“Kita adalah apa-apa yang kita lakukan secara berulangulang,”
Aristoteles
Kenyataannya memang seperti itu. Apa pun kemahiran yang kita miliki merupakan hasil dari rangkaian latihan yang telah berulang kali kita kerjakan sebelumnya.
Bagi sebagian besar kita saat ini, berjalan adalah aktivitas yang mudah dilakukan. Namun, orangtua kita tentu menjadi saksi betapa susahnya dulu kita awalnya belajar berjalan. Kita harus berdiri dengan susah payah, lalu melangkahkan kaki selangkah demi selangkah, mencoba menyeimbangkan tubuh, hingga berpegangan pada sesuatu agar tidak terjatuh.
Tak bisa dihitung lagi, berapa kali kita terjatuh saat mencoba belajar berjalan. Namun, kita tak pernah menyerah. Kita selalu bangkit dan tak takut untuk mencoba lagi, berdiri dan berjalan.
Selama beberapa waktu, kita belajar berjalan. Saat itulah, sel saraf di otak kita saling terhubung dan merekam dengan baik hasil latihan itu dan mengirim memori itu ke anggota tubuh, sehingga lama-kelamaan kita sudah mampu berjalan dengan baik, bahkan juga berlari.
Saat ini, berjalan sudah bisa kita lakukan secara otomatis, tanpa harus berpikir terlebih dahulu. Berjalan sudah menjadi kebiasaan dan kita sangat mahir untuk melakukannya. Namun, itu semua butuh waktu.
Untuk mengubah suatu aktivitas menjadi sebuah kebiasaan, dibutuhkan kurun waktu tertentu. Berapa lama, sih, waktu yang kita butuhkan untuk membangun kebiasaan baru? Jawabannya, tergantung pada kemampuan otak masing-masing dalam merekam program baru yang kita inputkan ke dalamnya.
Pada tahun 1950-an, seorang dokter bedah plastik, Maxwell Maltz, menemukan sebuah pola yang terlihat dari pasienpasiennya. Ia memperhatikan, diperlukan sekitar 21 hari bagi pasien-pasiennya untuk membiasakan diri dengan wajah baru mereka usai operasi plastik. Ia juga punya kesimpulan yang sama bagi pasien yang baru saja melakukan amputasi lengan atau kaki. Fakta ini membuat Dr. Mawell Maltz yakin bahwa manusia membutuhkan setidaknya waktu selama 21 hari untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru.
Penelitian soal waktu yang dibutuhkan untuk membentuk kebiasaan baru juga dilakukan oleh Phillippa Lally, seorang peneliti psikologi kesehatan di Universitay College London. la meneliti 96 orang selama 12 minggu. Mereka diminta memilih kebiasaan sederhana baru, seperti meminum sebotol air saat makan siang atau berlari selama 15 menit sebelum makan malam.
Hasilnya, diperoleh kesimpulan, rata-rata orang membutuhkan waktu 66 hari (2 bulan lebih) sebelum akhirnya menjadikan aktivitas baru itu sebagai sebuah kebiasaan yang berjalan secara otomatis. Namun, Phillippa Lally juga memiliki kesimpulan tambahan. Ternyata waktu yang dibutuhkan untuk membentuk kebiasaan baru itu sangat variatif; dipengaruhi oleh perilaku, orang, dan keadaan yang mendukung.
Menurut penelitiannya itu, seorang manusia bisa memiliki kebiasaan baru setelah melakukan aktivitas secara berulang selama 18 hari hingga 254 hari. Artinya, jika kita ingin membentuk kebiasaan baru, maka mulailah melakukan aktivitas pilihan kita dan melakukannya secara berulang selama 3 minggu hingga 8 bulan. Itulah kurun waktu yang dibutuhkan otak kita untuk memprogram sebuah kebiasaan baru. Setelahnya, semua akan berjalan secara otomatis.
“Kebiasaan bukanlah sebuah garis finis yang harus dilalui, melainkan gaya hidup yang harus dijalani.”
James Clear dalam Atomic Habits
- 📕 Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik
- 👤 T. Harry Wilopo


