Pengembangan Diri, Haruskah?

Pengembangan diri adalah sebuah topik yang dapat diibaratkan sebagai sebuah sumur tanpa dasar. Dengan kata lain, pengembangan diri memiliki cakupan tema yang sangat luas, dalam, dan banyak sekali alternatif bahasannya. Misalnya, kita dapat mulai dari sebuah analogi umum seperti pernyataan berikut ini: “Saya sudah sering sekali membaca buku pengembangan diri, tapi kok belum sukses juga?” “Mengapa saya masih seperti dulu, belum ada perubahan?” Pertanyaan seperti ini tentunya sangat menggelitik dan berpotensi besar akan diikuti oleh berbagai pertanyaan lain, seperti:

  • Kenapa seseorang perlu mengembangkan diri?
  • Apakah seseorang wajib membaca buku pengembangan diri?
  • Benarkah seseorang yang ingin sukses, dia terlebih dahulu harus membaca buku Adakah jaminan bahwa setelah membaca buku pengembangan diri, seseorang dipastikan akan sukses? Jika ternyata bukan karena buku pengembangan diri, lalu hal apa yang akan membuat seseorang sukses dalam hidupnya?

Saya yakin masih banyak pertanyaan lain yang mengikuti pertanyaan pembuka di atas. Namun, kembali pada tujuan awal, tulisan kali ini akan berusaha menjawab satu pertanyaan saja: kenapa seseorang perlu mengembangkan diri. Untuk pertanyaan pertama ini, rasanya banyak alternatif jawaban yang bisa diajukan, tergantung pada pola pemikiran, latar belakang, maupun tingkat kepentingan masing-masing individu. Namun menurut hemat saya, paling tidak ada dua alasan dasar kenapa seseorang perlu mengembangkan diri:

1. Karena tuntutan pekerjaan/hidup semakin tinggi

Anda perlu bertahan hidup, bukan? Dan salah satu syarat untuk bertahan hidup adalah bekerja serta menghasilkan uang (walau terdengar klise tapi begitulah kenyataannya di lapangan). Dan secara garis besar, untuk menghasilkan uang dapat dicapai dengan dua cara, yaitu: bekerja pada orang lain (melamar pekerjaan untuk kemudian digaji oleh pihak kedua), atau bekerja sendiri (entrepreneur/wirausaha). Mari kita coba membahas dua hal tersebut, dimulai dengan mencari pekerjaan.

Jika diperhatikan, persyaratan untuk memperoleh pekerjaan yang mumpuni serta memiliki jenjang karier yang baik di masa sekarang ini semakin banyak. Dahulu, meski lahan pekerjaan masih minim, orang yang tak punya kemampuan berbahasa Inggris masih dimungkinkan bisa meniti karier di perusahaan besar. Namun saat ini sudah hampir mustahil. Kemahiran berbahasa Inggris sudah hampir menjadi syarat mutlak bagi calon pelamar kerja. Dahulu, orang dapat melenggang ke perusahaan multinasional tanpa kemampuan dan keterampilan komputer. Namun saat ini, hampir tidak mungkin hal itu bisa terjadi. Kenyataan ini menunjukkan bahwa era globalisasi sudah semakin menuntut pihak perusahaan untuk menanggapi kompetisi dengan ketat. Masing-masing perusahaan berlomba merekrut SDM (Sumber Daya Manusia) terbaik dengan dasar alasan: di saat efisiensi dan efektivitas menjadi concern perusahaan, maka memiliki SDM yang non unggul (tidak memiliki kompetensi sesuai tuntutan pekerjaan) akan dianggap sebuah pemborosan. Sebaliknya, demi menciptakan sebuah perusahaan yang ramping dan gesit, cukup diperlukan sedikit saja SDM, yaitu SDM dengan kemampuan yang optimal.

Selanjutnya, bagaimana dengan wirausaha? Toh, tidak semua orang bisa dan mau menjadi karyawan. Di masa sekarang, permasalahan keduanya adalah sama saja. Jika seorang pelamar pekerjaan dituntut memiliki kompetensi yang prima (sesuai dengan tuntutan pekerjaan), maka bagi seorang wirausahawan saat ini, atau ketika Anda berniat untuk membuka dan mengembangkan sebuah usaha, tuntutan akan performance dan kualitas usaha Anda juga semakin tinggi. Saat ini sudah sangat banyak wirausahawan yang bermunculan dan berkembang di sekitar kita, mulai dari skala kecil sampai skala nasional, skala lokal hingga internasional. Dan untuk dapat bersaing dengan mereka diperlukan usaha ektra keras, daya cipta yang kreatif serta inovatif, dan tak ketinggalan, diperlukan pula suntikan serum ketekunan yang tinggi. Mungkin Anda akan bertanya, apakah sedemikian beratnya? Sebenarnya tidak berat bila Anda tak ingin menganggapnya berat. Namun perlu disadari, jika kualitas dan performance yang kita tawarkan ‘biasa-biasa saja’, maka kecil kemungkinan pasar akan melirik Anda. Kemungkinan besar pasar akan melirik pesaing Anda. Kita tidak bisa menutup mata pada kenyataan bila pasar di masa sekarang sudah semakin terdidik dan selektif.

Dari sini dapat dibuat kesimpulan bahwa untuk menjadi karyawan ataupun wirausahawan, tidak bisa tidak, semua pihak akan terkena tuntutan akan kinerja dan kualitas yang semakin tinggi. Dan untuk memperolehnya, dibutuhkan pengembangan diri yang optimal.

2. Karena orang lain juga sedang mengembangkan diri

Satu analogi mengenai hal ini adalah: jika Anda adalah satu-satunya lulusan Fakultas Ekonomi di Indonesia, meski Anda tidak punya pengalaman atau nilai yang Anda miliki tidak terlalu bagus, Anda tetap akan dicari (untuk kemudian direkrut) oleh perusahaan. Kenapa? Karena Anda adalah lulusan satu-satunya di bidang ekonomi yang saat ini memang dibutuhkan oleh banyak perusahaan. Namun kenyataan seperti itukah yang terjadi? Coba perhatikan situasi dan lingkungan sekitar Anda. Ada berapa banyak Fakultas Ekonomi di sekitar Anda? Ada berapa akademi komputer atau sekolah tinggi komputer? Ada berapa institusi bahasa asing, psikologi, sastra, teknik, atau sekretaris? Banyak sekali. Berapakah lulusannya? Jauh lebih banyak lagi. Lalu, kenapa perusahaan harus memilih Anda dibanding lulusan-lulusan lain yang jumlahnya ribuan tersebut? Adakah hal spesial yang Anda miliki sehingga perusahaan perlu melirik Anda? What’s so special about you?

Cobalah Anda renungkan ini. Apakah yang sedang orang lain lakukan saat ini selagi Anda bersantai, berjalanjalan di mal, nonton film, rekreasi di pantai, dan berbagai aktivitas pleasure lainnya? Pernahkan Anda berpikir bahwa pada saat yang bersamaan mereka sedang mengasah diri dengan belajar Bahasa Inggris, mendalami keterampilan ter, meningkatkan kemampuan menganalisis masalah, belajar public speaking, dan lain-lain? Jika kondisi inilah yang selalu terjadi, di mana ketika Anda sedang bersantai sementara orang-orang justru mengembangkan diri, tentunya mereka akan menang beberapa poin dari Anda. Beberapa langkah lebih dekat ke arah pintu sukses dibanding Anda, siap meninggalkan Anda di belakang. Apakah Anda akan membiarkan hal ini terus terjadi?


Apakah yang sedang orang lain lakukan saat ini selagi Anda bersantai, berjalan-jalan di mal, nonton film, rekreasi di pantai, dan melakukan berbagai aktivitas pleasure lainnya?


Jangan Membatasi Diri, Semua Orang Memiliki Kesempatan yang Sama

“Kebanyakan orang gagal meraih cita-citanya bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena tidak berkomitmen.”

(Zig Ziglar)

“Anda dapat menciptakan banyak alasan, dan Anda juga dapat menciptakan banyak uang. Sayangnya, Anda tidak bisa menciptakan keduanya sekaligus.”

(Paul Hanna)

SUDAH disampaikan dari awal bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Apa artinya? Artinya adalah bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi apa pun, meraih apa pun, dan menghasilkan apa pun. Anda dapat memiliki semua yang Anda inginkan, lepas dari seberapa pun terlihat mustahil di masa ini. Rumah seperti apa yang Anda inginkan? Apakah Anda ingin menjadi kaya raya? Apakah Anda ingin memiliki perusahaan sendiri? Apa yang benar-benar Anda inginkan?

Saat ini, berapa pun umur Anda, yang terpenting adalah milikilah tujuan. Tentang tujuan ini akan dibahas pada subbab selanjutnya. Setelah memiliki tujuan, fokuskan perhatian, pemikiran, dan tindakan Anda pada tujuan tersebut. Fokus bukan berarti Anda kemudian meninggalkan segalanya kecuali tujuan tersebut. Tidak, tidak. Bukan demikian. Fokus berarti mencurahkan waktu, pemikiran, tindakan, dan perhatian kepada satu hal (dalam hal ini tujuan) dalam porsi yang lebih besar. Misalnya, jika Anda ingin memiliki perusahaan sendiri, Anda tentu tetap harus bekerja di tempat Anda bekerja sekarang ini. Tetapi, sebagian uang gaji Anda harus ditabung untuk persiapan tujuan Anda. Kemudian curahkan sedikit waktu di luar waktu kerja untuk merencanakan, mencari relasi, dan segala hal yang dibutuhkan agar perusahaan yang Anda impikan tersebut bisa terlaksana cepat atau lambat. Itulah fokus.

Baiklah, anggap saja Anda sudah memiliki tujuan dan sudah fokus. Tetapi bagaimana jika keadaan Anda saat ini sedang miskin, banyak utang, dan dari keluarga pun tidak ada “bibit” kaya raya? Jawabannya adalah, “Memang kenapa?”

Kalau memang Anda miskin, apakah Anda semiskin Walt Disney yang mandi pun harus numpang di stasiun dan hanya memiliki perabot meja kecil? Pada kenyataannya, Anda masih bisa membeli buku ini. Atau utang Anda yang banyak itu, apakah sebanyak Donald Trump dulu ketika dia memiliki utang hampir satu miliar dolar? Sepertinya juga tidak, karena pasti Anda masih memiliki uang untuk bersenang-senang. Bagaimana jika di keluarga Anda tidak ada “bibit” kaya raya? Tidak masalah. Apakah menurut Anda seorang Bill Gates, J.K. Rowling, Oprah Winfrey, Ray Kroc, semuanya keturunan millionaire? Tidak. Tetapi pada kenyataannya mereka menjadi millionaire. Jadi, kembali ke pertanyaan awal, “Memang kenapa?”

Jangan membatasi diri. Kadang bukan orang lain atau situasi tertentu yang memberi batasan pada seseorang. Justru yang paling sering terjadi adalah orang itu sendiri yang membatasi dirinya. Seorang pengemis yang sudah membatasi diri dengan meyakini bahwa dirinya tidak mungkin kaya, ya dia tidak akan melakukan hal-hal yang akan menjadikannya kaya. Dia sendiri merasa ‘tidak mungkin’, mengapa harus mengejar sesuatu yang ‘tidak mungkin’? Sekarang, apakah Anda mampu menang dengan juara dunia tinju kelas berat saat ini? Jika Anda berpikir ‘tidak mungkin’, apakah Anda berniat melawannya dalam sebuah pertandingan tinju? Lain halnya jika Anda berpikir mungkin bisa menang, Anda bisa jadi bersedia bertanding dengan juara tersebut.

Pikiran ‘tidak mungkin’ inilah suara hati yang selalu menjegal orang untuk maju. Tidak mungkin menjadi pengusaha, tidak mungkin menjadi pembalap, tidak mungkin menjadi astronaut, tidak mungkin mendapatkan satu miliar dan kelipatannya, dan tidak mungkin-tidak mungkin lainnya. Dijamin, Anda tidak akan mengejar sesuatu yang di pikiran Anda ‘tidak mungkin’. Benar demikian? Pasti benar.

Barangkali Anda harus membaca ini untuk membuka pikiran Anda. Berikut adalah biografi singkat orang yang tidak pernah membatasi diri.

Stephen Hawking, fisikawan terbaik dunia setelah Einstein. Dia didiagnosis mengidap penyakit pada umur 21 tahun dan diperkirakan umurnya tinggal dua setengah tahun lagi. Tetapi, dia tetap berjuang hidup dan prediksi dokter pun salah. Pada tahun 1988, dia menulis buku A Brief History of Time yang telah diterjemahkan ke dalam 22 bahasa dan terjual lebih dari sepuluh juta kopi. Ketika berumur 52 tahun, profesor Inggris ini lumpuh akibat penyakit neuron motor yang berangsur-angsur semakin buruk serta tak dapat diobati. Tapi, dia terus bertahan.

John F. Kennedy, sekalipun dia menderita cedera tulang belakang yang parah, dia masih mampu menjadi presiden Amerika Serikat ke-35.

Franklin Delano Roosevelt, meski mengidap polio dan lumpuh dari pinggang ke bawah pada usia 39 tahun, ia menjadi satusatunya orang dalam sejarah yang dipilih sebagai presiden Amerika Serikat sampai empat kali.

Hellen Adams Keller, seorang penulis yang sangat ternama di dunia dengan banyak sekali karya buku, adalah seorang yang tuli, buta, dan bisu sejak masih anak-anak.

Thomas Alva Edison menciptakan music box pada saat tuli.

Iskandar Agung (Alexander The Great), salah satu pemimpin paling terkenal dalam sejarah, adalah seorang yang bungkuk.

Beethoven, salah satu pemusik klasik nomor satu dunia, ternyata seorang yang tuli.

John Milton, pengarang sajak teragung di Inggris yang berjudul Paradise Lost, adalah seorang yang buta.

William Shakespeare, siapa yang tidak mengenalnya? Kisah Romeo dan Juliet adalah salah satu kisah roman paling laris di dunia. Tetapi, tidak banyak yang tahu bahwa Shakespeare adalah seorang yang lumpuh.

Mereka bisa dibilang orang yang “kurang”, tetapi mereka tidak pernah membatasi diri untuk meraih apa yang mereka inginkan. Apakah keadaan Anda seburuk mereka? Sepertinya tidak. Lalu, apa alasan Anda membatasi diri Anda sendiri?

Sekali lagi, jangan membatasi diri. Bukankah sudah dikatakan bahwa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini? Begitu juga dengan apa yang terjadi pada diri Anda. Apakah ada kemungkinan Anda mendapatkan satu miliar dan kelipatannya? Ya! Kenapa tidak? Semua orang memiliki kesempatan yang sama.


  • Buku: “DNA Millionaire” oleh Rick Armanae. More Books