- Nama: Nicolas Berggruen.
- Lahir: 10 Agustus 1961 di Paris, Perancis
- Kebangsaan: Amerika Serikat dan Jerman.
- Harta kekayaan: US$ 2,3 miliar (Rp 20, 7 triliun) Orang terkaya di dunia peringkat ke-540.
Dengan kekayaan sebesar itu sebetulnya Berggruen bisa hidup senang, karena dapat membeli atau memiliki apa saja yang diinginkannya. Namun uniknya, dia memilih tidak memiliki rumah tinggal tetap, tapi terus mengembara dengan pesawat jet pribadinya dari waktu ke waktu.
Uniknya lagi, dia berkelana dan terus berpindah-pindah dengan hanya menenteng tas kecil berisi baju dan sebuah ponselnya. Dia berpindah-pindah ke sejumlah negara sambil mencari perusahaan-perusahaan untuk dibeli mulai dari Berlin, Bangalore, hingga Brisbane.
Pria tampan yang kini berusia 50 tahun itu menghabiskan hampir sepanjang hidupnya bergerak dari satu negara ke negara lain untuk membeli perusahaan. Dalam satu dekade terakhir, dia tidak memiliki alamat
tetap. Dia secara konsisten menjelajah dunia dengan pesawat jet Gulfstream IV dan tinggal di hotel bintang 5.
“Jika Anda memiliki sesuatu dan jika Anda seorang perfeksionis, yakni seperti saya, Anda harus benar-benar menekuninya dan ini memerlukan energi yang sangat besar dibandingkan hal lainnya,” jelas Berggruen dalam wawancaranya dengan Bloomberg dan dikutip dari Sydney Morning Herald, Kamis, 29 Desember 2011.
Berggruen mengatakan, hidup berhubungan de.ngan kemewahan berubah menjadi beban dan hal itu tidak membuatnya bahagia. “Saya mengerti insting manusia yang ingin menciptakan sebuah tempat tinggal dan ingin memiliki sesuatu untuk dipamerkan. Tapi bagi saya secara pribadi, hal ini menjadi kurang dan kurang menarik,” tambahnya.
Atas dasar itu, pada tahun 2000 Berggruen menjual rumahnya dan menyimpan koleksi benda seninya serta membuang dan menjual sebagian barang-barang pribadinya termasuk mobil. Dia mengatakan keputusannya untuk hidup tak menentu bukan berarti untuk menghindari pajak, bahkan dia mengaku membayar pajaknya di Amerika Serikat.
Dengan harta dan ketampanannya, Burggruen tentu saja mudah mendapatkan perempuan idaman hatinya. Namun Burggruen tidak tertarik untuk menikah dan dia sudah menegaskan tidak tertarik memiliki anak. Meskipun dalam sejumlah kesempatan amal dan event fesyen, dia sering terlihat bersama aktris dan model seperti Gabriella Wright, seorang artis Inggris.
Berggruen juga mengaku memberikan sebagian besar kekayaannya untuk donasi. “Segala sesuatu yang saya lakukan sekarang adalah tentang menumbuhkan jambangan ini sehingga bisa memiliki yang lebih untuk diberikan,” tambahnya lagi.
Menurut data yang dikumpulkan Bloomberg, Burggruen, putra dari pialang seni kaya ini membuat trust fund senilai US$ 250.000 menjadi sebuah kerajaan bisnis bernilai US$ 2,5 miliar. Dalam 3 dekade, investor semakin kaya dengan membeli perusahaan-perusahaan kecil yang hampir mati, menghidupkan, membesarkan dan menjualnya lagi. Dia juga meraup kekayaannya dengan ‘perusahaan cek kosong’: perusahaan luar yang go public dan menggunakan dana tunai atau saham untuk mengakuisisi bisnis yang beroperasi.
“Nicolas adalah investor yang sangat mengerti. Dia memiliki karier yang panjang dan sukses dalam membangun perusahaan dan menyegarkannya lagi,” kata James Hauslein, investor saham yang juga mantan chairman Sunglass Hut International.
Kini, Berggruen harus bergerak lebih jauh untuk menyelamatkan Barat berubah menjadi kekacauan. Dia mengatakan, pasar saham ‘pingsan’ selama tahun 2011 akibat masalah utang di Amerika Serikat dan krisis utang di Eropa. “Apa yang benar-benar Anda dapati adalah krisis tata kelola yang sangat dalam di Barat,” ujarnya.
Untuk mengurangi kelumpuhan politik yang mengancam AS dan Eropa, miliarder nyentrik ini mendonasikan US$ 100 juta untuk menciptakan Nicolas Berggruen Institute yang berkantor di Berlin, Los Angeles, New York dan Washington. Pada awal September, institut itu digabung menjadi sebuah grup yang disebut Council for the Future of Europe. Anggotanya melibatkan mantan pemimpin negara seperti Gerhard Schroeder dari Jerman, Felipe Gonzalez dari Spanyol, mantan Komisi Eropa Jacques Delors dan mantan Perdana Menteri Ingggris Tony Blair sebagai penasihat.
- Buku: The Habits of Millionaires
- Penulis: Zaenuddin HM