Seorang anak laki-laki sedang berjalan-jalan di sebuah hutan bersama ayahnya. Mereka lalu berhenti sesaat di sebuah tempat. Ayahnya berkata, “Nak, bisakah engkau mencabut sebatang pohon kecil itu?”
Anak laki-laki itu menuruti permintaan ayahnya. Dengan satu tangan, ia berhasil mencabut pohon kecil yang ditunjuk sang ayah.
Mereka lanjut berjalan. Sang ayah lalu menunjuk sebuah pohon yang ukurannya lebih besar dari pohon pertama tadi. “Bagaimana dengan pohon itu? Bisakah engkau mencabutnya?”
Si anak laki-laki berjalan mendekati pohon itu. Ia mencoba mencabut pohon dengan satu tangan, tetapi gagal. Ia pun mengerahkan kedua tangannya untuk mencabut pohon itu. Barulah upayanya berhasil.
Keduanya kembali berjalan. Tiba di hadapan sebuah pohon besar yang berumur tua, sang ayah menepuk-nepuk batang pohon tua itu sambil memandang ke anaknya.
“Bagaimana dengan pohon besar ini, Nak? Apakah kamu kuat mencabutnya?”
Anak lelaki itu tahu, hampir mustahil untuk mencabut pohon sebesar itu dengan tangan kosong. Namun, ia tetap mendatangi pohon tersebut dan mencoba mencabutnya.
Seperti yang ia duga, pohon itu terlalu kukuh untuknya. la pun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, “Aku tak bisa mencabutnya, Ayah. Bahkan bila aku kerahkan seluruh tenagaku, pohon itu tetap tidak bisa aku cabut. Butuh mesin yang besar dan kuat untuk mencabutnya.”
Ayahnya tersenyum mendengar jawaban si anak, lalu berkata, “Kamu benar. Pohon-pohon ini seperti sebuah kebiasaan buruk. Kebiasaan buruk yang berjalan belum terlalu lama akan mudah dihapuskan, seperti pohon kecil pertama yang engkau cabut tadi.”
“Adapun kebiasaan buruk yang sudah dibiarkan berjalan cukup lama, masih bisa dihilangkan asalkan engkau mengeluarkan seluruh tenaga seperti yang kamu lakukan pada pohon kedua tadi,” kata ayahnya lagi.
“Namun, untuk kebiasaan buruk yang sudah menetap lama dalam diri kita,” ujar ayahnya sambil menatap pohon besar di hadapan mereka, “ia serupa dengan pohon tua ini. la besar dan kuat. Akan sangat sulit untuk menghilangkannya.”
Si anak lelaki mengangguk-angguk tanda paham.
“Oleh karena itu, Nak, bangunlah kebiasaan-kebiasaan baik di dalam dirimu, lalu peliharalah ia sehingga menjadi kukuh seperti pohon ini. Sebaliknya, segera hapus kebiasaan-kebiasaan buruk yang ada dalam dirimu. Jangan biarkan ia makin kuat dan makin besar, karena kelak, engkau akan kesulitan untuk menghapuskannya.”
***
Begitulah sifat kebiasaan. Jika ia telah berdiam lama dalam diri kita, telah berulang kali kita kerjakan, maka akan makin sulit bagi kita untuk menghentikannya.
Jadi, jangan pernah menunda memulai upaya menghentikan kebiasaan buruk, karena makin awal kita melakukannya, akan makin baik. Namun, tentu saja, cara terbaik untuk menghentikan sebuah kebiasaan buruk adalah dengan jangan pernah memulainya. Jangan pernah menanam pohon yang tak bisa engkau tebang.
“Jika kebiasaan buruk makin besar, maka ia akan mendominasi kehidupan kita, sehingga makin jauhlah diri kita dari impian yang ingin dituju.”
- Buku: “Habit is Power” dan “Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik”
- Penulis: T. Harry Wilopo
- Pesan Di Sini



