Dua Orang

Dahulu kala, di propinsi Se Chuan, negeri Cina, hidup dua orang beriman yang tinggal dalam dua rumah yang berbeda. Yang satu miskin dan yang satu kaya.

Pada suatu hari, yang miskin mendapat ilham dan berkata kepada yang kaya, ”Saya ingin berziarah ke Gunung Budo di Laut Timur untuk memperdalam ajaran agama, bagaimana menurut Anda?” “Apa? Jangan bermimpi di siang hari!” yang kaya tersebut berkata, “Jarak dari sini ke Laut Timur sangat jauh, dirintangi banyak gunung dan sungai. Anda begitu miskin, bagaimana mungkin bisa sampai ke sana?”

Yang miskin menjawab dengan tenang, “Saya dapat mengandalkan satu botol untuk mengisi air dan satu mangkok untuk menampung nasi, semua itu sudah cukup bagi saya!” “Huh!”, yang kaya berkata dengan nada menghina, “Beberapa tahun ini, saya juga ingin berekreasi ke Gunung Budo. Saya mempunyai rencana untuk membeli sebuah kapal, tetapi saat ini uang yang terkumpul belum cukup. Apakah Anda mau ke sana hanya dengan mengandalkan kedua kaki Anda, sebotol air dan satu mangkok nasi? Mana mungkin?”

Setahun kemudian, yang miskin benar-benar berhasil mewujudkan keinginannya dan kembali dari Gunung Budo. Melihat hal ini, yang kaya sangat malu, dan tidak berani keluar dari rumahnya. selama setengah tahun.

📝 Apa yang bisa dipelajari dari kisah ini?

Good books to read CLICK

Arah dan Risiko

Sebaliknya, di depan, seorang driver harus menentukan arah, membawa penumpang-penumpangnya ke tempat tujuan dan mengambil risiko. Itulah yang saya maksud dengan sikap mental seorang driver. Dengan menjadi sopir kendaraan, seseorang belum tentu memiliki mental seorang driver. Banyak driver yang sering mengeluh, tak bekerja sepenuh hati, ugal-ugalan, dan merasa jenuh karena tak punya pilihan.

Driver’s mentality yang saya bahas dalam buku ini, pada dasarnya adalah sebuah kesadaran yang dibentuk oleh pengalaman dan pendidikan. Bukan karena tidak punya pilihan. Lihatlah Sano Ami, Sugeng (Bab 4), dan TR yang tak menangisi kehidupannya, malah bertarung habis-habisan agar bisa mengatasi masalah hidupnya sendiri dan tak menjadi beban bagi orang lain.

Seorang driver dak cukup hanya bermodalkan tekad dan mangat, ia butuh referensi dari pengetahuan akademis.

Pendidikan yang mereka jalani adalah proses belajar, yaitu memperbaiki cara berpikimya dan cara menjalani hidup yang menantang. Sayangnya, banyak orang yang menempuh pendidikan tinggi dan menjadi sarjana, tetapi tidak “belajar”. Kalau Anda hanya menghafal, seberapa tingginya pun indeks prestasi Anda, maaf, itu bukanlah berpikir. Belajar artinya adalah berpikir, ibarat seorang driver yang harus cepat mengambil keputusan di jalan raya yang padat. la bisa mengambil jalan-jalan lain yang baru sama sekali. Sedangkan menghafal dapat diibaratkan menjadi penumpang yang boleh mengantuk, tertidur, dan tak perlu mengambil risiko di jalan. Ia selalu melewati jalan yang sama pulang pergi. Membosankan. Driver yang baik memikirkan bagaimana mencapai tujuan tepat waktu, selamat, dan perjalanan menyenangkan. Lagi pula, berpikir tak ada batas waktunya. Ia tak berhenti hanya karena selembar ijazah telah diberikan.

Bagaimana Anda bisa berpikir kalau Anda tidak berani mengambil risiko? Saya tidak pernah mendengar penumpang mobil ditangkap karena mobilnya menabrak orang sampai tewas. Yang kita baca, sopirnyalah yang ditangkap. Menjadi driver mengekspos diri terhadap risiko. Tetapi risiko itu hanya menjadi masalah kalau Anda ugal-ugalan. Terbukti, dari jutaan pengemudi, kurang dari 0,1% yang menimbulkan kecelakaan fatal. Dari 0,1% itu, yang terbesar disebabkan oleh alkohol, kebiasaan-kebiasaan buruk, anak-anak yang tidak diasuh orangtuanya dengan baik, obat-obatan terlarang, atau mengantuk.

Sopir-sopir yang terperangkap dalam kemacetan sudah pasti harus bersabar diri, mengumpat, menyalahkan wali kota atau gubernur. Tak ada orang yang menyalahkan cara berpikirnya sendiri. Padahal, siapa bilang tidak ada jalan lain? Menuju kota Roma saja pintu masuknya ada banyak. Di Indonesia, ada jutaan jalan tikus yang bisa Anda tembus dengan motor ojek. Pilihannya ada banyak, tetapi memulainya tidak mudah. Jalanjalan baru itu memusingkan, banyak jalan buntu. Dan orang yang enggan mencobanya menyebut itu sebagai a dead end (jalan buntu). Padahal, jalan buntu bagi seorang driver adalah sebuah detour (perputaran). Tidak enak memang. Tetapi lamalama Anda akan merasakan manfaatnya karena Anda jadi tahu alternatif.

Mengapa manusia terdidik tidak melakukan seperti itu?

Itulah “passenger mentality”. Kita telah berubah menjadi bangsa yang nyaman. Ketika manusia sudah takut melakukan “kesalahan” kecil maka ia akan masuk ke dalam perangkap mentalitas penumpang. Sekolah tak boleh mendidik anakanaknya takut melakukan kesalahan dengan pendidikan hafalan. Sebab orang-orang yang tak pernah melakukan kesalahan sesungguhnya adalah orang yang tak berbuat apa-apa.

Lantas, bisakah orang-orang yang tak berpendidikan tinggi menjadi driver? Tentu saja bisa. Hanya saja kapasitasnya terbatas. Seorang driver tidak cukup hanya bermodalkan tekad dan semangat. Cara berpikir yang tepat adalah modal penting. Tetapi driver yang hebat juga butuh referensi-referensi kuat yang berasal dari pengetahuan akademis. Kita perlu menghubungkan satu referensi dengan referensi yang lainnya: connecting the dots. Jadi perbaiki dulu cara berpikir, baru kita bicara tentang a driver nation.


  • Buku: “Self Driving,” Rhenald Kasali.
Pesan Sekarang

Jangan Terburu-Buru

Salah satu penyakit yang kadang kita alami. Dalam video tersebut, seorang pria sedang menaklukan games halang rintang. Kita bisa mengenalnya Takeshi Castle. Pria tersebut melompat, memanjat, dan berlari demi mengatasi rintangan yang ada.

Sayangnya, sebelum menyelesaikan games tersebut. Ia ingin berunjuk gigi dengan salto terlebih dahulu. Apa mau dikata, ia malah tercebur ke air.

Dari video ini kita bisa mengambil pesan dan pelajaran, bahwa janganlah kita terburu-buru. Terburu-buru merasa puas diri padahal belum sampai ujungnya. Terburu-buru merasa selesai, padahal belum penutup. Atau bahkan terburu-buru putus asa, padahal belum semua usaha dicoba.

Mudah-mudahan kita tidak menjadi pribadi yang terburu-buru. Nikmati waktu yang ada dengan usaha yang maksimal. Nikmati setiap prosesnya.


Kunci Sukses

Oleh: D. Hamdani

Kunci sukses itu adalah NATO:
No Action Thinking Only

⁉️ No
Say no to any excuses.
Katakan TIDAK pada semua alasan yang menghambat dirimu.

⁉️ Action
Take action now.
Ambil tindakan sekarang.
Jadikan tindakan positifmu menjadi kebiasaan.

⁉️ Thinking
Develop your thinking skills.
Grow your mindset.
Tingkatkan kemampuan berpikirmu. Tumbuhkan mindsetmu.

⁉️ Only
In Allah we trust only.
Hanya kepada Allah kita percaya. Tawakal kepada Allah.


Keys of Success

Oleh: D. Hamdani

Bismillah

Setiap orang mendambakan kebahagiaan, mendambakan kesuksesan. Apa yang sedang kita usahakan muaranya adalah bagaimana agar kita bisa hidup lebih sukses, lebih bahagia (zona nyaman).

Empat belas abad yang silam Rasulullah SAW mengajarkan sebuah doa agar umatnya bahagia. Sebagian ulama mengatakan bahwasannya doa ini merupakan doa sapu jagat yang perlu lita panjatkan setiap habis sholat:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Rabbanaa, aatinaa fid dunyaa hasanah, wa fil aakhirati hasanah, wa qinaa ‘adzaaban naar

Artinya: “Tuhan kami, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Lindungilah kami dari siksa neraka.”

Doa adalah ucapan. Doa adalah permintaan. Fungsi sebuah doa adalah afirmasi positif agar kita sadar akan tujuan atau goal, di mana goal kita dalam hidup adalah bahagia atau sukses bukan sekedar di dunia dengan segala pencapaiannya (seperti rumah, kendaraan, dan lain-lain), namun juga agar kita mendapatkan kesuksesan di akhirat (masuk surga dan terhindar dari neraka).

Tahap selanjutnya setelah kita menyadari akan tujuan hidup kita (sadar goal hidup) adalah memahami beberapa variabel agar goal hidup dapat tercapai, yaitu: iman dan amal shalih.

Ya, hanya iman dan amal shalih lah yang dapat mengantarkan kepada goal hidup: sukses dunia dan akhirat.

Di dalam Al-Qur’an tidak kurang dari 80 ayat yang berbicara tentang iman dan amal shalih. Kedua kata tersebut tersanding dan tidak dapat dipisahkan. Tidak sempurna iman seseorang jika tidak ada amal shalih, dan betapa sia-sia amal seseorang jika tidak ada iman.

Dalam dunia motivasi, iman itu adalah motivasi (motivation), sedangkan amal shalih adalah aksi dan kebiasaan (action dan habit). Sebaik-baik motivasi adalah motivasi yang berasal dari diri sendiri (self driven motivation) atau disebut juga dengan istilah motivasi intrinsik. Dan sebaik-baik aksi dan kebiasaan adalah positive action dan good habits, itulah amal shalih (good deeds).

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar kita terus termotivasi (baca: iman selalu prima) dan action dan habit kita bisa dilakukan terus menerus berkesinambungan (baca: terus beramal shalih)? Jawabannya ada pada hadits berikut:

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ
“Barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat, maka hendaknya dengan ilmu. Dan barangsiapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia akhirat, maka hendaknya dengan ilmu.”

Ilmu lah yang dapat mengantarkan kita pada goal hidup sehingga kita bisa terus melakukan positive action dan good habits (amal shalih). Dan dalam dunia motivasi, ilmu itu disebut dengan mindset. Agar mindset kita terus tumbuh (growth mindset–istilah Carol S. Dweck) maka kita terus belajar (keep learning) dan berkumpul dengan orang-orang shalih (positive people) yang mengawali harinya dengan good habits dua atau tiga jam sebelum dari apa yang direkomendasikan oleh Robin Sharma dalam bukunya “The 5 am Club”.

Kesimpulannya agar sukses di dunia dan akhirat maka kita harus memiliki goal (sadar tujuan hidup, istilah Simon Sinek adalah “Start with Why”), diperlukan juga self driven motivation (iman), positive action dan good habits (amal shalih), juga growth mindset (ilmu).

Wallahu a’lam

—–

Good books to read Download