Melawan Bad Habit Bangun Siang

Kebanyakan dari kita memulai hari dengan satu kebiasaan buruk, yaitu bangun siang. Kelihatan sepele, bukan? Namun, rasanya mustahil meraih kesuksesan dalam karier dan bisnis jika kita terus-menerus memelihara kebiasaan buruk ini.

Tanda/Pemicu (Cue):

  • Merasa jam tidur kurang lama.
  • Merasa kualitas tidur tidak baik (tidur kurang nyenyak).

Keinginan (Craving):

  • Ingin mendapatkan kesegaran tubuh setelah pulas tidur.

Perilaku (Routine):

  • Melanjutkan tidur hingga siang, baru bangun menjelang jam berangkat ke kantor.

Ganjaran (Reward):

  • Merasa puas tidur dalam waktu yang lama.

Efek negatif:

Jam tidur normal bagi orang dewasa adalah 7-8 jam sehari. Apabila hal ini terpenuhi, maka kita menjadi produktif dan dipercaya akan mendatangkan usia yang panjang. Memiliki jam tidur yang lebih lama dari seharusnya sama buruknya dengan kurang jam tidur. Hal ini akan berimplikasi pada kesehatan kita. Terlalu banyak tidur bisa menimbulkan penyakit berbahaya, yaitu gangguan saraf di otak yang menyebabkan sakit kepala, gangguan mental berupa perasaan cemas, meningkatkan risiko sakit jantung, diabetes, obesitas, dan memberikan nyeri punggung. Bangun siang juga memberikan dampak merugikan, seperti terganggunya metabolisme tubuh, lesu seharian, sulit berkonsentrasi, sensitif, dan membuat kita kehilangan waktu produktif pada pagi hari. Bagaimana kita bisa sukses dalam karier dan hubungan sosial jika masalah itu terus mengikuti kita sepanjang hari?

Solusi:

  • Menghindari pemicu

Jangan tidur terlalu larut, agar kita mendapatkan jam tidur yang cukup. Tidurlah pukul 21.00 atau selambatlambatnya pukul 22.00, sehingga kita bisa terbangun dengan segar pada pukul 05.00 pagi.

Jangan membiasakan diri beraktivitas dengan gawai sebelum tidur. Para dokter sepakat bahwa cahaya biru pada gawai memiliki dampak buruk dalam jangka panjang. Cahaya biru itu akan membuat mata lelah, mengganggu siklus tidur karena menurunkan hormon melatonin hingga 23%, menyebabkan kita insomnia, serta merusak kornea dan retina mata. Bermain gawai sebelum tidur membuat tidur kita tidak pulas. Akibatnya, kita bangun dengan perasaan masih mengantuk.

  • Mengubah perilaku

Ketimbang melanjutkan tidur hingga siang, bangunlah dan berolahraga. Dengan berolahraga, kita akan mendapatkan perasaan bugar, seperti yang kita inginkan dalam kebiasaan ini. Mengajak teman atau pasangan untuk joging, mendekatkan sepatu dan pakaian joging dekat dengan ranjang akan membuat motivasi kita untuk berolahraga makin meningkat.


  • Sumber: “Habit Is Power”, oleh T. Harry Wilopo
Pesan Sekarang

Empat Hukum Mengubah Kebiasaan

Siapa pun yang ingin mengubah kebiasaan buruknya menjadi kebiasaan baik, harus membaca buku Atomic Habits karya James Clear. Di dalam buku itu, dibahas empat hukum mengubah kebiasaan. Pada bab ini, coba kita sajikan sedikit ringkasannya. Semoga menjadi bekal yang berharga bagi kita untuk membangun kebiasaan-kebiasaan positif yang baru.

Hukum 1: Buatlah Menjadi Jelas

Hukum pertama ini berkaitan dengan petunjuk/tanda-tanda (cues) yang merupakan tahap pertama dalam pembentukan lingkaran kebiasaan. Masalah utama dari kebiasaan buruk adalah kita sering kali benar-benar tidak menyadari seberapa buruk suatu kebiasaan itu bagi kehidupan kita. Manusia tidak menyadari penyebab dari nasib buruknya, dan lebih senang menjatuhkan kesalahan kepada orang lain atas ketidakbahagiaannya atau ketidaksuksesannya.

Akan sulit mengubah kebiasaan buruk jika kita sendiri tak menyadari memilikinya. Perubahan kebiasaan membutuhkan kesadaran. Karena itu, Anda membutuhkan kesadaran atas kebiasaan Anda saat ini. Buatlah daftar kebiasaan Anda dalam sehari. Periksalah, mana di antara kebiasaan-kebiasaan itu yang memiliki dampak buruk bagi kehidupan Anda.

Langkah selanjutnya adalah mulai merancang untuk membangun kebiasaan baru. Namun sebelumnya, Anda harus menemukan lingkaran kebiasaan buruk yang Anda miliki. Carilah cue, craving, routine, dan reward-nya. Pahami sejelas-jelasnya. Setelah itu, cobalah ubah perilaku (routine) yang dimunculkan oleh cue.

Menurut James Clear, setidaknya ada dua cara yang bisa kita gunakan untuk membangun perilaku baru, yaitu:

  1. Menjadikan tempat dan waktu sebagai cue

Formatnya:

Saya akan (kebiasaan baru) pada (waktu) di (tempat).

“Saya akan membaca buku pada pukul 21 (sebelum tidur) di ranjang.”

“Saya akan joging pada pukul 6 pagi di sekeliling perumahan.”

  1. Menumpuk kebiasaan lama dengan kebiasaan baru

Karena otak kita belum terbiasa menerima kebiasaan baru, kita dapat memasangkannya dengan kebiasaan lama.

Formatnya:

Setelah (kebiasaan lama), saya akan (kebiasaan baru).

Contoh:

“Setelah mandi pagi, saya akan menulis 1 halaman naskah. “Setelah makan malam, saya akan membaca 1 halaman buku.”

Berikutnya, aturlah lingkungan agar mendukung perubahan kebiasaan. Kebanyakan orang sering menganggap penting motivasi dan meremehkan lingkungan. Padahal, menurut James Clear, motivasi itu sering dinilai terlalu berlebihan. Menurutnya, lingkungan lebih berpengaruh dalam pembentukan kebiasaan baru ketimbang motivasi.

Sebagai contoh, bila ingin membangun kebiasaan meminum air putih, maka akan lebih efektif apabila kita meletakkan botol minuman di tempat yang terlihat oleh mata kita. Apabila menginginkan anak kita lebih sering membaca buku, maka sediakanlah banyak buku bacaan yang menarik di rumah dan letakkan di tempat yang terlihat untuknya.

Kita terkadang terlalu mengandalkan pengendalian diri. Padahal, lebih mudah bagi kita untuk mengatur lingkungan agar mendukung tujuan kita. Bila kita merasa pekerjaan di kantor terganggu dengan hobi kita memeriksa media sosial, mengapa tidak kita jauhkan ponsel kita dari meja kerja? Bila kita tak ingin anak terlalu sering bermain konsol permainan, ketimbang menasihatinya panjang lebar, mengapa tidak disembunyikan saja konsol permainannya hingga waktu ia diperbolehkan bermain?

Ini adalah salah satu cara untuk meminimalisasi pertemuan dengan cues yang bisa menggoda kita untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan lama.

Hukum 2: Buatlah Menjadi Menarik

Perilaku terbentuk karena adanya keinginan (craving) setelah melihat tanda (cue). Craving terjadi karena kita pernah melakukan sesuatu dan hasilnya terasa menyenangkan (reward). Muncul dopamin dalam otak kita yang membuat kita selalu merindukan perasaan senang itu. Lahirlah perilaku yang berulang-ulang dan disebut kebiasaan.

Agar kebiasaan baru sukses ter-install dalam otak kita, kita harus membuatnya menjadi menyenangkan. Ada tiga cara yang bisa dilakukan:

  1. Memasangkannya dengan hobi atau kesenangan Misalnya:

“Saya harus menulis artikel, tetapi saya suka bermain game!”

Solusinya:

“Saya akan menulis artikel 5 halaman terlebih dahulu, baru setelah itu bermain game.”

  1. Melibatkan teman, keluarga, dan lingkungan

Manusia tak luput dari pengaruh lingkungan dan kehidupan sosialnya. Siapa kita sering kali dipengaruhi oleh siapa orangorang di sekitar kita. Kita bisa memanfaatkan ini menjadi hal yang positif. Misalnya, bila kita ingin menjadi pengusaha, maka kita bisa bergabung dengan kelompok-kelompok diskusi sesama pengusaha di grup media sosial maupun dalam kehidupan nyata.

  1. Mengubah pola pikir

Kebiasaan baru terasa berat untuk dijalani karena pikiran kita telah terafirmasi dengan salah. Cobalah ubah sudut pandang kita dengan mencari sisi menarik dari kebiasaan-kebiasaan baru. Misalnya, merokok disukai karena bila dilakukan akan menimbulkan perasaan tenang dan relaks. Berolahraga juga bisa mendatangkan perasaan yang sama. Jangan berfokus pada rasa lelah akibat berolahraga. Pikirkanlah perasaan nyaman dan relaks setelah berolahraga. Ini akan membuat kita merasa tertarik untuk berolahraga.

Akan sulit mengubah kebiasaan buruk jika kita sendiri tak menyadari memilikinya.

Hukum 3: Buatlah Menjadi Mudah

Hukum ketiga ini berfokus pada proses perilaku yang kelak akan menjadi kebiasaan baru. Intinya, kita harus membuat proses perilaku ini mudah bagi kita. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, yaitu:

  1. Lakukan saja!

Terlalu banyak rencana kerap kali menjadi penghalang bagi kita untuk action. Padahal, pembentukan kebiasaan itu sangat bergantung pada action, bukan perencanaan. Contoh, berat badan Anda tidak akan berkurang dan tubuh tidak akan bugar bila terus membuat rencana diet. Anda akan segar dan berat badan Anda berkurang bila sudah menjalani diet.

  1. Jangan targetkan waktu, tetapi targetkan pengulangan Kebiasaan tidak ditentukan oleh waktu, tetapi ditentukan oleh seberapa banyak pengulangan yang telah kita lakukan. Contoh, mengikuti kelas bahasa Inggris selama 6 bulan tidak akan berarti apa-apa jika Anda hanya pasif, duduk diam di kelas tanpa mencoba mempraktikkan teori bahasa Inggris yang telah Anda pelajari. Namun, sepekan tinggal di Inggris bisa membuat kemampuan bahasa Inggris Anda meningkat pesat.
  2. Atur lingkungan untuk mempermudah

Atur juga lingkungan untuk mempermudah kita dalam menjalani kebiasaan baru. Contoh, agar rajin senam yoga, belilah pakaian dan matras yoga, lalu letakkan dekat tempat tidur, sehingga bila kita terbangun pada pagi hari, kita langsung termotivasi untuk berolahraga. Ingin jago jualan daring, bergabunglah dengan kelas-kelas daring yang secara rutin membagikan ilmu-ilmu terbaru untuk mempermudah kita menambah pengetahuan.

  1. Terapkan aturan 2 menit

Segala sesuatu yang kita kerjakan sehari-hari sesungguhnya ditentukan dalam 2 menit pertama. Saat bermain game, kita berniat hanya melakukannya 2 menit, tetapi nyatanya bisa berlanjut hingga 1 jam. Saat mengobrol dengan teman, kita mungkin telah mengatur rencana untuk mengobrol sejenak, tetapi ternyata obrolan itu menjadi tambah seru dan kita pun menghabiskan waktu berjam-jam bersamanya. Menonton film juga begitu, pun dengan beraktivitas di media sosial.

Apa pun yang kita lakukan lebih dari 2 menit, biasanya akan memicu kita untuk terus menekuninya. Karena itu, mulailah kebiasaan baru dengan melakukannya hanya 2 menit. Anda ingin membangun kebiasaan lari pagi? Mulailah dengan memakai sepatu lari pada pagi hari. Anda ingin menjadi seorang penulis? Mulailah dengan menulis satu kalimat setiap hari.

Ini adalah semacam trik. Karena sudah menjadi sifat kita, bila melakukan sesuatu dengan mudah, kita akan memberikan tambahan dengan sukarela. Lama-kelamaan, hal ini akan membentuk kebiasaan yang dampaknya sangat besar di masa mendatang.

  1. Menjauhkan diri dari kebiasaan buruk

Pembangunan kebiasaan baru harus diimbangi dengan keinginan menjauhkan diri dari kebiasaan buruk. Contoh, jika ingin hidup sehat, maka berhentilah menyediakan kudapan yang tidak sehat di rumah. Jika ingin berhenti merokok, jangan lagi membeli rokok di rumah maupun di kantor. Jika ingin bangun pagi, jangan tidur terlalu malam.

Hukum 4: Buatlah Menjadi Memuaskan

Hanya dengan mendapatkan hasil yang memuaskan dari perilaku atau aktivitasnya, seseorang akan memiliki keinginan untuk mengulanginya lagi. Bila dilakukan secara berulang-ulang, perilaku itu akan menjadi kebiasaan. Oleh karena itu, sangat penting membuat perilaku yang baru untuk menghasilkan kepuasan kepada kita. Ini beberapa hal yang harus dilakukan berkaitan dengan kepuasan itu:

  1. Kepuasan instan

Semua aktivitas yang dilakukan tujuannya adalah untuk mencari kepuasan. Mengapa kebanyakan orang memelihara bad habits dan menjauhi good habits? Karena kebiasaan buruk cenderung memberikan kepuasan dengan instan, walaupun memberikan dampak buruk bagi kita di masa depan. Contoh, memakan junk food dan meminum minuman berkarbonasi akan membuat lidah kita merasa nikmat. Padahal, untuk jangka panjang, mengonsumsi keduanya akan menimbulkan masalah kesehatan pada kita.

Sebaliknya, kebiasaan baik biasanya memberikan kepuasan tertunda, tetapi dampaknya jangka panjang. Contoh, mengonsumsi sayur tidak terasa enak bagi lidah kita, tetapi akan membuat tubuh kita sehat di masa mendatang.

Otak manusia memiliki kecenderungan untuk menyukai kepuasan instan dan menjauhi hukuman instan. Hal inilah yang membuat orang-orang terus mengulangi kebiasaan buruk dan malas memupuk kebiasaan baik.

Oleh karena itu, usahakan segera memberikan reward kepada diri Anda sendiri setelah melakukan kebiasaan baru yang positif. Misalnya, setelah berolahraga pada pagi hari, berilah hadiah kepada diri Anda sendiri segelas jus jeruk yang menyegarkan.

Ingat! Bentuk hadiah ini haruslah bersifat positif, tidak bertentangan dengan kebiasaan baru Anda. Jangan memberikan hadiah kepada diri sendiri segelas minuman bersoda setelah melakukan olahraga. Ini kontradiktif dengan kebiasaan baru yang hendak Anda bentuk, dan tentunya ini akan membuat semuanya sia-sia.

Kebiasaan tidak ditentukan oleh waktu, tetapi ditentukan oleh seberapa banyak pengulangan yang telah kita lakukan.

  1. Memantau kemajuan

Yang juga bisa dilakukan agar pembentukan kebiasaan baru menjadi lebih menarik adalah memantau seberapa jauh kemajuan yang telah kita lakukan. Buatlah catatan seberapa banyak kemajuan yang telah Anda dapatkan, karena salah satu perasaan yang paling memuaskan adalah perasaan bahwa kita telah mengalami kemajuan.

Contoh, seseorang yang mencoba rutin menulis akan mencatat berapa halaman yang telah ia selesaikan setiap kali menyelesaikan tulisannya dalam sehari. Hari pertama, ia mencatat telah menyelesaikan 2 halaman tulisan. Hari kedua, ia menyelesaikan 2 halaman lagi, sehingga total 4 halaman telah ia kerjakan. Begitu seterusnya.

Dengan memantau progres pekerjaan yang sedang kita lakukan, ada kepuasan yang muncul saat kita melihat telah mencapai kemajuan dalam pekerjaan itu. Perasaan menjadi senang saat melihat kita telah menyelesaikan tulisan sebanyak 20 halaman. Kita pun bertambah semangat untuk terus membuat kemajuan setiap harinya.

  1. Libatkan orang lain untuk mengawasi

Seseorang yang berusaha menghentikan kebiasaan merokoknya akan bercerita kepada teman-temannya, “Saya sedang berusaha berhenti merokok.” Tujuannya bukan untuk pamer, melainkan berharap teman-temannya itu ikut mengawasi keberhasilannya dalam membangun kebiasaan baru. Ia akan merasa malu bila teman-temannya mengetahui bahwa ia gagal menahan keinginannya untuk berhenti merokok.

Bila Anda ingin membangun kebiasaan lari pagi, carilah seorang teman untuk melakukannya bersama. Jika sudah telanjur berjanji, Anda akan merasa malu bila tidak jadi menjalankan rencana Anda itu.

Demikianlah empat hukum mengubah kebiasaan ala James Clear. Kini Anda telah memahami teori mengganti kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik. Bagian tersulitnya adalah bagaimana Anda bisa mengaplikasikan teori ini dalam kehidupan Anda.


  • Buku: “Habit Is Power” oleh T. Harry Wilopo Order Now
Order Now

Join Now
Download

Dahsyatnya Kekuatan Atomic Habits

Nasib British Cycling berubah pada suatu hari dalam tahun 2003. Organisasi itu, yang merupakan induk organisasi cabang olahraga sepeda profesional di Britania Raya, baru saja merekrut Dave Brailsford sebagai direktur performa yang baru. Pada waktu itu, pembalap sepeda profesional di Britania Raya telah mengalami hampir seratus tahun dalam prestasi yang sedang-sedang saja. Sejak 1908, pembalap-pembalap Inggris hanya memenangkan satu medali emas di ajang Olimpiade, dan prestasi mereka bahkan lebih buruk lagi di lomba balap sepeda paling akbar, Tour de France. Dalam 110 tahun, tidak ada pembalap Inggris yang pernah memenangkan ajang tersebut.

Bahkan, prestasi pembalap Inggris begitu tenggelam sehingga pabrik sepeda terbaik di Eropa menolak menjual sepeda kepada tim itu karena takut berpengaruh buruk pada penjualan sepedanya seandainya pembalap-pembalap profesional lain melihat atlet-atlet Inggris memakai produk tersebut.

Brailsford direkrut untuk membawa British Cycling ke arah baru. Yang membuatnya berbeda dari pelatih-pelatih terdahulu adalah komitmennya yang tiada henti terhadap strategi yang ia sebut “penghimpunan perolehan kecil”, yang merupakan falsafah pencarian margin peningkatan sangat kecil dalam segala sesuatu yang Anda kerjakan. Menurut Brailsford, “Secara keseluruhan prinsip ini berasal dari gagasan bahwa jika Anda mengurai segala sesuatu yang dapat Anda pikirkan terkait dengan balap sepeda, dengan perbaikan 1% saja Anda akan mendapatkan kenaikan yang signifikan ketika menerapkannya bersama-sama sekaligus.”

Brailsford dan pelatih-pelatihnya mulai dengan membuat penyesuaian-penyesuaian kecil yang bisa diharapkan dari tim pembalap sepeda profesional. Mereka merancang ulang jok sepeda agar lebih nyaman dan mengoleskan alkohol agar pada ban agar cengkeramannya lebih baik. Mereka meminta para pembalap memakai celana pendek dengan pemanas listrik guna mempertahankan suhu otot sewaktu bersepeda dan menggunakan sensor-sensor biofeedback untuk memonitor reaksi-reaksi tiap atlet terhadap suatu latihan. Tim menguji bermacam-macam bahan di terowongan angin dan meminta pembalap-pembalap jalan raya beralih mengenakan kostum balap indoor, yang terbukti lebih ringan dan aerodinamis.

Akan tetapi, mereka tidak berhenti di situ. Brailsford dan timnya terus berburu perbaikan-perbaikan 1% di bagian-bagian yang terlewatkan atau tak terduga. Mereka menguji bermacam-macam gel pijat untuk melihat mana yang menghasilkan pemulihan otot paling cepat. Mereka membayar seorang dokter untuk mengajari tiap pembalap cara terbaik mencuci tangan guna mengurangi peluang terkena virus influenza. Mereka menentukan jenis bantal dan kasur yang memungkinkan tidur lebih nyenyak bagi tiap pembalap. Mereka bahkan mengecat bagian dalam truk tim dengan warna putih, yang memudahkan mereka melihat debu-debu kecil yang biasanya tidak langsung terdeteksi padahal berisiko menurunkan performa sepeda yang telah disetel dengan baik.

Ketika perbaikan-perbaikan ini berikut ratusan perbaikan kecil lain diakumulasikan, hasilnya datang lebih cepat daripada yang pernah dibayangkan.

Hanya lima tahun sejak Brailsford direkrut, tim British Cycling mendominasi baik balap sepeda jalan raya maupun sirkuit di ajang Olimpiade 2008 di Beijing, tempat mereka secara dahsyat memenangkan 60% dari total medali emas yang diperebutkan. Empat tahun kemudian, ketika Olimpiade diselenggarakan di London, atlet-atlet Inggris menaikkan batas minimal prestasi mereka dan membuahkan sembilan rekor Olimpiade serta tujuh rekor dunia.

Pada tahun yang sama, Bradley Wiggins menjadi atlet balap sepeda Inggris pertama yang memenangkan Tour de France. Tahun berikutnya, teman satu timnya Chris Froome memenangkan lomba itu, dan terus menang lagi pada 2015, 2016, dan 2017, yang membuat tim Inggris meraih lima kemenangan Tour de France dalam enam tahun.

Selama rentang sepuluh tahun dari 2007 sampai 2017, pem balap sepeda Inggris memenangkan 178 kejuaraan dunia dan 66 medali emas Olimpiade atau Paralympic dan meraih lima keme nangan Tour de France yang oleh kalangan luas dipandang seba gai prestasi paling sukses dalam sejarah balap sepeda.’

Bagaimana ini terjadi? Bagaimana suatu tim yang sebelumnya hanya sekumpulan atlet biasa berubah menjadi juara dunia melalui perubahan-perubahan sangat kecil yang, sepintas lalu, palingpaling hanya akan menghasilkan perubahan sekadarnya? Mengapa perbaikan-perbaikan kecil berakumulasi menjadi hasil-hasil yang begitu menakjubkan, dan bagaimana Anda dapat meniru pendekatan ini dalam hidup Anda sendiri?


  • Sumber: Buku “Atomic Habits” karya James Clear
  • Pesan buku sekarang Klik
  • Good books to read Download
  • Join the inspiration Join
Order now (Indo. Version) Click

Success Is A Habit

Motivator profesional asal Amerika Serikat, Jim Rohn, berulang kali berkata, “Sukses adalah sedikit kebiasaan baik yang diulang setiap hari, sedangkan kegagalan adalah sedikit keputusan buruk yang juga diulang setiap hari.”

Kesuksesan itu sangat ditentukan oleh kebiasaan. Menurut orang-orang sukses, kesuksesan sesungguhnya merupakan akumulasi dari beberapa langkah kecil dan kebiasaan. Karena itu, sangat penting bagi kita untuk membangun kebiasaan-kebiasaan sukses.

Jika sukses memang semudah itu, mengapa tidak banyak orang bisa meraihnya?

Kebanyakan orang gagal meraih kesuksesan dan tidak bahagia dalam hidupnya karena mereka tidak memiliki kepercayaan terhadap diri mereka sendiri. Mereka tidak yakin akan mampu meraih impian mereka.

Mereka sebenarnya tahu harus melakukan apa untuk meraih kesuksesan. Namun, karena merasa kurang yakin dengan dirinya, mereka pun menyerah sebelum mencoba atau memilih berhenti di tengah perjalanan menuju ke sana, sehingga gagal membangun kebiasaan baru.

Sebaliknya, orang-orang sukses bertindak berbeda dari kebanyakan orang. Dengan penuh percaya diri, mereka setidaknya melakukan tiga hal ini dan membuat mereka berhasil membangun kebiasaan sukses yang baru.

1) Mereka memilih tantangan ketimbang kenyamanan. Untuk menuju puncak gunung kesuksesan, setiap orang harus membayar harganya. Harganya yaitu berani menghadapi tantangan saat mendaki ke atas dan melepaskan zona nyaman.

2) Berpikir positif. Orang sukses selalu berprinsip “apa pun yang bisa engkau pikirkan, maka pasti bisa engkau dapatkan!”. Pikiran seperti ini membantu kita menghapus kebiasaan lama yang negatif dan menggantinya dengan kebiasaan baru yang positif.

3) Membangun kerja sama. Tak ada orang yang bisa sukses dengan kekuatannya sendiri. Kesuksesan baru bisa terwujud jika kita bisa membentuk hubungan yang positif dengan orang lain. Bertemu dan menjalin kerja sama dengan orang lain akan membuka peluang bagi kita untuk meraih kesuksesan.

Kesuksesan tak akan didapatkan dalam waktu semalam. Jika ingin meraih kesuksesan dengan cepat, maka kita harus membangun kebiasaan-kebiasaan positif mulai sekarang, bukan besok atau lusa.

—–

Book: Habit Is Power More Info

Keys of Success

Oleh: D. Hamdani

Bismillah

Setiap orang mendambakan kebahagiaan, mendambakan kesuksesan. Apa yang sedang kita usahakan muaranya adalah bagaimana agar kita bisa hidup lebih sukses, lebih bahagia (zona nyaman).

Empat belas abad yang silam Rasulullah SAW mengajarkan sebuah doa agar umatnya bahagia. Sebagian ulama mengatakan bahwasannya doa ini merupakan doa sapu jagat yang perlu lita panjatkan setiap habis sholat:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbanaa, aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar

Artinya: “Tuhan kami, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa neraka.”

Doa adalah ucapan. Doa adalah permintaan. Fungsi sebuah doa adalah afirmasi positif agar kita sadar akan tujuan atau goal, di mana goal kita dalam hidup adalah bahagia atau sukses bukan sekedar di dunia dengan segala pencapaiannya (seperti rumah, kendaraan, dan lain-lain), namun juga agar kita mendapatkan kesuksesan di akhirat (masuk surga dan terhindar dari neraka).

Tahap selanjutnya setelah kita menyadari akan tujuan hidup kita (sadar goal hidup) adalah memahami beberapa variabel agar goal hidup dapat tercapai, yaitu: iman dan amal shalih.

Ya, hanya iman dan amal shalih lah yang dapat mengantarkan kepada goal hidup: sukses dunia dan akhirat.

Di dalam Al-Qur’an tidak kurang dari 80 ayat yang berbicara tentang iman dan amal shalih. Kedua kata tersebut tersanding dan tidak dapat dipisahkan. Tidak sempurna iman seseorang jika tidak ada amal shalih, dan betapa sia-sia amal seseorang jika tidak ada iman.

Dalam dunia motivasi, iman itu adalah motivasi (motivation), sedangkan amal shalih adalah aksi dan kebiasaan (action dan habit). Sebaik-baik motivasi adalah motivasi yang berasal dari diri sendiri (self driven motivation) atau disebut juga dengan istilah motivasi intrinsik. Dan sebaik-baik aksi dan kebiasaan adalah positive action dan good habits, itulah amal shalih (good deeds).

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar kita terus termotivasi (baca: iman selalu prima) dan action dan habit kita bisa dilakukan terus menerus berkesinambungan (baca: terus beramal shalih)? Jawabannya ada pada hadits berikut:

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ
“Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.”

Ilmu lah yang dapat mengantarkan kita pada goal hidup sehingga kita bisa terus melakukan positive action dan good habits (amal shalih). Dan dalam dunia motivasi, ilmu itu disebut dengan mindset. Agar mindset kita terus tumbuh (growth mindset–istilah Carol S. Dweck) maka kita terus belajar (keep learning) dan berkumpul dengan orang-orang shalih (positive people) yang mengawali harinya dengan good habits dua atau tiga jam sebelum dari apa yang direkomendasikan oleh Robin Sharma dalam bukunya “The 5 am Club”.

Kesimpulannya agar sukses di dunia dan akhirat maka kita harus memiliki goal (sadar tujuan hidup, istilah Simon Sinek adalah “Start with Why”), diperlukan juga self driven motivation (iman), positive action dan good habits (amal shalih), juga growth mindset (ilmu).

Wallahu a’lam

—–

Good books to read Download