Hebat Karena Terbiasa

Kamu sering takjub karena kehebatan seseorang? Silakan ikuti kisahnya.

Dahulu kala di Tiongkok, ada seorang panglima perang yang terkenal karena memiliki keahlian memanah yang tiada tandingannya. Pada sebuah perayaan kerajaan, sang panglima diminta memamerkan keahlian memanahnya kepada rakyat. Raja ingin seluruh rakyat mengetahui keterampilan memanah panglimanya.

Panglima pun menyiapkan papan sasaran serta beberapa anak panah. Dengan penuh percaya diri, ia memasuki lapangan. Panglima menarik napas dalam-dalam, lalu mulai menarik busur dan melepas satu per satu anak panah itu ke arah sasaran. Sungguh hebat! Tak satu pun anak panah yang meleset dari sasaran. Rakyat bersorak-sorai menyaksikan kehebatan sang panglima.

Dengan wajah berseri-seri penuh rasa bangga, panglima itu berkata, “Wahai rakyat semua, lihatlah apa yang bisa kulakukan! Adakah di antara kalian yang bisa mengalahkan keahlianku dalam memanah?”

Mendengar tantangan dari Panglima, tiba-tiba seorang tua penjual minyak berteriak dengan lantang, “Panglima memang hebat! Namun, semua orang yang ada di sini juga bisa melakukannya.”

Semua orang terdiam. Bahkan Raja tak menyangka ada di antara rakyat yang berani berkata demikian.

“Apa maksudmu, Pak Tua?” tanya Raja.

Tukang minyak menjawab, “Akan aku tunjukkan!”

Tukang minyak itu beranjak dari tempatnya. la maju ke tengah lapangan. Ia merogoh saku celananya dan mengambil sebuah uang koin kuno yang berlubang di bagian tengahnya. Koin itu lalu diletakkannya di atas mulut guci minyak yang kosong. Semua orang merasa heran. Apa yang hendak dilakukan penjual minyak tua itu?

Dengan penuh keyakinan, si penjual minyak mengambil gayung penuh berisi minyak, kemudian menuangkannya dari atas ke dalam guci kosong melalui lubang kecil di tengah koin tadi sampai botol guci itu terisi penuh. Tak setetes minyak pun menyentuh permukaan koin! Luar biasa!

Penjual minyak itu berkata sambil memperlihatkan koinnya yang kering kepada orang-orang, “Aku juga bisa melakukan ini karena terbiasa melakukannya selama bertahun-tahun.”

Raja, Panglima, dan seluruh orang yang ada di situ mulai memahami maksud si tukang minyak.

“Ini hanyalah keahlian yang didapat dari kebiasaan yang terlatih! Kebiasaan yang diulang terus-menerus akan melahirkan keahlian.”

Orang-orang bersorak. Kebijaksanaan si tukang minyak hari itu telah memberikan pelajaran yang berharga kepada mereka semua. Mereka kini mengetahui bahwa setiap orang juga bisa menjadi hebat karena kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang.


  • Sumber: “Habit Is Power” karya T. Harry Wilopo
  • Pesan bukunya sekarang Klik
  • Join the inspiration Join
Order now

Kuncinya adalah Pengulangan

“Kita adalah apa-apa yang berulang-ulang kita lakukan. Sukses bukanlah tindakan, melainkan sebuah kebiasaan.”

Aristoteles

Ya, rahasia dari kemahiran adalah kebiasaan yang berulang. Berlatih mengangkat barbel selama 2 jam tidak akan membuat otot kita membesar, tetapi berlatih mengangkat barbel selama 2 jam dan dilakukan berulang-ulang selama 6 bulan akan membentuk tubuh kita menjadi kekar. Kuncinya, repetisi.

Pergi menghadiri kelas bahasa Inggris 2 kali seminggu mungkin akan membuat kemampuan bahasa Inggris kita lebih lancar dari sebelumnya. Namun, tetap saja kita masih kalah mahir dengan orang-orang Indonesia yang tinggal di Inggris sana. Mengapa?

Karena setiap hari, mereka mempraktikkan bahasa Inggris secara berulang-ulang. Sampai-sampai mereka tidak perlu berpikir lagi setiap akan berbicara. Bahkan mereka sudah berpikir dalam bahasa Inggris.

Kuncinya? Ya, repetisi.

“Kebiasaan yang diulang terus-menerus akan melahirkan keahlian.” Kalimat ini tidak boleh kita lupakan. Betapa luar biasanya kekuatan kebiasaan. Habit is power!

Alam pun turut memberikan pelajaran kepada kita, bahwa tekad yang kuat untuk mengerjakan sesuatu secara berulangulang akan menghancurkan halangan sebesar dan sekeras apa pun di hadapan kita, sampai menembus logika!

Bayangkan, sebongkah batu yang besar dan keras dapat dilubangi oleh tetesan air yang jatuh berulang-ulang selama beberapa tahun di tempat yang sama. Kerasnya batu tak mampu menahan kelembutan air yang jatuh menetes berulang-ulang.

The power of repetition, masihkah Anda meragukannya?


  • Buku: “Habit Is Power” oleh T. Harry Wilopo
  • Pesan buku sekarang Di Sini
  • Join the inspiration Now

Penundaan: Sahabat Kegagalan

Saya memutuskan untuk menghibahkan sebuah meja kayu tua yang sangat besar. Bagian atas meja tertutup oleh selembar kaca setebal 1/4 inci, berukuran sekitar 3×5 kaki. Pemilik yang baru tidak menginginkan kacanya. Ketika kami memuat meja ini ke dalam truknya di suatu Sabtu pagi, kami meninggalkan kacanya tersandar pada tiang ring basket yang ada di ujung jalan masuk kami.

Sambil pergi membawa meja, teman saya itu berkata, “Lebih baik kamu menyimpan kaca itu di tempat yang aman.” Saya balas berteriak, “Ya, pasti!” Tapi, hal itu tidak saya lakukan. Saya melirik kaca itu sekilas dan berkata dalam hati akan melakukannya nanti. Kemudian, saya sibuk memangkas semak-semak dan membersihkan garasi. Setiap kali melangkah melewati kaca itu, saya berkata pada diri sendiri bahwa saya harus memindahkan kaca itu sebelum lupa. Tapi, saya terus berpikir, “Saya akan melakukannya nanti.”

Hari terus berjalan, dan kami sekeluarga memutuskan untuk makan malam di luar. Ketika kami memundurkan mobil keluar dari halaman, istri saya, Karen, berkata, “Tidakkah sebaiknya kita menaruh kaca itu di tempat yang aman?” Anda tahu apa jawaban saya.

Beberapa jam kemudian, kami tiba di rumah menjelang malam dan sedang bersiap masuk ke dalam rumah. Saya melihat sepasang gunting rumput kecil di dekat pinggiran jalan, di bawah lampu jalanan. Saya menyuruh anak lakilaki saya, Michael yang berumur 9 tahun, “Mike, tolong ambilkan gunting-gunting di sana dan letakkan di garasi.” la pergi mengambilnya sementara saya berjalan menuju rumah.

Malam itu adalah Sabtu malam yang tenang di daerah permukiman kami yang menyenangkan, sampai kesunyian itu diusik oleh suara yang paling menakutkan yang pernah saya dengar: suara sebuah kaca besar pecah.

Saya langsung menyadari apa yang terjadi. Saya juga tahu penyebabnya. Saya lari keluar dari garasi, mengitari mobil, dan menemukan Michael tergeletak di atas ratusan pecahan kaca yang mematikan, beberapa di antaranya memiliki panjang lebih dari 1 kaki. Ia menangis ketika saya berlari membopongnya menuju teras depan. Saya meletakkan tubuhnya di bawah lampu agar dapat mengecek luka-lukanya, siap menghadapi kemungkinan terburuk. Dan, sulit dipercaya: tak ada satu goresan pun! la telah berlari menabrak kaca dan jatuh di atasnya ketika kaca itu menyentuh aspal, tetapi tidak ada satu luka pun di tubuhnya. Mengatakan bahwa kami amat sangat bersyukur tidaklah cukup.

Mengapa insiden itu terjadi? Penundaan, Sahabat Kegagalan. Saya tahu sejak awal bahwa kaca itu harus dipindahkan, dan hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari lima menit untuk melakukannya. Tetapi, saya terus menunda dan menunda, sampai akhirnya hal itu meledak, nyaris mendekati malapetaka.

Tangani dengan segera hal-hal kecil, selagi mereka masih kecil.


  • Buku: QBQ, oleh: John G. Miller
  • Join the inspiration Join
  • More books Click

Orang-Orang Pintar yang Terkurung Pikirannya Sendiri

Oleh: Rhenald Kasali

Anda mungkin pernah bertanya, ke mana teman-teman yang dulu menjadi kebanggaan guru karena nilai-nilai pencapaian atau raportnya tinggi, bertaburan angka 10 atau “A” dan dinilai pandai di kelas?

Kebanyakan kita pasti pernah menduga, kelak merekalah yang akan mewarnai kehidupan, menjadi ilmuwan yang sering dikutip publik, insinyur hebat, dokter spesialis ternama, pengu´saha besar, hakim agung dan seterusnya.

Namun, dalam kehidupan, di sini dan di mana pun, ternyata kita sering kecewa. Karena yang muncul sebagai penerima penghargaan dunia ternyata bukan teman-teman kecil kita yang hebat itu, melainkan yang sebaliknya. Ya, mereka yang dulu sekolahnya justru mengalami beragam kesulitan. Tak sedikit yang menjadi penerima hadiah Nobel mengaku bahwa masa kecilnya dilalui dengan penuh rintangan. Bahkan Albert Einstein pernah dianggap idiot, dan penemu besar sepanjang sejarah Thomas Alva Edison dikeluarkan dari sekolah.

Berbagai studi belakangan ini mulai berani menunjukkan bahwa yang sering muncul di media massa menjadi ilmuwan terkenal, seniman berpengaruh, ekonom terkemuka, atau bahkan menjadi CEO berprestasi, ternyata sebagian besar dulunya bukan siswa yang tercerdas tadi.

Ini tentu bukan omong kosong atau reka-rekaan. Mereka sendiri mengakuinya. Bahkan, Gladwell (2008) menemukan para penerima hadiah Nobel ternyata bukanlah orang-orang ber-IQ tinggi seperti yang diduga oleh para peramu teori kecerdasan.

Belum lama ini FBI menemukan release yang pernah dikeluarkan terkait mendiang Steve Jobs. Di lembar catatan tertulis: “la hanya memiliki indeks prestasi kumulatif 2,65 pada saat duduk di tingkat SLTA.” Kalau Anda membaca laporan itu sebelum Jobs dikenal atas karya-karyanya, mungkin Anda termasuk orang yang percaya bahwa Jobs bukan sosok genius.

Lewat buku ini, psikolog Carol Dweck, mengungkapkan hasil penelitiannya yang menemukan bahwa ada faktor lain yang lebih penting dari kecerdasan yaitu mindset. Dalam hal ini ia menekankan bahwa manusia memiliki dua jenis mindset. Pertama mindset yang tumbuh (growth mindset) dan kedua mindset yang tetap (fixed mindset).

Orang-orang yang bermindset tetap cenderung mementingkan apa yang didapat dari masa lalunya, yaitu prestasi sekolahnya yang tampak dalam ijazah dan gelar sekolah. Dan sekali didapat, mereka percaya bahwa prestasi itu akan berlaku selamalamanya. Persis seperti cara pandang kita tentang IQ.

Sebaliknya, yang bermindset tumbuh berani menghadapi tantangan baru. Mereka percaya bahwa kecerdasan bisa berubah seperti otot, yang kalau dilatih terus-menerus akan menjadi kuat dan besar.

Dan Dweck menemukan bahwa mindset tumbuh itu kelak akan diraih oleh mereka yang berani menghadapi kesulitan dan tantangan-tantangan baru. Jadi bisa dilatih, dan untuk itu peran orangtua dan guru sangat menentukan.

Saya tidak bermaksud menganggap bahwa ijazah tidak penting. Ijazah penting. Namun yang memprihatinkan adalah saat ini sekolah dan universitas banyak dikuasai oleh orang-orang yang bermental ijazah dan asal sekolah. Akibatnya, mereka terkurung dalam “penjara” yang mereka ciptakan sendiri, yaitu fixed mindset. Mereka dibesarkan dalam lingkungan yang steril dan seakan-akan sekali diraih, mereka akan cerdas selama-lamanya. Ini tentu perlu kita koreksi.

Apalagi anak-anak pandai yang dibentuk keluarga yang selalu memberi topangan, selalu memuji keberhasilannya, dan lupa memberi ujian berupa kesulitan. Ini tentu merepotkan anak itu sendiri.

Saya berharap, dengan membaca buku ini, kita bisa memperbarui cara mendidik dan membesarkan anak-anak kita. Karena, ada faktor lain selain prestasi akademik yang harus dibangun untuk melahirkan kehebatan.

Tugas kita bukanlah membuat seseorang menjadi hebat sesaat, melainkan membuat mereka bisa tumbuh dan berkembang, menemukan pintu masa depan beradaptasi dengan perubahan.


  • Tulisan di atas adalah sebuah kata pengantar yang ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali terhadap buku berjudul “Mindset” karya Carol S. Dweck.
  • Download buku MINDSET (Eng. Version) Download
  • Dapatkan buku MINDSET (Indo. Version) Di Sini

Indonesia Version Order Now

Pekerjaan Baru Buat Tukang Ledeng

Suatu hari pimpinan Mercedez Benz, sebut saja Mr. Benz, menelepon seorang tukang ledeng yang direkomendasikan temannya untuk memperbaiki kran air yang bocor di rumah. Temannya bilang tukang ledeng yang satu ini bisa diandalkan.

Ketika dihubungi ternyata sang tukang ledeng sedang banyak pekerjaan dan baru bisa datang dua hari lagi. Akhirnya Mr. Benz setuju untuk menunggu dua hari.

Keesokan harinya, sang tukang ledeng menghubungi bos Mercy tersebut sekedar untuk menyampaikan terima kasih karena sudah bersedia menunggu satu hari lagi. Sang bos terkesan atas pelayanan dan cara berbicara sang tukang ledeng.

Pada hari yang telah disepakati, sang tukang ledeng datang ke rumah tersebut untuk memperbaiki kran yang bocor.

Setelah kutak-katik sana-sini, kran pun selesai diperbaiki dan sang tukang ledeng pulang setelah menerima pembayaran atas jasanya.

Sekitar dua minggu setelah hari itu, sang tukang ledeng kembali menghubungi Mr. Benz sekedar untuk menanyakan apakah kran yang diperbaiki sudah benar-benar beres atau masih timbul masalah?

Mr. Benz berpikir orang ini luar biasa, walaupun cuma tukang ledeng tetapi begitu memperhatikan kepuasan pelanggan.

Beberapa bulan kemudian Mr. Benz merekrut sang tukang ledeng untuk bekerja di perusahaannya. Tentu sang tukang ledeng kaget, apalagi sebelumnya ia tidak tahu orang yang dibantunya adalah pimpinan sebuah perusahaan otomotif terbesar di dunia.

Kira-kira pekerjaan apa yang cocok untuknya?

Apakah tukang tersebut akan diangkat menjadi pengawas saluran air dan perledengan di pabrik Mercedez?

Apakah keahlian di bidang pipa yang membuatnya direkrut?

Tidak. Bukan keahliannya sebagai tukang pipa yang membuatnya mendapat posisi baru, tapi dedikasinya yang ingin selalu membuat pelanggan puaslah yang membuatnya menjadi pegawai terhormat.

Tukang ledeng itu bernama Christopher L. Jr. la direkrut untuk mengurusi customer Mercedez Benz dengan tujuan utama agar pemilik mobil Mercedez puas atas pelayanan perusahaan otomotif tersebut.

Dengan pekerjaan barunya, sang tukang pipa kini harus mengembangkan bakatnya di bidang kepuasan pelanggan, sebuah bidang yang sebelumnya sama sekali tidak terpikir sebagai pekerjaan.

Sang tukang pipa tidak menyangka bahwa keramahannya melayani pelanggan, keinginannya memuaskan pelanggan, ternyata merupakan keahlian yang sangat berharga dan jarang dimiliki orang. Karena keahlian ini bukan sekedar ilmu tetapi juga menyangkut hati manusia.

Tak pernah terpikir olehnya, sebuah sikap yang dianggap sekedar nilai tambah pekerjaan ternyata mempunyai nilai besar.

Karirnya melesat hingga ia menjabat sebagai General manager Customer Satisfaction and Public Relation di Mercedez Benz!

Sebuah lompatan yang tinggi bagi seorang tukang ledeng.


Hikmah:

Memberi kepuasan pada hati pelanggan merupakan naluri alamiah Christopher ketika menjalankan usaha.

Sekalipun ia hanya tukang ledeng tetapi ia selalu berusaha memberikan yang terbaik.

Akan tetapi ia tidak menyadari bahwa sikap ini merupakan aset yang sangat berharga, sampai akhirnya salah satu perusahaan otomotif terbesar di dunia berani membayar mahal dan memberinya posisi penting atas sikap tersebut.


  • Buku: “No Excuse” oleh Isa Alamsyah
  • Join the Inspiration Join
  • Good books to read Download

“Saya ini wartawan, mana bisa memandu talk show!”

Sebagai wartawan di televisi, wanita ini menunjukkan kepiawaiannya dalam berkomunikasi pada setiap wawancara. Pertanyaannya tajam dan cerdas. la bisa mengungkap informasi terdalam tanpa membuat nara sumber terbebani atau dipermalukan.

Jajaran pimpinan menangkap kelebihan wanita tersebut dan menawarkannya jenjang yang lebih tinggi. la ditawari untuk ikut memegang talk show televisi.

Bagaimana tanggapan wanita tersebut pertama kali mendengar tawaran itu? la ragu, tidak yakin akan kemampuannya memandu talk show.

“Saya ini wartawan, mana bisa memandu talk show!”

Singkat cerita akhirnya ia mau terlibat dalam talk show bersama host lain. Karirnya tidak mulus, banyak hambatan yang harus dilaluinya sampai akhirnya mempunyai talk show sendiri.

Talk show-nya pun tidak langsung berjalan lancar. Pada tayangan perdana, tidak ada penonton di studio, sehingga ia harus turun ke jalan menawarkan donat dan keramahan agar ada yang mau masuk menjadi penonton. Orang pertama yang menjadi incarannya yaitu Don Johnson, bintang Miami Vice, yang saat itu sedang top-topnya, bahkan tidak menggubris undangannya, sekalipun sudah berkali-kali dikirimi surat dan bunga.

Ketika undangan bagi pembicara untuk tayangan perdana talk shownya tidak digubris, akhirnya ia memilih keluarga dan wanita sebagai tema pada tayangan perdananya.

Apakah ini kisah tentang host talk show tidak berbakat?

Tidak, ini bukan kisah pemandu talk show tidak berbakat. Ini adalah kisah Oprah Winfrey yang kini dikenal sebagai ratu talk show dunia.

Ternyata tema wanita dan keluarga yang diangkat pada talk show edisi pertama tersebut justru menjadi tema yang sangat diminati. Tema yang pada awalnya dipilih karena undangannya diabaikan bintang Miami Vice ini, akhirnya justru menjadi tema sentral talk show Oprah dan memperkuat posisinya dalam dunia talk show.

Perlahan tapi pasti, acara talk show-nya semakin banyak dinantikan hingga akhirnya menjadi yang terbesar.

Saat ini Oprah Winfrey Show disaksikan 46 juta pemirsa setiap minggu di Amerika dan secara internasional disiarkan di 134 negara. Acara Oprah Winfrey Show merupakan acara talk show no. 1 selama 21 musim secara berturut-turut sampai saat ini. Ratusan orang penting dunia pernah menjadi tamu pada acaranya.

Kini Oprah menjadi wanita selebritis terkaya di dunia dengan nilai kekayaan mencapai USD 1,5 milar (Rp 15 triliun).

Begitu besar pengaruh Oprah Winfrey sehingga ia beberapa kali dinobatkan sebagai salah satu wanita paling berpengaruh di dunia. Semua berawal dari talk show.


  • Buku: “No Excuse” oleh Isa Alamsyah
  • Join the Inspiration Join
  • Good books to read Download

Lupakan Sasaran, Berfokuslah Pada Sistem

Kearifan yang masih berlaku sampai sekarang mengatakan bahwa cara terbaik untuk meraih apa yang kita inginkan dalam hidupentah memiliki bentuk tubuh yang lebih bagus, membangun bisnis yang sukses, hidup lebih tenteram dan tidak terlalu cemas, meluangkan waktu lebih banyak bersama teman dan keluargaadalah menetapkan sasaran-sasaran yang spesifik dan dapat dilaksanakan.

Untuk waktu yang lama, ini pula pendekatan yang saya pakai terkait dengan kebiasaan. Selalu ada sasaran yang harus diraih. Saya menetapkan sasaran-sasaran untuk nilai-nilai yang harus saya dapatkan di sekolah, untuk bobot yang ingin saya hilangkan melalui olahraga, untuk laba yang saya inginkan dalam bisnis. Saya berhasil pada beberapa, tapi gagal pada sebagian besar yang lain. Akhirnya, saya mulai sadar bahwa hasil-hasil saya hampir tidak berkaitan dengan sasaran-sasaran yang saya tetapkan dan hampir semuanya berkaitan dengan sistem yang saya jalani.

Apa perbedaan antara sistem dan sasaran? Ini perbedaan yang pertama kali saya ketahui dari Scott Adams, kartunis di balik komik Dilbert. Sasaran bicara tentang hasil yang ingin kita raih. Sistem adalah proses yang mengantar ke hasil-hasil itu.

  • Bila Anda seorang pelatih, sasaran Anda mungkin memenangkan kejuaraan. Sistem Anda terdiri atas merekrut pemain, mengatur asisten pelatih, dan menyelenggarakan latihan pelatih.
  • Bila Anda seorang pengusaha, sasaran Anda mungkin membangun perusahaan bernilai sejuta dolar. Sistem Anda adalah bagaimana menguji gagasan-gagasan tentang produk, merekrut karyawan, dan menjalankan iklan pemasaran.
  • Bila Anda seorang pemusik, sasaran Anda mungkin memainkan gubahan baru. Sistem Anda adalah seberapa sering Anda berlatih, bagaimana Anda memecahkan serta mengatasi kesulitan, dan metode Anda adalah menerima umpan balik dari instruktur.

Sekarang, pertanyaan yang menarik: Jika Anda mengabaikan sepenuhnya sasaran-sasaran Anda dan berfokus hanya pada sistem, apakah Anda akan masih berhasil? Sebagai contoh, jika Anda seorang pelatih bola basket dan mengabaikan sasaran memenangkan kejuaraan serta berfokus hanya pada yang dikerjakan tim dalam latihan setiap hari, apakah Anda masih mendapatkan hasil?

Menurut saya, Anda akan berhasil.

Sasaran dalam olahraga apa pun adalah menyelesaikannya dengan skor terbaik, tapi pasti sangatlah konyol kalau selama pertandingan tim menghabiskan waktu untuk melihat papan nilai. Cara satu-satunya untuk benar-benar menang adalah menjadi lebih baik setiap hari. Seperti ungkapan juara Super Bowl tiga kali Bill Walsh, “Nilai akan datang dengan sendirinya.” Ini berlaku. pula untuk bidang-bidang kehidupan lain. Bila Anda menginginkan hasil-hasil yang lebih baik, lupakan sasaran-sasaran Anda. Sebagai ganti, berfokuslah pada sistem Anda.

Apa yang saya maksud? Apakah sasaran sama sekali tidak berguna? Tentu saja tidak. Sasaran itu baik untuk menetapkan arah, tapi sistem adalah yang terbaik untuk mendapatkan kemajuan. Sejumlah masalah timbul ketika Anda menghabiskan terlalu banyak waktu memikirkan sasaran dan tidak menyediakan waktu yang cukup untuk merancang sistem.


  • Buku: “Atomic Habits” by James Clear
  • Good books to read Download
  • Join the inspiration Join

Sukses dan Gagal

Siapa orangnya yang tak ingin sukses atau tak ingin kan gagalnya proses ikhtiar?

Bagi Mukmin tentu dunia akhirat inginkan itu terjadi, sebagaimana kita senantiasa mengenal doa sapu jagad.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً,

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia”

وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً,

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di akhirat”

وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Ketika sukses, teman-teman akan tahu siapakah kita.

Tapi, ketika gagal, kita akan tahu siapakah teman-teman yang sebenarnya.

Ketahuilah hakekat ini, agar kita tidak kecewa.
Dan agar kita siap menghadapinya dan memakluminya.

Jangan terlena dengan kesuksesan. Sebaliknya jangan putus asa dengan kegagalan. Maka hadapilah semuanya dengan proporsional dan sewajarnya.

Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Cintailah orang yang kau cintai sekadarnya, bisa jadi suatu hari ia akan menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah orang yang kau benci sekadarnya bisa jadi suatu hari ia menjadi orang yang kau sayangi” (HR.At-Tirmidzi)

So, sudah selayaknya menyikapi persoalan kehidupan, mesti semakin dekat dengan-Nya pemilik semesta raya kuasa di atas segalaNya

Sebagaimana firman Alloh dalam surat Al Baqarah ayat 153:

“Wahai orang-orang yang beriman mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Sungguh Allah bersama orang-orang yang sabar.”

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً


Force VS Power

Baru-baru ini ilmuwan USA, Professor David Hawkins, merilis hasil risetnya yg paling mutakhir yg menggemparkan, tentang Manusia. Ternyata : sel-sel kanker paling takut dgn rasa CINTA KASIH. Penelitiannya juga temukan bahwa banyak orang sakit karena kekurangan cinta kasih.

Professor David Hawkins adalah dokter terkenal, dia telah mengobati banyak orang sakit dari berbagai belahan dunia. Begitu memeriksa seorang pasien, dia sudah tahu mengapa orang itu sakit. Karena di dalam tubuhnya TIDAK DITEMUKAN sedikitpun cinta kasih dalam dirinya, yg ada hanya penderitaan, keluhan & deraian air mata yg menyelimuti seluruh tubuhnya.

Professor Hawkins mengatakan:
“Kebanyakan orang sakit karena di dalam dirinya tidak ada hati yg penuh dgn cinta kasih yg tulus. Yang ada hanya kesedihan & deraian air mata. Getaran magnet kasih di bawah 200 hertz menyebabkan seseorang mudah terserang penyakit.” David Hawkins mendapati bahwa kebanyakan orang sakit SELALU menggunakan pikiran negatif. Jika frekuensi cinta kasih seseorang di atas 200 hz maka dia tidak akan sakit.

Pikiran atau emosi negatif mana yg ada di bawah getaran 200 hz? Yaitu:
suka mengeluh
suka menyalahkan orang lain
dendam pada orang

Jika pikiran itu yg menguasai pikiran seseorang berarti magnet cinta kasihnya hanya ada di sekitar 30-40 hz saja. Proses tidak putus-putusnya menyalahkan orang lain telah menguras sebagian besar energi kehidupannya (Life force energy), sehingga frekuensi cinta kasihnya berada di bawah 200 hz. Orang seperti itu SANGAT MUDAH mengidap berbagai jenis penyakit.
Frekuensi paling tinggi ada di angka 1000 dan yg paling rendah berada di angka 1.

Beliau mengatakan di dunia ini dia telah melihat orang yg punya frekuensi positif di atas 700 hz maka kekebalan tubuh & vitalitasnya sangat tinggi. Jika orang seperti itu tampil di suatu tempat maka ia bisa mempengaruhi frekuensi positif di daerah itu. Seorang yg berkebajikan tinggi, seperti misalnya, yg dapat penghargaan Nobel perdamaian, Bunda Teresa, jika muncul di suatu tempat maka frekuensi di tempat itu pun menjadi positif & sangat tinggi. Semua orang yg hadir di tempat tersebut akan merasakan getaran cinta kasihnya yg sangat tinggi, semua orang merasa nyaman & sangat tergugah di dekatnya.

Pada saat orang yg memiliki getaran aura positif tampil di suatu tempat, maka dia akan menggerakkan semua orang, & seluruh makhluk hidup yg ada di tempat itu menjadi tenteram, nyaman, & damai.

Namun saat orang memiliki pikiran negatif muncul di suatu tempat, bukan saja akan mencelakai dirinya sendiri tetapi juga bisa menyebabkan AURA POSITIF ditempat tersebut memburuk & berubah menjadi negatif pula.

Professor Hawkins telah melakukan berpuluh kali riset kasus dan penelitian pada orang yg berbeda namun jawabannya serupa, yaitu: Asal getaran frekuensinya berada di bawah 200 hz maka orang itu pasti sakit. Tapi jika berada di atas 200 hz maka orang itu sehat.

Mereka yg di dalam dirinya dipenuhi dengan hati yg welas asih, cinta kasih, suka beramal, gemar sedekah, mudah memaafkan, lemah lembut, santun, terbukti frekuensi magnetiknya berada pada kisaran 400-500 hz.

Sebaliknya, mereka yg suka membenci, emosional, menyalahkan orang lain, marah, dendam, iri hati, menuntut orang lain, egois dalam semua hal, hanya memikirkan kepentingan pribadi, tidak pernah memikirkan perasaan orang lain; orang seperti itu punya frekuensi magnetik yg paling rendah. Hal inilah yg jadi penyebab awal timbulnya penyakit kanker, sakit jantung & penyakit kronis lainnya.

Professor Hawkins memberitahukan kepada kita dari sudut pandang medis bahwa pikiran itu sangat luar biasa pengaruhnya terhadap kesehatan & penyakit seseorang.

—–

Good books to read Download

Success Is A Habit

Motivator profesional asal Amerika Serikat, Jim Rohn, berulang kali berkata, “Sukses adalah sedikit kebiasaan baik yang diulang setiap hari, sedangkan kegagalan adalah sedikit keputusan buruk yang juga diulang setiap hari.”

Kesuksesan itu sangat ditentukan oleh kebiasaan. Menurut orang-orang sukses, kesuksesan sesungguhnya merupakan akumulasi dari beberapa langkah kecil dan kebiasaan. Karena itu, sangat penting bagi kita untuk membangun kebiasaan-kebiasaan sukses.

Jika sukses memang semudah itu, mengapa tidak banyak orang bisa meraihnya?

Kebanyakan orang gagal meraih kesuksesan dan tidak bahagia dalam hidupnya karena mereka tidak memiliki kepercayaan terhadap diri mereka sendiri. Mereka tidak yakin akan mampu meraih impian mereka.

Mereka sebenarnya tahu harus melakukan apa untuk meraih kesuksesan. Namun, karena merasa kurang yakin dengan dirinya, mereka pun menyerah sebelum mencoba atau memilih berhenti di tengah perjalanan menuju ke sana, sehingga gagal membangun kebiasaan baru.

Sebaliknya, orang-orang sukses bertindak berbeda dari kebanyakan orang. Dengan penuh percaya diri, mereka setidaknya melakukan tiga hal ini dan membuat mereka berhasil membangun kebiasaan sukses yang baru.

1) Mereka memilih tantangan ketimbang kenyamanan. Untuk menuju puncak gunung kesuksesan, setiap orang harus membayar harganya. Harganya yaitu berani menghadapi tantangan saat mendaki ke atas dan melepaskan zona nyaman.

2) Berpikir positif. Orang sukses selalu berprinsip “apa pun yang bisa engkau pikirkan, maka pasti bisa engkau dapatkan!”. Pikiran seperti ini membantu kita menghapus kebiasaan lama yang negatif dan menggantinya dengan kebiasaan baru yang positif.

3) Membangun kerja sama. Tak ada orang yang bisa sukses dengan kekuatannya sendiri. Kesuksesan baru bisa terwujud jika kita bisa membentuk hubungan yang positif dengan orang lain. Bertemu dan menjalin kerja sama dengan orang lain akan membuka peluang bagi kita untuk meraih kesuksesan.

Kesuksesan tak akan didapatkan dalam waktu semalam. Jika ingin meraih kesuksesan dengan cepat, maka kita harus membangun kebiasaan-kebiasaan positif mulai sekarang, bukan besok atau lusa.

—–

Book: Habit Is Power More Info