Kiat Menjadi Guru Inspiratif

Kuasai Materi: Pahami dan kuasai materi pelajaran dengan baik agar dapat memberikan penjelasan yang jelas dan mendalam kepada siswa.

Berikan Dukungan: Tunjukkan perhatian dan dukungan kepada setiap siswa. Kenali keunikan mereka dan bantu mereka tumbuh secara individu.

Berikan Motivasi: Bangkitkan semangat belajar dengan memberikan motivasi. Tunjukkan kepada siswa mengapa pelajaran tersebut penting dan bagaimana dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kreatif dalam Pengajaran: Gunakan berbagai metode pengajaran yang kreatif dan menarik untuk membuat pembelajaran lebih menyenangkan dan mudah dipahami.

Buat Lingkungan Belajar Positif: Ciptakan suasana kelas yang positif dan inklusif. Pastikan siswa merasa nyaman berpartisipasi dan berbagi ide.

Jadilah Contoh Positif: Menjadi panutan bagi siswa dengan menunjukkan integritas, disiplin, dan nilai-nilai positif.

Berikan Umpan Balik Konstruktif: Berikan umpan balik yang konstruktif untuk membantu siswa memahami kelebihan dan kelemahan mereka serta memberikan arahan perbaikan.

Kolaborasi dengan Siswa: Libatkan siswa dalam proses pembelajaran dengan memberikan ruang bagi kolaborasi dan diskusi.

Fleksibel dan Responsif: Bersikap fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan individu serta perubahan dalam lingkungan pembelajaran.

Terus Belajar: Jangan berhenti belajar dan mengembangkan keterampilan Anda. Tetap up-to-date dengan perkembangan pendidikan dan teknologi.

Kiat Produktif Ala Hal Elrod

Bangun Pagi:

  • Mulailah hari dengan bangun pagi untuk memberikan waktu lebih banyak bagi produktivitas.
  • Manfaatkan waktu pagi untuk merencanakan dan fokus pada tujuan harian.

Rutin Pagi (Miracle Morning):

  • Terapkan rutin pagi yang dikenal sebagai “Miracle Morning,” termasuk afirmasi positif, visualisasi, olahraga ringan, membaca, menulis, dan meditasi.

Atur Tujuan Harian:

  • Tetapkan tujuan yang spesifik dan terukur untuk hari tersebut.
  • Prioritaskan tugas berdasarkan urgensi dan dampak.

Gunakan Prinsip 20/20/20:

  • Bagi waktu pagi Anda menjadi blok 20 menit untuk olahraga, 20 menit untuk pembelajaran, dan 20 menit untuk refleksi atau meditasi.

Hindari Distractions:

  • Matikan pemberitahuan ponsel dan email selama waktu fokus.
  • Tetapkan waktu khusus untuk menangani pesan dan panggilan.

Terapkan Hukum 2 Menit:

  • Jika suatu tugas memerlukan waktu kurang dari 2 menit, lakukan segera.
  • Hindari menumpuk tugas kecil yang bisa diselesaikan dengan cepat.

Pentingkan Pemulihan:

  • Pastikan untuk memberikan waktu untuk istirahat dan pemulihan.
  • Kenali batas kelelahan dan berikan diri Anda istirahat yang cukup.

Berfokus pada Proses, Bukan Hasil:

  • Fokus pada langkah-langkah kecil dan konsisten yang mengarah pada pencapaian tujuan jangka panjang.
  • Hindari obsesi terhadap hasil instan.

Evaluasi dan Sesuaikan:

  • Lakukan evaluasi rutin terhadap produktivitas Anda.
  • Sesuaikan rutinitas dan strategi berdasarkan pembelajaran dari pengalaman sebelumnya.

Berkolaborasi dan Delegasi:

  • Jika mungkin, kolaborasi dengan orang lain untuk meningkatkan efisiensi.
  • Delegasikan tugas yang dapat dilakukan oleh orang lain untuk membebaskan waktu Anda.

Implementasikan kiat-kiat ini secara konsisten untuk memaksimalkan produktivitas dan mencapai tujuan Anda.

Di Manakah Tidak Ada Masalah?

Ada seseorang yang bertanya kepada seorang guru terkenal, Doktor Pierre, “Tuan, saya memiliki banyak kesulitan. Apakah Anda dapat memberi tahu saya tempat di mana tidak ada masalah?”

Doktor Pierre menjawab, “Saya tahu sebuah tempat di mana 15.000 orang di sana sama sekali tidak mempunyai masalah.”

“Di mana? Tolong beritahu saya cepat!”, dengan girang orang itu bertanya. Doktor Pierre menjawab dengan serius, “Di taman kuburan belakang Gereja.”

Dua Orang

Dahulu kala, di propinsi Se Chuan, negeri Cina, hidup dua orang beriman yang tinggal dalam dua rumah yang berbeda. Yang satu miskin dan yang satu kaya.

Pada suatu hari, yang miskin mendapat ilham dan berkata kepada yang kaya, ”Saya ingin berziarah ke Gunung Budo di Laut Timur untuk memperdalam ajaran agama, bagaimana menurut Anda?” “Apa? Jangan bermimpi di siang hari!” yang kaya tersebut berkata, “Jarak dari sini ke Laut Timur sangat jauh, dirintangi banyak gunung dan sungai. Anda begitu miskin, bagaimana mungkin bisa sampai ke sana?”

Yang miskin menjawab dengan tenang, “Saya dapat mengandalkan satu botol untuk mengisi air dan satu mangkok untuk menampung nasi, semua itu sudah cukup bagi saya!” “Huh!”, yang kaya berkata dengan nada menghina, “Beberapa tahun ini, saya juga ingin berekreasi ke Gunung Budo. Saya mempunyai rencana untuk membeli sebuah kapal, tetapi saat ini uang yang terkumpul belum cukup. Apakah Anda mau ke sana hanya dengan mengandalkan kedua kaki Anda, sebotol air dan satu mangkok nasi? Mana mungkin?”

Setahun kemudian, yang miskin benar-benar berhasil mewujudkan keinginannya dan kembali dari Gunung Budo. Melihat hal ini, yang kaya sangat malu, dan tidak berani keluar dari rumahnya. selama setengah tahun.

📝 Apa yang bisa dipelajari dari kisah ini?

Good books to read CLICK

DWARFING OUR CAPACITY TO BUY

MENGERDILKAN KEMAMPUAN KITA UNTUK MEMBELI

Oleh: Mario Teguh

Dia yang mau-nya hanya yang gratis, memiliki kesempatan kecil untuk menjadi mampu membeli.

Sahabat Indonesia yang baik hatinya, yang sedang membangun kemampuan yang lebih kuat daripada biaya-biayanya.

Mudah-mudahan bahasan kita ini menemui Anda dalam kedamaian dan kegembiraan bersama keluarga dan kerabat terkasih.

Berikut adalah sebuah tulisan sederhana yang tersusun dari keprihatinan saya dalam mengamati bagaimana sebagian dari saudara kita lebih sibuk mengupayakan menerima pemberian yang gratis, daripada sibuk membangun kualitas diri yang mampu membayar yang dibutuhkannya.

Padahal, dia yang mau-nya hanya yang gratis, memiliki kesempatan kecil untuk menjadi mampu membeli.

Ingatlah bahwa, yang menjadi fokus Anda, akan tumbuh.

Maka orang yang memfokuskan seluruh perhatiannya hanya untuk menemukan kesempatan makan gratis, menonton gratis, baju gratis, menginap gratis, tumpangan kendaraan gratis, pulsa telepon gratis, dan semua yang gratis, akan kehabisan stamina mental dan tenaga fisik yang dibutuhkannya untuk membangun nilai pribadi yang menjadikannya pantas dibayar.

Dengan ketertarikan untuk tidak membayar, dia menjadikan dirinya tidak memiliki kualitas yang pantas untuk dibayar.

Karena kemudian dia dihargai rendah oleh lingkungannya, dia semakin tersemangati untuk mengupayakan apa pun yang tidak harus dibayar.

Maka menjadi semakin getol-lah dia dalam mencari yang gratis-gratis, dan semakin tidak memiliki waktu dan energi untuk mampu melakukan apa pun yang memantaskannya bagi bayaran.

Tetapi …, kemudian …, dia menyalahkan kehidupan.

Dalam keluhan panjangnya, yang mengisi masa-masa panjang penantian datangnya yang gratis, dia mengeluhkan ketidak-adilan dunia, dia menyalahkan pemerintah, dia menyalahkan orang tua yang tidak kaya, dia belajar membenci orang-orang yang menjadi kaya karena kejujuran dan kerja keras, yang dituduhnya tidak bersedekah.

Dia menyalahkan semua orang kecuali dirinya.

Tetapi, dia kecewa dengan diri dan kehidupannya.

Dan tetapi lagi, setiap kali orang menawarkan pekerjaan yang akan menjadikannya berhak bagi bayaran, dia akan bertanya:

Boleh minta mentahan-nya saja?

Langsung saja-lah, ada uangnya nggak? Uang dulu dong, baru kerja!

Kalau ada uang, baru kita bicara!

(… tetapi, menurut yang pernah berhubungan dengannya, setelah menerima uang, dia akan ingkar janji…)

Untuk orang seperti ini, seribu malaikat pun tidak akan bisa membantunya.

Lalu, lihatlah satu rekan kita yang lain, yang bekerja keras mengupayakan pendapatan yang penuh berkah bagi keluarganya, yang mungkin mengeluh juga karena kecilnya pendapatan, tetapi tidak mengurangi kesungguhan kerjanya, karena dia sadar, bahwa semakin kecil yang didapatnya, harus semakin keras dia bekerja.

Dia selalu mengulangi nasehat dari seorang rekannya yang lebih tua darinya; bahwa

Jika kecil yang kau hasilkan, harus semakin besar kesungguhan kerja mu.

Jika engkau setia kepada nasehat ini, engkau akan menghasilkan lebih untuk pekerjaan yang sama.

Dan jika engkau tetap setia dengan nasehat ini, engkau akan akhirnya menghasilkan lebih, untuk sedikit pekerjaan yang dikerjakan oleh orang lain untuk mu.

Maka janganlah hanya menginginkan yang mudah.

Janganlah keinginan mu untuk yang mudah, menjauhkanmu dari belajar menguasai yang sulit.

sesungguhnya, karena kemampuan mu lebih besar daripada semua kesulitan mu, kehidupan ini yang sebetulnya sama sulitnya bagi semua orang, akan tampil sangat mudah bagi mu, dan akan berlaku sangat ramah kepada mu.

Inginkanlah yang mudah, tetapi jangan lupakan keharusan mu untuk menjadi lebih kuat.

Bukan pemberian yang mudah yang akan memudahkan hidup mu, tetapi kemampuan yang menjadikan mu pantas bagi semua pemberian besar – yang tidak mudah untuk didapat itu, yang akan menjadikan mu penegak kehidupan yang berjaya.

Sekarang, berdirilah tegap, berjalanlah gagah, tataplah dunia dengan ketajaman mata mu yang ramah, berbicaralah dengan kelembutan yang tegas, berlakulah dengan penuh hormat, dan muliakanlah setiap jiwa yang kau sentuh.

Sana.. jadikanlah diri mu berguna.

Bergaullah engkau, bersahabatlah dan libatkanlah diri mu dalam pergaulan dengan orang-orang baik, lakukanlah yang baik, upayakanlah rezeki yang baik, tumbuhlah dalam kerja keras yang menggembirakan mereka yang kau layani, lalu pulanglah engkau dengan perasaan damai, kembali ke rumah untuk mengistirahatkan diri dan hati mu, dalam pelukan penuh canda dan tawa bersama belahan-belahan jiwa mu yang kau sebut keluarga itu.

Adikku yang dititipkan ibumu kepada ibuku,

Sayangilah diri mu, sebagaimana Tuhan menyayangi mu, agar Tuhan melengkapkan pemuliaan diri dan kehidupan mu, sebagaimana yang telah direncanakanNya bagi mu, bahkan jauh sebelum kelahiran mu.

Hati mu memberi-tahu mu, bahwa Tuhan menyayangi mu, dengan menggantungkan air mata di pelupuk mu, dan memasang penyekat di tenggorokan oleh Tuhan. Ikhlaskanlah diri mu bagi pemuliaan.

Jangan tolak pengertian tulus dari hatimu.

Engkau jiwa yang terkasih bagi Tuhan.

PEKERJAAN YANG AMAN

Oleh: TDW

Adakah pekerjaan yang aman? Jawabannya: tidak ada pekerjaan yang aman. Zaman berubah demikian cepat. Teknologi berkembang dengan sangat cepat pula. Peraturan dan situasi politik berubah sangat cepat, dan semuanya akan berimbas pada pekerjaan kita.

Karena itu, karyawan swasta yang paling kompeten pun belum tentu aman. Bahkan mungkin terjadi bahwa orang yang paling kompeten justru merupakan orang yang paling awal dipecat.

Bila Anda berkarier dari bawah dan akhirnya tanpa KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) ternyata bisa menjadi direktur atau bahkan menjadi presiden direktur dari suatu perusahaan, pastilah bahwa Anda adalah orang yang sangat kompeten. Pertanyaannya: Bila terjadi merger, akuisisi, atau perusahaan tempat Anda bekerja itu diambil alih oleh pemerintah, siapa yang diganti pertama kali? Presiden direktur dan jajaran direkturnya!

Pegawai negeri, amankah? Ada contoh kasus, ketika ganti presiden, suatu departemen hilang.

Ini kejadian nyata. Di salah satu seminar Financial Revolution saya di Jakarta, ketika seminar selesai ada seorang bapak yang menghampiri saya dan menyatakan sangat berkesan atas seminar yang saya berikan. Dia meminta bertukar kartu nama. Kartu namanya dengan jelas menyebutkan bahwa beliau adalah duta besar Indonesia untuk sebuah negara di Asia, tapi tulisan “Duta Besar”-nya dicoret. Waktu saya tanya kenapa dicoret, jawab beliau “Seperti kata Bapak di awal seminar… ganti presiden, duta besarnya juga ganti, Pak!”

Sebagai pedagang, amankah? Banyak yang mengira atau mengatakan bahwa sebagai pedagang tidak akan ada yang bisa memecat. O ya? Ada orang yang bisa memecat kita sebagai pedagang. Siapa lagi kalau bukan supplier atau customer kita!

Misalkan saja ada suatu perusahaan garmen yang memasok ke retailer yang terbesar. Mendadak manajer pembelian dari retailer tadi diganti, dan ternyata penggantinya mengubah kebijakan untuk tidak membeli barang dari kita. Mendadak omzet perusahaan kita bisa turun 100%.

Ada orang yang bilang,

“Ah itu kan perusahaan besar! Kalau aku kan hanya usaha warung kecilkecilan. Selama warungku bisa menyajikan makanan enak, bersih dan murah, pasti laku”.

O ya? Misalkan saja, mendadak jalan di depan warung Anda sekarang dipasang tanda dilarang parkir. Dengan mendadak omzet Anda turun drastis. Atau misalkan saja ada orang yang tidak senang dengan kesuksesan Anda, lalu membuat isu bahwa makanan yang Anda sajikan selama ini memang enak karena menggunakan sari pati tikus. Nah bisa jadi bisnis Anda bisa hilang seketika.

Ada banyak pula orang yang beranggapan bahwa bila sudah kaya kita tidak mungkin bangkrut. Datanya ternyata lain. Robert T. Kiyosaki dalam bukunya yang berjudul Rich Dad Poor Dad mengungkapkan beberapa pengusaha kaya raya yang bangkrut. Dia menyebut nama-nama berikut:

  1. Charles Schwab
  2. Samuel Insull
  3. Howard Hopson
  4. Ivan Kreuger
  5. Leon Frazier
  6. Richard Whitney
  7. Arthur Cotton
  8. Jesse Livermore
  9. Albert Fall

25 tahun setelah dunia dengan mata kagum memandang orang-orang kaya itu, 4 orang dari mereka mati dalam kemiskinan dan tidak meninggalkan sepeser pun bagi ahli waris mereka. Ada yang bahkan tahun-tahun terakhir dalam hidup mereka harus dilalui dengan berutang untuk sekadar bisa bertahan hidup. Lima tahun terakhir dalam hidupnya Charles Swab bertahan dengan utang. Dua orang mati bunuh diri, dua orang masuk penjara, dan seorang yang terakhir masuk rumah sakit jiwa.

Betul bahwa pada tahun 1929 ada Great Depression di Amerika, suatu resesi yang luar biasa, yang mengakibatkan banyak orang menderita. Kendati demikian, dalam setiap resesi selalu ada orang kaya yang bertahan dan ada orang kaya baru. Lalu apa yang membedakan orang kaya tetap kaya walaupum ada resesi, sementara orang lain bangkrut? Kenapa bahkan ada orang yang menjadi kaya karena resesi? Apa yang membedakan mereka itu dengan orang yang tadinya kaya malahan lenyap?

Jawabnya sederhana. Orang kaya yang bisa mempertahankan kekayaan mereka, dan orang yang biasa-biasa saja bisa menjadi kaya raya, karena mereka siap. Mereka selalu bersiap diri dengan pikiran terbuka untuk selalu terus belajar dan bertindak mengikuti atau bahkan memimpin tren dan melakukan alokasi aset. Mereka memiliki sumber pendapatan beragam. Istilah kerennya, mereka memiliki multiple streams of income. Orang-orang seperti itu akan tumbuh semakin kaya melalui perubahan-perubahan tersebut.

Potensi Luar Biasa

Setiap potensi, sekecil apapun jangan diabaikan karena bisa menjadi luar biasa

“Anyone who doesn’t take trust seriously in small matters cannot be trusted in large ones either.” Siapa yang tidak memandang serius kepercayaan dalam skala kecil, tidak bisa dipercaya untuk skala besar. Albert Einstein, Ilmuwan

Sekecil apapun bakat yang kita miliki sebenarnya punya potensi untuk dikembangkan secara luar biasa.

Siapa yang menyangka pengalaman Onassis menjual pensil bekas merupakan cikal bakalnya menjadi penjual kapal bekas kelas dunia dan membuatnya menjadi salah satu pengusaha terkaya di dunia.

Siapa yang mengira sifat alamiah Oprah yang selalu ingin belajar banyak bisa membawanya menjadi host ternama di dunia.

Siapa yang mengira kebiasaan JK Rowling mendongeng untuk adiknya akhirnya mengasah keahliannya bercerita sehingga menghasilkan Harry Potter.

Siapa yang menyangka sifat dasar Indy Barens yang ekspresif ternyata bisa membawanya menjadi entertainer papan atas.

Siapa yang menyangka kebiasaan membanyol Tukul membuatnya menjadi salah satu host paling populer.

Siapa yang menyangka kebiasaan merenung dan mencorat-coret syair Ebiet bisa membawanya menjadi pengarang lagu dan penyanyi terkenal.

Semua hal kecil punya potensi menjadi besar jika dikembangkan. Kita banyak mengenal orang yang ekspresif, yang suka membanyol, yang suka mendongeng, tapi berapa banyak dari mereka menjadi orang besar? Bagaimana dengan Anda sendiri?


  • Buku: No Excuse
  • Penulis: Isa Alamsyah

Lingkungan Positif

Lingkungan positif akan bisa membuat potensi kita berkembang pesat

“Confidence is contagious. So is lack of confidence.” Rasa percaya diri itu menular. Begitu juga rasa rendah diri. Vince Lombardi

“Enthusiasm is contagious. Be a carrier.” Antusiasme itu menular. Jadilah pembawanya. Susan Rabin

Lingkungan positif akan membuat bakat dan potensi kita berkembang dengan baik.

Di masa mudanya Ebiet G. Ade selalu berkumpul dengan seniman kreatif di Jogjakarta, sehingga bakatnya selalu terasah. Kini kita bisa melihat gubahannya yang begitu indah.

Atmosfer positif juga yang membuat Indy Barens menjadi penyiar handal. Sekalipun tidak memiliki pengalaman dan pendidikan penyiaran, ia sesekali iseng-iseng masuk ke studio, dan ikut-ikutan siaran. Tanpa terasa bakat alamiahnya muncul dan mengantarkannya menjadi penyiar terkenal hingga menjadi entertainer ternama.

Jika tidak punya lingkungan positif, kita harus menemukannya sendiri. Lingkungan positif bisa diciptakan dengan sering-sering berkumpul dengan orang-orang positif, orang yang punya cita-cita besar, yang selalu ingin meningkatkan taraf hidup ke yang lebih baik. Bisa juga didapatkan dengan membaca buku-buku positif, membaca buku-buku biografi orang besar, sehingga semangat mereka menular.


  • Buku: No Excuse
  • Penulis: Isa Alamsyah

Kita Punya Potensi Di Banyak Hal

“The most exciting place to discover talent is in yourself.”

Tempat paling menarik untuk mencari bakat adalah diri sendiri. Ashleigh Brilliant, Penulis Inggris

Apakah kita harus mencoba banyak peluang? Kenapa tidak! Mencoba banyak peluang bisa menambah ilmu sekaligus membuat kita mengetahui bidang terbaik yang cocok untuk kita.

Percayalah, kita mempunyai begitu banyak bakat dan potensi, hanya saja kita kurang mengeksplorasi diri. Anda akan takjub melihat betapa banyak bakat diri yang dimiliki dan bisa dikembangkan.

Sebagai wartawan karir Oprah terbilang sukses. Lalu ia naik menjadi pembawa berita. Tapi ia belok masuk ke bidang talk show, berbeda bidang tapi masih mirip. Setelah sukses di talk show ia masuk ke bisnis properti dan banyak bisnis lain yang juga sukses. Ternyata ia juga berbakat sebagai pengusaha. Bahkan ia masuk ke ajang politik praktis dengan mengorbitkan Barrack Obama. Ia termasuk salah satu yang berperan besar menjadikan Obama sebagai Presiden Amerika.

Arnold Schwarzenegger mengira dirinya akan sukses sebagai binaragawan, ternyata lebih dari itu. Dari binaraga ia bisa menjadi aktor laga karena badannya yang besar. Tapi karena tidak puas sekedar pamer badan, ia mencoba peran film komedi, dan ia sukses. Ia bangga karena acting-nya juga diakui. Ketika ia mencoba peruntungan di bisnis properti ia juga sukses. Terakhir Arnold masuk bidang politik dan pemuda keturunan Austria ini terpilih sebagai gubernur California.

Bukankah luar biasa jika kita biarkan diri mengembangkan potensi di berbagai bidang? Jangan penjara diri kita dalam rutinitas yang sama setiap hari seumur hidup!


  • Buku: No Excuse
  • Penulis: Isa Alamsyah

PELAJARAN DARI PEMBERONTAK MUDA

Semenjak dari muda, ayahnya telah menginginkan dia untuk menjadi yang terbaik. Makanya ayahnya mendorongnya dengan kuat dalam latihan Tae-kwon-do.

Dia berontak melawan latihan berat dan melarikan diri untuk hidup sebagai anak jalanan di usia 18 tahun. Akan tetapi segera dia menemukan bahwa kebebasannya hanyalah sekadar mitos.

Chen-Shih-hsin (lahir tahun 1981) telah berupaya keras, menderita dan menampik dirinya sendiri. Dia menyadari kesengsaraannya ternyata lebih buruk daripada ketika dia masih berada di rumah. Seraya mempertimbangkan untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik dan mengambil keuntungan dari umurnya yang masih muda, dia melanjutkan latihan Taekwon-do.

Di bulan Agustus tahun 2004, Chen memenangkan pertandingan taekwon-do di Olimpiade Athena dan membawa kembali medali emas pertama bagi Taiwan.

Dalam sebuah wawancara segera setelah dia memenangkan medali emas tersebut, dia berkata, “Aku berharap ceritaku akan mengingatkan orang muda bahwa mereka semestinya bergembira dengan apa yang telah dimilikinya dan tahu saatnya untuk kembali jika mereka mulai kehilangan arah.

“Aku ragu bahwa imaginasi dapat ditekan. Akan tetapi, seandainya kamu benar-benar menghilangkan impian itu dari seorang anak, dia akan tumbuh menjadi orang yang rapuh.”

Ursula K. Le Guin

  • Buku: You Are Never Too Young