Rasa takut adalah musuh terbesar kreativitas
Coba amati masa kecil kita, apa yang kita lakukan jika kita ingin menjadi Superman? Cukup mengambil selimut sebagai sayapnya lalu diikatkan di leher kita. Kita saat itu merasa sangat yakin, bahwa kita sudah menjadi Superman dan siap membela yang lemah.
Ketika kita menaiki sapu, seolah-olah kita yakin bisa terbang seperti Harry Potter. Semua terasa tidak ada yang tidak mungkin.
Saat kecil kita sering memiliki gagasan, dan mudah merealisasikannya karena kita … percaya! Percaya menjadi Superman, percaya bisa terbang dengan sapu ajaib seperti Harry Potter. Kita sangat menikmati prosesnya ….
Pada saat itu kita berada di posisi kreativitas dengan tingkat kepercayaan yang tinggi.
Akan tetapi, ketika beranjak dewasa, kondisi dan situasinya mulai berbeda. Kita dididik untuk mengikuti peraturan. Tidak boleh melakukan kesalahan. Jika salah mendapat nilai jelek, jika benar mendapatkan nilai bagus.
Bertahun-tahun kita diajarkan untuk bisa menjawab dengan benar sesuai pertanyaan yang sudah dibuat ….
Mudah kita temukan para generasi muda yang lebih banyak meluangkan waktu untuk kursus bimbel, agar bisa menjawab dengan benar ketika ujian nasional.
Konsep belajar untuk tidak boleh salah layaknya robot, secara tidak langsung membuat kita dipupuk rasa ketakutan.
Takut salah, takut tidak naik kelas, takut mendapat nilai jelek.
Jika kita lihat pola kerja seperti itu, masa produktif kita sebagian besar dihabiskan untuk merasa takut salah, dan harus menjawab sesuai jawaban yang ada, kreativitas pun lambat laun akan memusuhi kita.
Rasa takut adalah musuh besar dari kreativitas.
Sepertinya mereka berada di dunia yang tidak tepat. Langkah yang bisa dilakukan hanya ada dua, tetap bertahan di dunia yang tidak kita senangi, atau berada di dunia yang kita cintai dengan cara mencari atau mengubahnya.
Superman akan hilang kekuatannya jika berada di Planet Krypton, tetapi menjadi pahlawan di planet bernama Bumi. Harry Potter merasa tersiksa tinggal di rumah bibinya yang kejam, tetapi ketika bertemu teman-teman yang memiliki minat sama di sekolah sihir Hogwarts, Harry Potter dapat mengasah bakatnya, bahkan mengalahkan musuh nomor satu, Voldemort.
Bagaimana dengan kamu? Sudahkah berada di dunia yang tepat?
- Buku: Kreatif Sampai Mati
- Penulis: Wahyu Aditya