Waktu yang Dibutuhkan untuk Membentuk Kebiasaan Baru

“Kita adalah apa-apa yang kita lakukan secara berulangulang,”

Aristoteles

Kenyataannya memang seperti itu. Apa pun kemahiran yang kita miliki merupakan hasil dari rangkaian latihan yang telah berulang kali kita kerjakan sebelumnya.

Bagi sebagian besar kita saat ini, berjalan adalah aktivitas yang mudah dilakukan. Namun, orangtua kita tentu menjadi saksi betapa susahnya dulu kita awalnya belajar berjalan. Kita harus berdiri dengan susah payah, lalu melangkahkan kaki selangkah demi selangkah, mencoba menyeimbangkan tubuh, hingga berpegangan pada sesuatu agar tidak terjatuh.

Tak bisa dihitung lagi, berapa kali kita terjatuh saat mencoba belajar berjalan. Namun, kita tak pernah menyerah. Kita selalu bangkit dan tak takut untuk mencoba lagi, berdiri dan berjalan.

Selama beberapa waktu, kita belajar berjalan. Saat itulah, sel saraf di otak kita saling terhubung dan merekam dengan baik hasil latihan itu dan mengirim memori itu ke anggota tubuh, sehingga lama-kelamaan kita sudah mampu berjalan dengan baik, bahkan juga berlari.

Saat ini, berjalan sudah bisa kita lakukan secara otomatis, tanpa harus berpikir terlebih dahulu. Berjalan sudah menjadi kebiasaan dan kita sangat mahir untuk melakukannya. Namun, itu semua butuh waktu.

Untuk mengubah suatu aktivitas menjadi sebuah kebiasaan, dibutuhkan kurun waktu tertentu. Berapa lama, sih, waktu yang kita butuhkan untuk membangun kebiasaan baru? Jawabannya, tergantung pada kemampuan otak masing-masing dalam merekam program baru yang kita inputkan ke dalamnya.

Pada tahun 1950-an, seorang dokter bedah plastik, Maxwell Maltz, menemukan sebuah pola yang terlihat dari pasienpasiennya. Ia memperhatikan, diperlukan sekitar 21 hari bagi pasien-pasiennya untuk membiasakan diri dengan wajah baru mereka usai operasi plastik. Ia juga punya kesimpulan yang sama bagi pasien yang baru saja melakukan amputasi lengan atau kaki. Fakta ini membuat Dr. Mawell Maltz yakin bahwa manusia membutuhkan setidaknya waktu selama 21 hari untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru.

Penelitian soal waktu yang dibutuhkan untuk membentuk kebiasaan baru juga dilakukan oleh Phillippa Lally, seorang peneliti psikologi kesehatan di Universitay College London. la meneliti 96 orang selama 12 minggu. Mereka diminta memilih kebiasaan sederhana baru, seperti meminum sebotol air saat makan siang atau berlari selama 15 menit sebelum makan malam.

Hasilnya, diperoleh kesimpulan, rata-rata orang membutuhkan waktu 66 hari (2 bulan lebih) sebelum akhirnya menjadikan aktivitas baru itu sebagai sebuah kebiasaan yang berjalan secara otomatis. Namun, Phillippa Lally juga memiliki kesimpulan tambahan. Ternyata waktu yang dibutuhkan untuk membentuk kebiasaan baru itu sangat variatif; dipengaruhi oleh perilaku, orang, dan keadaan yang mendukung.

Menurut penelitiannya itu, seorang manusia bisa memiliki kebiasaan baru setelah melakukan aktivitas secara berulang selama 18 hari hingga 254 hari. Artinya, jika kita ingin membentuk kebiasaan baru, maka mulailah melakukan aktivitas pilihan kita dan melakukannya secara berulang selama 3 minggu hingga 8 bulan. Itulah kurun waktu yang dibutuhkan otak kita untuk memprogram sebuah kebiasaan baru. Setelahnya, semua akan berjalan secara otomatis.

“Kebiasaan bukanlah sebuah garis finis yang harus dilalui, melainkan gaya hidup yang harus dijalani.”

James Clear dalam Atomic Habits

  • 📕 Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik
  • 👤 T. Harry Wilopo

TEAM

TEAM = Together Everyone Achieve More

Konsep TEAM (tim) hakikatnya terletak pada satu kata yang sudah Anda dengar berulang kali: SINERGI. Kata sinergi berasal dari Yunani, sunergos, yang artinya bekerja bersama, sun (bersama), dan ergon (bekerja).

Tim adalah bentuk khusus dari kelompok kerja yang harus diorganisasi dan dikelola secara berbeda dengan bentuk kelompok kerja lain. Tim beranggotakan orang-orang yang dikoordinisasi untuk bekerja bersama. Terjadi saling ketergantungan yang kuat satu sama lain untuk mencapai sebuah tujuan atau menyelesaikan sebuah tugas.

Dengan bekerja dalam tim, diharapkan hasilnya melebihi jika dikerjakan secara perorangan.

Demonstrasi yang nyata tentang arti sinergi diperlihatkan dalam kontes kuda penghela di sebuah kota di Amerika. Kuda juara pertama sanggup menarik 2.250 kilogram, juara kedua sanggup menarik 2.000 kilogram. Teorinya, kedua kuda tersebut secara bersama-sama harus mampu menarik beban maksimum 4.250 kilogram. Untuk mengujinya, kedua kuda disatukan untuk menarik gerobak yang diberi beban. Semua orang yang melihat terperangah. Kedua kuda tersebut mampu menarik beban seberat 6.000 kilogram, 1.750 kilogram lebih berat dibanding jumlah yang mampu mereka lakukan sendiri-sendiri.

Sinergi adalah daya kerja tim untuk menyatukan tenaga individu, untuk menutup keterbatasan individu, untuk menggandakan upaya individu supaya sasaran yang dicapai lebih banyak dan lebih besar.

Kekuatan sinergi bukanlah seperti kekuatan matematis ketika 3 tenaga + 3 tenaga 6 tenaga, namun lebih dari itu. Dengan bersinergi, 3+3 bisa menghasilkan 10, bahkan lebih.

Kumpulan individu atau tim?

Apakah setiap berkumpulnya individu dapat dikatakan sebuah tim? Lalu bagaimana dengan berkumpulnya para artis, tukang bakso, pelajar, dan lainlain?

Jawabnya jelas tidak. Ilustrasinya seperti ini. Ada orang kaya yang berobsesi ingin mengumpulkan kendaraan terbaik dari setiap jenis mobil yang ada. Kemudian dari tiap mobil itu diambil bagian-bagian tertentu; transmisi terbaik dari Toyota, mesin terbaik dari Mercedes, kemudi terbaik dari Ford. Setelah itu, ia merakit bagian-bagian tersebut menjadi sebuah mobil baru. Hasilnya, mobil tersebut tidak dapat berjalan. Mengapa bisa begitu? Bagian-bagian yang ia rakit itu tidak dapat bekerja sama dengan baik karena mempunyai ukuran yang berbeda-beda.

ORANG BIASA –hasil–> LUAR BIASA

ORANG LUAR BIASA –hasil–> SANGAT LUAR BIASA


  • 📕 “Team Work Games”
  • 👤 Tim MAXI Plus

Kita Belajar Lebih Banyak dengan Mengulang

Otak kita bekerja seperti sebuah komputer, tetapi otak kita jauh lebih kompleks dan dahsyat dalam menerima maupun memproses segala informasi yang diterimanya. Sebetulnya, seberapa canggih otak manusia?

Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di Institute Salk, la Jolla, California, Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa otak manusia memiliki kapasitas penyimpanan data memori setidaknya sebanyak satu petabyte! Jika Anda kesulitan untuk memahami berapa banyak satu petabyte, itu sama dengan 1.000 terabyte atau 1.000.000 gigabyte.

Analoginya, jika Anda mengisi penuh otak Anda dengan lagu-lagu berdurasi 4 menit, maka lama waktu yang Anda butuhkan untuk mendengarkan semua lagu yang tersimpan di otak Anda itu adalah 2.000 tahun. Dengan kemampuan super seperti itu, tak heran bila otak menjadi organ terpenting dalam membangun kesuksesan manusia, dan sebagian besarnya terkait dengan kebiasaan.

Kita tentu menyadari bahwa kita belajar lebih banyak dengan melakukan sesuatu secara berulang-ulang. Contohnya, lagu. Setiap orang memiliki lagu favorit. Bila kita mendengarkan sebuah lagu yang kita sukai, kita cenderung menyanyikannya berulang-ulang. Pengulangan ini lalu terprogram di otak kita, sehingga bila kita bertemu dengan pemicu yang mengingatkan kita pada lagu favorit kita itu, kita pun mulai bersenandung dengan fasih.

Pengulangan memang merupakan kunci untuk membentuk kebiasaan. Pengulangan juga merupakan rahasia untuk menghafal sesuatu dalam jangka waktu yang lama. Tak heran, kita mudah melupakan isi buku yang selesai kita baca satu kali. Namun, jika kita membacanya berkali-kali atau menonton sebuah film berulang-ulang, kita bisa dengan mudah menghafal dialog dalam buku atau film itu, tanpa kita bermaksud menghafalnya.

Salah satu buku terbaik yang membahas soal kebiasaan ini adalah The Power of Habit karya Charles Duhigg. Dalam karya tulisnya itu, Duhigg telah mengupas hasil penelitian para ahli neurologi tentang otak.


  • 📕 “Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik”, hlm 76-77.
  • 👤 T. Harry Wilopo
  • 🛍️ Pesan di sini Klik

Pentingnya Kecerdasan Adaptasi

Kita harus sadar, satu-satunya cara berdamai dengan perubahan adalah dengan beradaptasi. Makin cepat kita bisa menerima pemikiran bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak konstan, makin mudah kita beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi. Untungnya, kita, manusia, adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling jago beradaptasi. Tinggal kita sendiri, apakah mau menerima perubahan dengan beradaptasi atau tidak?

Baru-baru ini, para ahli berdasarkan penelitian IBM mulai menyadari bahwa kemampuan adaptasi dan fleksibilitas akan menjadi keterampilan paling penting bagi manusia pada masa mendatang. Penelitian IBM pada tahun 2019 menyebutkan bahwa pada tiga tahun ke depan, 120 juta orang yang hidup di 12 negara dengan ekonomi terbesar di dunia akan terancam kehilangan pekerjaan karena banyaknya pekerjaan yang diotomatisasi alias diambil alih oleh robot.

Hal ini terjadi terutama sekali pada jenis pekerjaan yang mengandalkan pembacaan pola suatu data. Tugas ini sangat mudah diotomatisasi, karena algoritma dapat menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan lebih akurat dari manusia.

Profesor Amy Edmonson dari Sekolah Bisnis Harvard menganjurkan agar manusia mulai memikirkan secara serius pengasahan Adoption Quotient (AQ) atau kecerdasan adaptasi. Ujarnya, “Mereka yang sukses adalah mereka yang memilih untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan algoritma.”

Kemajuan teknologi membuat zaman terus bergerak maju dengan cepat. Hal ini dengan sendirinya membuat AQ menjadi lebih penting daripada IQ bagi kehidupan manusia, sebab komputer diprediksi tidak dapat menggantikan kemampuan beradaptasi manusia. Mereka yang memiliki kecerdasan beradaptasi yang baiklah yang akan terus bertahan, sementara mereka yang menolak perubahan akan tergilas oleh kejamnya zaman.

Agar tidak menjadi usang, kita harus terus membuka diri untuk menerima perubahan; melupakan kebiasaan lama dan berani meninggalkan zona nyaman untuk membangun kebiasaan baru. Kebiasaan baru inilah yang akan menghasilkan keterampilan baru yang lebih dibutuhkan di masa depan, seperti kreativitas dalam menyelesaikan suatu permasalahan, rasa empati untuk berkomunikasi dengan baik, atau mengandalkan intuisi manusia yang tidak dapat tergantikan oleh mesin.

Hanya orang yang lebih berani dan selalu ingin tahu yang akan memiliki peluang untuk mengasah kecerdasan beradaptasinya. Namun, bila ia mulai terbuai oleh zona nyamannya, maka kemampuan adaptif itu akan menurun secara alami.

Perubahan mungkin akan membuat kita merasa tak nyaman untuk sesaat, tetapi jangan sampai itu menghentikan langkah kita untuk terus beradaptasi dengan segala situasi. Hal ini berlaku pula pada kebiasaan kita sehari-hari.

“Kita tak boleh takut pada perubahan. Jangan jadi orang yang antiperubahan. Jadilah orang yang mudah beradaptasi.”


  • Sumber: “Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik” oleh T. Harry Wilopo Order Di Sini

Dua Kunci Sukses

Dua kunci sukses di usia muda adalah:

Pertama, mulai berlatih sesegera mungkin. Ibarat menanam tanaman, tanamlah benih sesegera mungkin sehingga kita bisa memanennya lebih cepat. Makin awal kita memulai latihan, lalu menjadikan latihan itu sebagai kebiasaan seharihari, makin cepat pula kita akan meraih kesuksesan.

Kedua, perbanyak intensitas latihan setiap harinya. Warren Buffett pernah berkata, “Saya selalu tertantang untuk menjadi lebih baik dari orang lain. Jika orang lain membaca buku 100 halaman per hari, maka saya akan berusaha membaca 300 halaman per hari.”

Jika kebanyakan orang bekerja 9 to 5 alias 8 jam, maka berusahalah mengerjakan apa yang menjadi bidang keahlian kita selama 10-12 jam dalam sehari. Dengan begitu, hasil yang kita dapatkan selalu lebih baik, lebih cepat, dan lebih banyak.

Kebiasaanlah yang akan membuat keahlian kita sempurna. Apa yang memisahkan kita saat ini dengan tujuan hidup kita adalah waktu. Jika kita bisa mengisi waktu itu dengan hal-hal yang tepat, maka cepat atau lambat, tujuan hidup yang kita idam-idamkan pun akan berhasil terwujud.


  • Buku: Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik
  • Oleh: T. Harry Wilopo

Menjadi Tuan Bagi Pikiran Kita Sendiri

George Dantzig

Ada sebuah kisah menarik yang bisa menjadi contoh betapa pentingnya menjadi tuan bagi pikiran kita sendiri. Ini adalah sebuah kisah nyata.

Suatu hari, pada tahun 1939, seorang mahasiswa bernama George Dantzig harusnya menghadiri kuliah matematika yang diasuh oleh Prof. Jerzy Neyman. Namun, karena suatu hal, George tidak bisa datang tepat waktu.

Setelah urusannya selesai, setengah berlari, George bergegas menuju kelas Prof. Jerzy Neyman. Sayangnya, ia terlambat. Setibanya di sana, ruang kelas sudah kosong. Kelas telah bubar dan tak ada seorang pun yang tinggal.

George melihat dua soal matematika di papan tulis. la menduga kedua soal itu adalah pekerjaan rumah yang diberikan sang profesor untuk para mahasiswanya. Segera George mengeluarkan buku catatan dan mencatatnya.

Selama berhari-hari kemudian, George berusaha dengan keras mengerjakan kedua soal itu. Tidak seperti biasanya, George merasa kali ini pekerjaan rumah yang diberikan Prof. Jerzy sangat susah.

“Namun, pasti ini ada jawabannya. Pasti ada jawabannya. Aku harus bisa menemukan jawabannya,” gumam George, memberi semangat kepada dirinya sendiri.

Pada akhirnya, George berhasil mengerjakan soal nomor 1. la pun mengumpulkan lembar jawabannya ke ruang sang profesor.

Tak lama kemudian, sang profesor memanggilnya untuk bertemu. la bertanya, bagaimana cara George menyelesaikan soal itu. George pun menceritakan betapa kerasnya upaya yang ia lakukan untuk menyelesaikan soal pekerjaan rumah dari sang profesor.

Setelah mendengar penjelasan George, Profesor Jerzy berkata, “Tahukah engkau? Dua soal yang engkau kira pekerjaan rumah itu sesungguhnya adalah dua soal matematika tersulit di dunia, yang hingga saat ini belum ada satu pun ahli yang berhasil memecahkannya. Aku menuliskannya di papan hanya untuk memberi contoh kepada para mahasiswa di kelas.”

Seketika George Dantzig tersadar. Seandainya ia tidak datang terlambat di kelas itu, ia mungkin masih belum dapat memecahkan soal tersebut, karena sama seperti mahasiswa lainnya, ia mungkin juga berpikir soal itu adalah soal yang tak dapat dipecahkan.

George Dantzig di kemudian hari menjadi profesor matematika yang terkenal di Stanford University. Semua itu berawal dari ketidaksengajaannya memecahkan soal tersulit di dunia yang ia sangka sebagai pekerjaan rumah biasa.

Jangan biarkan hal-hal negatif mendominasi pikiran kita.

Kisah ini membuktikan bahwa pikiran kita memiliki kekuatan yang luar biasa, seandainya kita bisa menjaganya dan menjauhkannya dari hal-hal negatif dan pesimisme.

Napoleon Hill, penulis buku Think and Grow Rich, pernah berkata, “Apa pun yang bisa dibayangkan dan diyakini oleh pikiran manusia, itu akan bisa diraih.”

la menyarankan agar setiap pemburu kesuksesan senantiasa menjaga pikiran tetap positif dan memelihara optimisme. Saat kita memfokuskan diri pada hal-hal positif, otak kita akan bekerja untuk menemukan cara agar hal-hal positif itu bisa terwujud. Sebaliknya, jika kita berfokus pada hal-hal negatif, maka otak kita pun akan mencari jalan agar hal-hal negatif itu bisa terwujud.


  • Buku: Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik
  • Penulis: T. Harry Wilopo

No Pain No Gain

Sudah menjadi hukum alam bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, manusia harus membuat pengorbanan.

Ingin bisa makan 3 kali sehari? Kita harus bekerja untuk mendapatkan penghasilan.

Ingin bisa membeli mobil atau rumah? Kita harus berhemat untuk menabung demi membeli mobil dan rumah.

Ingin memiliki banyak teman? Kita harus menyisihkan energi dan waktu untuk memberikan perhatian kepada orang-orang di sekeliling kita.

Ingin meraih prestasi? Kita terlebih dahulu harus berlatih dan berlatih untuk mendapatkan keahlian atau keterampilan.

Begitu juga dengan kesuksesan. Jika kita ingin hidup sukses, maka kita pun harus membayar harganya. Tak ada kesenangan yang bisa didapatkan tanpa pengorbanan. No pain, no gain!

“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakitsakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Peribahasa ini menggambarkan betapa pentingnya membuat pengorbanan terlebih dahulu, sebelum mendapatkan apa pun yang kita inginkan.

Sejarah telah mencatat, banyak sekali orang hebat yang membuat pengorbanan besar sebelum akhirnya meraih kesuksesan. Elon Musk (CEO Tesla, Space X, serta Neuralink) bekerja sangat keras, hingga akhirnya berhasil menjadi orang terkaya di dunia pada tahun 2021 dengan jumlah kekayaan sekitar 194 miliar dolar atau 2.716 triliun rupiah.

“Saya mengerjakan banyak hal. Umumnya, saya akan berada di rapat hingga pukul 01.00 atau 02.00 pagi hari. Sabtu atau Minggu biasanya tidak, tetapi kerap kali,” ujarnya.

Bagaimana ia bisa bekerja sekeras itu?

“Saya mengurangi waktu tidur tanpa mengurangi produktivitas. Saya tak ingin tidur lebih dari enam jam,” kata Elon Musk mengenai kebiasaannya yang mengantarkannya pada pencapaiannya saat ini.

Abraham Lincoln gagal di bisnis-bisnisnya dan habis-habisan saat harus mengalami kekalahan dalam tujuh kali pemilihan, sebelum akhirnya terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat.

Albert Einstein menderita keterlambatan bicara dan baru mulai berbicara pada umur 4 tahun. Di sekolah, ia sempat dianggap sebagai murid yang terlalu lambat dalam berpikir. Namun, ia tak menyerah dan terus bekerja keras. Hasil tak pernah mengkhianati proses. Sekarang dan di masa depan, orang akan selalu mengenang Albert Einstein sebagai salah satu orang paling jenius di dunia.

Thomas Alva Edison keluar dari sekolah karena gurunya berpikir “ia terlalu bodoh untuk mempelajari apa pun”. la juga telah melakukan ribuan percobaan yang gagal, sebelum menemukan bola lampu, salah satu temuannya yang paling bermanfaat bagi umat manusia.

Michael Jordan dikenang sebagai bintang basket terbesar di dunia. Namun sebelumnya, ia pernah dikeluarkan dari tim basket SMA-nya karena dianggap “kurang memiliki kemampuan bermain basket”. Apakah Jordan berputus asa? Tidak! la terus berlatih dan berlatih. Hasilnya, ia malah menjadi megastar dalam dunia basket dan namanya masih dielukelukan penggemar basket hingga sekarang, jauh setelah ia gantung sepatu.

Kolonel Sanders ditolak oleh 1.000 lebih restoran saat menawarkan resep ayam goreng miliknya. Ia kemudian memutuskan untuk menjual sendiri ayam goreng itu. Hingga kini, orang-orang mengenalnya sebagai kakek yang wajahnya terpampang di setiap gerai KFC.

JK Rowling sebelum menjadi penulis terkenal, hanyalah pengangguran yang terpaksa hidup dari bantuan pemerintah. Setelah ditolak oleh 12 penerbit, naskah Harry Potter miliknya akhirnya laku keras dan menjadi buku terlaris di dunia selama bertahun-tahun.

Selalu dibutuhkan pengorbanan sebelum mendapatkan kesuksesan. Segera setelah merumuskan tujuan hidup, bangunlah mentalitas pemenang. Sadarilah bahwa ada harga yang harus Anda bayar untuk mewujudkan tujuan hidup Anda itu.

Jangan takut untuk meneteskan peluh, demi membuat mimpi Anda menjadi nyata. Jangan juga merasa alergi dengan perubahan, karena terkadang, cara lama tak lagi ampuh untuk mendapatkan suatu kemajuan. Jangan ragu untuk membuang kebiasaan lama yang negatif dan membangun kebiasaan baru yang positif.

Break your old habit and build a new one! Awalnya memang terasa berat, tetapi itu akan memberikan kita hasil yang layak di kemudian hari.

“Untuk mendapatkan apa yang kamu suka, pertama-tama kamu harus bersabar dengan apa yang kamu benci.”

Imam Al-Ghazali

  • Buku: Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Bangun Kebiasaan Baik
  • Oleh: T. Harry Wilopo
  • Pesan Sekarang

Tak Ada Pilihan yang Benar Tanpa Tujuan

Seorang pemuda berdiri di persimpangan jalan. Ia terlihat benar-benar bingung untuk menentukan pilihan jalan mana yang hendak ditempuhnya.

Pada saat yang bersamaan, seorang laki-laki tua nan bijak kebetulan melewati tempat itu. Sang pemuda lalu datang menghampiri.

“Tuan, maaf, bisakah engkau membantuku?” pinta sang pemuda.

“Apa yang bisa aku lakukan untukmu, anak muda?” tanya lelaki tua itu.

Si pemuda menggaruk-garuk kepalanya, tanda bahwa ia sedang dilanda kebingungan. “Saat ini aku sedang tersesat. Bisakah engkau menunjukkan jalan mana yang benar?”

Lelaki tua itu menatap sang pemuda dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia pun tersenyum maklum. “Itu tergantung di mana engkau ingin mengakhiri perjalananmu, anak muda. Ketahuilah bahwa tak ada pilihan yang benar tanpa tujuan.”

Kita tentu sadar, bahwa kehidupan ini selalu dipenuhi berbagai pilihan. Setiap hari, kita harus membuat pilihan, dari hal yang kecil hingga yang terbesar. Pakaian apa yang harus kita kenakan hari ini? Jalan mana yang akan kita tempuh menuju kantor? Menu makan siang apa yang akan kita santap hari ini? Pilihan karier apa yang harus kita jalani? Dengan siapa kita akan menikah?

Begitu pula dengan kesuksesan. Kita harus membuat pilihan-pilihan yang tepat untuk menuju pada kesuksesan yang kita impikan. Hidup adalah pilihan. Namun, tahukah Anda bahwa tidak ada pilihan yang benar tanpa tujuan?

Untuk membuat pilihan yang benar, tentukan dulu tujuan yang benar. Coba pikirkan, apa tujuan yang ingin kita capai dalam hidup. Baru setelah itu, kita bisa menentukan jalan mana yang harus kita tempuh untuk mewujudkannya. Segera setelah kita menentukan tujuan hidup, otak kita akan bekerja dan menunjukkan apa saja yang harus kita kerjakan demi tercapainya tujuan itu.


  • Buku: “Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik” oleh: T. Harry Wilopo Pesan Di Sini

Arah dan Risiko

Sebaliknya, di depan, seorang driver harus menentukan arah, membawa penumpang-penumpangnya ke tempat tujuan dan mengambil risiko. Itulah yang saya maksud dengan sikap mental seorang driver. Dengan menjadi sopir kendaraan, seseorang belum tentu memiliki mental seorang driver. Banyak driver yang sering mengeluh, tak bekerja sepenuh hati, ugal-ugalan, dan merasa jenuh karena tak punya pilihan.

Driver’s mentality yang saya bahas dalam buku ini, pada dasarnya adalah sebuah kesadaran yang dibentuk oleh pengalaman dan pendidikan. Bukan karena tidak punya pilihan. Lihatlah Sano Ami, Sugeng (Bab 4), dan TR yang tak menangisi kehidupannya, malah bertarung habis-habisan agar bisa mengatasi masalah hidupnya sendiri dan tak menjadi beban bagi orang lain.

Seorang driver dak cukup hanya bermodalkan tekad dan mangat, ia butuh referensi dari pengetahuan akademis.

Pendidikan yang mereka jalani adalah proses belajar, yaitu memperbaiki cara berpikimya dan cara menjalani hidup yang menantang. Sayangnya, banyak orang yang menempuh pendidikan tinggi dan menjadi sarjana, tetapi tidak “belajar”. Kalau Anda hanya menghafal, seberapa tingginya pun indeks prestasi Anda, maaf, itu bukanlah berpikir. Belajar artinya adalah berpikir, ibarat seorang driver yang harus cepat mengambil keputusan di jalan raya yang padat. la bisa mengambil jalan-jalan lain yang baru sama sekali. Sedangkan menghafal dapat diibaratkan menjadi penumpang yang boleh mengantuk, tertidur, dan tak perlu mengambil risiko di jalan. Ia selalu melewati jalan yang sama pulang pergi. Membosankan. Driver yang baik memikirkan bagaimana mencapai tujuan tepat waktu, selamat, dan perjalanan menyenangkan. Lagi pula, berpikir tak ada batas waktunya. Ia tak berhenti hanya karena selembar ijazah telah diberikan.

Bagaimana Anda bisa berpikir kalau Anda tidak berani mengambil risiko? Saya tidak pernah mendengar penumpang mobil ditangkap karena mobilnya menabrak orang sampai tewas. Yang kita baca, sopirnyalah yang ditangkap. Menjadi driver mengekspos diri terhadap risiko. Tetapi risiko itu hanya menjadi masalah kalau Anda ugal-ugalan. Terbukti, dari jutaan pengemudi, kurang dari 0,1% yang menimbulkan kecelakaan fatal. Dari 0,1% itu, yang terbesar disebabkan oleh alkohol, kebiasaan-kebiasaan buruk, anak-anak yang tidak diasuh orangtuanya dengan baik, obat-obatan terlarang, atau mengantuk.

Sopir-sopir yang terperangkap dalam kemacetan sudah pasti harus bersabar diri, mengumpat, menyalahkan wali kota atau gubernur. Tak ada orang yang menyalahkan cara berpikirnya sendiri. Padahal, siapa bilang tidak ada jalan lain? Menuju kota Roma saja pintu masuknya ada banyak. Di Indonesia, ada jutaan jalan tikus yang bisa Anda tembus dengan motor ojek. Pilihannya ada banyak, tetapi memulainya tidak mudah. Jalanjalan baru itu memusingkan, banyak jalan buntu. Dan orang yang enggan mencobanya menyebut itu sebagai a dead end (jalan buntu). Padahal, jalan buntu bagi seorang driver adalah sebuah detour (perputaran). Tidak enak memang. Tetapi lamalama Anda akan merasakan manfaatnya karena Anda jadi tahu alternatif.

Mengapa manusia terdidik tidak melakukan seperti itu?

Itulah “passenger mentality”. Kita telah berubah menjadi bangsa yang nyaman. Ketika manusia sudah takut melakukan “kesalahan” kecil maka ia akan masuk ke dalam perangkap mentalitas penumpang. Sekolah tak boleh mendidik anakanaknya takut melakukan kesalahan dengan pendidikan hafalan. Sebab orang-orang yang tak pernah melakukan kesalahan sesungguhnya adalah orang yang tak berbuat apa-apa.

Lantas, bisakah orang-orang yang tak berpendidikan tinggi menjadi driver? Tentu saja bisa. Hanya saja kapasitasnya terbatas. Seorang driver tidak cukup hanya bermodalkan tekad dan semangat. Cara berpikir yang tepat adalah modal penting. Tetapi driver yang hebat juga butuh referensi-referensi kuat yang berasal dari pengetahuan akademis. Kita perlu menghubungkan satu referensi dengan referensi yang lainnya: connecting the dots. Jadi perbaiki dulu cara berpikir, baru kita bicara tentang a driver nation.


  • Buku: “Self Driving,” Rhenald Kasali.
Pesan Sekarang

Melawan Bad Habit Menunda Pekerjaan

Otak kita secara alamiah lebih suka mendapatkan ganjaran lebih cepat dan tidak menyukai ganjaran yang tertunda. Menunda pekerjaan berarti kita mendapatkan waktu santai dengan cepat. Hal inilah yang membuat banyak orang suka menunda pekerjaan, meski ujung-ujungnya kita akan dibuat panik oleh pekerjaan-pekerjaan yang tertunda.

Tanda/Pemicu (Cue):

  • Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Deadline tidak mengikat.

Keinginan (Craving):

  • Ingin segera bersantai.

Perilaku (Routine):

  • Memilih menunda pekerjaan dan menyegerakan bersantai. Pekerjaan baru dikerjakan menjelang tenggat waktu yang ditentukan.

Ganjaran (Reward):

  • Merasa santai.

Efek negatif:

  • Menunda pekerjaan sama saja dengan menunda masalah. Cepat atau lambat, pekerjaan harus diselesaikan. Jika mengerjakan pekerjaan mepet tenggat waktu, kita akan terburu-buru. Akibatnya, hasilnya tidak optimal. Reputasi kita dipertaruhkan di sini. Kita akan mendapatkan citra sebagai pekerja yang baru menyelesaikan pekerjaan di pengujung tenggat dengan hasil yang standar (tidak istimewa). Bagaimana mungkin kita dianggap istimewa, sedangkan hasil kerja kita tidak istimewa?

Solusi:

Menghindari pemicu

  • Anggaplah setiap pekerjaan yang datang harus segera diselesaikan tanpa ditunda-tunda.

Mengubah perilaku

  • Bersantai bisa dilakukan setelah kita menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Berikan reward kepada diri sendiri setiap kali berhasil mengerjakan pekerjaan dengan baik dan tepat waktu. Misal, saya boleh bermain game atau beraktivitas di media sosial setelah seluruh pekerjaan kantor selesai dengan hasil memuaskan.

  • Buku: “Habit Is Power” oleh T. Harry Wilopo
Pesan Di Sini