Sebaliknya, di depan, seorang driver harus menentukan arah, membawa penumpang-penumpangnya ke tempat tujuan dan mengambil risiko. Itulah yang saya maksud dengan sikap mental seorang driver. Dengan menjadi sopir kendaraan, seseorang belum tentu memiliki mental seorang driver. Banyak driver yang sering mengeluh, tak bekerja sepenuh hati, ugal-ugalan, dan merasa jenuh karena tak punya pilihan.
Driver’s mentality yang saya bahas dalam buku ini, pada dasarnya adalah sebuah kesadaran yang dibentuk oleh pengalaman dan pendidikan. Bukan karena tidak punya pilihan. Lihatlah Sano Ami, Sugeng (Bab 4), dan TR yang tak menangisi kehidupannya, malah bertarung habis-habisan agar bisa mengatasi masalah hidupnya sendiri dan tak menjadi beban bagi orang lain.
Seorang driver dak cukup hanya bermodalkan tekad dan mangat, ia butuh referensi dari pengetahuan akademis.
Pendidikan yang mereka jalani adalah proses belajar, yaitu memperbaiki cara berpikimya dan cara menjalani hidup yang menantang. Sayangnya, banyak orang yang menempuh pendidikan tinggi dan menjadi sarjana, tetapi tidak “belajar”. Kalau Anda hanya menghafal, seberapa tingginya pun indeks prestasi Anda, maaf, itu bukanlah berpikir. Belajar artinya adalah berpikir, ibarat seorang driver yang harus cepat mengambil keputusan di jalan raya yang padat. la bisa mengambil jalan-jalan lain yang baru sama sekali. Sedangkan menghafal dapat diibaratkan menjadi penumpang yang boleh mengantuk, tertidur, dan tak perlu mengambil risiko di jalan. Ia selalu melewati jalan yang sama pulang pergi. Membosankan. Driver yang baik memikirkan bagaimana mencapai tujuan tepat waktu, selamat, dan perjalanan menyenangkan. Lagi pula, berpikir tak ada batas waktunya. Ia tak berhenti hanya karena selembar ijazah telah diberikan.
Bagaimana Anda bisa berpikir kalau Anda tidak berani mengambil risiko? Saya tidak pernah mendengar penumpang mobil ditangkap karena mobilnya menabrak orang sampai tewas. Yang kita baca, sopirnyalah yang ditangkap. Menjadi driver mengekspos diri terhadap risiko. Tetapi risiko itu hanya menjadi masalah kalau Anda ugal-ugalan. Terbukti, dari jutaan pengemudi, kurang dari 0,1% yang menimbulkan kecelakaan fatal. Dari 0,1% itu, yang terbesar disebabkan oleh alkohol, kebiasaan-kebiasaan buruk, anak-anak yang tidak diasuh orangtuanya dengan baik, obat-obatan terlarang, atau mengantuk.
Sopir-sopir yang terperangkap dalam kemacetan sudah pasti harus bersabar diri, mengumpat, menyalahkan wali kota atau gubernur. Tak ada orang yang menyalahkan cara berpikirnya sendiri. Padahal, siapa bilang tidak ada jalan lain? Menuju kota Roma saja pintu masuknya ada banyak. Di Indonesia, ada jutaan jalan tikus yang bisa Anda tembus dengan motor ojek. Pilihannya ada banyak, tetapi memulainya tidak mudah. Jalanjalan baru itu memusingkan, banyak jalan buntu. Dan orang yang enggan mencobanya menyebut itu sebagai a dead end (jalan buntu). Padahal, jalan buntu bagi seorang driver adalah sebuah detour (perputaran). Tidak enak memang. Tetapi lamalama Anda akan merasakan manfaatnya karena Anda jadi tahu alternatif.
Mengapa manusia terdidik tidak melakukan seperti itu?
Itulah “passenger mentality”. Kita telah berubah menjadi bangsa yang nyaman. Ketika manusia sudah takut melakukan “kesalahan” kecil maka ia akan masuk ke dalam perangkap mentalitas penumpang. Sekolah tak boleh mendidik anakanaknya takut melakukan kesalahan dengan pendidikan hafalan. Sebab orang-orang yang tak pernah melakukan kesalahan sesungguhnya adalah orang yang tak berbuat apa-apa.
Lantas, bisakah orang-orang yang tak berpendidikan tinggi menjadi driver? Tentu saja bisa. Hanya saja kapasitasnya terbatas. Seorang driver tidak cukup hanya bermodalkan tekad dan semangat. Cara berpikir yang tepat adalah modal penting. Tetapi driver yang hebat juga butuh referensi-referensi kuat yang berasal dari pengetahuan akademis. Kita perlu menghubungkan satu referensi dengan referensi yang lainnya: connecting the dots. Jadi perbaiki dulu cara berpikir, baru kita bicara tentang a driver nation.
- Buku: “Self Driving,” Rhenald Kasali.
