Spirit of Competition

Pernahkah Anda bermimpi berada di satu pasukan tempur yang terlengkap baik dari jumlah serdadu, tentara, dan teknologi, serta dilengkapi dengan kapal induk dan pesawat tempur tercanggih yang tidak dimiliki negara lain? Selain itu, Anda juga mempunyai panglima perang yang terkenal andal dalam strategi maupun teknis operasional peperangan. Dengan kekuatan yang Anda miliki, Anda mulai melakukan peperangan dan penyerbuan secara besar-besaran. Seluruh pasukan Anda kerahkan untuk memenangi peperangan tersebut, baik lewat udara maupun laut. Peluru kendali dan segala jenis bom juga Anda pergunakan untuk memenangi peperangan. Waktu berjalan dan tanpa terasa Anda telah melakukan peperangan bertahun lamanya. Dan, walaupun telah berhasil menghancurkan banyak pertahanan musuh, Anda harus berjalan lesu menerima kekalahan. Inilah suatu kenyataan yang harus diterima Amerika Serikat saat perang Vietnam, di mana mereka lebih unggul ditilik dari segi kekuatan. Apa yang menjadi kekuatan ataupun keunggulan si kecil Vietnam saat itu hanya satu, yaitu semangat atau spirit untuk memenangi pertempuran. Semangat yang tidak pernah padam walaupun digempur oleh kekuatan bom dan peluru kendali. Dari kenyataan ini kita melihat bahwa semangat adalah suatu keunggulan bersaing (competitive advantage) yang bisa mendatangkan kekuatan untuk memenangi peperangan dan persaingan.

Pada akhir tahun kita cenderung disibukkan dengan semua pembuatan rencana kerja, penyusunan, strategi, stock opname, dan tentu saja perhitungan keuntungan perusahaan pada tahun yang sedang berjalan. Dan, dalam kehidupan sehari-hari kita selalu bersama-sama dengan rekan sekerja, atasan, dan bawahan. Oleh karena itu saat akhir tahun inilah waktu terbaik bagi kita untuk meluangkan waktu sesaat, menjabat tangan dan berbicara dengan mereka. Hasilnya, kita akan mengetahui seberapa besar semangat mereka dalam membantu kita membangun perusahaan atau bisnis kita. Saya selalu percaya bahwa sebuah tim dapat membuat suatu keajaiban dalam situasi tersulit apa pun sebab karyawan dan rekan kerja adalah harta terbesar yang kita miliki. Ini sama seperti pendapat seorang pengusaha terbesar di dunia. Saat perusahaannya bangkrut, dia berkata kepada pihak bank yang memberikan pinjaman dan semua penyuplainya, “Anda dapat mengambil semua harta dan perusahaan saya, tetapi tidak orang-orang saya. Bersama mereka saya dapat membangun suatu perusahaan baru.” Perusahaan tersebut adalah perusahaan mobil Ford yang merupakan salah satu perusahaan terbesar di dunia hari ini.

Tanpa merenungkan kata-kata ini, kita tidak pernah menyadari bahwa semangatlah yang membuat kita tetap hadir dan berjuang dengan segala kesulitan kita dalam menghadapi krisis, ekonomi, serta politik yang relatif tidak menentu. Dalam bahasa China, krisis terdiri atas dua kata yaitu Wei Ji; Wei dari kata Wei Xian yang berarti bahaya dan Ji dari kata Ji Hui yang berarti peluang. Dengan demikian, peluang di segala tingkat organisasi, perusahaan, dan bisnis apa pun bisa digali dengan adanya semangat yang sangat besar.

Memasuki tahun baru ada banyak hal yang perlu disiapkan, baik berbenah atas perubahan regulasi pemerintah, maupun hal-hal lain di bidang kinerja keuangan ataupun bisnis. Biarlah semangat itu tetap ada dan menjadi kekuatan tersendiri bagi kita untuk saling memberikan kekuatan, yakni kekuatan motivasi untuk menumbuhkan semangat baik dalam kata maupun tindakan. Waktu telah membuktikan pada kita bahwa “semangat” merupakan suatu kekuatan yang memberikan kemenangan dan kekuatan bagi kita. Ingatlah, semangat merupakan bagian nyata dari keunggulan bersaing (spirit is a strong part of competitive advantage).

Spirit is a strong part of competitive advantage.

Anonim
  • Referensi: Be A Great Leader!
  • Penulis: Erwin Tenggono

Berharganya Sebuah Pengalaman dan Keahlian

Mesin sebuah kapal berdimensi raksasa dalam kondisi rusak dan tidak ada yang bisa memperbaikinya, jadi perusahaan pemilik kapal meminta seorang insinyur mesin dengan pengalaman lebih dari 40 tahun.

Insinyur mesin tersebut lalu memeriksa mesin dengan sangat hati-hati, dari atas ke bawah. Setelah melihat semuanya, insinyur itu menurunkan tasnya dan mengeluarkan palu kecil.

Dia mengetuk suatu bagian mesin kapal dengan lembut beberapa kali. Tak lama kemudian, mesin hidup kembali. Mesin kapal tersebut kini telah berhasil diperbaiki!

7 hari kemudian insinyur mesin tersebut menyebutkan bahwa biaya total perbaikan kapal raksasa tersebut adalah $ 20.000 (lebih dari Rp 300 juta) kepada pemilik kapal.

Apa ?!” kata pemilik kapal (setelah mendengar biaya yang diminta oleh insinyur mesin tersebut).

Anda hampir tidak melakukan apa-apa (yakni hanya mengetuk mesin kapal tersebut dengan palu kecil). Kami minta tagihan (untuk perbaikan mesin kapal tersebut) secara terperinci.”

Jawaban insinyur mesin itu sederhana:

  • Biaya mengetuk dengan palu = $2
  • Biaya untuk mengetahui bagian mana dari mesin kapal yang harus diketuk dan berapa kali yang harus diketuk = $19.998

***

Inilah pentingnya menghargai keahlian dan pengalaman seseorang, karena hal tersebut adalah buah hasil dari perjuangan, percobaan dan bahkan air mata.

Jika Saya menyelesaikan pekerjaan ini (yang rumit dan berat) hanya dalam 30 menit itu karena Saya telah menghabiskan 40 tahun belajar (tentang mesin kapal secara mendalam) bagaimana melakukan perbaikan kerusakan mesin kapal dalam 30 menit (sementara cukup lama dan banyak orang yang telah gagal memperbaikinya).

Anda berutang kepada Saya selama bertahun-tahun (yang saya habiskan sebagai pengalaman profesional), bukan hanya berhutang dari jumlah menit yang saya luangkan untuk memperbaiki mesin tersebut.


Mencabut “Sebatang Pohon” Kebiasaan Buruk

Seorang anak laki-laki sedang berjalan-jalan di sebuah hutan bersama ayahnya. Mereka lalu berhenti sesaat di sebuah tempat. Ayahnya berkata, “Nak, bisakah engkau mencabut sebatang pohon kecil itu?”

Anak laki-laki itu menuruti permintaan ayahnya. Dengan satu tangan, ia berhasil mencabut pohon kecil yang ditunjuk sang ayah.

Mereka lanjut berjalan. Sang ayah lalu menunjuk sebuah pohon yang ukurannya lebih besar dari pohon pertama tadi. “Bagaimana dengan pohon itu? Bisakah engkau mencabutnya?”

Si anak laki-laki berjalan mendekati pohon itu. Ia mencoba mencabut pohon dengan satu tangan, tetapi gagal. Ia pun mengerahkan kedua tangannya untuk mencabut pohon itu. Barulah upayanya berhasil.

Keduanya kembali berjalan. Tiba di hadapan sebuah pohon besar yang berumur tua, sang ayah menepuk-nepuk batang pohon tua itu sambil memandang ke anaknya.

“Bagaimana dengan pohon besar ini, Nak? Apakah kamu kuat mencabutnya?”

Anak lelaki itu tahu, hampir mustahil untuk mencabut pohon sebesar itu dengan tangan kosong. Namun, ia tetap mendatangi pohon tersebut dan mencoba mencabutnya.

Seperti yang ia duga, pohon itu terlalu kukuh untuknya. la pun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, “Aku tak bisa mencabutnya, Ayah. Bahkan bila aku kerahkan seluruh tenagaku, pohon itu tetap tidak bisa aku cabut. Butuh mesin yang besar dan kuat untuk mencabutnya.”

Ayahnya tersenyum mendengar jawaban si anak, lalu berkata, “Kamu benar. Pohon-pohon ini seperti sebuah kebiasaan buruk. Kebiasaan buruk yang berjalan belum terlalu lama akan mudah dihapuskan, seperti pohon kecil pertama yang engkau cabut tadi.”

“Adapun kebiasaan buruk yang sudah dibiarkan berjalan cukup lama, masih bisa dihilangkan asalkan engkau mengeluarkan seluruh tenaga seperti yang kamu lakukan pada pohon kedua tadi,” kata ayahnya lagi.

“Namun, untuk kebiasaan buruk yang sudah menetap lama dalam diri kita,” ujar ayahnya sambil menatap pohon besar di hadapan mereka, “ia serupa dengan pohon tua ini. la besar dan kuat. Akan sangat sulit untuk menghilangkannya.”

Si anak lelaki mengangguk-angguk tanda paham.

“Oleh karena itu, Nak, bangunlah kebiasaan-kebiasaan baik di dalam dirimu, lalu peliharalah ia sehingga menjadi kukuh seperti pohon ini. Sebaliknya, segera hapus kebiasaan-kebiasaan buruk yang ada dalam dirimu. Jangan biarkan ia makin kuat dan makin besar, karena kelak, engkau akan kesulitan untuk menghapuskannya.”

***

Begitulah sifat kebiasaan. Jika ia telah berdiam lama dalam diri kita, telah berulang kali kita kerjakan, maka akan makin sulit bagi kita untuk menghentikannya.

Jadi, jangan pernah menunda memulai upaya menghentikan kebiasaan buruk, karena makin awal kita melakukannya, akan makin baik. Namun, tentu saja, cara terbaik untuk menghentikan sebuah kebiasaan buruk adalah dengan jangan pernah memulainya. Jangan pernah menanam pohon yang tak bisa engkau tebang.

“Jika kebiasaan buruk makin besar, maka ia akan mendominasi kehidupan kita, sehingga makin jauhlah diri kita dari impian yang ingin dituju.”


  • Buku: “Habit is Power” dan “Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik”
  • Penulis: T. Harry Wilopo
  • Pesan Di Sini

Waktu yang Dibutuhkan untuk Membentuk Kebiasaan Baru

“Kita adalah apa-apa yang kita lakukan secara berulangulang,”

Aristoteles

Kenyataannya memang seperti itu. Apa pun kemahiran yang kita miliki merupakan hasil dari rangkaian latihan yang telah berulang kali kita kerjakan sebelumnya.

Bagi sebagian besar kita saat ini, berjalan adalah aktivitas yang mudah dilakukan. Namun, orangtua kita tentu menjadi saksi betapa susahnya dulu kita awalnya belajar berjalan. Kita harus berdiri dengan susah payah, lalu melangkahkan kaki selangkah demi selangkah, mencoba menyeimbangkan tubuh, hingga berpegangan pada sesuatu agar tidak terjatuh.

Tak bisa dihitung lagi, berapa kali kita terjatuh saat mencoba belajar berjalan. Namun, kita tak pernah menyerah. Kita selalu bangkit dan tak takut untuk mencoba lagi, berdiri dan berjalan.

Selama beberapa waktu, kita belajar berjalan. Saat itulah, sel saraf di otak kita saling terhubung dan merekam dengan baik hasil latihan itu dan mengirim memori itu ke anggota tubuh, sehingga lama-kelamaan kita sudah mampu berjalan dengan baik, bahkan juga berlari.

Saat ini, berjalan sudah bisa kita lakukan secara otomatis, tanpa harus berpikir terlebih dahulu. Berjalan sudah menjadi kebiasaan dan kita sangat mahir untuk melakukannya. Namun, itu semua butuh waktu.

Untuk mengubah suatu aktivitas menjadi sebuah kebiasaan, dibutuhkan kurun waktu tertentu. Berapa lama, sih, waktu yang kita butuhkan untuk membangun kebiasaan baru? Jawabannya, tergantung pada kemampuan otak masing-masing dalam merekam program baru yang kita inputkan ke dalamnya.

Pada tahun 1950-an, seorang dokter bedah plastik, Maxwell Maltz, menemukan sebuah pola yang terlihat dari pasienpasiennya. Ia memperhatikan, diperlukan sekitar 21 hari bagi pasien-pasiennya untuk membiasakan diri dengan wajah baru mereka usai operasi plastik. Ia juga punya kesimpulan yang sama bagi pasien yang baru saja melakukan amputasi lengan atau kaki. Fakta ini membuat Dr. Mawell Maltz yakin bahwa manusia membutuhkan setidaknya waktu selama 21 hari untuk menyesuaikan diri dengan kondisi baru.

Penelitian soal waktu yang dibutuhkan untuk membentuk kebiasaan baru juga dilakukan oleh Phillippa Lally, seorang peneliti psikologi kesehatan di Universitay College London. la meneliti 96 orang selama 12 minggu. Mereka diminta memilih kebiasaan sederhana baru, seperti meminum sebotol air saat makan siang atau berlari selama 15 menit sebelum makan malam.

Hasilnya, diperoleh kesimpulan, rata-rata orang membutuhkan waktu 66 hari (2 bulan lebih) sebelum akhirnya menjadikan aktivitas baru itu sebagai sebuah kebiasaan yang berjalan secara otomatis. Namun, Phillippa Lally juga memiliki kesimpulan tambahan. Ternyata waktu yang dibutuhkan untuk membentuk kebiasaan baru itu sangat variatif; dipengaruhi oleh perilaku, orang, dan keadaan yang mendukung.

Menurut penelitiannya itu, seorang manusia bisa memiliki kebiasaan baru setelah melakukan aktivitas secara berulang selama 18 hari hingga 254 hari. Artinya, jika kita ingin membentuk kebiasaan baru, maka mulailah melakukan aktivitas pilihan kita dan melakukannya secara berulang selama 3 minggu hingga 8 bulan. Itulah kurun waktu yang dibutuhkan otak kita untuk memprogram sebuah kebiasaan baru. Setelahnya, semua akan berjalan secara otomatis.

“Kebiasaan bukanlah sebuah garis finis yang harus dilalui, melainkan gaya hidup yang harus dijalani.”

James Clear dalam Atomic Habits

  • 📕 Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik
  • 👤 T. Harry Wilopo

TEAM

TEAM = Together Everyone Achieve More

Konsep TEAM (tim) hakikatnya terletak pada satu kata yang sudah Anda dengar berulang kali: SINERGI. Kata sinergi berasal dari Yunani, sunergos, yang artinya bekerja bersama, sun (bersama), dan ergon (bekerja).

Tim adalah bentuk khusus dari kelompok kerja yang harus diorganisasi dan dikelola secara berbeda dengan bentuk kelompok kerja lain. Tim beranggotakan orang-orang yang dikoordinisasi untuk bekerja bersama. Terjadi saling ketergantungan yang kuat satu sama lain untuk mencapai sebuah tujuan atau menyelesaikan sebuah tugas.

Dengan bekerja dalam tim, diharapkan hasilnya melebihi jika dikerjakan secara perorangan.

Demonstrasi yang nyata tentang arti sinergi diperlihatkan dalam kontes kuda penghela di sebuah kota di Amerika. Kuda juara pertama sanggup menarik 2.250 kilogram, juara kedua sanggup menarik 2.000 kilogram. Teorinya, kedua kuda tersebut secara bersama-sama harus mampu menarik beban maksimum 4.250 kilogram. Untuk mengujinya, kedua kuda disatukan untuk menarik gerobak yang diberi beban. Semua orang yang melihat terperangah. Kedua kuda tersebut mampu menarik beban seberat 6.000 kilogram, 1.750 kilogram lebih berat dibanding jumlah yang mampu mereka lakukan sendiri-sendiri.

Sinergi adalah daya kerja tim untuk menyatukan tenaga individu, untuk menutup keterbatasan individu, untuk menggandakan upaya individu supaya sasaran yang dicapai lebih banyak dan lebih besar.

Kekuatan sinergi bukanlah seperti kekuatan matematis ketika 3 tenaga + 3 tenaga 6 tenaga, namun lebih dari itu. Dengan bersinergi, 3+3 bisa menghasilkan 10, bahkan lebih.

Kumpulan individu atau tim?

Apakah setiap berkumpulnya individu dapat dikatakan sebuah tim? Lalu bagaimana dengan berkumpulnya para artis, tukang bakso, pelajar, dan lainlain?

Jawabnya jelas tidak. Ilustrasinya seperti ini. Ada orang kaya yang berobsesi ingin mengumpulkan kendaraan terbaik dari setiap jenis mobil yang ada. Kemudian dari tiap mobil itu diambil bagian-bagian tertentu; transmisi terbaik dari Toyota, mesin terbaik dari Mercedes, kemudi terbaik dari Ford. Setelah itu, ia merakit bagian-bagian tersebut menjadi sebuah mobil baru. Hasilnya, mobil tersebut tidak dapat berjalan. Mengapa bisa begitu? Bagian-bagian yang ia rakit itu tidak dapat bekerja sama dengan baik karena mempunyai ukuran yang berbeda-beda.

ORANG BIASA –hasil–> LUAR BIASA

ORANG LUAR BIASA –hasil–> SANGAT LUAR BIASA


  • 📕 “Team Work Games”
  • 👤 Tim MAXI Plus

Kita Belajar Lebih Banyak dengan Mengulang

Otak kita bekerja seperti sebuah komputer, tetapi otak kita jauh lebih kompleks dan dahsyat dalam menerima maupun memproses segala informasi yang diterimanya. Sebetulnya, seberapa canggih otak manusia?

Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di Institute Salk, la Jolla, California, Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa otak manusia memiliki kapasitas penyimpanan data memori setidaknya sebanyak satu petabyte! Jika Anda kesulitan untuk memahami berapa banyak satu petabyte, itu sama dengan 1.000 terabyte atau 1.000.000 gigabyte.

Analoginya, jika Anda mengisi penuh otak Anda dengan lagu-lagu berdurasi 4 menit, maka lama waktu yang Anda butuhkan untuk mendengarkan semua lagu yang tersimpan di otak Anda itu adalah 2.000 tahun. Dengan kemampuan super seperti itu, tak heran bila otak menjadi organ terpenting dalam membangun kesuksesan manusia, dan sebagian besarnya terkait dengan kebiasaan.

Kita tentu menyadari bahwa kita belajar lebih banyak dengan melakukan sesuatu secara berulang-ulang. Contohnya, lagu. Setiap orang memiliki lagu favorit. Bila kita mendengarkan sebuah lagu yang kita sukai, kita cenderung menyanyikannya berulang-ulang. Pengulangan ini lalu terprogram di otak kita, sehingga bila kita bertemu dengan pemicu yang mengingatkan kita pada lagu favorit kita itu, kita pun mulai bersenandung dengan fasih.

Pengulangan memang merupakan kunci untuk membentuk kebiasaan. Pengulangan juga merupakan rahasia untuk menghafal sesuatu dalam jangka waktu yang lama. Tak heran, kita mudah melupakan isi buku yang selesai kita baca satu kali. Namun, jika kita membacanya berkali-kali atau menonton sebuah film berulang-ulang, kita bisa dengan mudah menghafal dialog dalam buku atau film itu, tanpa kita bermaksud menghafalnya.

Salah satu buku terbaik yang membahas soal kebiasaan ini adalah The Power of Habit karya Charles Duhigg. Dalam karya tulisnya itu, Duhigg telah mengupas hasil penelitian para ahli neurologi tentang otak.


  • 📕 “Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik”, hlm 76-77.
  • 👤 T. Harry Wilopo
  • 🛍️ Pesan di sini Klik

Pentingnya Kecerdasan Adaptasi

Kita harus sadar, satu-satunya cara berdamai dengan perubahan adalah dengan beradaptasi. Makin cepat kita bisa menerima pemikiran bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak konstan, makin mudah kita beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi. Untungnya, kita, manusia, adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling jago beradaptasi. Tinggal kita sendiri, apakah mau menerima perubahan dengan beradaptasi atau tidak?

Baru-baru ini, para ahli berdasarkan penelitian IBM mulai menyadari bahwa kemampuan adaptasi dan fleksibilitas akan menjadi keterampilan paling penting bagi manusia pada masa mendatang. Penelitian IBM pada tahun 2019 menyebutkan bahwa pada tiga tahun ke depan, 120 juta orang yang hidup di 12 negara dengan ekonomi terbesar di dunia akan terancam kehilangan pekerjaan karena banyaknya pekerjaan yang diotomatisasi alias diambil alih oleh robot.

Hal ini terjadi terutama sekali pada jenis pekerjaan yang mengandalkan pembacaan pola suatu data. Tugas ini sangat mudah diotomatisasi, karena algoritma dapat menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan lebih akurat dari manusia.

Profesor Amy Edmonson dari Sekolah Bisnis Harvard menganjurkan agar manusia mulai memikirkan secara serius pengasahan Adoption Quotient (AQ) atau kecerdasan adaptasi. Ujarnya, “Mereka yang sukses adalah mereka yang memilih untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan algoritma.”

Kemajuan teknologi membuat zaman terus bergerak maju dengan cepat. Hal ini dengan sendirinya membuat AQ menjadi lebih penting daripada IQ bagi kehidupan manusia, sebab komputer diprediksi tidak dapat menggantikan kemampuan beradaptasi manusia. Mereka yang memiliki kecerdasan beradaptasi yang baiklah yang akan terus bertahan, sementara mereka yang menolak perubahan akan tergilas oleh kejamnya zaman.

Agar tidak menjadi usang, kita harus terus membuka diri untuk menerima perubahan; melupakan kebiasaan lama dan berani meninggalkan zona nyaman untuk membangun kebiasaan baru. Kebiasaan baru inilah yang akan menghasilkan keterampilan baru yang lebih dibutuhkan di masa depan, seperti kreativitas dalam menyelesaikan suatu permasalahan, rasa empati untuk berkomunikasi dengan baik, atau mengandalkan intuisi manusia yang tidak dapat tergantikan oleh mesin.

Hanya orang yang lebih berani dan selalu ingin tahu yang akan memiliki peluang untuk mengasah kecerdasan beradaptasinya. Namun, bila ia mulai terbuai oleh zona nyamannya, maka kemampuan adaptif itu akan menurun secara alami.

Perubahan mungkin akan membuat kita merasa tak nyaman untuk sesaat, tetapi jangan sampai itu menghentikan langkah kita untuk terus beradaptasi dengan segala situasi. Hal ini berlaku pula pada kebiasaan kita sehari-hari.

“Kita tak boleh takut pada perubahan. Jangan jadi orang yang antiperubahan. Jadilah orang yang mudah beradaptasi.”


  • Sumber: “Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik” oleh T. Harry Wilopo Order Di Sini

Dua Kunci Sukses

Dua kunci sukses di usia muda adalah:

Pertama, mulai berlatih sesegera mungkin. Ibarat menanam tanaman, tanamlah benih sesegera mungkin sehingga kita bisa memanennya lebih cepat. Makin awal kita memulai latihan, lalu menjadikan latihan itu sebagai kebiasaan seharihari, makin cepat pula kita akan meraih kesuksesan.

Kedua, perbanyak intensitas latihan setiap harinya. Warren Buffett pernah berkata, “Saya selalu tertantang untuk menjadi lebih baik dari orang lain. Jika orang lain membaca buku 100 halaman per hari, maka saya akan berusaha membaca 300 halaman per hari.”

Jika kebanyakan orang bekerja 9 to 5 alias 8 jam, maka berusahalah mengerjakan apa yang menjadi bidang keahlian kita selama 10-12 jam dalam sehari. Dengan begitu, hasil yang kita dapatkan selalu lebih baik, lebih cepat, dan lebih banyak.

Kebiasaanlah yang akan membuat keahlian kita sempurna. Apa yang memisahkan kita saat ini dengan tujuan hidup kita adalah waktu. Jika kita bisa mengisi waktu itu dengan hal-hal yang tepat, maka cepat atau lambat, tujuan hidup yang kita idam-idamkan pun akan berhasil terwujud.


  • Buku: Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik
  • Oleh: T. Harry Wilopo

Menjadi Tuan Bagi Pikiran Kita Sendiri

George Dantzig

Ada sebuah kisah menarik yang bisa menjadi contoh betapa pentingnya menjadi tuan bagi pikiran kita sendiri. Ini adalah sebuah kisah nyata.

Suatu hari, pada tahun 1939, seorang mahasiswa bernama George Dantzig harusnya menghadiri kuliah matematika yang diasuh oleh Prof. Jerzy Neyman. Namun, karena suatu hal, George tidak bisa datang tepat waktu.

Setelah urusannya selesai, setengah berlari, George bergegas menuju kelas Prof. Jerzy Neyman. Sayangnya, ia terlambat. Setibanya di sana, ruang kelas sudah kosong. Kelas telah bubar dan tak ada seorang pun yang tinggal.

George melihat dua soal matematika di papan tulis. la menduga kedua soal itu adalah pekerjaan rumah yang diberikan sang profesor untuk para mahasiswanya. Segera George mengeluarkan buku catatan dan mencatatnya.

Selama berhari-hari kemudian, George berusaha dengan keras mengerjakan kedua soal itu. Tidak seperti biasanya, George merasa kali ini pekerjaan rumah yang diberikan Prof. Jerzy sangat susah.

“Namun, pasti ini ada jawabannya. Pasti ada jawabannya. Aku harus bisa menemukan jawabannya,” gumam George, memberi semangat kepada dirinya sendiri.

Pada akhirnya, George berhasil mengerjakan soal nomor 1. la pun mengumpulkan lembar jawabannya ke ruang sang profesor.

Tak lama kemudian, sang profesor memanggilnya untuk bertemu. la bertanya, bagaimana cara George menyelesaikan soal itu. George pun menceritakan betapa kerasnya upaya yang ia lakukan untuk menyelesaikan soal pekerjaan rumah dari sang profesor.

Setelah mendengar penjelasan George, Profesor Jerzy berkata, “Tahukah engkau? Dua soal yang engkau kira pekerjaan rumah itu sesungguhnya adalah dua soal matematika tersulit di dunia, yang hingga saat ini belum ada satu pun ahli yang berhasil memecahkannya. Aku menuliskannya di papan hanya untuk memberi contoh kepada para mahasiswa di kelas.”

Seketika George Dantzig tersadar. Seandainya ia tidak datang terlambat di kelas itu, ia mungkin masih belum dapat memecahkan soal tersebut, karena sama seperti mahasiswa lainnya, ia mungkin juga berpikir soal itu adalah soal yang tak dapat dipecahkan.

George Dantzig di kemudian hari menjadi profesor matematika yang terkenal di Stanford University. Semua itu berawal dari ketidaksengajaannya memecahkan soal tersulit di dunia yang ia sangka sebagai pekerjaan rumah biasa.

Jangan biarkan hal-hal negatif mendominasi pikiran kita.

Kisah ini membuktikan bahwa pikiran kita memiliki kekuatan yang luar biasa, seandainya kita bisa menjaganya dan menjauhkannya dari hal-hal negatif dan pesimisme.

Napoleon Hill, penulis buku Think and Grow Rich, pernah berkata, “Apa pun yang bisa dibayangkan dan diyakini oleh pikiran manusia, itu akan bisa diraih.”

la menyarankan agar setiap pemburu kesuksesan senantiasa menjaga pikiran tetap positif dan memelihara optimisme. Saat kita memfokuskan diri pada hal-hal positif, otak kita akan bekerja untuk menemukan cara agar hal-hal positif itu bisa terwujud. Sebaliknya, jika kita berfokus pada hal-hal negatif, maka otak kita pun akan mencari jalan agar hal-hal negatif itu bisa terwujud.


  • Buku: Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik
  • Penulis: T. Harry Wilopo

No Pain No Gain

Sudah menjadi hukum alam bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan, manusia harus membuat pengorbanan.

Ingin bisa makan 3 kali sehari? Kita harus bekerja untuk mendapatkan penghasilan.

Ingin bisa membeli mobil atau rumah? Kita harus berhemat untuk menabung demi membeli mobil dan rumah.

Ingin memiliki banyak teman? Kita harus menyisihkan energi dan waktu untuk memberikan perhatian kepada orang-orang di sekeliling kita.

Ingin meraih prestasi? Kita terlebih dahulu harus berlatih dan berlatih untuk mendapatkan keahlian atau keterampilan.

Begitu juga dengan kesuksesan. Jika kita ingin hidup sukses, maka kita pun harus membayar harganya. Tak ada kesenangan yang bisa didapatkan tanpa pengorbanan. No pain, no gain!

“Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakitsakit dahulu, bersenang-senang kemudian.” Peribahasa ini menggambarkan betapa pentingnya membuat pengorbanan terlebih dahulu, sebelum mendapatkan apa pun yang kita inginkan.

Sejarah telah mencatat, banyak sekali orang hebat yang membuat pengorbanan besar sebelum akhirnya meraih kesuksesan. Elon Musk (CEO Tesla, Space X, serta Neuralink) bekerja sangat keras, hingga akhirnya berhasil menjadi orang terkaya di dunia pada tahun 2021 dengan jumlah kekayaan sekitar 194 miliar dolar atau 2.716 triliun rupiah.

“Saya mengerjakan banyak hal. Umumnya, saya akan berada di rapat hingga pukul 01.00 atau 02.00 pagi hari. Sabtu atau Minggu biasanya tidak, tetapi kerap kali,” ujarnya.

Bagaimana ia bisa bekerja sekeras itu?

“Saya mengurangi waktu tidur tanpa mengurangi produktivitas. Saya tak ingin tidur lebih dari enam jam,” kata Elon Musk mengenai kebiasaannya yang mengantarkannya pada pencapaiannya saat ini.

Abraham Lincoln gagal di bisnis-bisnisnya dan habis-habisan saat harus mengalami kekalahan dalam tujuh kali pemilihan, sebelum akhirnya terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat.

Albert Einstein menderita keterlambatan bicara dan baru mulai berbicara pada umur 4 tahun. Di sekolah, ia sempat dianggap sebagai murid yang terlalu lambat dalam berpikir. Namun, ia tak menyerah dan terus bekerja keras. Hasil tak pernah mengkhianati proses. Sekarang dan di masa depan, orang akan selalu mengenang Albert Einstein sebagai salah satu orang paling jenius di dunia.

Thomas Alva Edison keluar dari sekolah karena gurunya berpikir “ia terlalu bodoh untuk mempelajari apa pun”. la juga telah melakukan ribuan percobaan yang gagal, sebelum menemukan bola lampu, salah satu temuannya yang paling bermanfaat bagi umat manusia.

Michael Jordan dikenang sebagai bintang basket terbesar di dunia. Namun sebelumnya, ia pernah dikeluarkan dari tim basket SMA-nya karena dianggap “kurang memiliki kemampuan bermain basket”. Apakah Jordan berputus asa? Tidak! la terus berlatih dan berlatih. Hasilnya, ia malah menjadi megastar dalam dunia basket dan namanya masih dielukelukan penggemar basket hingga sekarang, jauh setelah ia gantung sepatu.

Kolonel Sanders ditolak oleh 1.000 lebih restoran saat menawarkan resep ayam goreng miliknya. Ia kemudian memutuskan untuk menjual sendiri ayam goreng itu. Hingga kini, orang-orang mengenalnya sebagai kakek yang wajahnya terpampang di setiap gerai KFC.

JK Rowling sebelum menjadi penulis terkenal, hanyalah pengangguran yang terpaksa hidup dari bantuan pemerintah. Setelah ditolak oleh 12 penerbit, naskah Harry Potter miliknya akhirnya laku keras dan menjadi buku terlaris di dunia selama bertahun-tahun.

Selalu dibutuhkan pengorbanan sebelum mendapatkan kesuksesan. Segera setelah merumuskan tujuan hidup, bangunlah mentalitas pemenang. Sadarilah bahwa ada harga yang harus Anda bayar untuk mewujudkan tujuan hidup Anda itu.

Jangan takut untuk meneteskan peluh, demi membuat mimpi Anda menjadi nyata. Jangan juga merasa alergi dengan perubahan, karena terkadang, cara lama tak lagi ampuh untuk mendapatkan suatu kemajuan. Jangan ragu untuk membuang kebiasaan lama yang negatif dan membangun kebiasaan baru yang positif.

Break your old habit and build a new one! Awalnya memang terasa berat, tetapi itu akan memberikan kita hasil yang layak di kemudian hari.

“Untuk mendapatkan apa yang kamu suka, pertama-tama kamu harus bersabar dengan apa yang kamu benci.”

Imam Al-Ghazali

  • Buku: Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Bangun Kebiasaan Baik
  • Oleh: T. Harry Wilopo
  • Pesan Sekarang