Oleh: TDW
Adakah pekerjaan yang aman? Jawabannya: tidak ada pekerjaan yang aman. Zaman berubah demikian cepat. Teknologi berkembang dengan sangat cepat pula. Peraturan dan situasi politik berubah sangat cepat, dan semuanya akan berimbas pada pekerjaan kita.
Karena itu, karyawan swasta yang paling kompeten pun belum tentu aman. Bahkan mungkin terjadi bahwa orang yang paling kompeten justru merupakan orang yang paling awal dipecat.
Bila Anda berkarier dari bawah dan akhirnya tanpa KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) ternyata bisa menjadi direktur atau bahkan menjadi presiden direktur dari suatu perusahaan, pastilah bahwa Anda adalah orang yang sangat kompeten. Pertanyaannya: Bila terjadi merger, akuisisi, atau perusahaan tempat Anda bekerja itu diambil alih oleh pemerintah, siapa yang diganti pertama kali? Presiden direktur dan jajaran direkturnya!
Pegawai negeri, amankah? Ada contoh kasus, ketika ganti presiden, suatu departemen hilang.
Ini kejadian nyata. Di salah satu seminar Financial Revolution saya di Jakarta, ketika seminar selesai ada seorang bapak yang menghampiri saya dan menyatakan sangat berkesan atas seminar yang saya berikan. Dia meminta bertukar kartu nama. Kartu namanya dengan jelas menyebutkan bahwa beliau adalah duta besar Indonesia untuk sebuah negara di Asia, tapi tulisan “Duta Besar”-nya dicoret. Waktu saya tanya kenapa dicoret, jawab beliau “Seperti kata Bapak di awal seminar… ganti presiden, duta besarnya juga ganti, Pak!”
Sebagai pedagang, amankah? Banyak yang mengira atau mengatakan bahwa sebagai pedagang tidak akan ada yang bisa memecat. O ya? Ada orang yang bisa memecat kita sebagai pedagang. Siapa lagi kalau bukan supplier atau customer kita!
Misalkan saja ada suatu perusahaan garmen yang memasok ke retailer yang terbesar. Mendadak manajer pembelian dari retailer tadi diganti, dan ternyata penggantinya mengubah kebijakan untuk tidak membeli barang dari kita. Mendadak omzet perusahaan kita bisa turun 100%.
Ada orang yang bilang,
“Ah itu kan perusahaan besar! Kalau aku kan hanya usaha warung kecilkecilan. Selama warungku bisa menyajikan makanan enak, bersih dan murah, pasti laku”.
O ya? Misalkan saja, mendadak jalan di depan warung Anda sekarang dipasang tanda dilarang parkir. Dengan mendadak omzet Anda turun drastis. Atau misalkan saja ada orang yang tidak senang dengan kesuksesan Anda, lalu membuat isu bahwa makanan yang Anda sajikan selama ini memang enak karena menggunakan sari pati tikus. Nah bisa jadi bisnis Anda bisa hilang seketika.
Ada banyak pula orang yang beranggapan bahwa bila sudah kaya kita tidak mungkin bangkrut. Datanya ternyata lain. Robert T. Kiyosaki dalam bukunya yang berjudul Rich Dad Poor Dad mengungkapkan beberapa pengusaha kaya raya yang bangkrut. Dia menyebut nama-nama berikut:
- Charles Schwab
- Samuel Insull
- Howard Hopson
- Ivan Kreuger
- Leon Frazier
- Richard Whitney
- Arthur Cotton
- Jesse Livermore
- Albert Fall
25 tahun setelah dunia dengan mata kagum memandang orang-orang kaya itu, 4 orang dari mereka mati dalam kemiskinan dan tidak meninggalkan sepeser pun bagi ahli waris mereka. Ada yang bahkan tahun-tahun terakhir dalam hidup mereka harus dilalui dengan berutang untuk sekadar bisa bertahan hidup. Lima tahun terakhir dalam hidupnya Charles Swab bertahan dengan utang. Dua orang mati bunuh diri, dua orang masuk penjara, dan seorang yang terakhir masuk rumah sakit jiwa.
Betul bahwa pada tahun 1929 ada Great Depression di Amerika, suatu resesi yang luar biasa, yang mengakibatkan banyak orang menderita. Kendati demikian, dalam setiap resesi selalu ada orang kaya yang bertahan dan ada orang kaya baru. Lalu apa yang membedakan orang kaya tetap kaya walaupum ada resesi, sementara orang lain bangkrut? Kenapa bahkan ada orang yang menjadi kaya karena resesi? Apa yang membedakan mereka itu dengan orang yang tadinya kaya malahan lenyap?
Jawabnya sederhana. Orang kaya yang bisa mempertahankan kekayaan mereka, dan orang yang biasa-biasa saja bisa menjadi kaya raya, karena mereka siap. Mereka selalu bersiap diri dengan pikiran terbuka untuk selalu terus belajar dan bertindak mengikuti atau bahkan memimpin tren dan melakukan alokasi aset. Mereka memiliki sumber pendapatan beragam. Istilah kerennya, mereka memiliki multiple streams of income. Orang-orang seperti itu akan tumbuh semakin kaya melalui perubahan-perubahan tersebut.