Mitos tentang Uang

Orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder tidak percaya pada mitos-mitos yang salah mengenai uang, yang jika mempercayainya justru uang akan lari dari kehidupannya.

Mitos 1

Ada yang mengatakan (1) “uang menghasilkan uang. ” Sehingga, orang-orang awam malas mencari uang umpamanya dengan mendirikan perusahaan kecil-kecilan karena mengaku tidak punya uang, tidak punya modal. Faktanya, uang sering tidak menghasilkan uang. Contohnya kalangan kelas menengah yang punya uang namun menghabiskannya secara konsumtif hanya untuk memenuhi keinginan dan gaya hidup. Uang mereka tidak menghasilkan uang.

Kenyataan juga menunjukkan: sebagian miliarder di dunia membangun kekayaan dari nol. Semula mereka hidup miskin dan tidak punya modal material. Mereka hanya bermodalkan semangat dan ide, akhirnya bisa memulai bisnisnya kecil-kecilan, lalu berkembang dan akhirnya menjadi korporasi yang besar. Di antara mereka juga ada yang memutarkan uang milik orang lain atau para investor. Setelah mampu mandiri, akhirnya mereka memiliki bisnis sendiri. Ini artinya: tanpa uang, mereka menghasilkan uang.

Mitos 2

Mitos ke (2) tentang uang, ada yang mengatakan “menabung satu sen berarti mendapatkan satu sen.” Orang-orang awam dan kelas menengah percaya ini, sehingga mereka menyimpan uangnya di bank dan menjaga mati-matian agar tidak boleh berkurang. Mereka tidak akan mengambil uang itu sepeser pun demi menahan diri untuk menikmati kesenangan hidup walaupun sedikit saja. Mereka hidup sangat-sangat hemat, hingga keinginan membeli secangkir kopi dan atau sekotak es krim pun diurungkan. Mereka punya uang dalam tabungan, tapi tidak dapat menikmati hangatnya segelas kopi. Ironis, bukan?

Tentu saja menabung penting, tetapi orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder tidak mau membiarkan uangnya pasif di bank. Mereka pasti punya simpanan uang di bank, namun hanya bersifat sementara dan pengaman saja. Uang itu mereka putar atau investasikan untuk berbagai usaha, sehingga jumlahnya akan bertambah-tambah. Dan, mereka tidak menghilangkan kebiasaan menikmati secangkir kopi misalnya di akhir-akhir pekan. Boleh jadi meneguk secangkir kopi itu begitu berarti bagi mereka bila dapat memunculkan ide-ide bisnis bernilai miliaran rupiah, atau menjadi minuman santai saat mereka ngobrol tentang peluang-peluang bisnis besar dengan sesama pebisnis lainnya di suatu kafe.

Mitos 3

Mitos ke (3) tentang uang, ada pula yang mengatakan, “Satu-satunya cara untuk memikirkan uang adalah dengan memiliki banyak uang.” Dalam bahasa yang lebih lugas, banyak orang sering berkata: “Buat apa kita memikirkan uang, toh uangnya tidak ada, kita tidak memilikinya.” Nah, orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder membalik mitos itu dengan pernyataan “Satu-satunya cara untuk memiliki banyak uang adalah dengan memikirkannya.”

Memikirkan uang berarti menarik uang itu datang. Di sini berlaku hukum daya tarik-menarik (law of attraction) tentang uang, sebagaimana yang diajarkan tokoh-tokohnya seperti Rhonda Byrne, Michael J Losier, Joe Vitale, Bob Proctor, Jack Canfield, dan John Assaraf. Orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder sadar betul bahwa untuk mendapatkan uang mereka terus memikirkannya. Bagi mereka, membicarakan uang bukanlah tabu, tapi justru penting karena merupakan langkah awal untuk menarik uang datang. Orang-orang awam dan kaum miskin justru malu bahkan menganggap tabu membicarakan uang, sehingga uang menjauh dari mereka.

Tentu saja tidak cukup hanya memikirkannya. Mereka menindaklanjutinya dengan merumuskan tujuan, melakukan tindakan, merealisasikan ide-ide, mewujudkan hasrat dan minat, dan banyak lagi tindakan positif lainnya, hingga akhirnya mereka benar-benar mendapatkan uang dalam jumlah besar, bahkan tidak diduga-duga. Pada umumnya orang awam dan kaum miskin hanya memikirkan tanpa berusaha mewujudkannya.

Benar kata Napoleon Hill, yang pernah mengkaji dan merumuskan kekayaan ala Dale Carnegie, bahwa:

“Kebanyakan orang menginginkan kekayaankhususnya uang tetapi hanya sedikit yang menyediakan rencana pasti dan hasrat keinginan yang berkobar-kobar guna merintis jalan menuju kekayaan.”

Napoleon Hill

Bertahun-tahun yang lampau, Scrully Blotnick, jurnalis Amerika Serikat juga mengadakan penelitian terhadap 1.500 orang. Mereka dibagi menjadi dua kelompok yakni: Kelompok A berkata bahwa mereka akan mengejar uang terlebih dahulu dan baru akan melaksanakan apa yang benar-benar mereka inginkan kemudian. Ada 1.245 orang yang masuk kelompok ini. Kemudian Kelompok B, yang terdiri atas 255 orang, berkata bahwa mereka akan mengutamakan minat mereka, dan percaya bahwa uang akan mengikuti mereka kemudian.

Apa yang terjadi?

Dua puluh tahun kemudian, ada 101 jutawan yang lahir dari kedua kelompok itu. Hanya 1 orang yang berasal dari Kelompok A. Seratus orang jutawan lainnya berasal dari Kelompok B, kelompok yang berkata bahwa mereka akan mewujudkan gairah atau minat mereka dahulu dan uang akan datang kemudian.

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa uang bisa ditarik, dan cara menariknya adalah dengan melakukan serangkaian tindakan yang menjadi minat seseorang dalam pekerjaan atau profesinya (Catatan: soal minat atau passion ini telah diuraikan pada bagian awal, silakan baca kembali tentang ”miliarder memiliki 8 sifat untuk sukses”).

Begitu kontras perbedaan antara orang-orang awam atau kaum miskin dan orang-orang kaya dalam memandang uang. Berbeda pula hasil yang mereka peroleh masing-masing. Dengarlah pesan atau nasihat dari John D Rockefeller, salah satu orang terkaya di dunia yang kisah hidup dan kesuksesan bisnisnya terus dipelajari hingga saat ini. Dia berkata:

‘Aku percaya bahwa tugasku menghasilkan uang dan lebih banyak uang lagi, dan menggunakannya demi sesama manusia sesuai dengan perintah hati nuraniku.’

John D. Rockefeller

Jelaslah bahwa orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder itu memperlakukan uang dengan baik dan positif, sehingga uang tidak lari dari mereka, tapi justru uang tertarik dan kemudian masuk ke dalam kehidupan mereka. Jadi, jika Anda menilai dan memandang uang secara negatif, maka Anda tidak akan mendapatkannya. Tapi, tatkala Anda menilai dan menyikapi uang secara positif, maka Anda akan meraihnya, sebanyak yang Anda inginkan.


  • Buku: “The Habits of Millionaires” oleh Zaenuddin HM

Cara Miliarder Memandang Uang

Bagaimanakah cara orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder memandang uang? Kita mungkin jarang bertanya tentang ini, padahal penting untuk diketahui.

Ternyata, cara mereka sangat bertolak belakang dengan kecenderungan kaum kelas menengah dan orang-orang miskin. Para miliarder menganggap uang bukanlah sumber masalah atau kejahatan. Uang bersifat netral sehingga bisa dibawa ke arah positif. Pandangan mereka yang positif tentang uang sejalan dengan pendapat orang-orang bijak yang mengatakan, “Uang memang bukan segala-galanya, tapi butuh segalanya butuh uang. “Ya, karena setiap orang uang, maka harus mencari dan memilikinya.

“Saat muda saya pikir uang itu yang terpenting dalam hidup ini. Sekarang, saat saya sudah tua. saya sungguh-sungguh tahu bahwa uang memang yang terpenting.”

Oscar Wilde (1854-1900), Penulis Irlandia

Orang-orang miskin dan kaum kelas menengah sering merasa cemas dan takut terhadap uang, entah cemas jumlah uang yang mereka miliki akan berkurang malah habis ataupun ketakutan kalau uang berdampak negatif yakni menimbulkan berbagai modus kejahatan. Orang-orang awam bahkan menjadi stres tatkala menghadapi uang dalam jumlah yang sangat besar. Mereka kebingungan uang sebanyak itu mau digunakannya untuk apa dan hendak dibelanjakan ke mana. Mereka bisa kehilangan akal sehatnya karena pengaruh uang.

Tidak demikian dengan orang-orang kaya dan para miliarder, mereka memandang uang secara wajar dan dengan logika positif. Dengan uang, mereka bukan hanya berusaha mencapai taraf hidup lebih baik dalam segala hal termasuk kesehatan, melainkan juga berbuat berbagai kebajikan guna menolong orang lain.

Secara umum, orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder memandang uang adalah:

  • Alat penting untuk mewujudkan sebuah gaya hidup yang bermanfaat dan memuaskan.
  • Aset dasar yang, bila dikelola dengan baik, akan memberikan sebuah landasan untuk kemandirian finansial.
  • Sesuatu yang dapat memperbaiki gaya hidup dan memberi jaminan yang lebih pasti akan kemandirian finansial.

Sedangkan secara spesifik, mereka juga punya pandangan khusus mengenai uang. Perhatikan poin-poin berikut ini:

  • Para miliarder menganalogikan uang laksana makhluk hidup. Mereka memelihara uang; menanam di lahan yang tepat, membersihkannya dari hama, dan pada saat yang tepat memetik hasilnya.
  • Uang laksana air yang terus mengalir. Dalam bisnis dan perdagangan, uang mengalir ke banyak orang. Nah, orang-orang kaya atau para miliarder paham betul ke akan mengalir; maka mereka akan menyusun strategi untuk membentangkan pipa guna menangguk aliran uang tersebut.
  • Para miliarder tidak bekerja untuk mencari uang, tapi mereka menciptakan uang dengan berbagai bisnis yang mereka punyai. Mereka memproduksi barang ataupun jasa yang dapat menghasilkan uang. Bukan mereka, tapi uanglah yang bekerja untuk mereka.
  • Orang-orang kaya dan para miliarder tahu persis bagaimana uangnya bekerja. Bagi mereka, uang adalah turbin yang menggerakkan perekonomian dalam skala kecil maupun besar. Maka mereka menginvestasikan uangnya agar roda bisnis bergerak dan berputar, dengan begitu mereka bisa menghasilkan uang lebih banyak lagi, bahkan berlipat ganda.
  • Para miliarder memandang uang adalah aset dasar yang jika dikelola dengan baik akan memberikan sebuah landasan yang kokoh untuk kemandirian finansial.
  • Orang-orang kaya dan para miliarder memandang uang adalah sesuatu yang dapat memperbaiki gaya hidup yang menurut mereka bermanfaat dan memberi jaminan yang lebih pasti akan kemandirian finansial.
  • Orang kaya, para jutawan dan miliarder, juga sangat percaya bahwa uang tidak tumbuh di pohon atau bahkan turun dari langit. Menang lotere atau kuis miliaran rupiah sekalipun, itu cuma sekadar uang. Jika tidak dipakai secara dalam sekejap pun habis. Karena itu para miliarder lebih percaya dengan usaha, kerja keras, merealisasikan ide-ide besar, meski butuh waktu dan energi, akhirnya mereka dapat meraih uang atau kekayaan sejati.

  • Sumber: ” The Habits of Millionaires” oleh Zaenuddin HM
  • Good books to read Download
  • More books Info
  • Join the inspiration Join