lama dalam diri kita, telah berulang kali kita kerjakan, maka akan makin sulit bagi kita untuk menghentikannya.

Jadi, jangan pernah menunda memulai upaya menghentikan kebiasaan buruk, karena makin awal kita melakukannya, akan makin baik. Namun, tentu saja, cara terbaik untuk menghentikan sebuah kebiasaan buruk adalah dengan jangan pernah memulainya. Jangan pernah menanam pohon yang tak bisa engkau tebang.

“Jika kebiasaan buruk makin besar, maka ia akan mendominasi kehidupan kita, sehingga makin jauhlah diri kita dari impian yang ingin dituju.”


  • Buku: “Habit is Power” dan “Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik”
  • Penulis: T. Harry Wilopo
  • Pesan Di Sini

Waktu yang Dibutuhkan untuk Membentuk Kebiasaan Baru

“Kita adalah apa-apa yang kita lakukan secara berulangulang,”

Aristoteles

Kenyataannya memang seperti itu. Apa pun kemahiran yang kita miliki merupakan hasil dari rangkaian latihan yang telah berulang kali kita kerjakan sebelumnya.

Bagi sebagian besar kita saat ini, berjalan adalah aktivitas yang mudah dilakukan. Namun, orangtua kita tentu menjadi saksi betapa susahnya dulu kita awalnya belajar berjalan. Kita harus berdiri dengan susah payah, lalu melangkahkan kaki selangkah demi selangkah, mencoba menyeimbangkan tubuh, hingga berpegangan pada sesuatu agar tidak terjatuh.

Tak bisa dihitung lagi, berapa kali kita terjatuh saat mencoba belajar berjalan. Namun, kita tak pernah menyerah. Kita selalu bangkit dan tak takut untuk mencoba lagi, berdiri dan berjalan.

Selama beberapa waktu, kita belajar berjalan. Saat itulah, sel saraf di otak kita saling terhubung dan merekam dengan baik hasil latihan itu dan mengirim memori itu ke anggota tubuh, sehingga lama-kelamaan kita sudah mampu berjalan dengan baik, bahkan juga berlari.

Saat ini, berjalan sudah bisa kita lakukan secara otomatis, tanpa harus berpikir terlebih dahulu. Berjalan sudah menjadi kebiasaan dan kita sangat mahir untuk melakukannya. Namun, itu semua butuh waktu.

Untuk mengubah suatu aktivitas menjadi sebuah kebiasaan, dibutuhkan kurun waktu tertentu. Berapa lama, sih, waktu yang kita butuhkan untuk membangun kebiasaan baru? Jawabannya, tergantung pada kemampuan otak masing-masing dalam merekam program baru yang kita inputkan ke dalamnya.

Pada tahun 1950-an, seorang dokter bedah plastik, Maxwell Maltz, menemukan sebuah pola yang terlihat dari pasienpasiennya. Ia memperhatikan, diperlukan sekitar 21 hari bagi pasien-pasiennya untuk membiasakan diri dengan wajah baru mereka usai operasi plastik. Ia juga punya kesimpulan yang sama bagi pasien yang baru saja melakukan amputasi lengan atau kaki. Fakta ini membuat Dr. Mawell Maltz yakin bahwa manusia membutuhkan setidaknya waktu selama 21 hari untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru.

Penelitian soal waktu yang dibutuhkan untuk membentuk kebiasaan baru juga dilakukan oleh Phillippa Lally, seorang peneliti psikologi kesehatan di Universitay College London. la meneliti 96 orang selama 12 minggu. Mereka diminta memilih kebiasaan sederhana baru, seperti meminum sebotol air saat makan siang atau berlari selama 15 menit sebelum makan malam.

Hasilnya, diperoleh kesimpulan, rata-rata orang membutuhkan waktu 66 hari (2 bulan lebih) sebelum akhirnya menjadikan aktivitas baru itu sebagai sebuah kebiasaan yang berjalan secara otomatis. Namun, Phillippa Lally juga memiliki kesimpulan tambahan. Ternyata waktu yang dibutuhkan untuk membentuk kebiasaan baru itu sangat variatif; dipengaruhi oleh perilaku, orang, dan keadaan yang mendukung.

Menurut penelitiannya itu, seorang manusia bisa memiliki kebiasaan baru setelah melakukan aktivitas secara berulang selama 18 hari hingga 254 hari. Artinya, jika kita ingin membentuk kebiasaan baru, maka mulailah melakukan aktivitas pilihan kita dan melakukannya secara berulang selama 3 minggu hingga 8 bulan. Itulah kurun waktu yang dibutuhkan otak kita untuk memprogram sebuah kebiasaan baru. Setelahnya, semua akan berjalan secara otomatis.

“Kebiasaan bukanlah sebuah garis finis yang harus dilalui, melainkan gaya hidup yang harus dijalani.”

James Clear dalam Atomic Habits

  • 📕 Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik
  • 👤 T. Harry Wilopo

Dua Kunci Sukses

Dua kunci sukses di usia muda adalah:

Pertama, mulai berlatih sesegera mungkin. Ibarat menanam tanaman, tanamlah benih sesegera mungkin sehingga kita bisa memanennya lebih cepat. Makin awal kita memulai latihan, lalu menjadikan latihan itu sebagai kebiasaan seharihari, makin cepat pula kita akan meraih kesuksesan.

Kedua, perbanyak intensitas latihan setiap harinya. Warren Buffett pernah berkata, “Saya selalu tertantang untuk menjadi lebih baik dari orang lain. Jika orang lain membaca buku 100 halaman per hari, maka saya akan berusaha membaca 300 halaman per hari.”

Jika kebanyakan orang bekerja 9 to 5 alias 8 jam, maka berusahalah mengerjakan apa yang menjadi bidang keahlian kita selama 10-12 jam dalam sehari. Dengan begitu, hasil yang kita dapatkan selalu lebih baik, lebih cepat, dan lebih banyak.

Kebiasaanlah yang akan membuat keahlian kita sempurna. Apa yang memisahkan kita saat ini dengan tujuan hidup kita adalah waktu. Jika kita bisa mengisi waktu itu dengan hal-hal yang tepat, maka cepat atau lambat, tujuan hidup yang kita idam-idamkan pun akan berhasil terwujud.


  • Buku: Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik
  • Oleh: T. Harry Wilopo

Menjadi Tuan Bagi Pikiran Kita Sendiri

George Dantzig

Ada sebuah kisah menarik yang bisa menjadi contoh betapa pentingnya menjadi tuan bagi pikiran kita sendiri. Ini adalah sebuah kisah nyata.

Suatu hari, pada tahun 1939, seorang mahasiswa bernama George Dantzig harusnya menghadiri kuliah matematika yang diasuh oleh Prof. Jerzy Neyman. Namun, karena suatu hal, George tidak bisa datang tepat waktu.

Setelah urusannya selesai, setengah berlari, George bergegas menuju kelas Prof. Jerzy Neyman. Sayangnya, ia terlambat. Setibanya di sana, ruang kelas sudah kosong. Kelas telah bubar dan tak ada seorang pun yang tinggal.

George melihat dua soal matematika di papan tulis. la menduga kedua soal itu adalah pekerjaan rumah yang diberikan sang profesor untuk para mahasiswanya. Segera George mengeluarkan buku catatan dan mencatatnya.

Selama berhari-hari kemudian, George berusaha dengan keras mengerjakan kedua soal itu. Tidak seperti biasanya, George merasa kali ini pekerjaan rumah yang diberikan Prof. Jerzy sangat susah.

“Namun, pasti ini ada jawabannya. Pasti ada jawabannya. Aku harus bisa menemukan jawabannya,” gumam George, memberi semangat kepada dirinya sendiri.

Pada akhirnya, George berhasil mengerjakan soal nomor 1. la pun mengumpulkan lembar jawabannya ke ruang sang profesor.

Tak lama kemudian, sang profesor memanggilnya untuk bertemu. la bertanya, bagaimana cara George menyelesaikan soal itu. George pun menceritakan betapa kerasnya upaya yang ia lakukan untuk menyelesaikan soal pekerjaan rumah dari sang profesor.

Setelah mendengar penjelasan George, Profesor Jerzy berkata, “Tahukah engkau? Dua soal yang engkau kira pekerjaan rumah itu sesungguhnya adalah dua soal matematika tersulit di dunia, yang hingga saat ini belum ada satu pun ahli yang berhasil memecahkannya. Aku menuliskannya di papan hanya untuk memberi contoh kepada para mahasiswa di kelas.”

Seketika George Dantzig tersadar. Seandainya ia tidak datang terlambat di kelas itu, ia mungkin masih belum dapat memecahkan soal tersebut, karena sama seperti mahasiswa lainnya, ia mungkin juga berpikir soal itu adalah soal yang tak dapat dipecahkan.

George Dantzig di kemudian hari menjadi profesor matematika yang terkenal di Stanford University. Semua itu berawal dari ketidaksengajaannya memecahkan soal tersulit di dunia yang ia sangka sebagai pekerjaan rumah biasa.

Jangan biarkan hal-hal negatif mendominasi pikiran kita.

Kisah ini membuktikan bahwa pikiran kita memiliki kekuatan yang luar biasa, seandainya kita bisa menjaganya dan menjauhkannya dari hal-hal negatif dan pesimisme.

Napoleon Hill, penulis buku Think and Grow Rich, pernah berkata, “Apa pun yang bisa dibayangkan dan diyakini oleh pikiran manusia, itu akan bisa diraih.”

la menyarankan agar setiap pemburu kesuksesan senantiasa menjaga pikiran tetap positif dan memelihara optimisme. Saat kita memfokuskan diri pada hal-hal positif, otak kita akan bekerja untuk menemukan cara agar hal-hal positif itu bisa terwujud. Sebaliknya, jika kita berfokus pada hal-hal negatif, maka otak kita pun akan mencari jalan agar hal-hal negatif itu bisa terwujud.


  • Buku: Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik
  • Penulis: T. Harry Wilopo

Melawan Bad Habit Menunda Pekerjaan

Otak kita secara alamiah lebih suka mendapatkan ganjaran lebih cepat dan tidak menyukai ganjaran yang tertunda. Menunda pekerjaan berarti kita mendapatkan waktu santai dengan cepat. Hal inilah yang membuat banyak orang suka menunda pekerjaan, meski ujung-ujungnya kita akan dibuat panik oleh pekerjaan-pekerjaan yang tertunda.

Tanda/Pemicu (Cue):

  • Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Deadline tidak mengikat.

Keinginan (Craving):

  • Ingin segera bersantai.

Perilaku (Routine):

  • Memilih menunda pekerjaan dan menyegerakan bersantai. Pekerjaan baru dikerjakan menjelang tenggat waktu yang ditentukan.

Ganjaran (Reward):

  • Merasa santai.

Efek negatif:

  • Menunda pekerjaan sama saja dengan menunda masalah. Cepat atau lambat, pekerjaan harus diselesaikan. Jika mengerjakan pekerjaan mepet tenggat waktu, kita akan terburu-buru. Akibatnya, hasilnya tidak optimal. Reputasi kita dipertaruhkan di sini. Kita akan mendapatkan citra sebagai pekerja yang baru menyelesaikan pekerjaan di pengujung tenggat dengan hasil yang standar (tidak istimewa). Bagaimana mungkin kita dianggap istimewa, sedangkan hasil kerja kita tidak istimewa?

Solusi:

Menghindari pemicu

  • Anggaplah setiap pekerjaan yang datang harus segera diselesaikan tanpa ditunda-tunda.

Mengubah perilaku

  • Bersantai bisa dilakukan setelah kita menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Berikan reward kepada diri sendiri setiap kali berhasil mengerjakan pekerjaan dengan baik dan tepat waktu. Misal, saya boleh bermain game atau beraktivitas di media sosial setelah seluruh pekerjaan kantor selesai dengan hasil memuaskan.

  • Buku: “Habit Is Power” oleh T. Harry Wilopo
Pesan Di Sini

Melawan Bad Habit Tidak Menyusun Planning Harian

Memang, tidak semua orang suka melakukan hal-hal dengan teratur. Ada orang-orang yang bersifat spontan, suka melakukan segala sesuatu tanpa terlebih dahulu membuat rencana. Namun, jika kita berbicara tentang pekerjaan, maka membuat planning harian adalah sebuah keharusan.

Kita memiliki banyak pekerjaan di kantor. Ada begitu banyak hal yang harus diselesaikan dalam sehari. Bila kita tak membuat planning, pikiran kita akan terbebani dengan banyaknya pekerjaan. Kita akan kebingungan menentukan skala prioritas, mana pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Akibatnya, segalanya bisa berantakan.

Mengapa kita gagal membiasakan diri membuat planning harian? Begini lingkaran kebiasaan buruk yang membentuknya.

Tanda/Pemicu (Cue):

  • Datang terlambat ke kantor.

Keinginan (Craving):

  • Ingin santai pada pagi hari.

Perilaku (Routine):

  • Memilih berangkat ke kantor mepet dengan jam masuk kantor. Tak ingin dipusingkan oleh masalah kantor. Segala sesuatu dipikir belakangan.

Ganjaran (Reward):

  • Merasa senang karena menghabiskan waktu lebih lama untuk bersantai pada pagi hari.

Efek negatif:

  • Maksud hati ingin bersantai, tetapi ketidakmampuan menyusun planning justru membuat kita menjalani hari-hari kerja dengan kacau. Ada banyak target penting yang terlewati, sementara pekerjaan yang tidak begitu penting dan tidak mendesak justru telah kita selesaikan terlebih dahulu. Efek jangka panjang dari kebiasaan ini adalah kita mengalami depresi karena pekerjaan menumpuk. Kita pun dinilai memiliki kinerja buruk, karena tak mampu menyelesaikan target pekerjaan dengan baik.

Solusi:

Menghindari pemicu:

  • Datang 30 menit sebelum jam masuk kantor.

Mengubah perilaku:

  • Datang lebih awal ke kantor, mendata seluruh pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu, menyusun skala prioritas, lalu jalani hari dengan penuh semangat. Planning akan membuat Anda menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, sehingga pikiran Anda tidak dibuat ruwet oleh tumpukan pekerjaan. Pada akhir hari, Anda akan mendapat perasaan santai yang Anda idamkan. Sebagai bonus, atasan akan memberi nilai baik bagi kinerja Anda. Siap-siap naik gaji dan naik jabatan nih!

“Bila kita tak membuat planning, pikiran kita akan terbebani dengan banyaknya pekerjaan.”


  • Buku: “Habit Is Power” oleh T. Harry Wilopo

Mitos tentang Uang

Orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder tidak percaya pada mitos-mitos yang salah mengenai uang, yang jika mempercayainya justru uang akan lari dari kehidupannya.

Mitos 1

Ada yang mengatakan (1) “uang menghasilkan uang. ” Sehingga, orang-orang awam malas mencari uang umpamanya dengan mendirikan perusahaan kecil-kecilan karena mengaku tidak punya uang, tidak punya modal. Faktanya, uang sering tidak menghasilkan uang. Contohnya kalangan kelas menengah yang punya uang namun menghabiskannya secara konsumtif hanya untuk memenuhi keinginan dan gaya hidup. Uang mereka tidak menghasilkan uang.

Kenyataan juga menunjukkan: sebagian miliarder di dunia membangun kekayaan dari nol. Semula mereka hidup miskin dan tidak punya modal material. Mereka hanya bermodalkan semangat dan ide, akhirnya bisa memulai bisnisnya kecil-kecilan, lalu berkembang dan akhirnya menjadi korporasi yang besar. Di antara mereka juga ada yang memutarkan uang milik orang lain atau para investor. Setelah mampu mandiri, akhirnya mereka memiliki bisnis sendiri. Ini artinya: tanpa uang, mereka menghasilkan uang.

Mitos 2

Mitos ke (2) tentang uang, ada yang mengatakan “menabung satu sen berarti mendapatkan satu sen.” Orang-orang awam dan kelas menengah percaya ini, sehingga mereka menyimpan uangnya di bank dan menjaga mati-matian agar tidak boleh berkurang. Mereka tidak akan mengambil uang itu sepeser pun demi menahan diri untuk menikmati kesenangan hidup walaupun sedikit saja. Mereka hidup sangat-sangat hemat, hingga keinginan membeli secangkir kopi dan atau sekotak es krim pun diurungkan. Mereka punya uang dalam tabungan, tapi tidak dapat menikmati hangatnya segelas kopi. Ironis, bukan?

Tentu saja menabung penting, tetapi orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder tidak mau membiarkan uangnya pasif di bank. Mereka pasti punya simpanan uang di bank, namun hanya bersifat sementara dan pengaman saja. Uang itu mereka putar atau investasikan untuk berbagai usaha, sehingga jumlahnya akan bertambah-tambah. Dan, mereka tidak menghilangkan kebiasaan menikmati secangkir kopi misalnya di akhir-akhir pekan. Boleh jadi meneguk secangkir kopi itu begitu berarti bagi mereka bila dapat memunculkan ide-ide bisnis bernilai miliaran rupiah, atau menjadi minuman santai saat mereka ngobrol tentang peluang-peluang bisnis besar dengan sesama pebisnis lainnya di suatu kafe.

Mitos 3

Mitos ke (3) tentang uang, ada pula yang mengatakan, “Satu-satunya cara untuk memikirkan uang adalah dengan memiliki banyak uang.” Dalam bahasa yang lebih lugas, banyak orang sering berkata: “Buat apa kita memikirkan uang, toh uangnya tidak ada, kita tidak memilikinya.” Nah, orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder membalik mitos itu dengan pernyataan “Satu-satunya cara untuk memiliki banyak uang adalah dengan memikirkannya.”

Memikirkan uang berarti menarik uang itu datang. Di sini berlaku hukum daya tarik-menarik (law of attraction) tentang uang, sebagaimana yang diajarkan tokoh-tokohnya seperti Rhonda Byrne, Michael J Losier, Joe Vitale, Bob Proctor, Jack Canfield, dan John Assaraf. Orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder sadar betul bahwa untuk mendapatkan uang mereka terus memikirkannya. Bagi mereka, membicarakan uang bukanlah tabu, tapi justru penting karena merupakan langkah awal untuk menarik uang datang. Orang-orang awam dan kaum miskin justru malu bahkan menganggap tabu membicarakan uang, sehingga uang menjauh dari mereka.

Tentu saja tidak cukup hanya memikirkannya. Mereka menindaklanjutinya dengan merumuskan tujuan, melakukan tindakan, merealisasikan ide-ide, mewujudkan hasrat dan minat, dan banyak lagi tindakan positif lainnya, hingga akhirnya mereka benar-benar mendapatkan uang dalam jumlah besar, bahkan tidak diduga-duga. Pada umumnya orang awam dan kaum miskin hanya memikirkan tanpa berusaha mewujudkannya.

Benar kata Napoleon Hill, yang pernah mengkaji dan merumuskan kekayaan ala Dale Carnegie, bahwa:

“Kebanyakan orang menginginkan kekayaankhususnya uang tetapi hanya sedikit yang menyediakan rencana pasti dan hasrat keinginan yang berkobar-kobar guna merintis jalan menuju kekayaan.”

Napoleon Hill

Bertahun-tahun yang lampau, Scrully Blotnick, jurnalis Amerika Serikat juga mengadakan penelitian terhadap 1.500 orang. Mereka dibagi menjadi dua kelompok yakni: Kelompok A berkata bahwa mereka akan mengejar uang terlebih dahulu dan baru akan melaksanakan apa yang benar-benar mereka inginkan kemudian. Ada 1.245 orang yang masuk kelompok ini. Kemudian Kelompok B, yang terdiri atas 255 orang, berkata bahwa mereka akan mengutamakan minat mereka, dan percaya bahwa uang akan mengikuti mereka kemudian.

Apa yang terjadi?

Dua puluh tahun kemudian, ada 101 jutawan yang lahir dari kedua kelompok itu. Hanya 1 orang yang berasal dari Kelompok A. Seratus orang jutawan lainnya berasal dari Kelompok B, kelompok yang berkata bahwa mereka akan mewujudkan gairah atau minat mereka dahulu dan uang akan datang kemudian.

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa uang bisa ditarik, dan cara menariknya adalah dengan melakukan serangkaian tindakan yang menjadi minat seseorang dalam pekerjaan atau profesinya (Catatan: soal minat atau passion ini telah diuraikan pada bagian awal, silakan baca kembali tentang ”miliarder memiliki 8 sifat untuk sukses”).

Begitu kontras perbedaan antara orang-orang awam atau kaum miskin dan orang-orang kaya dalam memandang uang. Berbeda pula hasil yang mereka peroleh masing-masing. Dengarlah pesan atau nasihat dari John D Rockefeller, salah satu orang terkaya di dunia yang kisah hidup dan kesuksesan bisnisnya terus dipelajari hingga saat ini. Dia berkata:

‘Aku percaya bahwa tugasku menghasilkan uang dan lebih banyak uang lagi, dan menggunakannya demi sesama manusia sesuai dengan perintah hati nuraniku.’

John D. Rockefeller

Jelaslah bahwa orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder itu memperlakukan uang dengan baik dan positif, sehingga uang tidak lari dari mereka, tapi justru uang tertarik dan kemudian masuk ke dalam kehidupan mereka. Jadi, jika Anda menilai dan memandang uang secara negatif, maka Anda tidak akan mendapatkannya. Tapi, tatkala Anda menilai dan menyikapi uang secara positif, maka Anda akan meraihnya, sebanyak yang Anda inginkan.


  • Buku: “The Habits of Millionaires” oleh Zaenuddin HM

The Rules of 10.000 Hours

Perlu 5 tahun bagi saya untuk mencapai taraf sebagai pembicara nasional semenjak saya mulai menyampaikan Inspirasi Islam dengan menggunakan multimedia pada tahun 2005. Perlu 13 tahun bagi Ronaldinho untuk menjadi pemain terbaik dunia. Sekitar 10 tahun diperlukan seorang mahasiswa menjadi dokter ahli dan lebih lama lagi untuk benar-benar ahli. Donnie Yen memulai pelajaran kungfu dari ibunya semenjak kecil dan memulai debut film pada umur 20 tahun, dan perlu 25 tahun lagi baginya untuk memproduksi film sekelas Ip Man. Namun hanya perlu 3 bulan untuk menjadi ahli menyapu lantai. Membentuk diri menjadi expert yang manfaat memang perlu waktu.

Kita tidak mengetahui berapa tepatnya waktu yang diperlukan untuk menjadi seorang expert dalam sebuah habits, yang jelas kita mengetahui bahwa semakin bermutu keahlian yang ingin kita kuasai, maka semakin besar pula tenaga yang harus dikerahkan dan tentu saja waktu yang harus disediakan semakin lama.

Perlu waktu untuk bisa melakukan sesuatu dengan benar, dan perlu banyak waktu untuk membentuknya jadi habits kita, dan perlu lebih banyak lagi waktu untuk menjadi expert dalam hal itu, dan mungkin perlu seumur hidup untuk menjadi master dalam sesuatu yang kita pilih. Sebuah penelitian menyampaikan bahwa seseorang baru akan menjadi ahli dalam bidang yang dia pilih apabila telah berlatih selama 10.000 jam di bidang tersebut.

Jika, kita berlatih 3 jam sehari dalam bidang yang ingin kita kuasai, maka perlu 10 tahun bagi kita untuk mencapai 10.000 jam itu. Bila kita ingin 5 tahun menjadi seorang ahli, maka haruslah latihan itu kita tingkatkan 6 jam sehari.

Dan perlu kita sampaikan pula, tidak ada yang menjadi expert tanpa melalui waktu latihan 10.000 jam, maka mulailah berlatih dan mengulang-ulang latihan.


  • Buku: “Habits” oleh Felix Y. Siauw

Melawan Bad Habit Datang Terlambat ke Kantor

Kebanyakan karyawan datang ke kantor bukan karena jarak jauh perjalanan dari rumah ke kantor atau macet di jalan. Kebiasaanlah yang patut dipersalahkan.

Jauhnya jarak dapat diatasi dengan berangkat lebih awal dari rumah. Namun, orang dengan kebiasaan datang terlambat ke kantor hampir setiap hari melakukan kebiasaan ini. Lucunya lagi, mereka yang sering terlambat justru biasanya yang jarak tempat tinggalnya lebih dekat dengan kantor. Sementara karyawan dengan tempat tinggal yang jauh lebih jarang terlambat.

Tanda/Pemicu (Cue):

  • Ranjang dan gawai; dua hal yang membuat kita merasa malas untuk segera bangkit dan bersiap pergi ke kantor. Bangun siang pun bisa menjadi salah satu penyebabnya. Minum kopi sambil merokok juga bisa menjadi pemicu kita terlambat ke kantor.

Keinginan (Craving):

  • Ingin santai pada pagi hari.

Perilaku (Routine):

  • Memilih berangkat ke kantor mepet dengan jam masuk kantor.

Ganjaran (Reward):

  • Merasa senang karena bersantai menghabiskan waktu lebih lama di ranjang atau bersantai dengan gawai, rokok, dan kopi.

Efek negatif:

Datang terlambat ke kantor jelas akan mencoreng kredibilitas kita di hadapan atasan. Ini akan membuat diri kita susah dipercaya untuk menangani proyek-proyek penting. Faktor disiplin deadline merupakan pertimbangan utama dalam memilih orang-orang yang dipercaya untuk memimpin sebuah proyek. Bagaimana kita bisa dipercaya, bila datang ke kantor tepat waktu saja kita kesulitan? Normalnya, orang yang sering datang terlambat ke kantor akan sulit mendapatkan kenaikan jabatan.

Efek negatif lain adalah kita terburu-buru. Hal ini bisa membahayakan keselamatan kita di jalan. Karena terburu-buru, kita pun tidak tenang di kantor. Ada saja hal yang kita lupakan. Perasaan cemas akan membuat pekerjaan kita tidak optimal.

Solusi:

Menghindari pemicu

Bangun lebih pagi, berolahraga, sarapan sehat, dan buatlah persiapan untuk berangkat lebih awal ke kantor.

Mengubah perilaku

Gantilah perilaku bersantai di rumah pada pagi hari dengan perilaku bersantai di kantor. Tiba di kantor 30 menit sebelum jam masuk kantor akan membuat kita memiliki waktu ekstra untuk bersantai, menikmati kopi, membuat rencana kerja harian, memeriksa surel, atau bahkan sekadar mengobrol santai dengan rekan kerja. Bila hal ini dilakukan, perlahan prestasi kerja kita pun akan meningkat.


  • Buku: “Habit Is Power” oleh T. Harry Wilopo Order Now
Order Now

Melawan Bad Habit Malas Berolahraga Pagi

Berolahraga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh kita. Sayangnya, sedikit di antara kita yang membangun disiplin untuk berolahraga. Selain menyehatkan badan, olahraga juga bermanfaat untuk meningkatkan kepercayaan diri kita, memperbaiki suasana hati, menekan stres, dan membuat kita tidur lebih nyenyak pada malam hari.

Tanda/Pemicu (Cue):

  • Bangun siang, tak ingin terburu-buru ke kantor.

Keinginan (Craving):

  • Ingin santai pada pagi hari.

Perilaku (Routine):

  • Melewati kegiatan olahraga pagi. Lebih suka bermalasmalasan di atas ranjang sampai tiba waktunya berangkat ke kantor.

Ganjaran (Reward):

  • Merasa puas bersantai.

Efek negatif:

Malas berolah raga membuat tubuh kita lesu dan kurang bugar. Energi yang kita miliki untuk beraktivitas setiap hari menjadi berkurang. Kesehatan tubuh kita pun mudah terganggu. Peredaran darah tidak lancar, sering merasa pusing, nyeri punggung, rentan terkena penyakit strok dan jantung, juga obesitas serta tekanan darah tinggi. Orang yang rutin berolahraga akan memiliki performa yang lebih baik di kantor. Ini tentu akan mendorongnya menjadi orang yang sukses di masa depan.

Solusi:

Menghindari pemicu

Bangunlah lebih awal pada pagi hari agar memiliki waktu untuk berolahraga selama 30 menit. Anda tidak akan merasa terburu-buru ke kantor.

Mengubah perilaku

Gantilah perilaku bermalas-malasan di atas ranjang pada pagi hari dengan berolahraga. Berjalan kaki keliling perumahan bila dilakukan secara rutin akan memberikan dampak yang hebat di masa depan bagi kehidupan Anda. Lakukan setidaknya 5 kali dalam sepekan.

Berjalan santai juga akan memberikan perasaan santai bagi pikiran dan tubuh Anda. Sama seperti reward yang Anda harapkan dari bersantai di atas ranjang, hanya saja hasilnya lebih positif. Setelah berolahraga, berikan hadiah bagi diri Anda secangkir susu hangat atau segelas jus jeruk yang segar sebagai penyemangat agar Anda mau mengulanginya esok hari.

Ingatlah bahwa perbaikan 1% kelak akan memberikan hasil yang luar biasa.


Order Now