Kisah Miliarder Tampan Yang Nyentrik dan Unik

  • Nama: Nicolas Berggruen.
  • Lahir: 10 Agustus 1961 di Paris, Perancis
  • Kebangsaan: Amerika Serikat dan Jerman.
  • Harta kekayaan: US$ 2,3 miliar (Rp 20, 7 triliun) Orang terkaya di dunia peringkat ke-540.

Dengan kekayaan sebesar itu sebetulnya Berggruen bisa hidup senang, karena dapat membeli atau memiliki apa saja yang diinginkannya. Namun uniknya, dia memilih tidak memiliki rumah tinggal tetap, tapi terus mengembara dengan pesawat jet pribadinya dari waktu ke waktu.

Uniknya lagi, dia berkelana dan terus berpindah-pindah dengan hanya menenteng tas kecil berisi baju dan sebuah ponselnya. Dia berpindah-pindah ke sejumlah negara sambil mencari perusahaan-perusahaan untuk dibeli mulai dari Berlin, Bangalore, hingga Brisbane.

Pria tampan yang kini berusia 50 tahun itu menghabiskan hampir sepanjang hidupnya bergerak dari satu negara ke negara lain untuk membeli perusahaan. Dalam satu dekade terakhir, dia tidak memiliki alamat

tetap. Dia secara konsisten menjelajah dunia dengan pesawat jet Gulfstream IV dan tinggal di hotel bintang 5.

“Jika Anda memiliki sesuatu dan jika Anda seorang perfeksionis, yakni seperti saya, Anda harus benar-benar menekuninya dan ini memerlukan energi yang sangat besar dibandingkan hal lainnya,” jelas Berggruen dalam wawancaranya dengan Bloomberg dan dikutip dari Sydney Morning Herald, Kamis, 29 Desember 2011.

Berggruen mengatakan, hidup berhubungan de.ngan kemewahan berubah menjadi beban dan hal itu tidak membuatnya bahagia. “Saya mengerti insting manusia yang ingin menciptakan sebuah tempat tinggal dan ingin memiliki sesuatu untuk dipamerkan. Tapi bagi saya secara pribadi, hal ini menjadi kurang dan kurang menarik,” tambahnya.

Atas dasar itu, pada tahun 2000 Berggruen menjual rumahnya dan menyimpan koleksi benda seninya serta membuang dan menjual sebagian barang-barang pribadinya termasuk mobil. Dia mengatakan keputusannya untuk hidup tak menentu bukan berarti untuk menghindari pajak, bahkan dia mengaku membayar pajaknya di Amerika Serikat.

Dengan harta dan ketampanannya, Burggruen tentu saja mudah mendapatkan perempuan idaman hatinya. Namun Burggruen tidak tertarik untuk menikah dan dia sudah menegaskan tidak tertarik memiliki anak. Meskipun dalam sejumlah kesempatan amal dan event fesyen, dia sering terlihat bersama aktris dan model seperti Gabriella Wright, seorang artis Inggris.

Berggruen juga mengaku memberikan sebagian besar kekayaannya untuk donasi. “Segala sesuatu yang saya lakukan sekarang adalah tentang menumbuhkan jambangan ini sehingga bisa memiliki yang lebih untuk diberikan,” tambahnya lagi.

Menurut data yang dikumpulkan Bloomberg, Burggruen, putra dari pialang seni kaya ini membuat trust fund senilai US$ 250.000 menjadi sebuah kerajaan bisnis bernilai US$ 2,5 miliar. Dalam 3 dekade, investor semakin kaya dengan membeli perusahaan-perusahaan kecil yang hampir mati, menghidupkan, membesarkan dan menjualnya lagi. Dia juga meraup kekayaannya dengan ‘perusahaan cek kosong’: perusahaan luar yang go public dan menggunakan dana tunai atau saham untuk mengakuisisi bisnis yang beroperasi.

“Nicolas adalah investor yang sangat mengerti. Dia memiliki karier yang panjang dan sukses dalam membangun perusahaan dan menyegarkannya lagi,” kata James Hauslein, investor saham yang juga mantan chairman Sunglass Hut International.

Kini, Berggruen harus bergerak lebih jauh untuk menyelamatkan Barat berubah menjadi kekacauan. Dia mengatakan, pasar saham ‘pingsan’ selama tahun 2011 akibat masalah utang di Amerika Serikat dan krisis utang di Eropa. “Apa yang benar-benar Anda dapati adalah krisis tata kelola yang sangat dalam di Barat,” ujarnya.

Untuk mengurangi kelumpuhan politik yang mengancam AS dan Eropa, miliarder nyentrik ini mendonasikan US$ 100 juta untuk menciptakan Nicolas Berggruen Institute yang berkantor di Berlin, Los Angeles, New York dan Washington. Pada awal September, institut itu digabung menjadi sebuah grup yang disebut Council for the Future of Europe. Anggotanya melibatkan mantan pemimpin negara seperti Gerhard Schroeder dari Jerman, Felipe Gonzalez dari Spanyol, mantan Komisi Eropa Jacques Delors dan mantan Perdana Menteri Ingggris Tony Blair sebagai penasihat.


  • Buku: The Habits of Millionaires
  • Penulis: Zaenuddin HM

Kisah Tukang Batu dan Antusiasme

Enthusiasm inspires confidence, raises morale, and build loyalty and priceless.

Ada kisah yang menarik. Konon ada tiga orang tukang batu yang sedang menyusun batu bata di sebuah pusat kota yang ramai. Tiba-tiba seorang pejalan kaki bertanya kepada mereka, “Apa yang sedang Anda kerjakan?”

Tukang batu pertama yang tampak lesu menjawab, “Tidakkah Anda tahu bahwa ini adalah pekerjaan saya untuk mencari nafkah?” Tukang batu kedua yang juga tampak tidak bergairah menjawab, “Saya sedang menyusun batu ini untuk disemen.” Terakhir, tukang batu ketiga dengan penuh antusias menjawab, “Sebentar lagi akan berdiri sebuah monumen yang indah di kota ini, dan saya sedang membangunnya.” Kisah ini menggambarkan bahwa antusiasme membuat perbedaan yang besar tentang cara berpikir dan menjalani hidup dari ketiga tukang batu tersebut.

Dalam melakukan pekerjaan, kita juga sering mengawalinya tanpa antusiasme. Saat berkomunikasi, kadang-kadang kita juga tidak antusias dengan mengatakan segala sesuatu secara “datar”. Padahal, tidak adanya antusiasme akan membuat kita semakin jauh dari kesuksesan.

Antusiasme dan kesuksesan memang dua hal yang saling terkait dan melengkapi. Antusiasme mengawali sebuah kesuksesan. Satu hal yang penting diingat adalah antusiasme hanya akan timbul jika kita sangat berkeinginan mencapai sesuatu, seperti halnya tim-tim sepak bola yang berlaga di Piala Dunia atau seperti kita yang sangat antusias ketika menyaksikan pertandingan tim favorit kita. Oleh karena itu miliki antusiasme yang sama dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Niscaya kesuksesan selalu menyertai kita.


  • Referensi: Be A Great Leader!
  • Penulis: Erwin Tenggono
  • Join the Inspirations Click
  • Join Good Vibes WAG Click
  • Get free ebooks Click
  • Get the books Click

Kisah Dua Nelayan

The pessimist complains about the wind, the optimist expect it to change and the realist will adjust the sail.

Anonim

Ada kisah tentang 2 nelayan yang ingin berlayar ke laut lepas untuk mencari ikan. Malam itu angin berhembus begitu kuat, bahkan lebih kuat dari biasanya. Saat kedua nelayan itu berlayar, nelayan pertama selalu menyalahkan angin yang datang begitu besar sehingga hatinya dipenuhi kekesalan dan kemarahan. Nelayan kedua ternyata lebih sabar. Ia berkeyakinan kuat dan percaya bahwa angin akan berubah arah sehingga nanti ia akan tetap mampu menjala ikan. Tindakan kedua nelayan tersebut tentu sangat berbeda dalam menghadapi kondisi angin malam. Nelayan pertama terus mengumpat dan berusaha mencari cara yang aman agar mampu bertahan dari angin besar. Bahkan mungkin, ia akan menepi. Namun, nelayan kedua akan sungguh-sungguh membentangkan layar, terus mencari posisi yang tepat, dan terus berlayar dengan keyakinan tinggi mampu mengatasi masalah.

Dari cerita tersebut, nelayan pertama adalah orang yang pesimis karena selalu menyalahkan keadaan dan hidup. Sebaliknya, nelayan kedua dapat dikategorikan sebagai orang yang optimis karena memiliki keyakinan tinggi bahwa angin akan berubah suatu saat.

Pesimis atau optimis, mana yang akan kita pilih untuk memandang hari-hari yang akan datang? Saya pribadi tidak memihak kedua nelayan tersebut. Pada situasi yang sangat tidak menentu seperti sekarang ini, saya ingin menjadi nelayan yang ketiga. Nelayan yang ketiga ini berlayar dengan tujuan yang jelas dan tidak pernah menyalahkan situasi-angin yang besar yang ia hadapi atau berharap angin berubah. Namun, ia akan dengan tenang dan cekatan terus menyesuaikan layar sesuai arah angin. Dalam hal ini nelayan ketiga merupakan orang realistis dalam menghadapi ketidakpastian dan tantangan yang ada.

The pessimist complains about the wind, the optimist expect it to change and the realist will adjust the sail. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa sikap yang terbaik untuk hal apa pun adalah realistis, menetapkan tujuan yang jelas dengan kerangka waktu yang jelas (a goal without timeline is not a goal, it is a wish), dan menjalankan semua tujuan itu dengan rencana yang baik dan terus mengamati perkembangan keadaan eksternal dan internal kita, sambil terus melakukan penyesuaian atas segala sumber daya yang kita miliki.


  • Buku: Be A Great Leader!
  • Penulis: Erwin Tenggono
  • Dapatkan 180+ ebook senilai 1 juta Di Sini
  • Dapatkan buku inspirasi lainnya Di Sini

Arti Sebuah Pengalaman

“Orang sukses tidak hanya mampu melakukan pekerjaan dengan baik, tetapi harus mampu mengembangkannya”

Bill Gates

“Orang sukses tidak hanya mampu melakukan pekerjaan dengan baik, tetapi harus mampu mengembangkannya”. Inilah kalimat yang dikatakan Bill Gates dalam sebuah bukunya. Dan, kalimat tersebut kemudian mengilhami cara saya berpikir sejak beberapa tahun ini. Karena itu agar mampu bertahan dan sukses dalam perubahan apa pun, kekuatan yang terbaik adalah mengembangkan pekerjaan yang diberikan kepada kita.

Dalam perjalanan saya berkereta api ke Bandung, saya terlibat diskusi dengan seorang teman. Topik yang kami diskusikan saat itu berkisar dari perubahan kepemimpinan negara, perkembangan teknologi internet yang begitu cepat dalam dua tahun terakhir ini, tantangan AFTA yang sudah di depan mata, hingga peran BPOM dalam menentukan arah industri farmasi. Dalam pembicaraan tersebut, ada satu kata yang sering dilontarkan, yaitu tambahan “pengalaman” dalam cara berpikir dan bekerja saat ini.

Kita juga sering melontarkan kata “pengalaman”, misalnya saja “pengalaman kerja”. Jadi apa makna kata “pengalaman” ini? Secara sederhana, pengalaman itu dapat diartikan melakukan pekerjaan baru setiap hari atau menemukan suatu cara baru (do something new, get something new). Jadi, apabila kita melakukan sesuatu secara rutin tanpa berupaya melakukan perubahan menjadi lebih baik, apakah kita bisa menyebutnya mendapat pengalaman kerja?

Dengan memahami kata “pengalaman” lebih dalam, saya sependapat dengan pemikiran Bill Gates. Setiap orang yang ingin sukses tidak cukup hanya menjalankan pekerjaan dengan baik, tetapi harus mampu mengembangkan pekerjaannya. Untuk itu kita perlu berpikir, adakah suatu pengalaman baru yang kita dapatkan dari pekerjaan kita selama ini, atau kita hanya menjalankan kebiasaan/rutinitas kerja agar pekerjaan kita baik adanya?

Dalam kondisi yang dipengaruhi faktor-faktor eksternal yang berubah sangat cepat, tampaknya kita tidak dapat berdiam diri menerima dampak perubahan. Kita juga harus berpikir atau bekerja dengan cara baru yang lebih baik. Ketika AFTA 2015 diterapkan, terjadi single market, free flow of good, dan free flow of services. Dengan begitu apakah kita memilih hanya terus berdiam diri karena bisnis telah aman, mulai mengantisipasi persaingan, atau melihat bahwa pasar yang kita garap akan menjadi 500 juta penduduk Asean, tidak hanya Indonesia saja.


  • Buku: Be A Great Leader!
  • Penulis: Erwin Tenggono
  • Get free ebooks Di Sini
  • Get Inspirational Books Di Sini

Bekerja dengan Hati, Suatu Kesuksesan Besar

Menjual itu mudah. Yang sulit adalah bagaimana membuat orang membeli produk kita.

Akhir Maret 2001, beberapa teman termasuk saya mulai melakukan evaluasi atas rencana yang dibuat tahun 2001. Pada suatu kesempatan kami berkumpul untuk makan siang bersama di sebuah restoran. Saat itu kami sempat mendiskusikan beberapa hal. Ada satu hal yang menarik yang menginspirasi tulisan saya ini. Seorang teman, pengusaha apotek, bertanya mengapa ketika tren penjualan menurun, ada apotek yang sepi dan ramai, padahal keduanya terletak di satu daerah yang sama, bahkan hanya berbeda beberapa toko saja.

Kemudian seseorang menjawab spontan. Menjual itu memang mudah. Hal yang lebih sulit adalah bagaimana membuat orang bisa membeli dari kita. Jadi jawaban pertanyaan tersebut sebenarnya tidak sulit, yaitu bekerja dengan hati yang besar karena itulah awal yang akan membawa kita pada kesuksesan besar. Hati adalah pikiran terdalam seorang manusia. Jadi ketika ingin melakukan sesuatu, lakukanlah dengan sepenuh hati. Orang di sekitar kita pun akan turut merasakannya dan kemudian memberi tanggapan yang baik. Dan, saat itulah hubungan emosional yang dalam terbentuk. Pada titik inilah terjadi keterikatan hubungan emosional dan persepsi dari pelanggan.

Pada akhir diskusi tersebut, rekan pengusaha apotek tersebut mendapatkan suatu pemikiran besar bahwa:

  1. Bisnis apotek adalah melayani orang sakit. Senyuman, keramahan, dan empati merupakan hal yang mutlak.
  2. Mereka yang sakit sangat membutuhkan informasi mengenai obat. Penjelasan yang singkat dan padat akan sangat bermanfaat dalam menenangkan keluarga atau diri pasien sendiri.
  3. Ketika sakit, hal yang paling dibutuhkan pasien adalah istirahat. Jadi kecepatan pelayanan menjadi mutlak agar mereka dapat cepat kembali ke rumah.

Ketiga hal tersebut merupakan hasil pemikiran dengan hati yang besar, suatu langkah besar yang harus dimulai dalam memperbaiki bisnis yang ia geluti. Namun, hal terpenting adalah apakah kita masing-masing memiliki pemikiran dengan hati yang besar agar mampu memberikan sesuatu yang lebih baik bagi lingkungan?

Dalam segala kondisi yang kita rasakan, suka atau duka, tetaplah bersikap tenang dan bersama-sama belajar berpikir serta bekerja dengan hati yang besar.

Kesuksesan pun akan menyertai kita semua.


  • Referensi: Be A Great Leader!
  • Penulis: Erwin Tenggono
  • Join the Inspiration Di Sini
  • Get the inspirational books Di Sini

Tinggikan Langit-Langit Kehidupan Anda

Pada awal tahun, setiap individu mulai memikirkan kembali apa yang telah kita capai pada tahun lalu dan apa yang ingin kita raih pada tahun mendatang, baik tentang rencana kerja dalam perusahaan, keluarga, maupun secara individu. Saat inilah, istilah langitlangit kehidupan mulai muncul dalam pikiran kita. Saat kita berkarya, langit-langit kehidupan kita sangat menentukan apa yang ingin kita capai dalam setiap tindakan.

Ada beberapa hal yang harus kita yakini jika ingin meninggikan langit-langit kehidupan, yaitu:

  1. Semua orang mampu berkarya. Kemauan seseoranglah yang menentukan bisa tidaknya suatu karya besar dibuat.
  2. Tidak mengandalkan masa depan kita sendiri berada di tangan orang lain, baik itu pimpinan maupun perusahaan. Masa depan kita sepenuhnya berada di tangan kita.

Pemahaman setiap orang terhadap kedua pernyataan ini dapat sangat berbeda karena latar belakang pribadi, lingkungan, dan faktor-faktor lainnya. Dan, dari sinilah sering kali bermulanya suatu tantangan untuk meninggikan langit kehidupan kita.

Setiap tahun kita selalu dihadapkan pada tantangan dan kesempatan yang berbeda. Karena itu pemikiran yang segar dan motivasi yang besar sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan sesuatu yang lebih baik dalam diri kita. Persaingan akan semakin ketat pada masa mendatang sehingga kompetensi yang dibutuhkan, dalam setiap hasil karya, akan terus berubah ke tingkat yang lebih tinggi.

Liburan yang lalu saya bertemu dengan seorang Opa yang telah saya kenal baik. Umurnya sekitar 60 tahun dan hari-harinya banyak dihabiskan di rumah. Pekerjaan si Opa adalah penjahit pakaian. Di tengah pembicaraan kami, Opa bercerita bahwa ia sering mendatangi warnet untuk menggunakan fasilitas chatting, e-mail, dan surfing di internet.

Mendengar hal itu saya sangat terkejut sekaligus kagum. Lantas saya bertanya lagi, bagaimana ia bisa mengenal warnet. Jawaban yang diberikan Opa sangat sederhana. Sebagai orang yang sudah tua, ia selalu takut kesepian; anak-anaknya berada di luar pulau sedangkan biaya interlokal pun semakin mahal. Jawaban sederhana tersebut benar-benar membuat saya kagum. Meskipun terdengar sangat sederhana, dalam jawaban tersebut tercermin motivasi yang sangat besar. Opa telah meninggikan langit kehidupannya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan kompetensinya. Dan, alangkah baiknya jika pemikiran Opa ini ada pada setiap individu.

Setiap tahun memiliki tantangan tersendiri. Dengan motivasi besar dan memiliki langit kehidupan yang tinggi, serta bersandar pada kekuatan-Nya, mari bersama-sama kita menjalani hari dengan keyakinan menuju sukses yang lebih besar.


  • Referensi: Be A Great Leader!
  • Penulis: Erwin Tenggono
  • Join the Inspiration Di Sini
  • Get Free Ebooks Download

Tahapan Antara dan Proses

“Don’t focus on going from 0 to 100. Focus on going from 0 to 10, then 10 to 20, then 20 to 40. And so on and so on until you get 100. Trust the process. Enjoy the process. Step by step. You will be there.”

Jack Ma

Orang² baik sejak dulu selalu punya kegelisahan terhadap situasi dan kondisi yang bersifat merusak. Dari celah lubang kecil di atas sebuah bukit, meneropong kondisi ummatnya penyembah berhala. Gelisah. Lalu disusunlah tahapan² kerja. Step by step. Membidik. Merekrut keluarga dan orang² dekat. Merekrut orang² kuat. Dst.

Situasi yang membuat gelisah memunculkan obsesi. Ada tekad dan semangat. Ada motivasi. Obsesi memang tinggi letaknya. Ingin mencapai juara, ingin meraih kondisi ini itu, ingin kebaikan² segera terealisir di kampung dan di negeri², dsb.

Demikian juga dalam memperbaiki tabiat anak, membangun fikroh keluarga, membina masyarakat.

Namun, apapun yang tinggi, pasti melewati jalan², tapak², proses, dan berbagai fenomena.  Bukan terbang melayang lalu sampai. Demikianlah para pendaki gunung melewati tahapan pos² sebelum sampai puncak. Di pos itu dilakukan evaluasi, review, memastikan kesiapan anggota²nya menuju pos berikutnya yang lebih tinggi. Sebab ketidaksiapan itu sering merugikan bahkan membahayakan.

Tahapan antara menuju obsesi perlu ditetapkan. Perlahan dan bersabar menapaki mimpi menikmati proses. Bahwa sebelum mencapai 100, selesaikan lah 10, 20, 30 dst.

Sebab sesuatu yang instan, karbitan, pemaksaan jabatan/posisi tanpa bersabar menjalani proses, pemberian amanah yang belum waktunya, seringkali bermasalah. Masalah yang bukan hanya merugikan diri sendiri, tapi juga merugikan orang lain, organisasi, bahkan membahayakan satu negeri. Dirinya tak menikmati, negeri pun tak bisa menikmati. Terkadang malah menimbulkan ketegangan yang harusnya tak perlu dan tak terjadi.

Seseorang dengan kualitas pentungan, tentu berbahaya jika diberi amanah senjata api. Seseorang dengan kualitas pada titik Kepala Desa, maka jabatan Gubernur (misalnya) akan merugikan dirinya dan masyarakatnya. Itulah tahapan dan tujuan antara. Agar tidak prematur yang membahayakan.

Pentingnya proses, hingga seorang bijak mengingatkan, jika kalian tidak bersabar di jalan ini, tidak bersabar dalam mengikuti proses mencapai tujuan kemuliaan, tidak sabar memetik buah sebelum matang dan ranum, silahkan keluar dan cari jalan lain. Dan itu lebih baik bagi orang² yang bersabar dalam bekerja untuk kebaikan.


Spirit of Competition

Pernahkah Anda bermimpi berada di satu pasukan tempur yang terlengkap baik dari jumlah serdadu, tentara, dan teknologi, serta dilengkapi dengan kapal induk dan pesawat tempur tercanggih yang tidak dimiliki negara lain? Selain itu, Anda juga mempunyai panglima perang yang terkenal andal dalam strategi maupun teknis operasional peperangan. Dengan kekuatan yang Anda miliki, Anda mulai melakukan peperangan dan penyerbuan secara besar-besaran. Seluruh pasukan Anda kerahkan untuk memenangi peperangan tersebut, baik lewat udara maupun laut. Peluru kendali dan segala jenis bom juga Anda pergunakan untuk memenangi peperangan. Waktu berjalan dan tanpa terasa Anda telah melakukan peperangan bertahun lamanya. Dan, walaupun telah berhasil menghancurkan banyak pertahanan musuh, Anda harus berjalan lesu menerima kekalahan. Inilah suatu kenyataan yang harus diterima Amerika Serikat saat perang Vietnam, di mana mereka lebih unggul ditilik dari segi kekuatan. Apa yang menjadi kekuatan ataupun keunggulan si kecil Vietnam saat itu hanya satu, yaitu semangat atau spirit untuk memenangi pertempuran. Semangat yang tidak pernah padam walaupun digempur oleh kekuatan bom dan peluru kendali. Dari kenyataan ini kita melihat bahwa semangat adalah suatu keunggulan bersaing (competitive advantage) yang bisa mendatangkan kekuatan untuk memenangi peperangan dan persaingan.

Pada akhir tahun kita cenderung disibukkan dengan semua pembuatan rencana kerja, penyusunan, strategi, stock opname, dan tentu saja perhitungan keuntungan perusahaan pada tahun yang sedang berjalan. Dan, dalam kehidupan sehari-hari kita selalu bersama-sama dengan rekan sekerja, atasan, dan bawahan. Oleh karena itu saat akhir tahun inilah waktu terbaik bagi kita untuk meluangkan waktu sesaat, menjabat tangan dan berbicara dengan mereka. Hasilnya, kita akan mengetahui seberapa besar semangat mereka dalam membantu kita membangun perusahaan atau bisnis kita. Saya selalu percaya bahwa sebuah tim dapat membuat suatu keajaiban dalam situasi tersulit apa pun sebab karyawan dan rekan kerja adalah harta terbesar yang kita miliki. Ini sama seperti pendapat seorang pengusaha terbesar di dunia. Saat perusahaannya bangkrut, dia berkata kepada pihak bank yang memberikan pinjaman dan semua penyuplainya, “Anda dapat mengambil semua harta dan perusahaan saya, tetapi tidak orang-orang saya. Bersama mereka saya dapat membangun suatu perusahaan baru.” Perusahaan tersebut adalah perusahaan mobil Ford yang merupakan salah satu perusahaan terbesar di dunia hari ini.

Tanpa merenungkan kata-kata ini, kita tidak pernah menyadari bahwa semangatlah yang membuat kita tetap hadir dan berjuang dengan segala kesulitan kita dalam menghadapi krisis, ekonomi, serta politik yang relatif tidak menentu. Dalam bahasa China, krisis terdiri atas dua kata yaitu Wei Ji; Wei dari kata Wei Xian yang berarti bahaya dan Ji dari kata Ji Hui yang berarti peluang. Dengan demikian, peluang di segala tingkat organisasi, perusahaan, dan bisnis apa pun bisa digali dengan adanya semangat yang sangat besar.

Memasuki tahun baru ada banyak hal yang perlu disiapkan, baik berbenah atas perubahan regulasi pemerintah, maupun hal-hal lain di bidang kinerja keuangan ataupun bisnis. Biarlah semangat itu tetap ada dan menjadi kekuatan tersendiri bagi kita untuk saling memberikan kekuatan, yakni kekuatan motivasi untuk menumbuhkan semangat baik dalam kata maupun tindakan. Waktu telah membuktikan pada kita bahwa “semangat” merupakan suatu kekuatan yang memberikan kemenangan dan kekuatan bagi kita. Ingatlah, semangat merupakan bagian nyata dari keunggulan bersaing (spirit is a strong part of competitive advantage).

Spirit is a strong part of competitive advantage.

Anonim
  • Referensi: Be A Great Leader!
  • Penulis: Erwin Tenggono

Berharganya Sebuah Pengalaman dan Keahlian

Mesin sebuah kapal berdimensi raksasa dalam kondisi rusak dan tidak ada yang bisa memperbaikinya, jadi perusahaan pemilik kapal meminta seorang insinyur mesin dengan pengalaman lebih dari 40 tahun.

Insinyur mesin tersebut lalu memeriksa mesin dengan sangat hati-hati, dari atas ke bawah. Setelah melihat semuanya, insinyur itu menurunkan tasnya dan mengeluarkan palu kecil.

Dia mengetuk suatu bagian mesin kapal dengan lembut beberapa kali. Tak lama kemudian, mesin hidup kembali. Mesin kapal tersebut kini telah berhasil diperbaiki!

7 hari kemudian insinyur mesin tersebut menyebutkan bahwa biaya total perbaikan kapal raksasa tersebut adalah $ 20.000 (lebih dari Rp 300 juta) kepada pemilik kapal.

Apa ?!” kata pemilik kapal (setelah mendengar biaya yang diminta oleh insinyur mesin tersebut).

Anda hampir tidak melakukan apa-apa (yakni hanya mengetuk mesin kapal tersebut dengan palu kecil). Kami minta tagihan (untuk perbaikan mesin kapal tersebut) secara terperinci.”

Jawaban insinyur mesin itu sederhana:

  • Biaya mengetuk dengan palu = $2
  • Biaya untuk mengetahui bagian mana dari mesin kapal yang harus diketuk dan berapa kali yang harus diketuk = $19.998

***

Inilah pentingnya menghargai keahlian dan pengalaman seseorang, karena hal tersebut adalah buah hasil dari perjuangan, percobaan dan bahkan air mata.

Jika Saya menyelesaikan pekerjaan ini (yang rumit dan berat) hanya dalam 30 menit itu karena Saya telah menghabiskan 40 tahun belajar (tentang mesin kapal secara mendalam) bagaimana melakukan perbaikan kerusakan mesin kapal dalam 30 menit (sementara cukup lama dan banyak orang yang telah gagal memperbaikinya).

Anda berutang kepada Saya selama bertahun-tahun (yang saya habiskan sebagai pengalaman profesional), bukan hanya berhutang dari jumlah menit yang saya luangkan untuk memperbaiki mesin tersebut.


Mencabut “Sebatang Pohon” Kebiasaan Buruk

Seorang anak laki-laki sedang berjalan-jalan di sebuah hutan bersama ayahnya. Mereka lalu berhenti sesaat di sebuah tempat. Ayahnya berkata, “Nak, bisakah engkau mencabut sebatang pohon kecil itu?”

Anak laki-laki itu menuruti permintaan ayahnya. Dengan satu tangan, ia berhasil mencabut pohon kecil yang ditunjuk sang ayah.

Mereka lanjut berjalan. Sang ayah lalu menunjuk sebuah pohon yang ukurannya lebih besar dari pohon pertama tadi. “Bagaimana dengan pohon itu? Bisakah engkau mencabutnya?”

Si anak laki-laki berjalan mendekati pohon itu. Ia mencoba mencabut pohon dengan satu tangan, tetapi gagal. Ia pun mengerahkan kedua tangannya untuk mencabut pohon itu. Barulah upayanya berhasil.

Keduanya kembali berjalan. Tiba di hadapan sebuah pohon besar yang berumur tua, sang ayah menepuk-nepuk batang pohon tua itu sambil memandang ke anaknya.

“Bagaimana dengan pohon besar ini, Nak? Apakah kamu kuat mencabutnya?”

Anak lelaki itu tahu, hampir mustahil untuk mencabut pohon sebesar itu dengan tangan kosong. Namun, ia tetap mendatangi pohon tersebut dan mencoba mencabutnya.

Seperti yang ia duga, pohon itu terlalu kukuh untuknya. la pun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, “Aku tak bisa mencabutnya, Ayah. Bahkan bila aku kerahkan seluruh tenagaku, pohon itu tetap tidak bisa aku cabut. Butuh mesin yang besar dan kuat untuk mencabutnya.”

Ayahnya tersenyum mendengar jawaban si anak, lalu berkata, “Kamu benar. Pohon-pohon ini seperti sebuah kebiasaan buruk. Kebiasaan buruk yang berjalan belum terlalu lama akan mudah dihapuskan, seperti pohon kecil pertama yang engkau cabut tadi.”

“Adapun kebiasaan buruk yang sudah dibiarkan berjalan cukup lama, masih bisa dihilangkan asalkan engkau mengeluarkan seluruh tenaga seperti yang kamu lakukan pada pohon kedua tadi,” kata ayahnya lagi.

“Namun, untuk kebiasaan buruk yang sudah menetap lama dalam diri kita,” ujar ayahnya sambil menatap pohon besar di hadapan mereka, “ia serupa dengan pohon tua ini. la besar dan kuat. Akan sangat sulit untuk menghilangkannya.”

Si anak lelaki mengangguk-angguk tanda paham.

“Oleh karena itu, Nak, bangunlah kebiasaan-kebiasaan baik di dalam dirimu, lalu peliharalah ia sehingga menjadi kukuh seperti pohon ini. Sebaliknya, segera hapus kebiasaan-kebiasaan buruk yang ada dalam dirimu. Jangan biarkan ia makin kuat dan makin besar, karena kelak, engkau akan kesulitan untuk menghapuskannya.”

***

Begitulah sifat kebiasaan. Jika ia telah berdiam lama dalam diri kita, telah berulang kali kita kerjakan, maka akan makin sulit bagi kita untuk menghentikannya.

Jadi, jangan pernah menunda memulai upaya menghentikan kebiasaan buruk, karena makin awal kita melakukannya, akan makin baik. Namun, tentu saja, cara terbaik untuk menghentikan sebuah kebiasaan buruk adalah dengan jangan pernah memulainya. Jangan pernah menanam pohon yang tak bisa engkau tebang.

“Jika kebiasaan buruk makin besar, maka ia akan mendominasi kehidupan kita, sehingga makin jauhlah diri kita dari impian yang ingin dituju.”


  • Buku: “Habit is Power” dan “Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik”
  • Penulis: T. Harry Wilopo
  • Pesan Di Sini