Jadilah “Driver”

Ini adalah judul sambutan dalam pidato saya di depan para wisudawan di Pierre Mendés-France University, Grenoble, Prancis, Kamis, 28 Juni 2012. Hari itu, selain peserta dari Prancis, juga diwisuda lulusan MBA dari berbagai negara (termasuk dari China, Rusia, Brazil dan Indonesia).

Menurut saya, bangsa yang hebat adalah a driver nation. “Driver nation” sendiri hanya bisa dihasilkan oleh pribadipribadi yang disebut “driver”, yang menyadari bahwa ia adalah mandataris kehidupan, dan pemimpin-pemimpinnya sadar bahwa ia mendapatkan mandataris dari rakyat untuk melakukan perubahan.

Jadi, ada tiga hal yang harus dilakukan, yaitu bagaimana men-drive diri sendiri (drive your self), men-drive orang lain (drive your people), dan men-drive bangsa (drive your nation). Kalau seseorang tak bisa men-drive dirinya sendiri, bagaimana ia bisa men-drive orang lain? Dan itu berarti tak ada kepemimpinan, tak ada yang men-drive bangsa ini (drive the nation). Jadi, “driver” itu apa? Bukankah di Indonesia ada jutaan orang yang berprofesi sebagai sopir? Kalau demikian, bisakah Indonesia disebut sebagai a driver nation?

Tentu bukan itu yang saya maksud. Driver adalah sebuah sikap hidup yang membedakan dirinya dengan “passenger”. Anda tinggal memilih, ingin duduk manis menjadi penumpang di belakang, atau mengambil risiko sebagai driver di depan? Di belakang, Anda boleh duduk sambil ngobrol, makan-makan, bercanda, bahkan ngantuk dan tertidur. Anda juga tak harus tahu jalan, tak perlu memikirkan keadaan lalu lintas, dan tak perlu merawat kendaraan. Enak, bukan?

Sebaliknya, seorang driver bisa hidup di mana pun mereka berada, dan selalu menumbuhkan harapan. Bila seorang “passenger” menjadi kerdil karena terbelenggu oleh setting-an otak yang tetap, maka seorang driver akan selalu tumbuh. Mereka mengajak orang-orangnya untuk berkembang dan keluar dari tradisi lama menuju tanah harapan. Mereka melakukan pembaruan-pembaruan dan menantang keterkungkungan dengan penuh keberanian.

Mereka berinisiatif memulai perubahan tanpa ada yang memerintahkan, namun tetap rendah hati dan kaya empati. Seperti kata CEO Garuda yang dengan teguh memimpin transformasi: Kalau seseorang terlalu kuat logic kasihan pegawainya, kalau hatinya terlalu dominan kasihan perusahaannya. Dengan kata lain, seorang driver harus seimbang antara logic (rasionalitas, hitung-hitungan, analisis, dan targetnya) dengan hatinya (empati, kepedulian, hubungan-hubungan sosial, tata nilai).


  • Buku: “Self Driving” oleh Rhenald Kasali
  • Get the book Now
  • Join the inspiration Join
  • Good books to read Download
  • More books Click

Leave a Comment