Jadilah “Driver”

Ini adalah judul sambutan dalam pidato saya di depan para wisudawan di Pierre Mendés-France University, Grenoble, Prancis, Kamis, 28 Juni 2012. Hari itu, selain peserta dari Prancis, juga diwisuda lulusan MBA dari berbagai negara (termasuk dari China, Rusia, Brazil dan Indonesia).

Menurut saya, bangsa yang hebat adalah a driver nation. “Driver nation” sendiri hanya bisa dihasilkan oleh pribadipribadi yang disebut “driver”, yang menyadari bahwa ia adalah mandataris kehidupan, dan pemimpin-pemimpinnya sadar bahwa ia mendapatkan mandataris dari rakyat untuk melakukan perubahan.

Jadi, ada tiga hal yang harus dilakukan, yaitu bagaimana men-drive diri sendiri (drive your self), men-drive orang lain (drive your people), dan men-drive bangsa (drive your nation). Kalau seseorang tak bisa men-drive dirinya sendiri, bagaimana ia bisa men-drive orang lain? Dan itu berarti tak ada kepemimpinan, tak ada yang men-drive bangsa ini (drive the nation). Jadi, “driver” itu apa? Bukankah di Indonesia ada jutaan orang yang berprofesi sebagai sopir? Kalau demikian, bisakah Indonesia disebut sebagai a driver nation?

Tentu bukan itu yang saya maksud. Driver adalah sebuah sikap hidup yang membedakan dirinya dengan “passenger”. Anda tinggal memilih, ingin duduk manis menjadi penumpang di belakang, atau mengambil risiko sebagai driver di depan? Di belakang, Anda boleh duduk sambil ngobrol, makan-makan, bercanda, bahkan ngantuk dan tertidur. Anda juga tak harus tahu jalan, tak perlu memikirkan keadaan lalu lintas, dan tak perlu merawat kendaraan. Enak, bukan?

Sebaliknya, seorang driver bisa hidup di mana pun mereka berada, dan selalu menumbuhkan harapan. Bila seorang “passenger” menjadi kerdil karena terbelenggu oleh setting-an otak yang tetap, maka seorang driver akan selalu tumbuh. Mereka mengajak orang-orangnya untuk berkembang dan keluar dari tradisi lama menuju tanah harapan. Mereka melakukan pembaruan-pembaruan dan menantang keterkungkungan dengan penuh keberanian.

Mereka berinisiatif memulai perubahan tanpa ada yang memerintahkan, namun tetap rendah hati dan kaya empati. Seperti kata CEO Garuda yang dengan teguh memimpin transformasi: Kalau seseorang terlalu kuat logic kasihan pegawainya, kalau hatinya terlalu dominan kasihan perusahaannya. Dengan kata lain, seorang driver harus seimbang antara logic (rasionalitas, hitung-hitungan, analisis, dan targetnya) dengan hatinya (empati, kepedulian, hubungan-hubungan sosial, tata nilai).


  • Buku: “Self Driving” oleh Rhenald Kasali
  • Get the book Now
  • Join the inspiration Join
  • Good books to read Download
  • More books Click

Lihat, Tanpa Kaki!

Terlahir sebagai orang cacat dengan fibular hemimelia, dia harus membiarkan kedua kakinya diamputasi ketika dia baru berumur 1 tahun.

Untuk mewujudkan cintanya pada dunia atletik, dia mempunyai tungkai tiruan yang dipasang di bawah dengkulnya dan dia bertanding melawan para atlet normal di kolese. Maka dia pantas menjadi atlet perwakilan dari universitasnya untuk Asosiasi Atletik Antarkolese Nasional.

Keringat membuat tungkai palsu licin; rekornya tidak begitu hebat. Akan tetapi, dia disanjung oleh teman-teman kuliahnya ketika dia melanjutkan berlari melawan para atlet normal.

Aimee Mullins bertanding melawan para-atlet dan terus mencapai rekor dunia renang. Kemudian dia menjadi seorang model pakaian dan menggeluti catwalk dengan tungkai palsunya.

Dalam upaya mengatasi kekurangannya, Aimee berkata, “Tiada sesuatu yang tidak mungkin bagiku dengan kaki palsu. Aku dapat menjadi seorang bintang olahraga dan menciptakan rekor dunia dan menjadi seorang model baju paling top tanpa kedua kakiku.”


Dahsyatnya Kekuatan Atomic Habits

Nasib British Cycling berubah pada suatu hari dalam tahun 2003. Organisasi itu, yang merupakan induk organisasi cabang olahraga sepeda profesional di Britania Raya, baru saja merekrut Dave Brailsford sebagai direktur performa yang baru. Pada waktu itu, pembalap sepeda profesional di Britania Raya telah mengalami hampir seratus tahun dalam prestasi yang sedang-sedang saja. Sejak 1908, pembalap-pembalap Inggris hanya memenangkan satu medali emas di ajang Olimpiade, dan prestasi mereka bahkan lebih buruk lagi di lomba balap sepeda paling akbar, Tour de France. Dalam 110 tahun, tidak ada pembalap Inggris yang pernah memenangkan ajang tersebut.

Bahkan, prestasi pembalap Inggris begitu tenggelam sehingga pabrik sepeda terbaik di Eropa menolak menjual sepeda kepada tim itu karena takut berpengaruh buruk pada penjualan sepedanya seandainya pembalap-pembalap profesional lain melihat atlet-atlet Inggris memakai produk tersebut.

Brailsford direkrut untuk membawa British Cycling ke arah baru. Yang membuatnya berbeda dari pelatih-pelatih terdahulu adalah komitmennya yang tiada henti terhadap strategi yang ia sebut “penghimpunan perolehan kecil”, yang merupakan falsafah pencarian margin peningkatan sangat kecil dalam segala sesuatu yang Anda kerjakan. Menurut Brailsford, “Secara keseluruhan prinsip ini berasal dari gagasan bahwa jika Anda mengurai segala sesuatu yang dapat Anda pikirkan terkait dengan balap sepeda, dengan perbaikan 1% saja Anda akan mendapatkan kenaikan yang signifikan ketika menerapkannya bersama-sama sekaligus.”

Brailsford dan pelatih-pelatihnya mulai dengan membuat penyesuaian-penyesuaian kecil yang bisa diharapkan dari tim pembalap sepeda profesional. Mereka merancang ulang jok sepeda agar lebih nyaman dan mengoleskan alkohol agar pada ban agar cengkeramannya lebih baik. Mereka meminta para pembalap memakai celana pendek dengan pemanas listrik guna mempertahankan suhu otot sewaktu bersepeda dan menggunakan sensor-sensor biofeedback untuk memonitor reaksi-reaksi tiap atlet terhadap suatu latihan. Tim menguji bermacam-macam bahan di terowongan angin dan meminta pembalap-pembalap jalan raya beralih mengenakan kostum balap indoor, yang terbukti lebih ringan dan aerodinamis.

Akan tetapi, mereka tidak berhenti di situ. Brailsford dan timnya terus berburu perbaikan-perbaikan 1% di bagian-bagian yang terlewatkan atau tak terduga. Mereka menguji bermacam-macam gel pijat untuk melihat mana yang menghasilkan pemulihan otot paling cepat. Mereka membayar seorang dokter untuk mengajari tiap pembalap cara terbaik mencuci tangan guna mengurangi peluang terkena virus influenza. Mereka menentukan jenis bantal dan kasur yang memungkinkan tidur lebih nyenyak bagi tiap pembalap. Mereka bahkan mengecat bagian dalam truk tim dengan warna putih, yang memudahkan mereka melihat debu-debu kecil yang biasanya tidak langsung terdeteksi padahal berisiko menurunkan performa sepeda yang telah disetel dengan baik.

Ketika perbaikan-perbaikan ini berikut ratusan perbaikan kecil lain diakumulasikan, hasilnya datang lebih cepat daripada yang pernah dibayangkan.

Hanya lima tahun sejak Brailsford direkrut, tim British Cycling mendominasi baik balap sepeda jalan raya maupun sirkuit di ajang Olimpiade 2008 di Beijing, tempat mereka secara dahsyat memenangkan 60% dari total medali emas yang diperebutkan. Empat tahun kemudian, ketika Olimpiade diselenggarakan di London, atlet-atlet Inggris menaikkan batas minimal prestasi mereka dan membuahkan sembilan rekor Olimpiade serta tujuh rekor dunia.

Pada tahun yang sama, Bradley Wiggins menjadi atlet balap sepeda Inggris pertama yang memenangkan Tour de France. Tahun berikutnya, teman satu timnya Chris Froome memenangkan lomba itu, dan terus menang lagi pada 2015, 2016, dan 2017, yang membuat tim Inggris meraih lima kemenangan Tour de France dalam enam tahun.

Selama rentang sepuluh tahun dari 2007 sampai 2017, pem balap sepeda Inggris memenangkan 178 kejuaraan dunia dan 66 medali emas Olimpiade atau Paralympic dan meraih lima keme nangan Tour de France yang oleh kalangan luas dipandang seba gai prestasi paling sukses dalam sejarah balap sepeda.’

Bagaimana ini terjadi? Bagaimana suatu tim yang sebelumnya hanya sekumpulan atlet biasa berubah menjadi juara dunia melalui perubahan-perubahan sangat kecil yang, sepintas lalu, palingpaling hanya akan menghasilkan perubahan sekadarnya? Mengapa perbaikan-perbaikan kecil berakumulasi menjadi hasil-hasil yang begitu menakjubkan, dan bagaimana Anda dapat meniru pendekatan ini dalam hidup Anda sendiri?


  • Sumber: Buku “Atomic Habits” karya James Clear
  • Pesan buku sekarang Klik
  • Good books to read Download
  • Join the inspiration Join
Order now (Indo. Version) Click

Hebat Karena Terbiasa

Kamu sering takjub karena kehebatan seseorang? Silakan ikuti kisahnya.

Dahulu kala di Tiongkok, ada seorang panglima perang yang terkenal karena memiliki keahlian memanah yang tiada tandingannya. Pada sebuah perayaan kerajaan, sang panglima diminta memamerkan keahlian memanahnya kepada rakyat. Raja ingin seluruh rakyat mengetahui keterampilan memanah panglimanya.

Panglima pun menyiapkan papan sasaran serta beberapa anak panah. Dengan penuh percaya diri, ia memasuki lapangan. Panglima menarik napas dalam-dalam, lalu mulai menarik busur dan melepas satu per satu anak panah itu ke arah sasaran. Sungguh hebat! Tak satu pun anak panah yang meleset dari sasaran. Rakyat bersorak-sorai menyaksikan kehebatan sang panglima.

Dengan wajah berseri-seri penuh rasa bangga, panglima itu berkata, “Wahai rakyat semua, lihatlah apa yang bisa kulakukan! Adakah di antara kalian yang bisa mengalahkan keahlianku dalam memanah?”

Mendengar tantangan dari Panglima, tiba-tiba seorang tua penjual minyak berteriak dengan lantang, “Panglima memang hebat! Namun, semua orang yang ada di sini juga bisa melakukannya.”

Semua orang terdiam. Bahkan Raja tak menyangka ada di antara rakyat yang berani berkata demikian.

“Apa maksudmu, Pak Tua?” tanya Raja.

Tukang minyak menjawab, “Akan aku tunjukkan!”

Tukang minyak itu beranjak dari tempatnya. la maju ke tengah lapangan. Ia merogoh saku celananya dan mengambil sebuah uang koin kuno yang berlubang di bagian tengahnya. Koin itu lalu diletakkannya di atas mulut guci minyak yang kosong. Semua orang merasa heran. Apa yang hendak dilakukan penjual minyak tua itu?

Dengan penuh keyakinan, si penjual minyak mengambil gayung penuh berisi minyak, kemudian menuangkannya dari atas ke dalam guci kosong melalui lubang kecil di tengah koin tadi sampai botol guci itu terisi penuh. Tak setetes minyak pun menyentuh permukaan koin! Luar biasa!

Penjual minyak itu berkata sambil memperlihatkan koinnya yang kering kepada orang-orang, “Aku juga bisa melakukan ini karena terbiasa melakukannya selama bertahun-tahun.”

Raja, Panglima, dan seluruh orang yang ada di situ mulai memahami maksud si tukang minyak.

“Ini hanyalah keahlian yang didapat dari kebiasaan yang terlatih! Kebiasaan yang diulang terus-menerus akan melahirkan keahlian.”

Orang-orang bersorak. Kebijaksanaan si tukang minyak hari itu telah memberikan pelajaran yang berharga kepada mereka semua. Mereka kini mengetahui bahwa setiap orang juga bisa menjadi hebat karena kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang.


  • Sumber: “Habit Is Power” karya T. Harry Wilopo
  • Pesan bukunya sekarang Klik
  • Join the inspiration Join
Order now

Kuncinya adalah Pengulangan

“Kita adalah apa-apa yang berulang-ulang kita lakukan. Sukses bukanlah tindakan, melainkan sebuah kebiasaan.”

Aristoteles

Ya, rahasia dari kemahiran adalah kebiasaan yang berulang. Berlatih mengangkat barbel selama 2 jam tidak akan membuat otot kita membesar, tetapi berlatih mengangkat barbel selama 2 jam dan dilakukan berulang-ulang selama 6 bulan akan membentuk tubuh kita menjadi kekar. Kuncinya, repetisi.

Pergi menghadiri kelas bahasa Inggris 2 kali seminggu mungkin akan membuat kemampuan bahasa Inggris kita lebih lancar dari sebelumnya. Namun, tetap saja kita masih kalah mahir dengan orang-orang Indonesia yang tinggal di Inggris sana. Mengapa?

Karena setiap hari, mereka mempraktikkan bahasa Inggris secara berulang-ulang. Sampai-sampai mereka tidak perlu berpikir lagi setiap akan berbicara. Bahkan mereka sudah berpikir dalam bahasa Inggris.

Kuncinya? Ya, repetisi.

“Kebiasaan yang diulang terus-menerus akan melahirkan keahlian.” Kalimat ini tidak boleh kita lupakan. Betapa luar biasanya kekuatan kebiasaan. Habit is power!

Alam pun turut memberikan pelajaran kepada kita, bahwa tekad yang kuat untuk mengerjakan sesuatu secara berulangulang akan menghancurkan halangan sebesar dan sekeras apa pun di hadapan kita, sampai menembus logika!

Bayangkan, sebongkah batu yang besar dan keras dapat dilubangi oleh tetesan air yang jatuh berulang-ulang selama beberapa tahun di tempat yang sama. Kerasnya batu tak mampu menahan kelembutan air yang jatuh menetes berulang-ulang.

The power of repetition, masihkah Anda meragukannya?


  • Buku: “Habit Is Power” oleh T. Harry Wilopo
  • Pesan buku sekarang Di Sini
  • Join the inspiration Now

Penundaan: Sahabat Kegagalan

Saya memutuskan untuk menghibahkan sebuah meja kayu tua yang sangat besar. Bagian atas meja tertutup oleh selembar kaca setebal 1/4 inci, berukuran sekitar 3×5 kaki. Pemilik yang baru tidak menginginkan kacanya. Ketika kami memuat meja ini ke dalam truknya di suatu Sabtu pagi, kami meninggalkan kacanya tersandar pada tiang ring basket yang ada di ujung jalan masuk kami.

Sambil pergi membawa meja, teman saya itu berkata, “Lebih baik kamu menyimpan kaca itu di tempat yang aman.” Saya balas berteriak, “Ya, pasti!” Tapi, hal itu tidak saya lakukan. Saya melirik kaca itu sekilas dan berkata dalam hati akan melakukannya nanti. Kemudian, saya sibuk memangkas semak-semak dan membersihkan garasi. Setiap kali melangkah melewati kaca itu, saya berkata pada diri sendiri bahwa saya harus memindahkan kaca itu sebelum lupa. Tapi, saya terus berpikir, “Saya akan melakukannya nanti.”

Hari terus berjalan, dan kami sekeluarga memutuskan untuk makan malam di luar. Ketika kami memundurkan mobil keluar dari halaman, istri saya, Karen, berkata, “Tidakkah sebaiknya kita menaruh kaca itu di tempat yang aman?” Anda tahu apa jawaban saya.

Beberapa jam kemudian, kami tiba di rumah menjelang malam dan sedang bersiap masuk ke dalam rumah. Saya melihat sepasang gunting rumput kecil di dekat pinggiran jalan, di bawah lampu jalanan. Saya menyuruh anak lakilaki saya, Michael yang berumur 9 tahun, “Mike, tolong ambilkan gunting-gunting di sana dan letakkan di garasi.” la pergi mengambilnya sementara saya berjalan menuju rumah.

Malam itu adalah Sabtu malam yang tenang di daerah permukiman kami yang menyenangkan, sampai kesunyian itu diusik oleh suara yang paling menakutkan yang pernah saya dengar: suara sebuah kaca besar pecah.

Saya langsung menyadari apa yang terjadi. Saya juga tahu penyebabnya. Saya lari keluar dari garasi, mengitari mobil, dan menemukan Michael tergeletak di atas ratusan pecahan kaca yang mematikan, beberapa di antaranya memiliki panjang lebih dari 1 kaki. Ia menangis ketika saya berlari membopongnya menuju teras depan. Saya meletakkan tubuhnya di bawah lampu agar dapat mengecek luka-lukanya, siap menghadapi kemungkinan terburuk. Dan, sulit dipercaya: tak ada satu goresan pun! la telah berlari menabrak kaca dan jatuh di atasnya ketika kaca itu menyentuh aspal, tetapi tidak ada satu luka pun di tubuhnya. Mengatakan bahwa kami amat sangat bersyukur tidaklah cukup.

Mengapa insiden itu terjadi? Penundaan, Sahabat Kegagalan. Saya tahu sejak awal bahwa kaca itu harus dipindahkan, dan hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari lima menit untuk melakukannya. Tetapi, saya terus menunda dan menunda, sampai akhirnya hal itu meledak, nyaris mendekati malapetaka.

Tangani dengan segera hal-hal kecil, selagi mereka masih kecil.


  • Buku: QBQ, oleh: John G. Miller
  • Join the inspiration Join
  • More books Click

Miliki Pagi, Tingkatkan Hidup Anda

Oleh: Robin Sharma

The 5 AM Club (2018) merupakan sebuah buku yang menjelaskan pentingnya memulai aktivitas Anda sejak jam 5 pagi dan memanfaatkan waktu pagi Anda sebaik mungkin. Di dalam buku ini Anda akan mempelajari formula dan cara memaksimalkan waktu pagi Anda sebaik mungkin untuk hidup yang lebih sukses, bahagia dan bermakna seperti para legenda di bidangnya.

Siapa penulis buku ini?

Robin Sharma merupakan seorang penulis buku best seller, pembicara terkemuka, ahli kepemimpinan dan pendiri perusahaan nirlaba yang membantu anak-anak kurang mampu memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Ia sudah menulis banyak buku laris yang telah diterjemahkan ke dalam 92 bahasa. Beberapa bukunya antara lain The Monk Who Sold His Ferrari, The Greatness Guide, dan The Leader Who Had No Title.

Untuk siapa buku ini?

✓ Para pengusaha dan pebisnis yang ingin sukses dalam bisnisnya.
✓ Para seniman, artis dan pekerja kreatif yang ingin sukses dalam berkarya.
✓ Setiap orang yang ingin hidupnya lebih sukses, lebih bahagia dan lebih bermakna.

Apa yang dibahas buku ini?

  • Rutinitas pagi untuk menjalani kehidupan yang luar biasa.
  • Tokoh-tokoh sukses di dunia memiliki kebiasaan berbeda dengan orang rata-rata. Salah satu kebiasaan tersebut adalah memulai aktivitas sejak dini hari pukul 5 pagi dan memaksimalkannya.
  • Waktu pagi merupakan waktu paling potensial dari satu hari Anda. Memulai, mengisi dan membiasakan waktu pagi Anda dengan kebiasaan yang dilakukan para legenda akan menjadikan hidup Anda lebih sukses, lebih bahagia dan lebih bermakna.

Dalam rangkuman Pintar ini, Anda akan mempelajari beberapa formula dan kebiasaan yang harus Anda jalani di waktu pagi untuk memunculkan potensi terbaik dari diri Anda.

Hal-hal menarik yang akan Anda pelajari antara lain:

✓ Kenapa harus memulai aktivitas di waktu pagi;
✓ Bagaimana cara melatih ketelitian dan kedalaman dalam bidang Anda;
✓ Bagaimana cara melatih kebiasaan baru;
✓ Apa yang dimaksud dengan formula 20/20/20; dan
✓ Bagaimana cara menerapkan taktik Kegeniusan Abadi.


The 5 am Club

  • Download The 5 am Club Download (Eng. Version)
  • Pesan The 5 am Club sekarang Di Sini (Indo. Version)

Orang-Orang Pintar yang Terkurung Pikirannya Sendiri

Oleh: Rhenald Kasali

Anda mungkin pernah bertanya, ke mana teman-teman yang dulu menjadi kebanggaan guru karena nilai-nilai pencapaian atau raportnya tinggi, bertaburan angka 10 atau “A” dan dinilai pandai di kelas?

Kebanyakan kita pasti pernah menduga, kelak merekalah yang akan mewarnai kehidupan, menjadi ilmuwan yang sering dikutip publik, insinyur hebat, dokter spesialis ternama, pengu´saha besar, hakim agung dan seterusnya.

Namun, dalam kehidupan, di sini dan di mana pun, ternyata kita sering kecewa. Karena yang muncul sebagai penerima penghargaan dunia ternyata bukan teman-teman kecil kita yang hebat itu, melainkan yang sebaliknya. Ya, mereka yang dulu sekolahnya justru mengalami beragam kesulitan. Tak sedikit yang menjadi penerima hadiah Nobel mengaku bahwa masa kecilnya dilalui dengan penuh rintangan. Bahkan Albert Einstein pernah dianggap idiot, dan penemu besar sepanjang sejarah Thomas Alva Edison dikeluarkan dari sekolah.

Berbagai studi belakangan ini mulai berani menunjukkan bahwa yang sering muncul di media massa menjadi ilmuwan terkenal, seniman berpengaruh, ekonom terkemuka, atau bahkan menjadi CEO berprestasi, ternyata sebagian besar dulunya bukan siswa yang tercerdas tadi.

Ini tentu bukan omong kosong atau reka-rekaan. Mereka sendiri mengakuinya. Bahkan, Gladwell (2008) menemukan para penerima hadiah Nobel ternyata bukanlah orang-orang ber-IQ tinggi seperti yang diduga oleh para peramu teori kecerdasan.

Belum lama ini FBI menemukan release yang pernah dikeluarkan terkait mendiang Steve Jobs. Di lembar catatan tertulis: “la hanya memiliki indeks prestasi kumulatif 2,65 pada saat duduk di tingkat SLTA.” Kalau Anda membaca laporan itu sebelum Jobs dikenal atas karya-karyanya, mungkin Anda termasuk orang yang percaya bahwa Jobs bukan sosok genius.

Lewat buku ini, psikolog Carol Dweck, mengungkapkan hasil penelitiannya yang menemukan bahwa ada faktor lain yang lebih penting dari kecerdasan yaitu mindset. Dalam hal ini ia menekankan bahwa manusia memiliki dua jenis mindset. Pertama mindset yang tumbuh (growth mindset) dan kedua mindset yang tetap (fixed mindset).

Orang-orang yang bermindset tetap cenderung mementingkan apa yang didapat dari masa lalunya, yaitu prestasi sekolahnya yang tampak dalam ijazah dan gelar sekolah. Dan sekali didapat, mereka percaya bahwa prestasi itu akan berlaku selamalamanya. Persis seperti cara pandang kita tentang IQ.

Sebaliknya, yang bermindset tumbuh berani menghadapi tantangan baru. Mereka percaya bahwa kecerdasan bisa berubah seperti otot, yang kalau dilatih terus-menerus akan menjadi kuat dan besar.

Dan Dweck menemukan bahwa mindset tumbuh itu kelak akan diraih oleh mereka yang berani menghadapi kesulitan dan tantangan-tantangan baru. Jadi bisa dilatih, dan untuk itu peran orangtua dan guru sangat menentukan.

Saya tidak bermaksud menganggap bahwa ijazah tidak penting. Ijazah penting. Namun yang memprihatinkan adalah saat ini sekolah dan universitas banyak dikuasai oleh orang-orang yang bermental ijazah dan asal sekolah. Akibatnya, mereka terkurung dalam “penjara” yang mereka ciptakan sendiri, yaitu fixed mindset. Mereka dibesarkan dalam lingkungan yang steril dan seakan-akan sekali diraih, mereka akan cerdas selama-lamanya. Ini tentu perlu kita koreksi.

Apalagi anak-anak pandai yang dibentuk keluarga yang selalu memberi topangan, selalu memuji keberhasilannya, dan lupa memberi ujian berupa kesulitan. Ini tentu merepotkan anak itu sendiri.

Saya berharap, dengan membaca buku ini, kita bisa memperbarui cara mendidik dan membesarkan anak-anak kita. Karena, ada faktor lain selain prestasi akademik yang harus dibangun untuk melahirkan kehebatan.

Tugas kita bukanlah membuat seseorang menjadi hebat sesaat, melainkan membuat mereka bisa tumbuh dan berkembang, menemukan pintu masa depan beradaptasi dengan perubahan.


  • Tulisan di atas adalah sebuah kata pengantar yang ditulis oleh Prof. Rhenald Kasali terhadap buku berjudul “Mindset” karya Carol S. Dweck.
  • Download buku MINDSET (Eng. Version) Download
  • Dapatkan buku MINDSET (Indo. Version) Di Sini

Indonesia Version Order Now

Pekerjaan Baru Buat Tukang Ledeng

Suatu hari pimpinan Mercedez Benz, sebut saja Mr. Benz, menelepon seorang tukang ledeng yang direkomendasikan temannya untuk memperbaiki kran air yang bocor di rumah. Temannya bilang tukang ledeng yang satu ini bisa diandalkan.

Ketika dihubungi ternyata sang tukang ledeng sedang banyak pekerjaan dan baru bisa datang dua hari lagi. Akhirnya Mr. Benz setuju untuk menunggu dua hari.

Keesokan harinya, sang tukang ledeng menghubungi bos Mercy tersebut sekedar untuk menyampaikan terima kasih karena sudah bersedia menunggu satu hari lagi. Sang bos terkesan atas pelayanan dan cara berbicara sang tukang ledeng.

Pada hari yang telah disepakati, sang tukang ledeng datang ke rumah tersebut untuk memperbaiki kran yang bocor.

Setelah kutak-katik sana-sini, kran pun selesai diperbaiki dan sang tukang ledeng pulang setelah menerima pembayaran atas jasanya.

Sekitar dua minggu setelah hari itu, sang tukang ledeng kembali menghubungi Mr. Benz sekedar untuk menanyakan apakah kran yang diperbaiki sudah benar-benar beres atau masih timbul masalah?

Mr. Benz berpikir orang ini luar biasa, walaupun cuma tukang ledeng tetapi begitu memperhatikan kepuasan pelanggan.

Beberapa bulan kemudian Mr. Benz merekrut sang tukang ledeng untuk bekerja di perusahaannya. Tentu sang tukang ledeng kaget, apalagi sebelumnya ia tidak tahu orang yang dibantunya adalah pimpinan sebuah perusahaan otomotif terbesar di dunia.

Kira-kira pekerjaan apa yang cocok untuknya?

Apakah tukang tersebut akan diangkat menjadi pengawas saluran air dan perledengan di pabrik Mercedez?

Apakah keahlian di bidang pipa yang membuatnya direkrut?

Tidak. Bukan keahliannya sebagai tukang pipa yang membuatnya mendapat posisi baru, tapi dedikasinya yang ingin selalu membuat pelanggan puaslah yang membuatnya menjadi pegawai terhormat.

Tukang ledeng itu bernama Christopher L. Jr. la direkrut untuk mengurusi customer Mercedez Benz dengan tujuan utama agar pemilik mobil Mercedez puas atas pelayanan perusahaan otomotif tersebut.

Dengan pekerjaan barunya, sang tukang pipa kini harus mengembangkan bakatnya di bidang kepuasan pelanggan, sebuah bidang yang sebelumnya sama sekali tidak terpikir sebagai pekerjaan.

Sang tukang pipa tidak menyangka bahwa keramahannya melayani pelanggan, keinginannya memuaskan pelanggan, ternyata merupakan keahlian yang sangat berharga dan jarang dimiliki orang. Karena keahlian ini bukan sekedar ilmu tetapi juga menyangkut hati manusia.

Tak pernah terpikir olehnya, sebuah sikap yang dianggap sekedar nilai tambah pekerjaan ternyata mempunyai nilai besar.

Karirnya melesat hingga ia menjabat sebagai General manager Customer Satisfaction and Public Relation di Mercedez Benz!

Sebuah lompatan yang tinggi bagi seorang tukang ledeng.


Hikmah:

Memberi kepuasan pada hati pelanggan merupakan naluri alamiah Christopher ketika menjalankan usaha.

Sekalipun ia hanya tukang ledeng tetapi ia selalu berusaha memberikan yang terbaik.

Akan tetapi ia tidak menyadari bahwa sikap ini merupakan aset yang sangat berharga, sampai akhirnya salah satu perusahaan otomotif terbesar di dunia berani membayar mahal dan memberinya posisi penting atas sikap tersebut.


  • Buku: “No Excuse” oleh Isa Alamsyah
  • Join the Inspiration Join
  • Good books to read Download

“Saya ini wartawan, mana bisa memandu talk show!”

Sebagai wartawan di televisi, wanita ini menunjukkan kepiawaiannya dalam berkomunikasi pada setiap wawancara. Pertanyaannya tajam dan cerdas. la bisa mengungkap informasi terdalam tanpa membuat nara sumber terbebani atau dipermalukan.

Jajaran pimpinan menangkap kelebihan wanita tersebut dan menawarkannya jenjang yang lebih tinggi. la ditawari untuk ikut memegang talk show televisi.

Bagaimana tanggapan wanita tersebut pertama kali mendengar tawaran itu? la ragu, tidak yakin akan kemampuannya memandu talk show.

“Saya ini wartawan, mana bisa memandu talk show!”

Singkat cerita akhirnya ia mau terlibat dalam talk show bersama host lain. Karirnya tidak mulus, banyak hambatan yang harus dilaluinya sampai akhirnya mempunyai talk show sendiri.

Talk show-nya pun tidak langsung berjalan lancar. Pada tayangan perdana, tidak ada penonton di studio, sehingga ia harus turun ke jalan menawarkan donat dan keramahan agar ada yang mau masuk menjadi penonton. Orang pertama yang menjadi incarannya yaitu Don Johnson, bintang Miami Vice, yang saat itu sedang top-topnya, bahkan tidak menggubris undangannya, sekalipun sudah berkali-kali dikirimi surat dan bunga.

Ketika undangan bagi pembicara untuk tayangan perdana talk shownya tidak digubris, akhirnya ia memilih keluarga dan wanita sebagai tema pada tayangan perdananya.

Apakah ini kisah tentang host talk show tidak berbakat?

Tidak, ini bukan kisah pemandu talk show tidak berbakat. Ini adalah kisah Oprah Winfrey yang kini dikenal sebagai ratu talk show dunia.

Ternyata tema wanita dan keluarga yang diangkat pada talk show edisi pertama tersebut justru menjadi tema yang sangat diminati. Tema yang pada awalnya dipilih karena undangannya diabaikan bintang Miami Vice ini, akhirnya justru menjadi tema sentral talk show Oprah dan memperkuat posisinya dalam dunia talk show.

Perlahan tapi pasti, acara talk show-nya semakin banyak dinantikan hingga akhirnya menjadi yang terbesar.

Saat ini Oprah Winfrey Show disaksikan 46 juta pemirsa setiap minggu di Amerika dan secara internasional disiarkan di 134 negara. Acara Oprah Winfrey Show merupakan acara talk show no. 1 selama 21 musim secara berturut-turut sampai saat ini. Ratusan orang penting dunia pernah menjadi tamu pada acaranya.

Kini Oprah menjadi wanita selebritis terkaya di dunia dengan nilai kekayaan mencapai USD 1,5 milar (Rp 15 triliun).

Begitu besar pengaruh Oprah Winfrey sehingga ia beberapa kali dinobatkan sebagai salah satu wanita paling berpengaruh di dunia. Semua berawal dari talk show.


  • Buku: “No Excuse” oleh Isa Alamsyah
  • Join the Inspiration Join
  • Good books to read Download