Kebanyakan karyawan datang ke kantor bukan karena jarak jauh perjalanan dari rumah ke kantor atau macet di jalan. Kebiasaanlah yang patut dipersalahkan.
Jauhnya jarak dapat diatasi dengan berangkat lebih awal dari rumah. Namun, orang dengan kebiasaan datang terlambat ke kantor hampir setiap hari melakukan kebiasaan ini. Lucunya lagi, mereka yang sering terlambat justru biasanya yang jarak tempat tinggalnya lebih dekat dengan kantor. Sementara karyawan dengan tempat tinggal yang jauh lebih jarang terlambat.
Tanda/Pemicu (Cue):
Ranjang dan gawai; dua hal yang membuat kita merasa malas untuk segera bangkit dan bersiap pergi ke kantor. Bangun siang pun bisa menjadi salah satu penyebabnya. Minum kopi sambil merokok juga bisa menjadi pemicu kita terlambat ke kantor.
Keinginan (Craving):
Ingin santai pada pagi hari.
Perilaku (Routine):
Memilih berangkat ke kantor mepet dengan jam masuk kantor.
Ganjaran (Reward):
Merasa senang karena bersantai menghabiskan waktu lebih lama di ranjang atau bersantai dengan gawai, rokok, dan kopi.
Efek negatif:
Datang terlambat ke kantor jelas akan mencoreng kredibilitas kita di hadapan atasan. Ini akan membuat diri kita susah dipercaya untuk menangani proyek-proyek penting. Faktor disiplin deadline merupakan pertimbangan utama dalam memilih orang-orang yang dipercaya untuk memimpin sebuah proyek. Bagaimana kita bisa dipercaya, bila datang ke kantor tepat waktu saja kita kesulitan? Normalnya, orang yang sering datang terlambat ke kantor akan sulit mendapatkan kenaikan jabatan.
Efek negatif lain adalah kita terburu-buru. Hal ini bisa membahayakan keselamatan kita di jalan. Karena terburu-buru, kita pun tidak tenang di kantor. Ada saja hal yang kita lupakan. Perasaan cemas akan membuat pekerjaan kita tidak optimal.
Solusi:
Menghindari pemicu
Bangun lebih pagi, berolahraga, sarapan sehat, dan buatlah persiapan untuk berangkat lebih awal ke kantor.
Mengubah perilaku
Gantilah perilaku bersantai di rumah pada pagi hari dengan perilaku bersantai di kantor. Tiba di kantor 30 menit sebelum jam masuk kantor akan membuat kita memiliki waktu ekstra untuk bersantai, menikmati kopi, membuat rencana kerja harian, memeriksa surel, atau bahkan sekadar mengobrol santai dengan rekan kerja. Bila hal ini dilakukan, perlahan prestasi kerja kita pun akan meningkat.
Buku: “Habit Is Power” oleh T. Harry Wilopo Order Now
Berolahraga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh kita. Sayangnya, sedikit di antara kita yang membangun disiplin untuk berolahraga. Selain menyehatkan badan, olahraga juga bermanfaat untuk meningkatkan kepercayaan diri kita, memperbaiki suasana hati, menekan stres, dan membuat kita tidur lebih nyenyak pada malam hari.
Tanda/Pemicu (Cue):
Bangun siang, tak ingin terburu-buru ke kantor.
Keinginan (Craving):
Ingin santai pada pagi hari.
Perilaku (Routine):
Melewati kegiatan olahraga pagi. Lebih suka bermalasmalasan di atas ranjang sampai tiba waktunya berangkat ke kantor.
Ganjaran (Reward):
Merasa puas bersantai.
Efek negatif:
Malas berolah raga membuat tubuh kita lesu dan kurang bugar. Energi yang kita miliki untuk beraktivitas setiap hari menjadi berkurang. Kesehatan tubuh kita pun mudah terganggu. Peredaran darah tidak lancar, sering merasa pusing, nyeri punggung, rentan terkena penyakit strok dan jantung, juga obesitas serta tekanan darah tinggi. Orang yang rutin berolahraga akan memiliki performa yang lebih baik di kantor. Ini tentu akan mendorongnya menjadi orang yang sukses di masa depan.
Solusi:
Menghindari pemicu
Bangunlah lebih awal pada pagi hari agar memiliki waktu untuk berolahraga selama 30 menit. Anda tidak akan merasa terburu-buru ke kantor.
Mengubah perilaku
Gantilah perilaku bermalas-malasan di atas ranjang pada pagi hari dengan berolahraga. Berjalan kaki keliling perumahan bila dilakukan secara rutin akan memberikan dampak yang hebat di masa depan bagi kehidupan Anda. Lakukan setidaknya 5 kali dalam sepekan.
Berjalan santai juga akan memberikan perasaan santai bagi pikiran dan tubuh Anda. Sama seperti reward yang Anda harapkan dari bersantai di atas ranjang, hanya saja hasilnya lebih positif. Setelah berolahraga, berikan hadiah bagi diri Anda secangkir susu hangat atau segelas jus jeruk yang segar sebagai penyemangat agar Anda mau mengulanginya esok hari.
Ingatlah bahwa perbaikan 1% kelak akan memberikan hasil yang luar biasa.
Buku: “Habit Is Power” oleh T. Harry Wilopo Pesan Sekarang
Kebanyakan dari kita memulai hari dengan satu kebiasaan buruk, yaitu bangun siang. Kelihatan sepele, bukan? Namun, rasanya mustahil meraih kesuksesan dalam karier dan bisnis jika kita terus-menerus memelihara kebiasaan buruk ini.
Tanda/Pemicu (Cue):
Merasa jam tidur kurang lama.
Merasa kualitas tidur tidak baik (tidur kurang nyenyak).
Keinginan (Craving):
Ingin mendapatkan kesegaran tubuh setelah pulas tidur.
Perilaku (Routine):
Melanjutkan tidur hingga siang, baru bangun menjelang jam berangkat ke kantor.
Ganjaran (Reward):
Merasa puas tidur dalam waktu yang lama.
Efek negatif:
Jam tidur normal bagi orang dewasa adalah 7-8 jam sehari. Apabila hal ini terpenuhi, maka kita menjadi produktif dan dipercaya akan mendatangkan usia yang panjang. Memiliki jam tidur yang lebih lama dari seharusnya sama buruknya dengan kurang jam tidur. Hal ini akan berimplikasi pada kesehatan kita. Terlalu banyak tidur bisa menimbulkan penyakit berbahaya, yaitu gangguan saraf di otak yang menyebabkan sakit kepala, gangguan mental berupa perasaan cemas, meningkatkan risiko sakit jantung, diabetes, obesitas, dan memberikan nyeri punggung. Bangun siang juga memberikan dampak merugikan, seperti terganggunya metabolisme tubuh, lesu seharian, sulit berkonsentrasi, sensitif, dan membuat kita kehilangan waktu produktif pada pagi hari. Bagaimana kita bisa sukses dalam karier dan hubungan sosial jika masalah itu terus mengikuti kita sepanjang hari?
Solusi:
Menghindari pemicu
Jangan tidur terlalu larut, agar kita mendapatkan jam tidur yang cukup. Tidurlah pukul 21.00 atau selambatlambatnya pukul 22.00, sehingga kita bisa terbangun dengan segar pada pukul 05.00 pagi.
Jangan membiasakan diri beraktivitas dengan gawai sebelum tidur. Para dokter sepakat bahwa cahaya biru pada gawai memiliki dampak buruk dalam jangka panjang. Cahaya biru itu akan membuat mata lelah, mengganggu siklus tidur karena menurunkan hormon melatonin hingga 23%, menyebabkan kita insomnia, serta merusak kornea dan retina mata. Bermain gawai sebelum tidur membuat tidur kita tidak pulas. Akibatnya, kita bangun dengan perasaan masih mengantuk.
Mengubah perilaku
Ketimbang melanjutkan tidur hingga siang, bangunlah dan berolahraga. Dengan berolahraga, kita akan mendapatkan perasaan bugar, seperti yang kita inginkan dalam kebiasaan ini. Mengajak teman atau pasangan untuk joging, mendekatkan sepatu dan pakaian joging dekat dengan ranjang akan membuat motivasi kita untuk berolahraga makin meningkat.
“Kebanyakan orang gagal meraih cita-citanya bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena tidak berkomitmen.”
(Zig Ziglar)
“Anda dapat menciptakan banyak alasan, dan Anda juga dapat menciptakan banyak uang. Sayangnya, Anda tidak bisa menciptakan keduanya sekaligus.”
(Paul Hanna)
SUDAH disampaikan dari awal bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Apa artinya? Artinya adalah bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi apa pun, meraih apa pun, dan menghasilkan apa pun. Anda dapat memiliki semua yang Anda inginkan, lepas dari seberapa pun terlihat mustahil di masa ini. Rumah seperti apa yang Anda inginkan? Apakah Anda ingin menjadi kaya raya? Apakah Anda ingin memiliki perusahaan sendiri? Apa yang benar-benar Anda inginkan?
Saat ini, berapa pun umur Anda, yang terpenting adalah milikilah tujuan. Tentang tujuan ini akan dibahas pada subbab selanjutnya. Setelah memiliki tujuan, fokuskan perhatian, pemikiran, dan tindakan Anda pada tujuan tersebut. Fokus bukan berarti Anda kemudian meninggalkan segalanya kecuali tujuan tersebut. Tidak, tidak. Bukan demikian. Fokus berarti mencurahkan waktu, pemikiran, tindakan, dan perhatian kepada satu hal (dalam hal ini tujuan) dalam porsi yang lebih besar. Misalnya, jika Anda ingin memiliki perusahaan sendiri, Anda tentu tetap harus bekerja di tempat Anda bekerja sekarang ini. Tetapi, sebagian uang gaji Anda harus ditabung untuk persiapan tujuan Anda. Kemudian curahkan sedikit waktu di luar waktu kerja untuk merencanakan, mencari relasi, dan segala hal yang dibutuhkan agar perusahaan yang Anda impikan tersebut bisa terlaksana cepat atau lambat. Itulah fokus.
Baiklah, anggap saja Anda sudah memiliki tujuan dan sudah fokus. Tetapi bagaimana jika keadaan Anda saat ini sedang miskin, banyak utang, dan dari keluarga pun tidak ada “bibit” kaya raya? Jawabannya adalah, “Memang kenapa?”
Kalau memang Anda miskin, apakah Anda semiskin Walt Disney yang mandi pun harus numpang di stasiun dan hanya memiliki perabot meja kecil? Pada kenyataannya, Anda masih bisa membeli buku ini. Atau utang Anda yang banyak itu, apakah sebanyak Donald Trump dulu ketika dia memiliki utang hampir satu miliar dolar? Sepertinya juga tidak, karena pasti Anda masih memiliki uang untuk bersenang-senang. Bagaimana jika di keluarga Anda tidak ada “bibit” kaya raya? Tidak masalah. Apakah menurut Anda seorang Bill Gates, J.K. Rowling, Oprah Winfrey, Ray Kroc, semuanya keturunan millionaire? Tidak. Tetapi pada kenyataannya mereka menjadi millionaire. Jadi, kembali ke pertanyaan awal, “Memang kenapa?”
Jangan membatasi diri. Kadang bukan orang lain atau situasi tertentu yang memberi batasan pada seseorang. Justru yang paling sering terjadi adalah orang itu sendiri yang membatasi dirinya. Seorang pengemis yang sudah membatasi diri dengan meyakini bahwa dirinya tidak mungkin kaya, ya dia tidak akan melakukan hal-hal yang akan menjadikannya kaya. Dia sendiri merasa ‘tidak mungkin’, mengapa harus mengejar sesuatu yang ‘tidak mungkin’? Sekarang, apakah Anda mampu menang dengan juara dunia tinju kelas berat saat ini? Jika Anda berpikir ‘tidak mungkin’, apakah Anda berniat melawannya dalam sebuah pertandingan tinju? Lain halnya jika Anda berpikir mungkin bisa menang, Anda bisa jadi bersedia bertanding dengan juara tersebut.
Pikiran ‘tidak mungkin’ inilah suara hati yang selalu menjegal orang untuk maju. Tidak mungkin menjadi pengusaha, tidak mungkin menjadi pembalap, tidak mungkin menjadi astronaut, tidak mungkin mendapatkan satu miliar dan kelipatannya, dan tidak mungkin-tidak mungkin lainnya. Dijamin, Anda tidak akan mengejar sesuatu yang di pikiran Anda ‘tidak mungkin’. Benar demikian? Pasti benar.
Barangkali Anda harus membaca ini untuk membuka pikiran Anda. Berikut adalah biografi singkat orang yang tidak pernah membatasi diri.
Stephen Hawking, fisikawan terbaik dunia setelah Einstein. Dia didiagnosis mengidap penyakit pada umur 21 tahun dan diperkirakan umurnya tinggal dua setengah tahun lagi. Tetapi, dia tetap berjuang hidup dan prediksi dokter pun salah. Pada tahun 1988, dia menulis buku A Brief History of Time yang telah diterjemahkan ke dalam 22 bahasa dan terjual lebih dari sepuluh juta kopi. Ketika berumur 52 tahun, profesor Inggris ini lumpuh akibat penyakit neuron motor yang berangsur-angsur semakin buruk serta tak dapat diobati. Tapi, dia terus bertahan.
John F. Kennedy, sekalipun dia menderita cedera tulang belakang yang parah, dia masih mampu menjadi presiden Amerika Serikat ke-35.
Franklin Delano Roosevelt, meski mengidap polio dan lumpuh dari pinggang ke bawah pada usia 39 tahun, ia menjadi satusatunya orang dalam sejarah yang dipilih sebagai presiden Amerika Serikat sampai empat kali.
Hellen Adams Keller, seorang penulis yang sangat ternama di dunia dengan banyak sekali karya buku, adalah seorang yang tuli, buta, dan bisu sejak masih anak-anak.
Thomas Alva Edison menciptakan music box pada saat tuli.
Iskandar Agung (Alexander The Great), salah satu pemimpin paling terkenal dalam sejarah, adalah seorang yang bungkuk.
Beethoven, salah satu pemusik klasik nomor satu dunia, ternyata seorang yang tuli.
John Milton, pengarang sajak teragung di Inggris yang berjudul Paradise Lost, adalah seorang yang buta.
William Shakespeare, siapa yang tidak mengenalnya? Kisah Romeo dan Juliet adalah salah satu kisah roman paling laris di dunia. Tetapi, tidak banyak yang tahu bahwa Shakespeare adalah seorang yang lumpuh.
Mereka bisa dibilang orang yang “kurang”, tetapi mereka tidak pernah membatasi diri untuk meraih apa yang mereka inginkan. Apakah keadaan Anda seburuk mereka? Sepertinya tidak. Lalu, apa alasan Anda membatasi diri Anda sendiri?
Sekali lagi, jangan membatasi diri. Bukankah sudah dikatakan bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini? Begitu juga dengan apa yang terjadi pada diri Anda. Apakah ada kemungkinan Anda mendapatkan satu miliar dan kelipatannya? Ya! Kenapa tidak? Semua orang memiliki kesempatan yang sama.
Buku: “DNA Millionaire” oleh Rick Armanae. More Books
Siapa pun yang ingin mengubah kebiasaan buruknya menjadi kebiasaan baik, harus membaca buku Atomic Habits karya James Clear. Di dalam buku itu, dibahas empat hukum mengubah kebiasaan. Pada bab ini, coba kita sajikan sedikit ringkasannya. Semoga menjadi bekal yang berharga bagi kita untuk membangun kebiasaan-kebiasaan positif yang baru.
Hukum 1: Buatlah Menjadi Jelas
Hukum pertama ini berkaitan dengan petunjuk/tanda-tanda (cues) yang merupakan tahap pertama dalam pembentukan lingkaran kebiasaan. Masalah utama dari kebiasaan buruk adalah kita sering kali benar-benar tidak menyadari seberapa buruk suatu kebiasaan itu bagi kehidupan kita. Manusia tidak menyadari penyebab dari nasib buruknya, dan lebih senang menjatuhkan kesalahan kepada orang lain atas ketidakbahagiaannya atau ketidaksuksesannya.
Akan sulit mengubah kebiasaan buruk jika kita sendiri tak menyadari memilikinya. Perubahan kebiasaan membutuhkan kesadaran. Karena itu, Anda membutuhkan kesadaran atas kebiasaan Anda saat ini. Buatlah daftar kebiasaan Anda dalam sehari. Periksalah, mana di antara kebiasaan-kebiasaan itu yang memiliki dampak buruk bagi kehidupan Anda.
Langkah selanjutnya adalah mulai merancang untuk membangun kebiasaan baru. Namun sebelumnya, Anda harus menemukan lingkaran kebiasaan buruk yang Anda miliki. Carilah cue, craving, routine, dan reward-nya. Pahami sejelas-jelasnya. Setelah itu, cobalah ubah perilaku (routine) yang dimunculkan oleh cue.
Menurut James Clear, setidaknya ada dua cara yang bisa kita gunakan untuk membangun perilaku baru, yaitu:
Menjadikan tempat dan waktu sebagai cue
Formatnya:
Saya akan (kebiasaan baru) pada (waktu) di (tempat).
“Saya akan membaca buku pada pukul 21 (sebelum tidur) di ranjang.”
“Saya akan joging pada pukul 6 pagi di sekeliling perumahan.”
Menumpuk kebiasaan lama dengan kebiasaan baru
Karena otak kita belum terbiasa menerima kebiasaan baru, kita dapat memasangkannya dengan kebiasaan lama.
Formatnya:
Setelah (kebiasaan lama), saya akan (kebiasaan baru).
Contoh:
“Setelah mandi pagi, saya akan menulis 1 halaman naskah. “Setelah makan malam, saya akan membaca 1 halaman buku.”
Berikutnya, aturlah lingkungan agar mendukung perubahan kebiasaan. Kebanyakan orang sering menganggap penting motivasi dan meremehkan lingkungan. Padahal, menurut James Clear, motivasi itu sering dinilai terlalu berlebihan. Menurutnya, lingkungan lebih berpengaruh dalam pembentukan kebiasaan baru ketimbang motivasi.
Sebagai contoh, bila ingin membangun kebiasaan meminum air putih, maka akan lebih efektif apabila kita meletakkan botol minuman di tempat yang terlihat oleh mata kita. Apabila menginginkan anak kita lebih sering membaca buku, maka sediakanlah banyak buku bacaan yang menarik di rumah dan letakkan di tempat yang terlihat untuknya.
Kita terkadang terlalu mengandalkan pengendalian diri. Padahal, lebih mudah bagi kita untuk mengatur lingkungan agar mendukung tujuan kita. Bila kita merasa pekerjaan di kantor terganggu dengan hobi kita memeriksa media sosial, mengapa tidak kita jauhkan ponsel kita dari meja kerja? Bila kita tak ingin anak terlalu sering bermain konsol permainan, ketimbang menasihatinya panjang lebar, mengapa tidak disembunyikan saja konsol permainannya hingga waktu ia diperbolehkan bermain?
Ini adalah salah satu cara untuk meminimalisasi pertemuan dengan cues yang bisa menggoda kita untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan lama.
Hukum 2: Buatlah Menjadi Menarik
Perilaku terbentuk karena adanya keinginan (craving) setelah melihat tanda (cue). Craving terjadi karena kita pernah melakukan sesuatu dan hasilnya terasa menyenangkan (reward). Muncul dopamin dalam otak kita yang membuat kita selalu merindukan perasaan senang itu. Lahirlah perilaku yang berulang-ulang dan disebut kebiasaan.
Agar kebiasaan baru sukses ter-install dalam otak kita, kita harus membuatnya menjadi menyenangkan. Ada tiga cara yang bisa dilakukan:
Memasangkannya dengan hobi atau kesenangan Misalnya:
“Saya harus menulis artikel, tetapi saya suka bermain game!”
Solusinya:
“Saya akan menulis artikel 5 halaman terlebih dahulu, baru setelah itu bermain game.”
Melibatkan teman, keluarga, dan lingkungan
Manusia tak luput dari pengaruh lingkungan dan kehidupan sosialnya. Siapa kita sering kali dipengaruhi oleh siapa orangorang di sekitar kita. Kita bisa memanfaatkan ini menjadi hal yang positif. Misalnya, bila kita ingin menjadi pengusaha, maka kita bisa bergabung dengan kelompok-kelompok diskusi sesama pengusaha di grup media sosial maupun dalam kehidupan nyata.
Mengubah pola pikir
Kebiasaan baru terasa berat untuk dijalani karena pikiran kita telah terafirmasi dengan salah. Cobalah ubah sudut pandang kita dengan mencari sisi menarik dari kebiasaan-kebiasaan baru. Misalnya, merokok disukai karena bila dilakukan akan menimbulkan perasaan tenang dan relaks. Berolahraga juga bisa mendatangkan perasaan yang sama. Jangan berfokus pada rasa lelah akibat berolahraga. Pikirkanlah perasaan nyaman dan relaks setelah berolahraga. Ini akan membuat kita merasa tertarik untuk berolahraga.
Akan sulit mengubah kebiasaan buruk jika kita sendiri tak menyadari memilikinya.
Hukum 3: Buatlah Menjadi Mudah
Hukum ketiga ini berfokus pada proses perilaku yang kelak akan menjadi kebiasaan baru. Intinya, kita harus membuat proses perilaku ini mudah bagi kita. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, yaitu:
Lakukan saja!
Terlalu banyak rencana kerap kali menjadi penghalang bagi kita untuk action. Padahal, pembentukan kebiasaan itu sangat bergantung pada action, bukan perencanaan. Contoh, berat badan Anda tidak akan berkurang dan tubuh tidak akan bugar bila terus membuat rencana diet. Anda akan segar dan berat badan Anda berkurang bila sudah menjalani diet.
Jangan targetkan waktu, tetapi targetkan pengulangan Kebiasaan tidak ditentukan oleh waktu, tetapi ditentukan oleh seberapa banyak pengulangan yang telah kita lakukan. Contoh, mengikuti kelas bahasa Inggris selama 6 bulan tidak akan berarti apa-apa jika Anda hanya pasif, duduk diam di kelas tanpa mencoba mempraktikkan teori bahasa Inggris yang telah Anda pelajari. Namun, sepekan tinggal di Inggris bisa membuat kemampuan bahasa Inggris Anda meningkat pesat.
Atur lingkungan untuk mempermudah
Atur juga lingkungan untuk mempermudah kita dalam menjalani kebiasaan baru. Contoh, agar rajin senam yoga, belilah pakaian dan matras yoga, lalu letakkan dekat tempat tidur, sehingga bila kita terbangun pada pagi hari, kita langsung termotivasi untuk berolahraga. Ingin jago jualan daring, bergabunglah dengan kelas-kelas daring yang secara rutin membagikan ilmu-ilmu terbaru untuk mempermudah kita menambah pengetahuan.
Terapkan aturan 2 menit
Segala sesuatu yang kita kerjakan sehari-hari sesungguhnya ditentukan dalam 2 menit pertama. Saat bermain game, kita berniat hanya melakukannya 2 menit, tetapi nyatanya bisa berlanjut hingga 1 jam. Saat mengobrol dengan teman, kita mungkin telah mengatur rencana untuk mengobrol sejenak, tetapi ternyata obrolan itu menjadi tambah seru dan kita pun menghabiskan waktu berjam-jam bersamanya. Menonton film juga begitu, pun dengan beraktivitas di media sosial.
Apa pun yang kita lakukan lebih dari 2 menit, biasanya akan memicu kita untuk terus menekuninya. Karena itu, mulailah kebiasaan baru dengan melakukannya hanya 2 menit. Anda ingin membangun kebiasaan lari pagi? Mulailah dengan memakai sepatu lari pada pagi hari. Anda ingin menjadi seorang penulis? Mulailah dengan menulis satu kalimat setiap hari.
Ini adalah semacam trik. Karena sudah menjadi sifat kita, bila melakukan sesuatu dengan mudah, kita akan memberikan tambahan dengan sukarela. Lama-kelamaan, hal ini akan membentuk kebiasaan yang dampaknya sangat besar di masa mendatang.
Menjauhkan diri dari kebiasaan buruk
Pembangunan kebiasaan baru harus diimbangi dengan keinginan menjauhkan diri dari kebiasaan buruk. Contoh, jika ingin hidup sehat, maka berhentilah menyediakan kudapan yang tidak sehat di rumah. Jika ingin berhenti merokok, jangan lagi membeli rokok di rumah maupun di kantor. Jika ingin bangun pagi, jangan tidur terlalu malam.
Hukum 4: Buatlah Menjadi Memuaskan
Hanya dengan mendapatkan hasil yang memuaskan dari perilaku atau aktivitasnya, seseorang akan memiliki keinginan untuk mengulanginya lagi. Bila dilakukan secara berulang-ulang, perilaku itu akan menjadi kebiasaan. Oleh karena itu, sangat penting membuat perilaku yang baru untuk menghasilkan kepuasan kepada kita. Ini beberapa hal yang harus dilakukan berkaitan dengan kepuasan itu:
Kepuasan instan
Semua aktivitas yang dilakukan tujuannya adalah untuk mencari kepuasan. Mengapa kebanyakan orang memelihara bad habits dan menjauhi good habits? Karena kebiasaan buruk cenderung memberikan kepuasan dengan instan, walaupun memberikan dampak buruk bagi kita di masa depan. Contoh, memakan junk food dan meminum minuman berkarbonasi akan membuat lidah kita merasa nikmat. Padahal, untuk jangka panjang, mengonsumsi keduanya akan menimbulkan masalah kesehatan pada kita.
Sebaliknya, kebiasaan baik biasanya memberikan kepuasan tertunda, tetapi dampaknya jangka panjang. Contoh, mengonsumsi sayur tidak terasa enak bagi lidah kita, tetapi akan membuat tubuh kita sehat di masa mendatang.
Otak manusia memiliki kecenderungan untuk menyukai kepuasan instan dan menjauhi hukuman instan. Hal inilah yang membuat orang-orang terus mengulangi kebiasaan buruk dan malas memupuk kebiasaan baik.
Oleh karena itu, usahakan segera memberikan reward kepada diri Anda sendiri setelah melakukan kebiasaan baru yang positif. Misalnya, setelah berolahraga pada pagi hari, berilah hadiah kepada diri Anda sendiri segelas jus jeruk yang menyegarkan.
Ingat! Bentuk hadiah ini haruslah bersifat positif, tidak bertentangan dengan kebiasaan baru Anda. Jangan memberikan hadiah kepada diri sendiri segelas minuman bersoda setelah melakukan olahraga. Ini kontradiktif dengan kebiasaan baru yang hendak Anda bentuk, dan tentunya ini akan membuat semuanya sia-sia.
Kebiasaan tidak ditentukan oleh waktu, tetapi ditentukan oleh seberapa banyak pengulangan yang telah kita lakukan.
Memantau kemajuan
Yang juga bisa dilakukan agar pembentukan kebiasaan baru menjadi lebih menarik adalah memantau seberapa jauh kemajuan yang telah kita lakukan. Buatlah catatan seberapa banyak kemajuan yang telah Anda dapatkan, karena salah satu perasaan yang paling memuaskan adalah perasaan bahwa kita telah mengalami kemajuan.
Contoh, seseorang yang mencoba rutin menulis akan mencatat berapa halaman yang telah ia selesaikan setiap kali menyelesaikan tulisannya dalam sehari. Hari pertama, ia mencatat telah menyelesaikan 2 halaman tulisan. Hari kedua, ia menyelesaikan 2 halaman lagi, sehingga total 4 halaman telah ia kerjakan. Begitu seterusnya.
Dengan memantau progres pekerjaan yang sedang kita lakukan, ada kepuasan yang muncul saat kita melihat telah mencapai kemajuan dalam pekerjaan itu. Perasaan menjadi senang saat melihat kita telah menyelesaikan tulisan sebanyak 20 halaman. Kita pun bertambah semangat untuk terus membuat kemajuan setiap harinya.
Libatkan orang lain untuk mengawasi
Seseorang yang berusaha menghentikan kebiasaan merokoknya akan bercerita kepada teman-temannya, “Saya sedang berusaha berhenti merokok.” Tujuannya bukan untuk pamer, melainkan berharap teman-temannya itu ikut mengawasi keberhasilannya dalam membangun kebiasaan baru. Ia akan merasa malu bila teman-temannya mengetahui bahwa ia gagal menahan keinginannya untuk berhenti merokok.
Bila Anda ingin membangun kebiasaan lari pagi, carilah seorang teman untuk melakukannya bersama. Jika sudah telanjur berjanji, Anda akan merasa malu bila tidak jadi menjalankan rencana Anda itu.
Demikianlah empat hukum mengubah kebiasaan ala James Clear. Kini Anda telah memahami teori mengganti kebiasaan buruk dengan kebiasaan baik. Bagian tersulitnya adalah bagaimana Anda bisa mengaplikasikan teori ini dalam kehidupan Anda.
Buku: “Habit Is Power” oleh T. Harry Wilopo Order Now
Bagaimanakah cara orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder memandang uang? Kita mungkin jarang bertanya tentang ini, padahal penting untuk diketahui.
Ternyata, cara mereka sangat bertolak belakang dengan kecenderungan kaum kelas menengah dan orang-orang miskin. Para miliarder menganggap uang bukanlah sumber masalah atau kejahatan. Uang bersifat netral sehingga bisa dibawa ke arah positif. Pandangan mereka yang positif tentang uang sejalan dengan pendapat orang-orang bijak yang mengatakan, “Uang memang bukan segala-galanya, tapi butuh segalanya butuh uang. “Ya, karena setiap orang uang, maka harus mencari dan memilikinya.
“Saat muda saya pikir uang itu yang terpenting dalam hidup ini. Sekarang, saat saya sudah tua. saya sungguh-sungguh tahu bahwa uang memang yang terpenting.”
Oscar Wilde (1854-1900), Penulis Irlandia
Orang-orang miskin dan kaum kelas menengah sering merasa cemas dan takut terhadap uang, entah cemas jumlah uang yang mereka miliki akan berkurang malah habis ataupun ketakutan kalau uang berdampak negatif yakni menimbulkan berbagai modus kejahatan. Orang-orang awam bahkan menjadi stres tatkala menghadapi uang dalam jumlah yang sangat besar. Mereka kebingungan uang sebanyak itu mau digunakannya untuk apa dan hendak dibelanjakan ke mana. Mereka bisa kehilangan akal sehatnya karena pengaruh uang.
Tidak demikian dengan orang-orang kaya dan para miliarder, mereka memandang uang secara wajar dan dengan logika positif. Dengan uang, mereka bukan hanya berusaha mencapai taraf hidup lebih baik dalam segala hal termasuk kesehatan, melainkan juga berbuat berbagai kebajikan guna menolong orang lain.
Secara umum, orang-orang kaya, para jutawan dan miliarder memandang uang adalah:
Alat penting untuk mewujudkan sebuah gaya hidup yang bermanfaat dan memuaskan.
Aset dasar yang, bila dikelola dengan baik, akan memberikan sebuah landasan untuk kemandirian finansial.
Sesuatu yang dapat memperbaiki gaya hidup dan memberi jaminan yang lebih pasti akan kemandirian finansial.
Sedangkan secara spesifik, mereka juga punya pandangan khusus mengenai uang. Perhatikan poin-poin berikut ini:
Para miliarder menganalogikan uang laksana makhluk hidup. Mereka memelihara uang; menanam di lahan yang tepat, membersihkannya dari hama, dan pada saat yang tepat memetik hasilnya.
Uang laksana air yang terus mengalir. Dalam bisnis dan perdagangan, uang mengalir ke banyak orang. Nah, orang-orang kaya atau para miliarder paham betul ke akan mengalir; maka mereka akan menyusun strategi untuk membentangkan pipa guna menangguk aliran uang tersebut.
Para miliarder tidak bekerja untuk mencari uang, tapi mereka menciptakan uang dengan berbagai bisnis yang mereka punyai. Mereka memproduksi barang ataupun jasa yang dapat menghasilkan uang. Bukan mereka, tapi uanglah yang bekerja untuk mereka.
Orang-orang kaya dan para miliarder tahu persis bagaimana uangnya bekerja. Bagi mereka, uang adalah turbin yang menggerakkan perekonomian dalam skala kecil maupun besar. Maka mereka menginvestasikan uangnya agar roda bisnis bergerak dan berputar, dengan begitu mereka bisa menghasilkan uang lebih banyak lagi, bahkan berlipat ganda.
Para miliarder memandang uang adalah aset dasar yang jika dikelola dengan baik akan memberikan sebuah landasan yang kokoh untuk kemandirian finansial.
Orang-orang kaya dan para miliarder memandang uang adalah sesuatu yang dapat memperbaiki gaya hidup yang menurut mereka bermanfaat dan memberi jaminan yang lebih pasti akan kemandirian finansial.
Orang kaya, para jutawan dan miliarder, juga sangat percaya bahwa uang tidak tumbuh di pohon atau bahkan turun dari langit. Menang lotere atau kuis miliaran rupiah sekalipun, itu cuma sekadar uang. Jika tidak dipakai secara dalam sekejap pun habis. Karena itu para miliarder lebih percaya dengan usaha, kerja keras, merealisasikan ide-ide besar, meski butuh waktu dan energi, akhirnya mereka dapat meraih uang atau kekayaan sejati.
Sumber: ” The Habits of Millionaires” oleh Zaenuddin HM
“Bila Anda berpikir Anda bisa, maka Anda benar. Bila Anda berpikir Anda tidak bisa, Anda pun benar.’
(Henry Ford)
“Jika Anda bisa memimpikannya, maka Anda juga bisa mewujudkannya.”
(Walt Disney)
KITA akan memberikan beberapa contoh sederhana tentang kekuatan pola pikir ‘tidak ada yang tidak mungkin.
“Telepon ini memiliki terlalu banyak kelemahan untuk dipertimbangkan secara serius sebagai alat komunikasi.” (memo internal Serikat Buruh, 1876).
“Sesuatu yang lebih berat daripada udara mustahil dapat terbang.” (Lord Kevin, Presiden Royal Society, 1895).
“Siapa yang sudi mendengarkan aktor berbicara.” (Harry M. Warner, Warner Brothers Picture, 1927, pada era film bisu).
“Kuda pasti akan senantiasa bersama kita, tetapi mobil pastilah barang baru-kegemaran sesaat.” (Presiden Michigan Savings Bank, Pengacara Ford yang menasihati agar tidak berinvestasi di Ford Motor Company).
“Saya pikir dunia hanya membutuhkan sekitar lima komputer saja.” (Thomas Watson, Chairman IBM, 1943).
“Kami tidak senang dengan musik mereka dan musik gitar sebentar lagi akan ketinggalan zaman.” (Decca Recording Co., ketika menolak The Beatles, 1962).
“Kamu tidak akan ke mana-mana, Nak. Sebaiknya kamu kembali menjadi sopir truk seperti semula.” (Jimmy Denny, Manajer Grand Ole Opry, memecat Elvis Presley setelah suatu pertunjukan tahun 1954).
“Tidak ada alasan bagi siapa pun untuk punya komputer di rumahnya.” (Kenneth Olsen, Presiden dan Pendiri Digital Equipment Corporation, 1977).
“Terlepas dari segala kemajuan ilmiah di masa depan, manusia takkan pernah sampai ke bulan.” (DR. Lee De Forest, Penemu tabung audio dan bapak penemu radio, 25 Februari 1967).
“Televisi takkan bisa mempertahankan pasarnya setelah enam bulan pertama. Orang akan segera bosan memandangi kotak jati setiap malamnya.” (Darryl F. Zanuck, Pemimpin 20th Century Fox, 1946).
APAKAH Anda siap menghadapi komentar-komentar miring seperti di atas? Apakah Anda siap bila diremehkan dan dikatakan tidak akan mungkin mendapatkan satu miliar dan kelipatannya? Ini penting. Sangat penting. Jika Anda mendengarkan semua omongan; dari keluarga, teman, saudara ataupun musuh, dan lalu terjatuh, menyerah, pasrah dengan apa pun yang terjadi, maka Anda tidak akan mendapatkan yang Anda inginkan. Anda tidak akan mendapatkan satu miliar pertama Anda. Siapa pun, tanpa kecuali, pemenang tidak pernah berhenti, dan yang berhenti tidak pernah menang. Itu rumus sederhana.
Hidup seseorang dikendalikan oleh orang itu sendiri, tidak ada yang lain. Kerabat atau kenalan boleh saja mengkritik, memberi saran, atau bahkan meremehkan, tetapi tetap yang membuat keputusan adalah orang itu sendiri. Entah dia mendengarkan saran, kritik, atau peremehan itu atau tidak. Yang harus dipahami adalah bahwa apa pun keputusan yang Anda ambil, keputusan itulah yang membentuk hidup Anda selanjutnya. Dan Anda tidak berhak menjadikan orang lain sebagai alasan. Bagaimanapun, Anda sendirilah yang mengambil keputusan meskipun itu mengikuti saran orang lain. Toh, sejak awal Anda sudah diberi pilihan untuk menolak atau menerima saran, kritik, atau peremehan. Jika Anda menerimanya, bukan salah mereka. Anda memilih untuk menerimanya.
Kembali kepada pembahasan awal bahwa Anda harus siap menghadapi berbagai kalimat apa pun yang bisa menjatuhkan. Intinya adalah tidak ada yang tidak mungkin. Simpan kalimat ini baik-baik. Apa pun pekerjaan, berapa pun utang, dan bagaimanapun kondisi Anda saat ini; sama seperti semua orang yang berkecukupan, Anda juga bisa mendapatkan satu miliar pertama Anda. Titik.
Ini adalah judul sambutan dalam pidato saya di depan para wisudawan di Pierre Mendés-France University, Grenoble, Prancis, Kamis, 28 Juni 2012. Hari itu, selain peserta dari Prancis, juga diwisuda lulusan MBA dari berbagai negara (termasuk dari China, Rusia, Brazil dan Indonesia).
Menurut saya, bangsa yang hebat adalah a driver nation. “Driver nation” sendiri hanya bisa dihasilkan oleh pribadipribadi yang disebut “driver”, yang menyadari bahwa ia adalah mandataris kehidupan, dan pemimpin-pemimpinnya sadar bahwa ia mendapatkan mandataris dari rakyat untuk melakukan perubahan.
Jadi, ada tiga hal yang harus dilakukan, yaitu bagaimana men-drive diri sendiri (drive your self), men-drive orang lain (drive your people), dan men-drive bangsa (drive your nation). Kalau seseorang tak bisa men-drive dirinya sendiri, bagaimana ia bisa men-drive orang lain? Dan itu berarti tak ada kepemimpinan, tak ada yang men-drive bangsa ini (drive the nation). Jadi, “driver” itu apa? Bukankah di Indonesia ada jutaan orang yang berprofesi sebagai sopir? Kalau demikian, bisakah Indonesia disebut sebagai a driver nation?
Tentu bukan itu yang saya maksud. Driver adalah sebuah sikap hidup yang membedakan dirinya dengan “passenger”. Anda tinggal memilih, ingin duduk manis menjadi penumpang di belakang, atau mengambil risiko sebagai driver di depan? Di belakang, Anda boleh duduk sambil ngobrol, makan-makan, bercanda, bahkan ngantuk dan tertidur. Anda juga tak harus tahu jalan, tak perlu memikirkan keadaan lalu lintas, dan tak perlu merawat kendaraan. Enak, bukan?
Sebaliknya, seorang driver bisa hidup di mana pun mereka berada, dan selalu menumbuhkan harapan. Bila seorang “passenger” menjadi kerdil karena terbelenggu oleh setting-an otak yang tetap, maka seorang driver akan selalu tumbuh. Mereka mengajak orang-orangnya untuk berkembang dan keluar dari tradisi lama menuju tanah harapan. Mereka melakukan pembaruan-pembaruan dan menantang keterkungkungan dengan penuh keberanian.
Mereka berinisiatif memulai perubahan tanpa ada yang memerintahkan, namun tetap rendah hati dan kaya empati. Seperti kata CEO Garuda yang dengan teguh memimpin transformasi: Kalau seseorang terlalu kuat logic kasihan pegawainya, kalau hatinya terlalu dominan kasihan perusahaannya. Dengan kata lain, seorang driver harus seimbang antara logic (rasionalitas, hitung-hitungan, analisis, dan targetnya) dengan hatinya (empati, kepedulian, hubungan-hubungan sosial, tata nilai).
Terlahir sebagai orang cacat dengan fibular hemimelia, dia harus membiarkan kedua kakinya diamputasi ketika dia baru berumur 1 tahun.
Untuk mewujudkan cintanya pada dunia atletik, dia mempunyai tungkai tiruan yang dipasang di bawah dengkulnya dan dia bertanding melawan para atlet normal di kolese. Maka dia pantas menjadi atlet perwakilan dari universitasnya untuk Asosiasi Atletik Antarkolese Nasional.
Keringat membuat tungkai palsu licin; rekornya tidak begitu hebat. Akan tetapi, dia disanjung oleh teman-teman kuliahnya ketika dia melanjutkan berlari melawan para atlet normal.
Aimee Mullins bertanding melawan para-atlet dan terus mencapai rekor dunia renang. Kemudian dia menjadi seorang model pakaian dan menggeluti catwalk dengan tungkai palsunya.
Dalam upaya mengatasi kekurangannya, Aimee berkata, “Tiada sesuatu yang tidak mungkin bagiku dengan kaki palsu. Aku dapat menjadi seorang bintang olahraga dan menciptakan rekor dunia dan menjadi seorang model baju paling top tanpa kedua kakiku.”
Nasib British Cycling berubah pada suatu hari dalam tahun 2003. Organisasi itu, yang merupakan induk organisasi cabang olahraga sepeda profesional di Britania Raya, baru saja merekrut Dave Brailsford sebagai direktur performa yang baru. Pada waktu itu, pembalap sepeda profesional di Britania Raya telah mengalami hampir seratus tahun dalam prestasi yang sedang-sedang saja. Sejak 1908, pembalap-pembalap Inggris hanya memenangkan satu medali emas di ajang Olimpiade, dan prestasi mereka bahkan lebih buruk lagi di lomba balap sepeda paling akbar, Tour de France. Dalam 110 tahun, tidak ada pembalap Inggris yang pernah memenangkan ajang tersebut.
Bahkan, prestasi pembalap Inggris begitu tenggelam sehingga pabrik sepeda terbaik di Eropa menolak menjual sepeda kepada tim itu karena takut berpengaruh buruk pada penjualan sepedanya seandainya pembalap-pembalap profesional lain melihat atlet-atlet Inggris memakai produk tersebut.
Brailsford direkrut untuk membawa British Cycling ke arah baru. Yang membuatnya berbeda dari pelatih-pelatih terdahulu adalah komitmennya yang tiada henti terhadap strategi yang ia sebut “penghimpunan perolehan kecil”, yang merupakan falsafah pencarian margin peningkatan sangat kecil dalam segala sesuatu yang Anda kerjakan. Menurut Brailsford, “Secara keseluruhan prinsip ini berasal dari gagasan bahwa jika Anda mengurai segala sesuatu yang dapat Anda pikirkan terkait dengan balap sepeda, dengan perbaikan 1% saja Anda akan mendapatkan kenaikan yang signifikan ketika menerapkannya bersama-sama sekaligus.”
Brailsford dan pelatih-pelatihnya mulai dengan membuat penyesuaian-penyesuaian kecil yang bisa diharapkan dari tim pembalap sepeda profesional. Mereka merancang ulang jok sepeda agar lebih nyaman dan mengoleskan alkohol agar pada ban agar cengkeramannya lebih baik. Mereka meminta para pembalap memakai celana pendek dengan pemanas listrik guna mempertahankan suhu otot sewaktu bersepeda dan menggunakan sensor-sensor biofeedback untuk memonitor reaksi-reaksi tiap atlet terhadap suatu latihan. Tim menguji bermacam-macam bahan di terowongan angin dan meminta pembalap-pembalap jalan raya beralih mengenakan kostum balap indoor, yang terbukti lebih ringan dan aerodinamis.
Akan tetapi, mereka tidak berhenti di situ. Brailsford dan timnya terus berburu perbaikan-perbaikan 1% di bagian-bagian yang terlewatkan atau tak terduga. Mereka menguji bermacam-macam gel pijat untuk melihat mana yang menghasilkan pemulihan otot paling cepat. Mereka membayar seorang dokter untuk mengajari tiap pembalap cara terbaik mencuci tangan guna mengurangi peluang terkena virus influenza. Mereka menentukan jenis bantal dan kasur yang memungkinkan tidur lebih nyenyak bagi tiap pembalap. Mereka bahkan mengecat bagian dalam truk tim dengan warna putih, yang memudahkan mereka melihat debu-debu kecil yang biasanya tidak langsung terdeteksi padahal berisiko menurunkan performa sepeda yang telah disetel dengan baik.
Ketika perbaikan-perbaikan ini berikut ratusan perbaikan kecil lain diakumulasikan, hasilnya datang lebih cepat daripada yang pernah dibayangkan.
Hanya lima tahun sejak Brailsford direkrut, tim British Cycling mendominasi baik balap sepeda jalan raya maupun sirkuit di ajang Olimpiade 2008 di Beijing, tempat mereka secara dahsyat memenangkan 60% dari total medali emas yang diperebutkan. Empat tahun kemudian, ketika Olimpiade diselenggarakan di London, atlet-atlet Inggris menaikkan batas minimal prestasi mereka dan membuahkan sembilan rekor Olimpiade serta tujuh rekor dunia.
Pada tahun yang sama, Bradley Wiggins menjadi atlet balap sepeda Inggris pertama yang memenangkan Tour de France. Tahun berikutnya, teman satu timnya Chris Froome memenangkan lomba itu, dan terus menang lagi pada 2015, 2016, dan 2017, yang membuat tim Inggris meraih lima kemenangan Tour de France dalam enam tahun.
Selama rentang sepuluh tahun dari 2007 sampai 2017, pem balap sepeda Inggris memenangkan 178 kejuaraan dunia dan 66 medali emas Olimpiade atau Paralympic dan meraih lima keme nangan Tour de France yang oleh kalangan luas dipandang seba gai prestasi paling sukses dalam sejarah balap sepeda.’
Bagaimana ini terjadi? Bagaimana suatu tim yang sebelumnya hanya sekumpulan atlet biasa berubah menjadi juara dunia melalui perubahan-perubahan sangat kecil yang, sepintas lalu, palingpaling hanya akan menghasilkan perubahan sekadarnya? Mengapa perbaikan-perbaikan kecil berakumulasi menjadi hasil-hasil yang begitu menakjubkan, dan bagaimana Anda dapat meniru pendekatan ini dalam hidup Anda sendiri?