Tak Ada Pilihan yang Benar Tanpa Tujuan

Seorang pemuda berdiri di persimpangan jalan. Ia terlihat benar-benar bingung untuk menentukan pilihan jalan mana yang hendak ditempuhnya.

Pada saat yang bersamaan, seorang laki-laki tua nan bijak kebetulan melewati tempat itu. Sang pemuda lalu datang menghampiri.

“Tuan, maaf, bisakah engkau membantuku?” pinta sang pemuda.

“Apa yang bisa aku lakukan untukmu, anak muda?” tanya lelaki tua itu.

Si pemuda menggaruk-garuk kepalanya, tanda bahwa ia sedang dilanda kebingungan. “Saat ini aku sedang tersesat. Bisakah engkau menunjukkan jalan mana yang benar?”

Lelaki tua itu menatap sang pemuda dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia pun tersenyum maklum. “Itu tergantung di mana engkau ingin mengakhiri perjalananmu, anak muda. Ketahuilah bahwa tak ada pilihan yang benar tanpa tujuan.”

Kita tentu sadar, bahwa kehidupan ini selalu dipenuhi berbagai pilihan. Setiap hari, kita harus membuat pilihan, dari hal yang kecil hingga yang terbesar. Pakaian apa yang harus kita kenakan hari ini? Jalan mana yang akan kita tempuh menuju kantor? Menu makan siang apa yang akan kita santap hari ini? Pilihan karier apa yang harus kita jalani? Dengan siapa kita akan menikah?

Begitu pula dengan kesuksesan. Kita harus membuat pilihan-pilihan yang tepat untuk menuju pada kesuksesan yang kita impikan. Hidup adalah pilihan. Namun, tahukah Anda bahwa tidak ada pilihan yang benar tanpa tujuan?

Untuk membuat pilihan yang benar, tentukan dulu tujuan yang benar. Coba pikirkan, apa tujuan yang ingin kita capai dalam hidup. Baru setelah itu, kita bisa menentukan jalan mana yang harus kita tempuh untuk mewujudkannya. Segera setelah kita menentukan tujuan hidup, otak kita akan bekerja dan menunjukkan apa saja yang harus kita kerjakan demi tercapainya tujuan itu.


  • Buku: “Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik” oleh: T. Harry Wilopo Pesan Di Sini

Arah dan Risiko

Sebaliknya, di depan, seorang driver harus menentukan arah, membawa penumpang-penumpangnya ke tempat tujuan dan mengambil risiko. Itulah yang saya maksud dengan sikap mental seorang driver. Dengan menjadi sopir kendaraan, seseorang belum tentu memiliki mental seorang driver. Banyak driver yang sering mengeluh, tak bekerja sepenuh hati, ugal-ugalan, dan merasa jenuh karena tak punya pilihan.

Driver’s mentality yang saya bahas dalam buku ini, pada dasarnya adalah sebuah kesadaran yang dibentuk oleh pengalaman dan pendidikan. Bukan karena tidak punya pilihan. Lihatlah Sano Ami, Sugeng (Bab 4), dan TR yang tak menangisi kehidupannya, malah bertarung habis-habisan agar bisa mengatasi masalah hidupnya sendiri dan tak menjadi beban bagi orang lain.

Seorang driver dak cukup hanya bermodalkan tekad dan mangat, ia butuh referensi dari pengetahuan akademis.

Pendidikan yang mereka jalani adalah proses belajar, yaitu memperbaiki cara berpikimya dan cara menjalani hidup yang menantang. Sayangnya, banyak orang yang menempuh pendidikan tinggi dan menjadi sarjana, tetapi tidak “belajar”. Kalau Anda hanya menghafal, seberapa tingginya pun indeks prestasi Anda, maaf, itu bukanlah berpikir. Belajar artinya adalah berpikir, ibarat seorang driver yang harus cepat mengambil keputusan di jalan raya yang padat. la bisa mengambil jalan-jalan lain yang baru sama sekali. Sedangkan menghafal dapat diibaratkan menjadi penumpang yang boleh mengantuk, tertidur, dan tak perlu mengambil risiko di jalan. Ia selalu melewati jalan yang sama pulang pergi. Membosankan. Driver yang baik memikirkan bagaimana mencapai tujuan tepat waktu, selamat, dan perjalanan menyenangkan. Lagi pula, berpikir tak ada batas waktunya. Ia tak berhenti hanya karena selembar ijazah telah diberikan.

Bagaimana Anda bisa berpikir kalau Anda tidak berani mengambil risiko? Saya tidak pernah mendengar penumpang mobil ditangkap karena mobilnya menabrak orang sampai tewas. Yang kita baca, sopirnyalah yang ditangkap. Menjadi driver mengekspos diri terhadap risiko. Tetapi risiko itu hanya menjadi masalah kalau Anda ugal-ugalan. Terbukti, dari jutaan pengemudi, kurang dari 0,1% yang menimbulkan kecelakaan fatal. Dari 0,1% itu, yang terbesar disebabkan oleh alkohol, kebiasaan-kebiasaan buruk, anak-anak yang tidak diasuh orangtuanya dengan baik, obat-obatan terlarang, atau mengantuk.

Sopir-sopir yang terperangkap dalam kemacetan sudah pasti harus bersabar diri, mengumpat, menyalahkan wali kota atau gubernur. Tak ada orang yang menyalahkan cara berpikirnya sendiri. Padahal, siapa bilang tidak ada jalan lain? Menuju kota Roma saja pintu masuknya ada banyak. Di Indonesia, ada jutaan jalan tikus yang bisa Anda tembus dengan motor ojek. Pilihannya ada banyak, tetapi memulainya tidak mudah. Jalanjalan baru itu memusingkan, banyak jalan buntu. Dan orang yang enggan mencobanya menyebut itu sebagai a dead end (jalan buntu). Padahal, jalan buntu bagi seorang driver adalah sebuah detour (perputaran). Tidak enak memang. Tetapi lamalama Anda akan merasakan manfaatnya karena Anda jadi tahu alternatif.

Mengapa manusia terdidik tidak melakukan seperti itu?

Itulah “passenger mentality”. Kita telah berubah menjadi bangsa yang nyaman. Ketika manusia sudah takut melakukan “kesalahan” kecil maka ia akan masuk ke dalam perangkap mentalitas penumpang. Sekolah tak boleh mendidik anakanaknya takut melakukan kesalahan dengan pendidikan hafalan. Sebab orang-orang yang tak pernah melakukan kesalahan sesungguhnya adalah orang yang tak berbuat apa-apa.

Lantas, bisakah orang-orang yang tak berpendidikan tinggi menjadi driver? Tentu saja bisa. Hanya saja kapasitasnya terbatas. Seorang driver tidak cukup hanya bermodalkan tekad dan semangat. Cara berpikir yang tepat adalah modal penting. Tetapi driver yang hebat juga butuh referensi-referensi kuat yang berasal dari pengetahuan akademis. Kita perlu menghubungkan satu referensi dengan referensi yang lainnya: connecting the dots. Jadi perbaiki dulu cara berpikir, baru kita bicara tentang a driver nation.


  • Buku: “Self Driving,” Rhenald Kasali.
Pesan Sekarang

Melawan Bad Habit Menunda Pekerjaan

Otak kita secara alamiah lebih suka mendapatkan ganjaran lebih cepat dan tidak menyukai ganjaran yang tertunda. Menunda pekerjaan berarti kita mendapatkan waktu santai dengan cepat. Hal inilah yang membuat banyak orang suka menunda pekerjaan, meski ujung-ujungnya kita akan dibuat panik oleh pekerjaan-pekerjaan yang tertunda.

Tanda/Pemicu (Cue):

  • Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Deadline tidak mengikat.

Keinginan (Craving):

  • Ingin segera bersantai.

Perilaku (Routine):

  • Memilih menunda pekerjaan dan menyegerakan bersantai. Pekerjaan baru dikerjakan menjelang tenggat waktu yang ditentukan.

Ganjaran (Reward):

  • Merasa santai.

Efek negatif:

  • Menunda pekerjaan sama saja dengan menunda masalah. Cepat atau lambat, pekerjaan harus diselesaikan. Jika mengerjakan pekerjaan mepet tenggat waktu, kita akan terburu-buru. Akibatnya, hasilnya tidak optimal. Reputasi kita dipertaruhkan di sini. Kita akan mendapatkan citra sebagai pekerja yang baru menyelesaikan pekerjaan di pengujung tenggat dengan hasil yang standar (tidak istimewa). Bagaimana mungkin kita dianggap istimewa, sedangkan hasil kerja kita tidak istimewa?

Solusi:

Menghindari pemicu

  • Anggaplah setiap pekerjaan yang datang harus segera diselesaikan tanpa ditunda-tunda.

Mengubah perilaku

  • Bersantai bisa dilakukan setelah kita menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Berikan reward kepada diri sendiri setiap kali berhasil mengerjakan pekerjaan dengan baik dan tepat waktu. Misal, saya boleh bermain game atau beraktivitas di media sosial setelah seluruh pekerjaan kantor selesai dengan hasil memuaskan.

  • Buku: “Habit Is Power” oleh T. Harry Wilopo
Pesan Di Sini

Pengembangan Diri, Haruskah?

Pengembangan diri adalah sebuah topik yang dapat diibaratkan sebagai sebuah sumur tanpa dasar. Dengan kata lain, pengembangan diri memiliki cakupan tema yang sangat luas, dalam, dan banyak sekali alternatif bahasannya. Misalnya, kita dapat mulai dari sebuah analogi umum seperti pernyataan berikut ini: “Saya sudah sering sekali membaca buku pengembangan diri, tapi kok belum sukses juga?” “Mengapa saya masih seperti dulu, belum ada perubahan?” Pertanyaan seperti ini tentunya sangat menggelitik dan berpotensi besar akan diikuti oleh berbagai pertanyaan lain, seperti:

  • Kenapa seseorang perlu mengembangkan diri?
  • Apakah seseorang wajib membaca buku pengembangan diri?
  • Benarkah seseorang yang ingin sukses, dia terlebih dahulu harus membaca buku Adakah jaminan bahwa setelah membaca buku pengembangan diri, seseorang dipastikan akan sukses? Jika ternyata bukan karena buku pengembangan diri, lalu hal apa yang akan membuat seseorang sukses dalam hidupnya?

Saya yakin masih banyak pertanyaan lain yang mengikuti pertanyaan pembuka di atas. Namun, kembali pada tujuan awal, tulisan kali ini akan berusaha menjawab satu pertanyaan saja: kenapa seseorang perlu mengembangkan diri. Untuk pertanyaan pertama ini, rasanya banyak alternatif jawaban yang bisa diajukan, tergantung pada pola pemikiran, latar belakang, maupun tingkat kepentingan masing-masing individu. Namun menurut hemat saya, paling tidak ada dua alasan dasar kenapa seseorang perlu mengembangkan diri:

1. Karena tuntutan pekerjaan/hidup semakin tinggi

Anda perlu bertahan hidup, bukan? Dan salah satu syarat untuk bertahan hidup adalah bekerja serta menghasilkan uang (walau terdengar klise tapi begitulah kenyataannya di lapangan). Dan secara garis besar, untuk menghasilkan uang dapat dicapai dengan dua cara, yaitu: bekerja pada orang lain (melamar pekerjaan untuk kemudian digaji oleh pihak kedua), atau bekerja sendiri (entrepreneur/wirausaha). Mari kita coba membahas dua hal tersebut, dimulai dengan mencari pekerjaan.

Jika diperhatikan, persyaratan untuk memperoleh pekerjaan yang mumpuni serta memiliki jenjang karier yang baik di masa sekarang ini semakin banyak. Dahulu, meski lahan pekerjaan masih minim, orang yang tak punya kemampuan berbahasa Inggris masih dimungkinkan bisa meniti karier di perusahaan besar. Namun saat ini sudah hampir mustahil. Kemahiran berbahasa Inggris sudah hampir menjadi syarat mutlak bagi calon pelamar kerja. Dahulu, orang dapat melenggang ke perusahaan multinasional tanpa kemampuan dan keterampilan komputer. Namun saat ini, hampir tidak mungkin hal itu bisa terjadi. Kenyataan ini menunjukkan bahwa era globalisasi sudah semakin menuntut pihak perusahaan untuk menanggapi kompetisi dengan ketat. Masing-masing perusahaan berlomba merekrut SDM (Sumber Daya Manusia) terbaik dengan dasar alasan: di saat efisiensi dan efektivitas menjadi concern perusahaan, maka memiliki SDM yang non unggul (tidak memiliki kompetensi sesuai tuntutan pekerjaan) akan dianggap sebuah pemborosan. Sebaliknya, demi menciptakan sebuah perusahaan yang ramping dan gesit, cukup diperlukan sedikit saja SDM, yaitu SDM dengan kemampuan yang optimal.

Selanjutnya, bagaimana dengan wirausaha? Toh, tidak semua orang bisa dan mau menjadi karyawan. Di masa sekarang, permasalahan keduanya adalah sama saja. Jika seorang pelamar pekerjaan dituntut memiliki kompetensi yang prima (sesuai dengan tuntutan pekerjaan), maka bagi seorang wirausahawan saat ini, atau ketika Anda berniat untuk membuka dan mengembangkan sebuah usaha, tuntutan akan performance dan kualitas usaha Anda juga semakin tinggi. Saat ini sudah sangat banyak wirausahawan yang bermunculan dan berkembang di sekitar kita, mulai dari skala kecil sampai skala nasional, skala lokal hingga internasional. Dan untuk dapat bersaing dengan mereka diperlukan usaha ektra keras, daya cipta yang kreatif serta inovatif, dan tak ketinggalan, diperlukan pula suntikan serum ketekunan yang tinggi. Mungkin Anda akan bertanya, apakah sedemikian beratnya? Sebenarnya tidak berat bila Anda tak ingin menganggapnya berat. Namun perlu disadari, jika kualitas dan performance yang kita tawarkan ‘biasa-biasa saja’, maka kecil kemungkinan pasar akan melirik Anda. Kemungkinan besar pasar akan melirik pesaing Anda. Kita tidak bisa menutup mata pada kenyataan bila pasar di masa sekarang sudah semakin terdidik dan selektif.

Dari sini dapat dibuat kesimpulan bahwa untuk menjadi karyawan ataupun wirausahawan, tidak bisa tidak, semua pihak akan terkena tuntutan akan kinerja dan kualitas yang semakin tinggi. Dan untuk memperolehnya, dibutuhkan pengembangan diri yang optimal.

2. Karena orang lain juga sedang mengembangkan diri

Satu analogi mengenai hal ini adalah: jika Anda adalah satu-satunya lulusan Fakultas Ekonomi di Indonesia, meski Anda tidak punya pengalaman atau nilai yang Anda miliki tidak terlalu bagus, Anda tetap akan dicari (untuk kemudian direkrut) oleh perusahaan. Kenapa? Karena Anda adalah lulusan satu-satunya di bidang ekonomi yang saat ini memang dibutuhkan oleh banyak perusahaan. Namun kenyataan seperti itukah yang terjadi? Coba perhatikan situasi dan lingkungan sekitar Anda. Ada berapa banyak Fakultas Ekonomi di sekitar Anda? Ada berapa akademi komputer atau sekolah tinggi komputer? Ada berapa institusi bahasa asing, psikologi, sastra, teknik, atau sekretaris? Banyak sekali. Berapakah lulusannya? Jauh lebih banyak lagi. Lalu, kenapa perusahaan harus memilih Anda dibanding lulusan-lulusan lain yang jumlahnya ribuan tersebut? Adakah hal spesial yang Anda miliki sehingga perusahaan perlu melirik Anda? What’s so special about you?

Cobalah Anda renungkan ini. Apakah yang sedang orang lain lakukan saat ini selagi Anda bersantai, berjalanjalan di mal, nonton film, rekreasi di pantai, dan berbagai aktivitas pleasure lainnya? Pernahkan Anda berpikir bahwa pada saat yang bersamaan mereka sedang mengasah diri dengan belajar Bahasa Inggris, mendalami keterampilan ter, meningkatkan kemampuan menganalisis masalah, belajar public speaking, dan lain-lain? Jika kondisi inilah yang selalu terjadi, di mana ketika Anda sedang bersantai sementara orang-orang justru mengembangkan diri, tentunya mereka akan menang beberapa poin dari Anda. Beberapa langkah lebih dekat ke arah pintu sukses dibanding Anda, siap meninggalkan Anda di belakang. Apakah Anda akan membiarkan hal ini terus terjadi?


Apakah yang sedang orang lain lakukan saat ini selagi Anda bersantai, berjalan-jalan di mal, nonton film, rekreasi di pantai, dan melakukan berbagai aktivitas pleasure lainnya?


Jangan Terburu-Buru

Salah satu penyakit yang kadang kita alami. Dalam video tersebut, seorang pria sedang menaklukan games halang rintang. Kita bisa mengenalnya Takeshi Castle. Pria tersebut melompat, memanjat, dan berlari demi mengatasi rintangan yang ada.

Sayangnya, sebelum menyelesaikan games tersebut. Ia ingin berunjuk gigi dengan salto terlebih dahulu. Apa mau dikata, ia malah tercebur ke air.

Dari video ini kita bisa mengambil pesan dan pelajaran, bahwa janganlah kita terburu-buru. Terburu-buru merasa puas diri padahal belum sampai ujungnya. Terburu-buru merasa selesai, padahal belum penutup. Atau bahkan terburu-buru putus asa, padahal belum semua usaha dicoba.

Mudah-mudahan kita tidak menjadi pribadi yang terburu-buru. Nikmati waktu yang ada dengan usaha yang maksimal. Nikmati setiap prosesnya.


Melawan Bad Habit Tidak Menyusun Planning Harian

Memang, tidak semua orang suka melakukan hal-hal dengan teratur. Ada orang-orang yang bersifat spontan, suka melakukan segala sesuatu tanpa terlebih dahulu membuat rencana. Namun, jika kita berbicara tentang pekerjaan, maka membuat planning harian adalah sebuah keharusan.

Kita memiliki banyak pekerjaan di kantor. Ada begitu banyak hal yang harus diselesaikan dalam sehari. Bila kita tak membuat planning, pikiran kita akan terbebani dengan banyaknya pekerjaan. Kita akan kebingungan menentukan skala prioritas, mana pekerjaan yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Akibatnya, segalanya bisa berantakan.

Mengapa kita gagal membiasakan diri membuat planning harian? Begini lingkaran kebiasaan buruk yang membentuknya.

Tanda/Pemicu (Cue):

  • Datang terlambat ke kantor.

Keinginan (Craving):

  • Ingin santai pada pagi hari.

Perilaku (Routine):

  • Memilih berangkat ke kantor mepet dengan jam masuk kantor. Tak ingin dipusingkan oleh masalah kantor. Segala sesuatu dipikir belakangan.

Ganjaran (Reward):

  • Merasa senang karena menghabiskan waktu lebih lama untuk bersantai pada pagi hari.

Efek negatif:

  • Maksud hati ingin bersantai, tetapi ketidakmampuan menyusun planning justru membuat kita menjalani hari-hari kerja dengan kacau. Ada banyak target penting yang terlewati, sementara pekerjaan yang tidak begitu penting dan tidak mendesak justru telah kita selesaikan terlebih dahulu. Efek jangka panjang dari kebiasaan ini adalah kita mengalami depresi karena pekerjaan menumpuk. Kita pun dinilai memiliki kinerja buruk, karena tak mampu menyelesaikan target pekerjaan dengan baik.

Solusi:

Menghindari pemicu:

  • Datang 30 menit sebelum jam masuk kantor.

Mengubah perilaku:

  • Datang lebih awal ke kantor, mendata seluruh pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu, menyusun skala prioritas, lalu jalani hari dengan penuh semangat. Planning akan membuat Anda menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, sehingga pikiran Anda tidak dibuat ruwet oleh tumpukan pekerjaan. Pada akhir hari, Anda akan mendapat perasaan santai yang Anda idamkan. Sebagai bonus, atasan akan memberi nilai baik bagi kinerja Anda. Siap-siap naik gaji dan naik jabatan nih!

“Bila kita tak membuat planning, pikiran kita akan terbebani dengan banyaknya pekerjaan.”


  • Buku: “Habit Is Power” oleh T. Harry Wilopo

Mindset Dagang

Oleh: Andre Raditya

Seorang alim pernah menyampaikan ke saya salah satu amalan dagang.

Kata beliau, “Kalau berdagang itu, selalu tanamkan di dalam pikiran bahwa barang yang antum miliki itu diniatkan sebagai solusi untuk membantu orang lain, yakin bahwa daganganmu adalah jalan keluar bagi sulitnya urusan orang lain. Dagang sebagai bagian dari membantu kerepotan orang lain. Baik itu barang maupun jasa.”

Kalau antum menganggap daganganmu adalah solusi bagi orang lain. Maka energi yang akan dikirimkan ke semesta adalah energi menolong. Dan orang lain itu senang ditolong. Insyaallah lebih banyak yang mencari. (Mindset 1)

Tapi kalau kamu melihat dagangan sebagai alat mengumpulkan uang, maka energi yang dikirimkan ke alam adalah energi keegoisan. Dan orang selalu risih dan benci dengan mereka yang hanya mementingkan diri sendiri. Alhasil akan banyak yang semakin menjauhi. (Mindset 2)

Dan ini dampaknya akan sangat berbeda.
Baik dalam perilaku saat berdagang. Maupun dalam menggunakan harta setelah didapatkan.

⏩️ Mindset pertama, pasti akan memastikan barangnya betul-betul manfaat dan berkualitas. Nggak sembarang milih atau buat produk, karena takut mengecewakan orang lain. Kita niat nolong bukan ngerepotin.
Pelayanan pun prima bahkan sampai paripurna. Begitu dapat untung, akan diolah jadi manfaat. Energinya menebar manfaat.

⏩️ Tapi kalau mindsetnya tipe kedua, maka biasanya tidak terlalu peduli dengan kualitas barang dan fungsinya. Yang penting laku, dan sekedar membuat uang berpindah dari kantong orang lain ke diri kita. Setelah dapat harta pun akan disimpan untuk kepentingan sendiri. Energinya mengumpulkan.

Yuk perbaiki Mindset. Perbaiki niat. Insyaallah dagang jadi lebih berkah. Rezeki jadi lebih manfaat.


Lelaki Penyakitan Itu pun Menjadi Presiden

Banyak orang menyesali kekurangan yang dimilikinya sebagai alasan dari keterpurukannya. Ada hal tertentu yang memang tak bisa kita ubah. Anda, misalnya, tak bisa meminta kepada Tuhan untuk dikirim kembali ke dalam rahim orang lain agar mempunyai bentuk dan kekuatan fisik yang berbeda. Tentu tidak. Tetapi masa depan kita itu sesungguhnya menjadi tanggung jawab kita juga.

Saya ingin mengajak Anda merenungi kehidupan Presiden Theodore Roosevelt yang lahir di New York City pada 1858. la anak kedua dari empat bersaudara. Enam generasi Roosevelt yang datang dari negeri Belanda ini mewarisi berbagai penyakit degeneratif seperti rabun jauh dan alergi bronkial yang parah.

Sejak dilahirkan, TR, panggilan akrabnya, sudah mengalami serangan penyakit asma bronkial yang disebabkan pembengkakan selaput lendir dengan sekresi yang akut sehingga saluran pernapasannya terganggu. Rangsangan saraf, makanan tertentu, serbuk sari yang banyak beterbangan pada musim semi, atau gangguan emosional, dapat dengan mudah memicu serangan asma pada dirinya.

Episode tersebut terjadi selama masa kanak-kanak TR pada interval yang tinggi. Ia sering tiba-tiba terbangun dari tidur nyenyaknya dengan terengah-engah, sesak napas, dan wajahnya pucat kebiruan. Eranganerangan halus sering menemani hari-harinya. Pasien kecil itu sering kelelahan dan tidak bisa bernapas ketika berbaring. Kalau sudah tidur bunyi napasnya bisa berisik. Menurut catatan sejarah, TR kecil hanya menemukan kenyamanan tidur dalam pelukan ayahnya.

Asma yang diderita Roosevelt terus berlanjut bahkan kemudian disertai dengan diare. Ini menunjukkan bahwa saluran ususnya juga sensitif terhadap alergi.

Perjalanan Mengubah Nasib

Pada 1869, ayah TR melakukan perjalanan ke luar negeri, berharap perubahan iklim dapat mengurangi penderitaan kedua anaknya. Mereka mengunjungi Prancis, Italia, Austria, dan Jerman yang memiliki tekanan udara lebih rendah dengan debu dan serbuk sari yang kadarnya jauh lebih aman. Lalu, mereka mengunjungi Mesir. Di sana, TR dibawa ke sebuah kawasan spa untuk terapi.

Alergi pernapasan dan gangguan pencernaan yang dialami TR menghambat perkembangan fisiknya. Kesehariannya tampak pucat, kerempeng, kecil untuk anak seusianya, dengan kaki kurus, mata biru, dan rambut berpasir. Giginya menonjol, ortodontik. Di kemudian hari, Roosevelt menyembunyikan bentuk giginya yang buruk itu di bawah kumis walrusnya.

Singkat cerita, TR kecil dikenal sebagai anak penyakitan yang prestasi sekolahnya bisa terganggu. Tetapi, nasihat hebat datang dari ayahnya saat ia berusia 11 tahun. Katanya, “TR, percuma saja engkau belajar keras kalau tubuhmu rapuh. Kendaraan pribadimu yang lemah itu tak akan pernah bisa membawamu ke masa depan yang engkau impikan lewat sekolah.”

Namun, di balik kelembutannya, ayah TR adalah seorang pria tegar yang mendorong anak-anaknya membangun tubuhnya dengan latihan yang sistematis. la membuat gimnasium pribadi di teras terbuka rumahnya. Di sana, di bawah arahan instruktur khusus, TR dilatih dengan penuh kesabaran dari hari ke hari, tahun ke tahun. Mengangkat beban, push-up, dan melatih kelenturan dengan palang sejajar. Bentuk dadanya yang sempit perlahanlahan berubah, menjadi berotot dan bidang.

Kelemahan lain datang kemudian: rabun jauh ekstrem. Ini pun agak terlambat diketahui karena TR tak pernah belajar di sekolah formal dengan melihat ke arah papan tulis. Maklum, karena fisiknya lemah, TR harus ikut home schooling dengan guru privat sehingga miopianya tidak diketahui orangtua. Jadi, pandangannya hanya dipakai untuk menulis dan membaca jarak dekat. Di kejauhan ia hanya bisa melihat garis samar-samar. Cacat matanya pertama kali diketahui saat ia diajarkan ayahnya menembak pada usia 13 tahun. la sama sekali tidak bisa membidik sasaran jauh.

Dilengkapi dengan kacamata berlensa tebal, TR berlatih menembak sampai mahir. Ia pun terobsesi membangun keunggulan dalam permainan dan olahraga yang menyerukan kekuatan, ketahanan, dan keterampilan, seperti tinju, gulat, mendayung, berkuda, dan mendaki gunung. Ia juga menjadi petenis yang andal, bahkan judo, karate, dan renang. Nasihat ayahnya benar-benar merasuki jiwanya.

Berkat kerja kerasnya itu, ia diterima bersekolah di Harvard sebelum belajar hukum di Columbia Law School. Sementara di sekolah hukum, ia terpilih sebagai anggota Majelis Negara Bagian New York, komisaris di Kepolisian Kota New York, sebelum diangkat menjadi Asisten Sekretaris Angkatan Laut oleh Presiden McKinley. Bahkan kemudian ia bergabung dengan resimen kavaleri untuk bertarung dalam Perang Spanyol-Amerika di Kuba dan mendapat gelar pahlawan nasional.

Belakangan, ia terpilih sebagai Gubernur New York State pada November 1898 dan tahun berikutnya terpilih sebagai calon wakil presiden pada konvensi Partai Republik di Philadelphia. Pada 4 Maret 1901, Roosevelt mengucapkan sumpah sebagai wakil presiden. Dan pada usia 42, ia disumpah sebagai Presiden Amerika Serikat termuda.

Theodore Roosevelt yang kendaraan pribadinya dulu begitu rapuh, kini terkenal dengan ucapannya, “Melesat seperti roket.” Sebab selain sebagai negarawan, ia juga dikenal sebagai sejarawan, penjelajah pemberani, dan aktivis lingkungan yang tak tertandingi. Para sejarawan menyebutkan, mungkin ia adalah negarawan paling berhasil dalam sejarah bangsa Amerika.

Jangan lupa, ia adalah Presiden Amerika yang membangun Terusan Panama dan dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian. Bayangkan, apa jadinya dunia hari ini kalau ayah TR hanya sibuk mengurus dirinya sendiri dan memanjakan anaknya yang lemah, menjadikannya passenger malas yang dibesarkan dalam keluarga serbaada? Bayangkan pula kalau TR berperilaku manja dan menyesali kelahirannya. Kalau itu yang dipilih, Anda pasti mengatakan itu sah-sah saja. Apalagi ayahnya adalah seorang saudagar kaya dan bankir. Ibunya juga keturunan dari Robert III, Raja Skotlandia. Sekadar menjadi passenger pun bisa hidup enak. Hartanya pasti tak akan pernah habis hingga beberapa keturunan.


  • Sumber: “Self Driving” Rhenald Kasali

Mitos tentang Uang

Orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder tidak percaya pada mitos-mitos yang salah mengenai uang, yang jika mempercayainya justru uang akan lari dari kehidupannya.

Mitos 1

Ada yang mengatakan (1) “uang menghasilkan uang. ” Sehingga, orang-orang awam malas mencari uang umpamanya dengan mendirikan perusahaan kecil-kecilan karena mengaku tidak punya uang, tidak punya modal. Faktanya, uang sering tidak menghasilkan uang. Contohnya kalangan kelas menengah yang punya uang namun menghabiskannya secara konsumtif hanya untuk memenuhi keinginan dan gaya hidup. Uang mereka tidak menghasilkan uang.

Kenyataan juga menunjukkan: sebagian miliarder di dunia membangun kekayaan dari nol. Semula mereka hidup miskin dan tidak punya modal material. Mereka hanya bermodalkan semangat dan ide, akhirnya bisa memulai bisnisnya kecil-kecilan, lalu berkembang dan akhirnya menjadi korporasi yang besar. Di antara mereka juga ada yang memutarkan uang milik orang lain atau para investor. Setelah mampu mandiri, akhirnya mereka memiliki bisnis sendiri. Ini artinya: tanpa uang, mereka menghasilkan uang.

Mitos 2

Mitos ke (2) tentang uang, ada yang mengatakan “menabung satu sen berarti mendapatkan satu sen.” Orang-orang awam dan kelas menengah percaya ini, sehingga mereka menyimpan uangnya di bank dan menjaga mati-matian agar tidak boleh berkurang. Mereka tidak akan mengambil uang itu sepeser pun demi menahan diri untuk menikmati kesenangan hidup walaupun sedikit saja. Mereka hidup sangat-sangat hemat, hingga keinginan membeli secangkir kopi dan atau sekotak es krim pun diurungkan. Mereka punya uang dalam tabungan, tapi tidak dapat menikmati hangatnya segelas kopi. Ironis, bukan?

Tentu saja menabung penting, tetapi orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder tidak mau membiarkan uangnya pasif di bank. Mereka pasti punya simpanan uang di bank, namun hanya bersifat sementara dan pengaman saja. Uang itu mereka putar atau investasikan untuk berbagai usaha, sehingga jumlahnya akan bertambah-tambah. Dan, mereka tidak menghilangkan kebiasaan menikmati secangkir kopi misalnya di akhir-akhir pekan. Boleh jadi meneguk secangkir kopi itu begitu berarti bagi mereka bila dapat memunculkan ide-ide bisnis bernilai miliaran rupiah, atau menjadi minuman santai saat mereka ngobrol tentang peluang-peluang bisnis besar dengan sesama pebisnis lainnya di suatu kafe.

Mitos 3

Mitos ke (3) tentang uang, ada pula yang mengatakan, “Satu-satunya cara untuk memikirkan uang adalah dengan memiliki banyak uang.” Dalam bahasa yang lebih lugas, banyak orang sering berkata: “Buat apa kita memikirkan uang, toh uangnya tidak ada, kita tidak memilikinya.” Nah, orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder membalik mitos itu dengan pernyataan “Satu-satunya cara untuk memiliki banyak uang adalah dengan memikirkannya.”

Memikirkan uang berarti menarik uang itu datang. Di sini berlaku hukum daya tarik-menarik (law of attraction) tentang uang, sebagaimana yang diajarkan tokoh-tokohnya seperti Rhonda Byrne, Michael J Losier, Joe Vitale, Bob Proctor, Jack Canfield, dan John Assaraf. Orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder sadar betul bahwa untuk mendapatkan uang mereka terus memikirkannya. Bagi mereka, membicarakan uang bukanlah tabu, tapi justru penting karena merupakan langkah awal untuk menarik uang datang. Orang-orang awam dan kaum miskin justru malu bahkan menganggap tabu membicarakan uang, sehingga uang menjauh dari mereka.

Tentu saja tidak cukup hanya memikirkannya. Mereka menindaklanjutinya dengan merumuskan tujuan, melakukan tindakan, merealisasikan ide-ide, mewujudkan hasrat dan minat, dan banyak lagi tindakan positif lainnya, hingga akhirnya mereka benar-benar mendapatkan uang dalam jumlah besar, bahkan tidak diduga-duga. Pada umumnya orang awam dan kaum miskin hanya memikirkan tanpa berusaha mewujudkannya.

Benar kata Napoleon Hill, yang pernah mengkaji dan merumuskan kekayaan ala Dale Carnegie, bahwa:

“Kebanyakan orang menginginkan kekayaankhususnya uang tetapi hanya sedikit yang menyediakan rencana pasti dan hasrat keinginan yang berkobar-kobar guna merintis jalan menuju kekayaan.”

Napoleon Hill

Bertahun-tahun yang lampau, Scrully Blotnick, jurnalis Amerika Serikat juga mengadakan penelitian terhadap 1.500 orang. Mereka dibagi menjadi dua kelompok yakni: Kelompok A berkata bahwa mereka akan mengejar uang terlebih dahulu dan baru akan melaksanakan apa yang benar-benar mereka inginkan kemudian. Ada 1.245 orang yang masuk kelompok ini. Kemudian Kelompok B, yang terdiri atas 255 orang, berkata bahwa mereka akan mengutamakan minat mereka, dan percaya bahwa uang akan mengikuti mereka kemudian.

Apa yang terjadi?

Dua puluh tahun kemudian, ada 101 jutawan yang lahir dari kedua kelompok itu. Hanya 1 orang yang berasal dari Kelompok A. Seratus orang jutawan lainnya berasal dari Kelompok B, kelompok yang berkata bahwa mereka akan mewujudkan gairah atau minat mereka dahulu dan uang akan datang kemudian.

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa uang bisa ditarik, dan cara menariknya adalah dengan melakukan serangkaian tindakan yang menjadi minat seseorang dalam pekerjaan atau profesinya (Catatan: soal minat atau passion ini telah diuraikan pada bagian awal, silakan baca kembali tentang ”miliarder memiliki 8 sifat untuk sukses”).

Begitu kontras perbedaan antara orang-orang awam atau kaum miskin dan orang-orang kaya dalam memandang uang. Berbeda pula hasil yang mereka peroleh masing-masing. Dengarlah pesan atau nasihat dari John D Rockefeller, salah satu orang terkaya di dunia yang kisah hidup dan kesuksesan bisnisnya terus dipelajari hingga saat ini. Dia berkata:

‘Aku percaya bahwa tugasku menghasilkan uang dan lebih banyak uang lagi, dan menggunakannya demi sesama manusia sesuai dengan perintah hati nuraniku.’

John D. Rockefeller

Jelaslah bahwa orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder itu memperlakukan uang dengan baik dan positif, sehingga uang tidak lari dari mereka, tapi justru uang tertarik dan kemudian masuk ke dalam kehidupan mereka. Jadi, jika Anda menilai dan memandang uang secara negatif, maka Anda tidak akan mendapatkannya. Tapi, tatkala Anda menilai dan menyikapi uang secara positif, maka Anda akan meraihnya, sebanyak yang Anda inginkan.


  • Buku: “The Habits of Millionaires” oleh Zaenuddin HM

Lelaki Dahsyat dari yang Terdahsyat

Mungkin yang Anda kenal orang-orang hebat itu… Bill Gates dan urutan selanjutnya setelah Bill Gates. Si Lelaki kaya raya karena sebuah produk digital dan keahliannya dalam marketing. Tapi ada sebuah nama yang mungkin belum Anda kenal atau justru anda pernah menghadiri seminarnya… Siapakah dia?

(Sumber Photo: Diambil dari hasil pencarian menggunakan Coogle, saya tidaklahu siapa yang pertama kali menerbitkannya)

Hey… ini bukan hasil rekayasa Photoshop dan bukan pula sebuah patung yang sedang dipajang. Itu adalah manusia asal Australia yang ketika lahir diberi nama Nick Vujicic. Dia adalah Direktur sebuah lembaga non-profit yang la dirikan ketika usianya 17 tahun. Lembaga tersebut diberi nama Life Without Limbs (Hidup Tanpa Anggota-Anggota Tubuh). Hah, Direktur? Serius! Dia DIREKTUR.

Nick dilahirkan tanpa lengan dan kaki yang utuh. Dia hanya memiliki sebuah telapak kaki kecil di dekat pinggul kirinya. Meski demikian Nick tetap memiliki tubuh dan juga wajah yang tampan, bukan? Selain tampan, dia pun mampu melakukan hal-hal yang bahkan lebih hebat dari orang normal. Dengan kondisi seperti itu Nick bisa menjadi seorang motivator internasional, bisa menulis, mengetik, main golf, dll.

Renungkanlah, Nick yang hanya memiliki anggota tubuh seperti itu bisa;

  1. Mengetik dan Menulis
  2. Berenang dan berselancar
  3. Berdiri dengan gagah
  4. Menjadi seorang motivator (saat saya menulis buku ini, seingat saya Nick sudah berbicara di berbagai benua, di lebih 24 negara, saya lupa lagi. Hehe..)
  5. Berbisnis
  6. Main drum dan Golf (wow..!)
  7. And more….

Dia bahkan bisa melakukan banyak hal layaknya orang normal seperti kita! Saya benarbenar tercengang dan terharu habis-habisan ketika pertama kali menyimak kisah beliau. Ada energi super dahsyat yang menghinggapi diri saya, sejak itu saya mulai bisa bangkit dari keadaan saya yang sungguh serba kekurangan. Saya mulai yakin dan percaya bahwa saya juga pasti bisa! Bagaimana dengan anda? AHA! Saya yakin kini gairah anda untuk bisa lebih sukses dari sebelumnya mulai muncul.

Apakah Nick Tegar dan Berani Sejak Kecil? Tidak! Dia Hampir Bunuh Diri!

Ketika Nick masih berusia 8 Tahun dia sempat berpikir untuk bunuh diri karena tekanan batin. Bahkan ketika dia bisa masuk sekolah umum yang padahal saat itu justru tidak diperbolehkan karena cacat pisik.

Penderitaannya tidak terhenti di sana… Justru setelah dia bisa masuk sekolah umum, dia langsung menyadari betapa ia sangat jauh berbeda dengan anak-anak lainnya. Tak heran jika ia semakin tertekan oleh keadaan. Beruntung Nick memiliki sahabat dan keluarga yang selalu memberinya semangat. Hemmmm… Saya tidak bisa membayangkan jika saya berada di posisi seperti itu.

Beruntung pula setelah masa-masa krisisnya itu Nick menemukan sebuah artikel yang membuatnya bisa lebih tegar dan lebih bijaksana dalam menyikapi apa yang menimpa dirinya. Artikel tersebut menceritakan seorang pria cacat fisik seperti dirinya yang bisa melakukan hal-hal dahsyat dan menolong orang lain. Hal tersebut yang membuat Nick berkata, “Pada saat itulah, saya menyadari bahwa Tuhan memang menciptakan kita untuk berguna bagi orang lain. Saya memutuskan untuk bersyukur, bukannya marah. atas keadaan diri sendiri! Saya juga berharap, suatu saat bisa menjadi seperti pria luar biasa itu-yakni bisa menolong dan menginspirasi banyak orang!” (Perkataan Nick dikutif dari artikel pojok motivasi Andrie Wongsong)


  • Sumber: “Be Your Super Self” oleh Lulu Kemaludin