Saya memutuskan untuk menghibahkan sebuah meja kayu tua yang sangat besar. Bagian atas meja tertutup oleh selembar kaca setebal 1/4 inci, berukuran sekitar 3×5 kaki. Pemilik yang baru tidak menginginkan kacanya. Ketika kami memuat meja ini ke dalam truknya di suatu Sabtu pagi, kami meninggalkan kacanya tersandar pada tiang ring basket yang ada di ujung jalan masuk kami.
Sambil pergi membawa meja, teman saya itu berkata, “Lebih baik kamu menyimpan kaca itu di tempat yang aman.” Saya balas berteriak, “Ya, pasti!” Tapi, hal itu tidak saya lakukan. Saya melirik kaca itu sekilas dan berkata dalam hati akan melakukannya nanti. Kemudian, saya sibuk memangkas semak-semak dan membersihkan garasi. Setiap kali melangkah melewati kaca itu, saya berkata pada diri sendiri bahwa saya harus memindahkan kaca itu sebelum lupa. Tapi, saya terus berpikir, “Saya akan melakukannya nanti.”
Hari terus berjalan, dan kami sekeluarga memutuskan untuk makan malam di luar. Ketika kami memundurkan mobil keluar dari halaman, istri saya, Karen, berkata, “Tidakkah sebaiknya kita menaruh kaca itu di tempat yang aman?” Anda tahu apa jawaban saya.
Beberapa jam kemudian, kami tiba di rumah menjelang malam dan sedang bersiap masuk ke dalam rumah. Saya melihat sepasang gunting rumput kecil di dekat pinggiran jalan, di bawah lampu jalanan. Saya menyuruh anak lakilaki saya, Michael yang berumur 9 tahun, “Mike, tolong ambilkan gunting-gunting di sana dan letakkan di garasi.” la pergi mengambilnya sementara saya berjalan menuju rumah.
Malam itu adalah Sabtu malam yang tenang di daerah permukiman kami yang menyenangkan, sampai kesunyian itu diusik oleh suara yang paling menakutkan yang pernah saya dengar: suara sebuah kaca besar pecah.
Saya langsung menyadari apa yang terjadi. Saya juga tahu penyebabnya. Saya lari keluar dari garasi, mengitari mobil, dan menemukan Michael tergeletak di atas ratusan pecahan kaca yang mematikan, beberapa di antaranya memiliki panjang lebih dari 1 kaki. Ia menangis ketika saya berlari membopongnya menuju teras depan. Saya meletakkan tubuhnya di bawah lampu agar dapat mengecek luka-lukanya, siap menghadapi kemungkinan terburuk. Dan, sulit dipercaya: tak ada satu goresan pun! la telah berlari menabrak kaca dan jatuh di atasnya ketika kaca itu menyentuh aspal, tetapi tidak ada satu luka pun di tubuhnya. Mengatakan bahwa kami amat sangat bersyukur tidaklah cukup.
Mengapa insiden itu terjadi? Penundaan, Sahabat Kegagalan. Saya tahu sejak awal bahwa kaca itu harus dipindahkan, dan hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari lima menit untuk melakukannya. Tetapi, saya terus menunda dan menunda, sampai akhirnya hal itu meledak, nyaris mendekati malapetaka.
Tangani dengan segera hal-hal kecil, selagi mereka masih kecil.