Dua Orang

Dahulu kala, di propinsi Se Chuan, negeri Cina, hidup dua orang beriman yang tinggal dalam dua rumah yang berbeda. Yang satu miskin dan yang satu kaya.

Pada suatu hari, yang miskin mendapat ilham dan berkata kepada yang kaya, ”Saya ingin berziarah ke Gunung Budo di Laut Timur untuk memperdalam ajaran agama, bagaimana menurut Anda?” “Apa? Jangan bermimpi di siang hari!” yang kaya tersebut berkata, “Jarak dari sini ke Laut Timur sangat jauh, dirintangi banyak gunung dan sungai. Anda begitu miskin, bagaimana mungkin bisa sampai ke sana?”

Yang miskin menjawab dengan tenang, “Saya dapat mengandalkan satu botol untuk mengisi air dan satu mangkok untuk menampung nasi, semua itu sudah cukup bagi saya!” “Huh!”, yang kaya berkata dengan nada menghina, “Beberapa tahun ini, saya juga ingin berekreasi ke Gunung Budo. Saya mempunyai rencana untuk membeli sebuah kapal, tetapi saat ini uang yang terkumpul belum cukup. Apakah Anda mau ke sana hanya dengan mengandalkan kedua kaki Anda, sebotol air dan satu mangkok nasi? Mana mungkin?”

Setahun kemudian, yang miskin benar-benar berhasil mewujudkan keinginannya dan kembali dari Gunung Budo. Melihat hal ini, yang kaya sangat malu, dan tidak berani keluar dari rumahnya. selama setengah tahun.

📝 Apa yang bisa dipelajari dari kisah ini?

Good books to read CLICK

DUA EKOR SINGA

Oleh: Irfan Toni Herlambang

SUATU sore di tengah telaga terlihat dua orang sedang memancing. Tampaknya mereka ayah dan anak yang sedang menghabiskan waktu bersama. Di atas perahu kecil, keduanya sibuk mengatur joran dan umpan. Air telaga bergoyang perlahan membentuk riak. Gelombangnya mengalun menuju tepian, menyentuh sayap-sayap angsa yang sedang berjalan beriringan. Suasana begitu tenang hingga terdengar sebuah percakapan. “Ayah.”

“Hmm…, ya.” Sang ayah menjawab pelan. Matanya tetap tertuju pada ujung kailnya yang terjulur.

“Beberapa malam ini,” ucap sang anak, “aku bermimpi aneh. Dalam mimpiku ada dua ekor singa yang tampak sedang berkelahi dalam hatiku. Gigigigi mereka terlihat runcing dan tajam. Keduanya sibuk mencakar dan menggeram seperti saling ingin menerkam. Mereka tampak ingin saling menjatuhkan.”

Anak muda ini terdiam sesaat, lalu melanjutkan ceritanya. “Singa yang pertama terlihat baik dan tenang. Geraknya perlahan namun pasti. Badannya pun kokoh, bulunya teratur. Walaupun suaranya keras, tapi terdengar menenangkan buatku.”

Ayah menoleh dan meletakkan pancingnya dipinggir haluan.

“Tapi, Ayah, singa yang satu lagi menakutkan. Geraknya tak beraturan, sibuk menerjang ke sana ke mari. Punggungnya kotor. Bulunya koyak. Suaranya parau dan menyakitkan.

“Aku bingung apa maksud mimpi itu. Apakah singa-singa itu gambaran dari sifat-sifat baik dan buruk yang aku miliki? Dan, singa mana yang akan memenangkan pertarungan itu karena sepertinya mereka sama-sama kuat?

Melihat anaknya yang baru beranjak dewasa itu bingung, sang Ayah mulai angkat bicara. Dipegangnya punggung pemuda gagah di depannya. Sambil tersenyum, si ayah berkata, “Pemenangnya adalah yang paling sering kamu beri makan.”

Ayah kembali tersenyum dan mengambil pancingnya. Lalu, dengan satu hentakan kuat dilontarkannya ujung kail itu ke tengah telaga. Tercipta kembali pusaran-pusaran air yang tampak membesar. Gelombang riak itu kembali menerpa sayap-sayap angsa putih di tepian telaga.

Teman, begitulah adanya. Setiap diri kita punya dua ekor ‘singa’ yang selalu bersaing. Keduanya selalu berusaha untuk saling menjatuhkan. Mereka berusaha untuk menjadi pemimpin bagi yang lainnya. Pertarungan di antara mereka tak pernah tuntas karena selalu saja terjadi pergiliran kemenangan. Kalah-menang dalam persaingan itu layaknya mata koin yang selalu berganti-ganti. Dan kita sering dibuat bingung, sebab kedua kekuatan baik-buruk ini terlihat sama kuatnya.

Tapi, siapakah pemenangnya saat ini dalam diri Anda? Singa yang kokoh dengan bulu yang teratur ataukah singa yang berbulu koyak dan menakutkan?

Lalu, singa macam apa yang kini sedang menguasai Anda, “singa” yang optimistis, pantang menyerah, tekun, sabar, damai, rendah hati, dan toleran; ataukah “singa” yang pesimistis, tertekan, mudah menyerah,

sombong, dan penuh dengki?

Saya percaya, kita sendirilah yang menentukan kemenangan bagi kedua singa-singa itu. Jika kita sering memberi “makan” pada singa yang damai tadi, maka imbalan kebaikanlah yang akan kita dapatkan. Jika kita terbiasa untuk memupuk optimisme dan pantang menyerah, maka “singa” keberhasilanlah yang akan kita peroleh. Namun sebaliknya, jika setiap saat kita memendam marah, menebar prasangka dan dengki, bersikap tak sabar dan mudah menyerah, maka akan jelaslah “singa” macam apa yang jadi pemenangnya.

Teman, biarkan “singa-singa” penuh semangat hadir dalam jiwa Anda. Rawatlah singa-singa itu dengan keluhuran budi, dan kebersihan nurani. Susunlah bulu-bulu kedamaiannya, cermati terus rahang persahabatannya. Perkuat punggung optimismenya, dan pertajam selalu kuku-kuku kesabaran miliknya. Biarkan singa ini yang jadi pemenang.

Namun, jangan biarkan “singa-singa” pemarah menguasai pikiran Anda. Jangan pernah berikan kesempatan bagi kedengkian itu untuk membesar dan menjadi penghalang keberhasilan. Jangan biarkan rasa pesimis, jiwa yang gundah, tak sabar, dan rendah diri menjadi pemimpin bagi Anda.

Saya percaya, imbalan yang kita peroleh adalah gambaran dari apa yang kita berikan hari ini. Lalu, singa mana yang akan Anda beri makan hari ini?

KEKUATAN CINTA

Oleh: Irfan Toni Herlambang

DI Pegunungan Andes hidup dua suku . Satu tinggal di lembah , sedangkan satunya lagi di atas gunung . Suatu hari suku gunung menyerang suku lembah dan menjarah seluruh isi desa . Mereka menculik seorang bayi dari salah satu keluarga suku lembah dan membawanya ke atas gunung .

Orang – orang suku lembah tidak tahu bagaimana mendaki gunung . Mereka tidak tahu jalan mana yang digunakan oleh suku gunung . Mereka juga tidak tahu di mana letak desa suku gunung . Juga tidak tahu bagaimana mengikuti jejak – jejak suku gunung di tebing – tebing gunung itu . Meski begitu , mereka mengirim prajurit – prajurit terbaik mereka untuk memanjat gunung dan membawa pulang bayi mereka .

Prajurit pertama mencoba memanjat tebing diikuti yang lain . Ketika prajurit pertama gagal , mereka semua pun gagal . Mereka mencoba lagi dengan cara lain . Namun , gagal . Setelah berhari hari mereka mendaki , mereka hanya bisa memanjat beberapa ratus kaki saja . Suku lembah kehilangan harapan dan putus asa . Akhirnya mereka me mutuskan untuk kembali ke desa saja . Semua upaya dilakukan namun gagal .

Ketika mereka sedang bersiap – siap untuk kembali ke desa , tiba – tiba mereka melihat ibu bayi yang diculik itu sedang menuruni tebing gunung melewati mereka , sambil menggendong bayinya . Mereka terkejut sekali , bagaimana si ibu itu bisa menuruni tebing yang justru mereka sendiri gagal untuk mendakinya ? Bagaimana si ibu itu bisa memanjat tebing – tebing itu mengalahkan mereka ? Terlebih lagi , mereka melihat si bayi itu telah terselamatkan . Bagaimana mungkin ?

Seorang prajurit menyambut ibu itu dan bertanya , ” Wahai ibu , kami gagal mendaki tebing ini . Bagaimana kau melakukan semua ini , me ngalahkan seluruh prajurit terkuat ? Bagaimana bisa ? Engkau belum pernah menjadi prajurit ! “

Ibu itu mengangkat bahu dan berkata , ” Sebab bayi yang diculik itu bukanlah bayimu . Dan , kalian semua belum pernah menjadi Ibu . “

Teman , burung tak pernah diajari untuk terbang dan ikan tak pernah belajar untuk berenang . Semuanya alami . Semua berasal dari naluri . Hal itu akan hadir pada setiap mahluk yang percaya akan kebesaran Allah . Hanya Allah lah yang memberikan kita kekuatan itu .

Teman , cinta memberikan kekuatan . Bahkan cinta adalah kekuatan itu sendiri . Cinta seorang ibu adalah naluri dan alami . Sesuatu yang hadir dalam jiwa – jiwa yang penuh rasa cinta . Setiap Ibu , tak akan pernah diajari bagaimana mengasihi buah hatinya . Rasa itu akan hadir dengan sendirinya . Kita pun punya rasa itu . Asal kita mau menjalani semua garis garis yang telah ditentukan – Nya .

PASIR DAN BATU

Oleh: Irfan Toni Herlambang

DUA orang pengembara sedang melakukan perjalanan. Mereka tengah melintasi padang pasir yang sangat luas. Sepanjang mata memandang hanya ada pasir membentang.

Jejak-jejak kaki mereka meliuk-liuk di belakang. Membentuk kurva yang berujung di setiap langkah yang mereka tapaki. Debu-debu pasir yang beterbangan memaksa mereka berjalan merunduk.

Tiba-tiba badai datang. Angin besar menerjang mereka. Hembusannya membuat tubuh dua pengembara itu limbung. Pasir betebaran di sekeliling mereka. Pakaian mereka mengelepak, menambah berat langkah mereka yang terbenam di pasir. Mereka saling menjaga dengan tangan berpegangan erat. Mereka mencoba melawan ganasnya badai.

Badai reda, tapi musibah lain menimpa mereka. Kantong bekal air minum mereka terbuka saat badai tadi. Isinya tercecer. Entah gundukan pasir mana yang meneguknya. Kedua pengembara itu duduk tercenung, menyesali kehilangan itu. “Ah.., tamatlah riwayat kita,” kata pengembara pertama. Lalu ia menulis di pasir dengan ujung jarinya. “Kami sedih. Kami kehilangan bekal minuman kami di tempat ini.”

Kawannya, si pengembara dua pun tampak bingung. Namun, mencoba tabah. Membereskan perlengkapannya dan mengajak kawannya melanjutkan perjalanan. Setelah lama menyusuri padang pasir, mereka melihat ada oase di kejauhan. “Kita selamat,” seru salah seorang di antara mereka. “Lihat, ada air di sana.”

Dengan sisa tenaga yang ada, mereka berlari ke oase itu. Untung, bukan fatamorgana. Benar-benar sebuah kolam. Meski kecil tapi airnya cukup banyak. Keduanya pun segera minum sepuaspuasnya dan mengisi kantong air.

Sambil beristirahat, pengembara pertama mengeluarkan pisau genggamnya dan memahat di atas sebuah batu. “Kami bahagia. Kami dapat melanjutkan perjalanan karena menemukan tempat ini.”

Pengembara kedua heran. “Mengapa kini engkau menulis di atas batu, sementara tadi kau menulis di pasir?”

Yang ditanya tersenyum. “Saat kita mendapat kesusahan, tulislah semua itu di pasir. Biarkan angin keikhlasan membawanya jauh dari ingatan. Biarkan catatan itu hilang bersama menyebarnya pasir ketulusan. Biarkan semuanya lenyap dan pupus,” jawabnya dengan bahasa cukup puitis. “Namun, ingatlah saat kita mendapat kebahagiaan. Pahatlah kemuliaan itu di batu agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia. Torehlah kenangan kesenangan itu di kerasnya batu agar tak ada yang dapat menghapusnya. Biarkan catatan kebahagiaan itu tetap ada. Biarkan semuanya tersimpan.”

Keduanya bersitatap dalam senyum mengembang. Bekal air minum telah didapat, istirahat pun telah cukup, kini saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Kedua pengembara itu melangkah dengan ringan seringan angin yang bertiup mengiringi.

Teman, kesedihan dan kebahagiaan selalu hadir . Berselang – seling mewarnai panjangnya hidup ini . Keduanya mengguratkan memori di hamparan pikiran dan hati kita . Namun , adakah kita bersikap seperti pengembara tadi yang mampu menuliskan setiap kesedihan di pasir agar angin keikhlasan membawanya pergi ? Adakah kita ini sosok tegar yang mampu melepaskan setiap kesusahan bersama terbangnya angin ketulusan ?

Teman , cobalah untuk selalu mengingat setiap kebaikan dan kebahagiaan yang kita miliki . Simpanlah semua itu di dalam kekokohan hati kita agar tak ada yang mampu menghapusnya . Torehkan kenangan bahagia itu agar tak ada angin kesedihan yang mampu melenyapkannya . Insya Allah, dengan begitu kita akan selalu optimistis dalam mengarungi panjangnya hidup ini.