Pentingnya Kecerdasan Adaptasi

Kita harus sadar, satu-satunya cara berdamai dengan perubahan adalah dengan beradaptasi. Makin cepat kita bisa menerima pemikiran bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak konstan, makin mudah kita beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi. Untungnya, kita, manusia, adalah makhluk ciptaan Tuhan yang paling jago beradaptasi. Tinggal kita sendiri, apakah mau menerima perubahan dengan beradaptasi atau tidak?

Baru-baru ini, para ahli berdasarkan penelitian IBM mulai menyadari bahwa kemampuan adaptasi dan fleksibilitas akan menjadi keterampilan paling penting bagi manusia pada masa mendatang. Penelitian IBM pada tahun 2019 menyebutkan bahwa pada tiga tahun ke depan, 120 juta orang yang hidup di 12 negara dengan ekonomi terbesar di dunia akan terancam kehilangan pekerjaan karena banyaknya pekerjaan yang diotomatisasi alias diambil alih oleh robot.

Hal ini terjadi terutama sekali pada jenis pekerjaan yang mengandalkan pembacaan pola suatu data. Tugas ini sangat mudah diotomatisasi, karena algoritma dapat menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan lebih akurat dari manusia.

Profesor Amy Edmonson dari Sekolah Bisnis Harvard menganjurkan agar manusia mulai memikirkan secara serius pengasahan Adoption Quotient (AQ) atau kecerdasan adaptasi. Ujarnya, “Mereka yang sukses adalah mereka yang memilih untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan algoritma.”

Kemajuan teknologi membuat zaman terus bergerak maju dengan cepat. Hal ini dengan sendirinya membuat AQ menjadi lebih penting daripada IQ bagi kehidupan manusia, sebab komputer diprediksi tidak dapat menggantikan kemampuan beradaptasi manusia. Mereka yang memiliki kecerdasan beradaptasi yang baiklah yang akan terus bertahan, sementara mereka yang menolak perubahan akan tergilas oleh kejamnya zaman.

Agar tidak menjadi usang, kita harus terus membuka diri untuk menerima perubahan; melupakan kebiasaan lama dan berani meninggalkan zona nyaman untuk membangun kebiasaan baru. Kebiasaan baru inilah yang akan menghasilkan keterampilan baru yang lebih dibutuhkan di masa depan, seperti kreativitas dalam menyelesaikan suatu permasalahan, rasa empati untuk berkomunikasi dengan baik, atau mengandalkan intuisi manusia yang tidak dapat tergantikan oleh mesin.

Hanya orang yang lebih berani dan selalu ingin tahu yang akan memiliki peluang untuk mengasah kecerdasan beradaptasinya. Namun, bila ia mulai terbuai oleh zona nyamannya, maka kemampuan adaptif itu akan menurun secara alami.

Perubahan mungkin akan membuat kita merasa tak nyaman untuk sesaat, tetapi jangan sampai itu menghentikan langkah kita untuk terus beradaptasi dengan segala situasi. Hal ini berlaku pula pada kebiasaan kita sehari-hari.

“Kita tak boleh takut pada perubahan. Jangan jadi orang yang antiperubahan. Jadilah orang yang mudah beradaptasi.”


  • Sumber: “Tips dan Trik Singkirkan Kebiasaan Buruk dan Membangun Kebiasaan Baik” oleh T. Harry Wilopo Order Di Sini