Kiat Menjadi Guru Inspiratif

Kuasai Materi: Pahami dan kuasai materi pelajaran dengan baik agar dapat memberikan penjelasan yang jelas dan mendalam kepada siswa.

Berikan Dukungan: Tunjukkan perhatian dan dukungan kepada setiap siswa. Kenali keunikan mereka dan bantu mereka tumbuh secara individu.

Berikan Motivasi: Bangkitkan semangat belajar dengan memberikan motivasi. Tunjukkan kepada siswa mengapa pelajaran tersebut penting dan bagaimana dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kreatif dalam Pengajaran: Gunakan berbagai metode pengajaran yang kreatif dan menarik untuk membuat pembelajaran lebih menyenangkan dan mudah dipahami.

Buat Lingkungan Belajar Positif: Ciptakan suasana kelas yang positif dan inklusif. Pastikan siswa merasa nyaman berpartisipasi dan berbagi ide.

Jadilah Contoh Positif: Menjadi panutan bagi siswa dengan menunjukkan integritas, disiplin, dan nilai-nilai positif.

Berikan Umpan Balik Konstruktif: Berikan umpan balik yang konstruktif untuk membantu siswa memahami kelebihan dan kelemahan mereka serta memberikan arahan perbaikan.

Kolaborasi dengan Siswa: Libatkan siswa dalam proses pembelajaran dengan memberikan ruang bagi kolaborasi dan diskusi.

Fleksibel dan Responsif: Bersikap fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan individu serta perubahan dalam lingkungan pembelajaran.

Terus Belajar: Jangan berhenti belajar dan mengembangkan keterampilan Anda. Tetap up-to-date dengan perkembangan pendidikan dan teknologi.

Kiat Produktif Ala Hal Elrod

Bangun Pagi:

  • Mulailah hari dengan bangun pagi untuk memberikan waktu lebih banyak bagi produktivitas.
  • Manfaatkan waktu pagi untuk merencanakan dan fokus pada tujuan harian.

Rutin Pagi (Miracle Morning):

  • Terapkan rutin pagi yang dikenal sebagai “Miracle Morning,” termasuk afirmasi positif, visualisasi, olahraga ringan, membaca, menulis, dan meditasi.

Atur Tujuan Harian:

  • Tetapkan tujuan yang spesifik dan terukur untuk hari tersebut.
  • Prioritaskan tugas berdasarkan urgensi dan dampak.

Gunakan Prinsip 20/20/20:

  • Bagi waktu pagi Anda menjadi blok 20 menit untuk olahraga, 20 menit untuk pembelajaran, dan 20 menit untuk refleksi atau meditasi.

Hindari Distractions:

  • Matikan pemberitahuan ponsel dan email selama waktu fokus.
  • Tetapkan waktu khusus untuk menangani pesan dan panggilan.

Terapkan Hukum 2 Menit:

  • Jika suatu tugas memerlukan waktu kurang dari 2 menit, lakukan segera.
  • Hindari menumpuk tugas kecil yang bisa diselesaikan dengan cepat.

Pentingkan Pemulihan:

  • Pastikan untuk memberikan waktu untuk istirahat dan pemulihan.
  • Kenali batas kelelahan dan berikan diri Anda istirahat yang cukup.

Berfokus pada Proses, Bukan Hasil:

  • Fokus pada langkah-langkah kecil dan konsisten yang mengarah pada pencapaian tujuan jangka panjang.
  • Hindari obsesi terhadap hasil instan.

Evaluasi dan Sesuaikan:

  • Lakukan evaluasi rutin terhadap produktivitas Anda.
  • Sesuaikan rutinitas dan strategi berdasarkan pembelajaran dari pengalaman sebelumnya.

Berkolaborasi dan Delegasi:

  • Jika mungkin, kolaborasi dengan orang lain untuk meningkatkan efisiensi.
  • Delegasikan tugas yang dapat dilakukan oleh orang lain untuk membebaskan waktu Anda.

Implementasikan kiat-kiat ini secara konsisten untuk memaksimalkan produktivitas dan mencapai tujuan Anda.

Di Manakah Tidak Ada Masalah?

Ada seseorang yang bertanya kepada seorang guru terkenal, Doktor Pierre, “Tuan, saya memiliki banyak kesulitan. Apakah Anda dapat memberi tahu saya tempat di mana tidak ada masalah?”

Doktor Pierre menjawab, “Saya tahu sebuah tempat di mana 15.000 orang di sana sama sekali tidak mempunyai masalah.”

“Di mana? Tolong beritahu saya cepat!”, dengan girang orang itu bertanya. Doktor Pierre menjawab dengan serius, “Di taman kuburan belakang Gereja.”

Dua Orang

Dahulu kala, di propinsi Se Chuan, negeri Cina, hidup dua orang beriman yang tinggal dalam dua rumah yang berbeda. Yang satu miskin dan yang satu kaya.

Pada suatu hari, yang miskin mendapat ilham dan berkata kepada yang kaya, ”Saya ingin berziarah ke Gunung Budo di Laut Timur untuk memperdalam ajaran agama, bagaimana menurut Anda?” “Apa? Jangan bermimpi di siang hari!” yang kaya tersebut berkata, “Jarak dari sini ke Laut Timur sangat jauh, dirintangi banyak gunung dan sungai. Anda begitu miskin, bagaimana mungkin bisa sampai ke sana?”

Yang miskin menjawab dengan tenang, “Saya dapat mengandalkan satu botol untuk mengisi air dan satu mangkok untuk menampung nasi, semua itu sudah cukup bagi saya!” “Huh!”, yang kaya berkata dengan nada menghina, “Beberapa tahun ini, saya juga ingin berekreasi ke Gunung Budo. Saya mempunyai rencana untuk membeli sebuah kapal, tetapi saat ini uang yang terkumpul belum cukup. Apakah Anda mau ke sana hanya dengan mengandalkan kedua kaki Anda, sebotol air dan satu mangkok nasi? Mana mungkin?”

Setahun kemudian, yang miskin benar-benar berhasil mewujudkan keinginannya dan kembali dari Gunung Budo. Melihat hal ini, yang kaya sangat malu, dan tidak berani keluar dari rumahnya. selama setengah tahun.

📝 Apa yang bisa dipelajari dari kisah ini?

Good books to read CLICK

DUA EKOR SINGA

Oleh: Irfan Toni Herlambang

SUATU sore di tengah telaga terlihat dua orang sedang memancing. Tampaknya mereka ayah dan anak yang sedang menghabiskan waktu bersama. Di atas perahu kecil, keduanya sibuk mengatur joran dan umpan. Air telaga bergoyang perlahan membentuk riak. Gelombangnya mengalun menuju tepian, menyentuh sayap-sayap angsa yang sedang berjalan beriringan. Suasana begitu tenang hingga terdengar sebuah percakapan. “Ayah.”

“Hmm…, ya.” Sang ayah menjawab pelan. Matanya tetap tertuju pada ujung kailnya yang terjulur.

“Beberapa malam ini,” ucap sang anak, “aku bermimpi aneh. Dalam mimpiku ada dua ekor singa yang tampak sedang berkelahi dalam hatiku. Gigigigi mereka terlihat runcing dan tajam. Keduanya sibuk mencakar dan menggeram seperti saling ingin menerkam. Mereka tampak ingin saling menjatuhkan.”

Anak muda ini terdiam sesaat, lalu melanjutkan ceritanya. “Singa yang pertama terlihat baik dan tenang. Geraknya perlahan namun pasti. Badannya pun kokoh, bulunya teratur. Walaupun suaranya keras, tapi terdengar menenangkan buatku.”

Ayah menoleh dan meletakkan pancingnya dipinggir haluan.

“Tapi, Ayah, singa yang satu lagi menakutkan. Geraknya tak beraturan, sibuk menerjang ke sana ke mari. Punggungnya kotor. Bulunya koyak. Suaranya parau dan menyakitkan.

“Aku bingung apa maksud mimpi itu. Apakah singa-singa itu gambaran dari sifat-sifat baik dan buruk yang aku miliki? Dan, singa mana yang akan memenangkan pertarungan itu karena sepertinya mereka sama-sama kuat?

Melihat anaknya yang baru beranjak dewasa itu bingung, sang Ayah mulai angkat bicara. Dipegangnya punggung pemuda gagah di depannya. Sambil tersenyum, si ayah berkata, “Pemenangnya adalah yang paling sering kamu beri makan.”

Ayah kembali tersenyum dan mengambil pancingnya. Lalu, dengan satu hentakan kuat dilontarkannya ujung kail itu ke tengah telaga. Tercipta kembali pusaran-pusaran air yang tampak membesar. Gelombang riak itu kembali menerpa sayap-sayap angsa putih di tepian telaga.

Teman, begitulah adanya. Setiap diri kita punya dua ekor ‘singa’ yang selalu bersaing. Keduanya selalu berusaha untuk saling menjatuhkan. Mereka berusaha untuk menjadi pemimpin bagi yang lainnya. Pertarungan di antara mereka tak pernah tuntas karena selalu saja terjadi pergiliran kemenangan. Kalah-menang dalam persaingan itu layaknya mata koin yang selalu berganti-ganti. Dan kita sering dibuat bingung, sebab kedua kekuatan baik-buruk ini terlihat sama kuatnya.

Tapi, siapakah pemenangnya saat ini dalam diri Anda? Singa yang kokoh dengan bulu yang teratur ataukah singa yang berbulu koyak dan menakutkan?

Lalu, singa macam apa yang kini sedang menguasai Anda, “singa” yang optimistis, pantang menyerah, tekun, sabar, damai, rendah hati, dan toleran; ataukah “singa” yang pesimistis, tertekan, mudah menyerah,

sombong, dan penuh dengki?

Saya percaya, kita sendirilah yang menentukan kemenangan bagi kedua singa-singa itu. Jika kita sering memberi “makan” pada singa yang damai tadi, maka imbalan kebaikanlah yang akan kita dapatkan. Jika kita terbiasa untuk memupuk optimisme dan pantang menyerah, maka “singa” keberhasilanlah yang akan kita peroleh. Namun sebaliknya, jika setiap saat kita memendam marah, menebar prasangka dan dengki, bersikap tak sabar dan mudah menyerah, maka akan jelaslah “singa” macam apa yang jadi pemenangnya.

Teman, biarkan “singa-singa” penuh semangat hadir dalam jiwa Anda. Rawatlah singa-singa itu dengan keluhuran budi, dan kebersihan nurani. Susunlah bulu-bulu kedamaiannya, cermati terus rahang persahabatannya. Perkuat punggung optimismenya, dan pertajam selalu kuku-kuku kesabaran miliknya. Biarkan singa ini yang jadi pemenang.

Namun, jangan biarkan “singa-singa” pemarah menguasai pikiran Anda. Jangan pernah berikan kesempatan bagi kedengkian itu untuk membesar dan menjadi penghalang keberhasilan. Jangan biarkan rasa pesimis, jiwa yang gundah, tak sabar, dan rendah diri menjadi pemimpin bagi Anda.

Saya percaya, imbalan yang kita peroleh adalah gambaran dari apa yang kita berikan hari ini. Lalu, singa mana yang akan Anda beri makan hari ini?

KEKUATAN CINTA

Oleh: Irfan Toni Herlambang

DI Pegunungan Andes hidup dua suku . Satu tinggal di lembah , sedangkan satunya lagi di atas gunung . Suatu hari suku gunung menyerang suku lembah dan menjarah seluruh isi desa . Mereka menculik seorang bayi dari salah satu keluarga suku lembah dan membawanya ke atas gunung .

Orang – orang suku lembah tidak tahu bagaimana mendaki gunung . Mereka tidak tahu jalan mana yang digunakan oleh suku gunung . Mereka juga tidak tahu di mana letak desa suku gunung . Juga tidak tahu bagaimana mengikuti jejak – jejak suku gunung di tebing – tebing gunung itu . Meski begitu , mereka mengirim prajurit – prajurit terbaik mereka untuk memanjat gunung dan membawa pulang bayi mereka .

Prajurit pertama mencoba memanjat tebing diikuti yang lain . Ketika prajurit pertama gagal , mereka semua pun gagal . Mereka mencoba lagi dengan cara lain . Namun , gagal . Setelah berhari hari mereka mendaki , mereka hanya bisa memanjat beberapa ratus kaki saja . Suku lembah kehilangan harapan dan putus asa . Akhirnya mereka me mutuskan untuk kembali ke desa saja . Semua upaya dilakukan namun gagal .

Ketika mereka sedang bersiap – siap untuk kembali ke desa , tiba – tiba mereka melihat ibu bayi yang diculik itu sedang menuruni tebing gunung melewati mereka , sambil menggendong bayinya . Mereka terkejut sekali , bagaimana si ibu itu bisa menuruni tebing yang justru mereka sendiri gagal untuk mendakinya ? Bagaimana si ibu itu bisa memanjat tebing – tebing itu mengalahkan mereka ? Terlebih lagi , mereka melihat si bayi itu telah terselamatkan . Bagaimana mungkin ?

Seorang prajurit menyambut ibu itu dan bertanya , ” Wahai ibu , kami gagal mendaki tebing ini . Bagaimana kau melakukan semua ini , me ngalahkan seluruh prajurit terkuat ? Bagaimana bisa ? Engkau belum pernah menjadi prajurit ! “

Ibu itu mengangkat bahu dan berkata , ” Sebab bayi yang diculik itu bukanlah bayimu . Dan , kalian semua belum pernah menjadi Ibu . “

Teman , burung tak pernah diajari untuk terbang dan ikan tak pernah belajar untuk berenang . Semuanya alami . Semua berasal dari naluri . Hal itu akan hadir pada setiap mahluk yang percaya akan kebesaran Allah . Hanya Allah lah yang memberikan kita kekuatan itu .

Teman , cinta memberikan kekuatan . Bahkan cinta adalah kekuatan itu sendiri . Cinta seorang ibu adalah naluri dan alami . Sesuatu yang hadir dalam jiwa – jiwa yang penuh rasa cinta . Setiap Ibu , tak akan pernah diajari bagaimana mengasihi buah hatinya . Rasa itu akan hadir dengan sendirinya . Kita pun punya rasa itu . Asal kita mau menjalani semua garis garis yang telah ditentukan – Nya .

PASIR DAN BATU

Oleh: Irfan Toni Herlambang

DUA orang pengembara sedang melakukan perjalanan. Mereka tengah melintasi padang pasir yang sangat luas. Sepanjang mata memandang hanya ada pasir membentang.

Jejak-jejak kaki mereka meliuk-liuk di belakang. Membentuk kurva yang berujung di setiap langkah yang mereka tapaki. Debu-debu pasir yang beterbangan memaksa mereka berjalan merunduk.

Tiba-tiba badai datang. Angin besar menerjang mereka. Hembusannya membuat tubuh dua pengembara itu limbung. Pasir betebaran di sekeliling mereka. Pakaian mereka mengelepak, menambah berat langkah mereka yang terbenam di pasir. Mereka saling menjaga dengan tangan berpegangan erat. Mereka mencoba melawan ganasnya badai.

Badai reda, tapi musibah lain menimpa mereka. Kantong bekal air minum mereka terbuka saat badai tadi. Isinya tercecer. Entah gundukan pasir mana yang meneguknya. Kedua pengembara itu duduk tercenung, menyesali kehilangan itu. “Ah.., tamatlah riwayat kita,” kata pengembara pertama. Lalu ia menulis di pasir dengan ujung jarinya. “Kami sedih. Kami kehilangan bekal minuman kami di tempat ini.”

Kawannya, si pengembara dua pun tampak bingung. Namun, mencoba tabah. Membereskan perlengkapannya dan mengajak kawannya melanjutkan perjalanan. Setelah lama menyusuri padang pasir, mereka melihat ada oase di kejauhan. “Kita selamat,” seru salah seorang di antara mereka. “Lihat, ada air di sana.”

Dengan sisa tenaga yang ada, mereka berlari ke oase itu. Untung, bukan fatamorgana. Benar-benar sebuah kolam. Meski kecil tapi airnya cukup banyak. Keduanya pun segera minum sepuaspuasnya dan mengisi kantong air.

Sambil beristirahat, pengembara pertama mengeluarkan pisau genggamnya dan memahat di atas sebuah batu. “Kami bahagia. Kami dapat melanjutkan perjalanan karena menemukan tempat ini.”

Pengembara kedua heran. “Mengapa kini engkau menulis di atas batu, sementara tadi kau menulis di pasir?”

Yang ditanya tersenyum. “Saat kita mendapat kesusahan, tulislah semua itu di pasir. Biarkan angin keikhlasan membawanya jauh dari ingatan. Biarkan catatan itu hilang bersama menyebarnya pasir ketulusan. Biarkan semuanya lenyap dan pupus,” jawabnya dengan bahasa cukup puitis. “Namun, ingatlah saat kita mendapat kebahagiaan. Pahatlah kemuliaan itu di batu agar tetap terkenang dan membuat kita bahagia. Torehlah kenangan kesenangan itu di kerasnya batu agar tak ada yang dapat menghapusnya. Biarkan catatan kebahagiaan itu tetap ada. Biarkan semuanya tersimpan.”

Keduanya bersitatap dalam senyum mengembang. Bekal air minum telah didapat, istirahat pun telah cukup, kini saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Kedua pengembara itu melangkah dengan ringan seringan angin yang bertiup mengiringi.

Teman, kesedihan dan kebahagiaan selalu hadir . Berselang – seling mewarnai panjangnya hidup ini . Keduanya mengguratkan memori di hamparan pikiran dan hati kita . Namun , adakah kita bersikap seperti pengembara tadi yang mampu menuliskan setiap kesedihan di pasir agar angin keikhlasan membawanya pergi ? Adakah kita ini sosok tegar yang mampu melepaskan setiap kesusahan bersama terbangnya angin ketulusan ?

Teman , cobalah untuk selalu mengingat setiap kebaikan dan kebahagiaan yang kita miliki . Simpanlah semua itu di dalam kekokohan hati kita agar tak ada yang mampu menghapusnya . Torehkan kenangan bahagia itu agar tak ada angin kesedihan yang mampu melenyapkannya . Insya Allah, dengan begitu kita akan selalu optimistis dalam mengarungi panjangnya hidup ini.

DWARFING OUR CAPACITY TO BUY

MENGERDILKAN KEMAMPUAN KITA UNTUK MEMBELI

Oleh: Mario Teguh

Dia yang mau-nya hanya yang gratis, memiliki kesempatan kecil untuk menjadi mampu membeli.

Sahabat Indonesia yang baik hatinya, yang sedang membangun kemampuan yang lebih kuat daripada biaya-biayanya.

Mudah-mudahan bahasan kita ini menemui Anda dalam kedamaian dan kegembiraan bersama keluarga dan kerabat terkasih.

Berikut adalah sebuah tulisan sederhana yang tersusun dari keprihatinan saya dalam mengamati bagaimana sebagian dari saudara kita lebih sibuk mengupayakan menerima pemberian yang gratis, daripada sibuk membangun kualitas diri yang mampu membayar yang dibutuhkannya.

Padahal, dia yang mau-nya hanya yang gratis, memiliki kesempatan kecil untuk menjadi mampu membeli.

Ingatlah bahwa, yang menjadi fokus Anda, akan tumbuh.

Maka orang yang memfokuskan seluruh perhatiannya hanya untuk menemukan kesempatan makan gratis, menonton gratis, baju gratis, menginap gratis, tumpangan kendaraan gratis, pulsa telepon gratis, dan semua yang gratis, akan kehabisan stamina mental dan tenaga fisik yang dibutuhkannya untuk membangun nilai pribadi yang menjadikannya pantas dibayar.

Dengan ketertarikan untuk tidak membayar, dia menjadikan dirinya tidak memiliki kualitas yang pantas untuk dibayar.

Karena kemudian dia dihargai rendah oleh lingkungannya, dia semakin tersemangati untuk mengupayakan apa pun yang tidak harus dibayar.

Maka menjadi semakin getol-lah dia dalam mencari yang gratis-gratis, dan semakin tidak memiliki waktu dan energi untuk mampu melakukan apa pun yang memantaskannya bagi bayaran.

Tetapi …, kemudian …, dia menyalahkan kehidupan.

Dalam keluhan panjangnya, yang mengisi masa-masa panjang penantian datangnya yang gratis, dia mengeluhkan ketidak-adilan dunia, dia menyalahkan pemerintah, dia menyalahkan orang tua yang tidak kaya, dia belajar membenci orang-orang yang menjadi kaya karena kejujuran dan kerja keras, yang dituduhnya tidak bersedekah.

Dia menyalahkan semua orang kecuali dirinya.

Tetapi, dia kecewa dengan diri dan kehidupannya.

Dan tetapi lagi, setiap kali orang menawarkan pekerjaan yang akan menjadikannya berhak bagi bayaran, dia akan bertanya:

Boleh minta mentahan-nya saja?

Langsung saja-lah, ada uangnya nggak? Uang dulu dong, baru kerja!

Kalau ada uang, baru kita bicara!

(… tetapi, menurut yang pernah berhubungan dengannya, setelah menerima uang, dia akan ingkar janji…)

Untuk orang seperti ini, seribu malaikat pun tidak akan bisa membantunya.

Lalu, lihatlah satu rekan kita yang lain, yang bekerja keras mengupayakan pendapatan yang penuh berkah bagi keluarganya, yang mungkin mengeluh juga karena kecilnya pendapatan, tetapi tidak mengurangi kesungguhan kerjanya, karena dia sadar, bahwa semakin kecil yang didapatnya, harus semakin keras dia bekerja.

Dia selalu mengulangi nasehat dari seorang rekannya yang lebih tua darinya; bahwa

Jika kecil yang kau hasilkan, harus semakin besar kesungguhan kerja mu.

Jika engkau setia kepada nasehat ini, engkau akan menghasilkan lebih untuk pekerjaan yang sama.

Dan jika engkau tetap setia dengan nasehat ini, engkau akan akhirnya menghasilkan lebih, untuk sedikit pekerjaan yang dikerjakan oleh orang lain untuk mu.

Maka janganlah hanya menginginkan yang mudah.

Janganlah keinginan mu untuk yang mudah, menjauhkanmu dari belajar menguasai yang sulit.

sesungguhnya, karena kemampuan mu lebih besar daripada semua kesulitan mu, kehidupan ini yang sebetulnya sama sulitnya bagi semua orang, akan tampil sangat mudah bagi mu, dan akan berlaku sangat ramah kepada mu.

Inginkanlah yang mudah, tetapi jangan lupakan keharusan mu untuk menjadi lebih kuat.

Bukan pemberian yang mudah yang akan memudahkan hidup mu, tetapi kemampuan yang menjadikan mu pantas bagi semua pemberian besar – yang tidak mudah untuk didapat itu, yang akan menjadikan mu penegak kehidupan yang berjaya.

Sekarang, berdirilah tegap, berjalanlah gagah, tataplah dunia dengan ketajaman mata mu yang ramah, berbicaralah dengan kelembutan yang tegas, berlakulah dengan penuh hormat, dan muliakanlah setiap jiwa yang kau sentuh.

Sana.. jadikanlah diri mu berguna.

Bergaullah engkau, bersahabatlah dan libatkanlah diri mu dalam pergaulan dengan orang-orang baik, lakukanlah yang baik, upayakanlah rezeki yang baik, tumbuhlah dalam kerja keras yang menggembirakan mereka yang kau layani, lalu pulanglah engkau dengan perasaan damai, kembali ke rumah untuk mengistirahatkan diri dan hati mu, dalam pelukan penuh canda dan tawa bersama belahan-belahan jiwa mu yang kau sebut keluarga itu.

Adikku yang dititipkan ibumu kepada ibuku,

Sayangilah diri mu, sebagaimana Tuhan menyayangi mu, agar Tuhan melengkapkan pemuliaan diri dan kehidupan mu, sebagaimana yang telah direncanakanNya bagi mu, bahkan jauh sebelum kelahiran mu.

Hati mu memberi-tahu mu, bahwa Tuhan menyayangi mu, dengan menggantungkan air mata di pelupuk mu, dan memasang penyekat di tenggorokan oleh Tuhan. Ikhlaskanlah diri mu bagi pemuliaan.

Jangan tolak pengertian tulus dari hatimu.

Engkau jiwa yang terkasih bagi Tuhan.

PEKERJAAN YANG AMAN

Oleh: TDW

Adakah pekerjaan yang aman? Jawabannya: tidak ada pekerjaan yang aman. Zaman berubah demikian cepat. Teknologi berkembang dengan sangat cepat pula. Peraturan dan situasi politik berubah sangat cepat, dan semuanya akan berimbas pada pekerjaan kita.

Karena itu, karyawan swasta yang paling kompeten pun belum tentu aman. Bahkan mungkin terjadi bahwa orang yang paling kompeten justru merupakan orang yang paling awal dipecat.

Bila Anda berkarier dari bawah dan akhirnya tanpa KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) ternyata bisa menjadi direktur atau bahkan menjadi presiden direktur dari suatu perusahaan, pastilah bahwa Anda adalah orang yang sangat kompeten. Pertanyaannya: Bila terjadi merger, akuisisi, atau perusahaan tempat Anda bekerja itu diambil alih oleh pemerintah, siapa yang diganti pertama kali? Presiden direktur dan jajaran direkturnya!

Pegawai negeri, amankah? Ada contoh kasus, ketika ganti presiden, suatu departemen hilang.

Ini kejadian nyata. Di salah satu seminar Financial Revolution saya di Jakarta, ketika seminar selesai ada seorang bapak yang menghampiri saya dan menyatakan sangat berkesan atas seminar yang saya berikan. Dia meminta bertukar kartu nama. Kartu namanya dengan jelas menyebutkan bahwa beliau adalah duta besar Indonesia untuk sebuah negara di Asia, tapi tulisan “Duta Besar”-nya dicoret. Waktu saya tanya kenapa dicoret, jawab beliau “Seperti kata Bapak di awal seminar… ganti presiden, duta besarnya juga ganti, Pak!”

Sebagai pedagang, amankah? Banyak yang mengira atau mengatakan bahwa sebagai pedagang tidak akan ada yang bisa memecat. O ya? Ada orang yang bisa memecat kita sebagai pedagang. Siapa lagi kalau bukan supplier atau customer kita!

Misalkan saja ada suatu perusahaan garmen yang memasok ke retailer yang terbesar. Mendadak manajer pembelian dari retailer tadi diganti, dan ternyata penggantinya mengubah kebijakan untuk tidak membeli barang dari kita. Mendadak omzet perusahaan kita bisa turun 100%.

Ada orang yang bilang,

“Ah itu kan perusahaan besar! Kalau aku kan hanya usaha warung kecilkecilan. Selama warungku bisa menyajikan makanan enak, bersih dan murah, pasti laku”.

O ya? Misalkan saja, mendadak jalan di depan warung Anda sekarang dipasang tanda dilarang parkir. Dengan mendadak omzet Anda turun drastis. Atau misalkan saja ada orang yang tidak senang dengan kesuksesan Anda, lalu membuat isu bahwa makanan yang Anda sajikan selama ini memang enak karena menggunakan sari pati tikus. Nah bisa jadi bisnis Anda bisa hilang seketika.

Ada banyak pula orang yang beranggapan bahwa bila sudah kaya kita tidak mungkin bangkrut. Datanya ternyata lain. Robert T. Kiyosaki dalam bukunya yang berjudul Rich Dad Poor Dad mengungkapkan beberapa pengusaha kaya raya yang bangkrut. Dia menyebut nama-nama berikut:

  1. Charles Schwab
  2. Samuel Insull
  3. Howard Hopson
  4. Ivan Kreuger
  5. Leon Frazier
  6. Richard Whitney
  7. Arthur Cotton
  8. Jesse Livermore
  9. Albert Fall

25 tahun setelah dunia dengan mata kagum memandang orang-orang kaya itu, 4 orang dari mereka mati dalam kemiskinan dan tidak meninggalkan sepeser pun bagi ahli waris mereka. Ada yang bahkan tahun-tahun terakhir dalam hidup mereka harus dilalui dengan berutang untuk sekadar bisa bertahan hidup. Lima tahun terakhir dalam hidupnya Charles Swab bertahan dengan utang. Dua orang mati bunuh diri, dua orang masuk penjara, dan seorang yang terakhir masuk rumah sakit jiwa.

Betul bahwa pada tahun 1929 ada Great Depression di Amerika, suatu resesi yang luar biasa, yang mengakibatkan banyak orang menderita. Kendati demikian, dalam setiap resesi selalu ada orang kaya yang bertahan dan ada orang kaya baru. Lalu apa yang membedakan orang kaya tetap kaya walaupum ada resesi, sementara orang lain bangkrut? Kenapa bahkan ada orang yang menjadi kaya karena resesi? Apa yang membedakan mereka itu dengan orang yang tadinya kaya malahan lenyap?

Jawabnya sederhana. Orang kaya yang bisa mempertahankan kekayaan mereka, dan orang yang biasa-biasa saja bisa menjadi kaya raya, karena mereka siap. Mereka selalu bersiap diri dengan pikiran terbuka untuk selalu terus belajar dan bertindak mengikuti atau bahkan memimpin tren dan melakukan alokasi aset. Mereka memiliki sumber pendapatan beragam. Istilah kerennya, mereka memiliki multiple streams of income. Orang-orang seperti itu akan tumbuh semakin kaya melalui perubahan-perubahan tersebut.

Potensi Luar Biasa

Setiap potensi, sekecil apapun jangan diabaikan karena bisa menjadi luar biasa

“Anyone who doesn’t take trust seriously in small matters cannot be trusted in large ones either.” Siapa yang tidak memandang serius kepercayaan dalam skala kecil, tidak bisa dipercaya untuk skala besar. Albert Einstein, Ilmuwan

Sekecil apapun bakat yang kita miliki sebenarnya punya potensi untuk dikembangkan secara luar biasa.

Siapa yang menyangka pengalaman Onassis menjual pensil bekas merupakan cikal bakalnya menjadi penjual kapal bekas kelas dunia dan membuatnya menjadi salah satu pengusaha terkaya di dunia.

Siapa yang mengira sifat alamiah Oprah yang selalu ingin belajar banyak bisa membawanya menjadi host ternama di dunia.

Siapa yang mengira kebiasaan JK Rowling mendongeng untuk adiknya akhirnya mengasah keahliannya bercerita sehingga menghasilkan Harry Potter.

Siapa yang menyangka sifat dasar Indy Barens yang ekspresif ternyata bisa membawanya menjadi entertainer papan atas.

Siapa yang menyangka kebiasaan membanyol Tukul membuatnya menjadi salah satu host paling populer.

Siapa yang menyangka kebiasaan merenung dan mencorat-coret syair Ebiet bisa membawanya menjadi pengarang lagu dan penyanyi terkenal.

Semua hal kecil punya potensi menjadi besar jika dikembangkan. Kita banyak mengenal orang yang ekspresif, yang suka membanyol, yang suka mendongeng, tapi berapa banyak dari mereka menjadi orang besar? Bagaimana dengan Anda sendiri?


  • Buku: No Excuse
  • Penulis: Isa Alamsyah