Stres Adalah Pilihan

Stres adalah sebuah pilihan. Apa Anda percaya? Sejumlah orang sulit memahami gagasan ini. Mereka pikir, orang dan peristiwa hidup lah yang membuat kita stres—pimpinan, rekan kerja, pelanggan, atasan, lalu lintas, cuaca, kondisi pasar. Namun, hal ini tidak benar.

Ya, memang hal-hal buruk dapat terjadi: kepahitan ekonomi, pergulatan bisnis kita, anjloknya bursa saham, kehilangan pekerjaan, orang-orang di sekitar kita tidak melaksanakan tugas mereka, tidak terpenuhinya tenggat, kegagalan proyek, atau ditinggalkan orang yang berkualitas. Hidup penuh dengan hal-hal seperti ini. Namun, tetap saja stres adalah sebuah pilihan, karena apa pun “peristiwa pemicunya”, kita selalu dapat memilih respons kita. Kita memilih untuk bereaksi marah. Kita memilih untuk meredam emosi dan tetap diam. Kita memilih untuk cemas. (Seorang klien memasang sebuah tulisan di mejanya “Saya pernah punya banyak masalah, tapi hanya beberapa di antaranya yang menjadi kenyataan!) Orang yang berbeda akan memiliki reaksi yang berbeda dalam menanggapi sebuah situasi yang sama. Stres adalah sebuah pilihan.

Stres juga merupakan hasil pilihan kita. Ketika kita memilih mengajukan pertanyaan seperti “Mengapa hal ini terjadi padaku?”, kita merasa seolah-olah tidak memunyai kontrol apa pun. Hal ini mengarahkan kita ke pola pikir korban, yang benar-benar membuat stres. Bahkan, dalam kasus-kasus di mana kita memang menjadi korban dan perasaan kita membenarkannya, pikiran “Mengapa saya” hanya akan menambah stres.

  • Buku: “QBQ” by John G. Miller
  • Get more books Download

“Your situation is nothing, your response is everything.”

(Pepatah)